LOGINSetelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran.
"Kalo kalian berlari seperti itu, Mommy kalian pasti terkejut dan takut!" kata Aldi memperingatkan Si Kembar agar tidak mengejutkan Kiran, "Selain itu pegawai yang lain juga akan tahu mengenai Mommy kalian dan pastinya Daddy kalian juga akan tahu."
Mendengar perkataan Aldi Si Kembar kembali ke duduk, mereka berdua diam memperhatikan setiap gerakan Kiran. Zahran dan Zayyan tidak ingin Kiran takut terhadap mereka, keduanya ingin Kiran menerima mereka sebagai anaknya dengan tulus dari hati yang paling dalam.
"Kak, aku kangen Mommy. Aku ingin peluk Mommy Kak!" rengek Zayyan sambil terus memperhatikan Kiran dari jauh.
"Kita harus sabar Dek. Kita nggak boleh membuat Mommy takut pada kita," balas Zahran menenangkan adiknya meskipun dalam hati dia juga ingin segera memeluk Kiran.
Si kembar menunggu dengan sabar sambil terus melihat ke arah Kiran, menunggu kesempatan untuk mendekatinya. Mereka harus berhasil untuk mendapatkan rambut Kiran yang akan digunakan untuk tes DNA.
Aldi sedikit heran dengan tingkah Si Kembar karena dapat dengan sabar dan tenang menunggu kesempatan untuk mendekati Kiran. Padahal selama ini mereka berdua selalu berbuat ulah dan membuat orang di sekitarnya harus merasakan amarah Rayhan.
Pernah suatu kali, Si Kembar membuat kerjasama perusahaan Bintara dengan klien mereka gagal karena dokumen milik klien dibuat basah oleh mainan pistol air mereka. Tapi karena ulah mereka itu perusahaan Bintara selamat dari kerugian yang cukup besar, karena perusahaan klien tersebut ternyata tersangkut kasus pencucian uang dan membuat perusahaan tersebut harus menyatakan bangkrut.
"Menurut Om Aldi, Mommy bakalan nerima kita nggak?" tanya Zahran tiba-tiba dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Apa Mommy bakalan nggak peduli sama kita kayak Daddy kita sekarang?" tambah Zayyan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ada Om Aldi yang akan selalu menjaga kalian berdua," jawab Aldi singkat tanpa berani melihat ke arah Si Kembar.
Sementara itu di sisi lain Kiran masih belum menyadari kehadiran Si Kembar yang terus memperhatikannya, dia dengan santai bercanda dan makan dengan rekan-rekan barunya. Berkat Rara, Kiran tidak kesulitan untuk mendapatkan teman baru, Kiran begitu menikmati hari pertama di tempat kerjanya.
Setelah selesai makan, Kiran memisahkan diri dari rekan-rekan kerjanya karena ingin pergi ke toilet terlebih dahulu. Melihat Kiran berpisah dari teman-temannya, Si Kembar segera berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Kiran dari belakang. Saat melihat Kiran memasuki toilet wanita, mereka berdua dengan sabar dan tenang menunggunya di lorong.
Mereka tidak ingin kesempatannya kali ini hilang karena kecerobohan mereka. Aldi hanya duduk memperhatikan dari jauh tingkah Si Kembar. Dia ingin Si Kembar berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi dia selalu siap sedia di belakang mereka untuk menanggani masalah yang akan terjadi.
Kiran terkejut saat keluar dari toilet melihat 2 anak laki-laki kembar yang menatap ke arahnya dengan tersenyum lebar. Hati Kiran kembali kembali berdebar dengan cepat saat melihat wajah mereka yang menggemaskan.
"Mommy!" sapa Zayyan dengan semangat, tangannya sudah terbuka lebar di kedua sisinya bersiap untuk memeluk Kiran. Zahran yang melihat adiknya sangat bersemangat segera menarik tangannya dan memperingatkannya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Halo Mommy, maaf kemarin kita membuat Mommy takut," kata Zahran pelan sambil memperhatikan raut wajah Kiran.
Kiran kembali terkejut dengan perilaku kedua anak kembar itu. Ada perasaan sayang, terharu, takut, dan bahagia bercampur menjadi satu dalam hati dan pikirannya. Dia teringat kembali dengan anaknya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Mommy, maafkan kami berdua karena kemarin membuat Mommy takut," kata Zayyan dengan suara pelan takut jika nantinya Kiran semakin tidak suka padanya.
Mendengar permintaan maaf Zayyan membuat hati Kiran semakin sedih. Dia begitu ingin memeluk kedua anak kembar tersebut, tapi perasaan takut membuatnya hanya berdiri diam di tempat.
Melihat Kiran yang hanya berdiri terdiam, Zahran dan Zayyan berpikir bahwa Kiran takut dan membenci mereka. Sehingga tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi keduanya, perasaan kecewa menghantui pikiran mereka. Si Kembar begitu kecewa mommy yang selama ini ditunggunya malah benci pada mereka sama seperti semua orang yang lain.
Saat mereka berdua membalikkan tubuh kecil mereka dan bermaksud untuk pergi, tiba-tiba tangan hangat terulur memeluk tubuh mereka berdua. Zahran dan Zayyan terkejut dengan pelukan hangat yang tiba-tiba mereka terima.
"Kenapa malah pergi, bukankah kalian ingin memelukku?" tanya Kiran lembut sambil memeluk Si Kembar dengan erat.
"Apa aku harus berada di sekolah sampai jam sekolah berakhir?" tanya Zayyan dengan nada merajuk."Tentu saja," jawab Kiran singkat sambil mengambil tas Zayyan dan Zahran."Pasti akan sangat membosankan," sahut Zahran sambil menghela napas sedikit keras.Kiran mencubit pipi Zahran untuk kesekian kalinya dengan gemas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya itu. Seharusnya mereka akan senang saat bertemu dengan teman-teman seumuran mereka."Bermainlah dengan teman-teman yang lain. Jangan sampai membuat mereka menangis!" pesan Kiran sebelum Si Kembar melangkah masuk gerbang sekolah."Jangan lupa makan bekal yang sudah Mommy buat!" tambah Kiran sedikit keras dengan raut wajah terlihat sedikit khawatir."Nyonya, tenanglah. Mereka akan baik-baik saja," kata Aldi sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran Kiran."Aku tahu," jawab Kiran, "Aku mengkhawatirkan guru dan teman-teman sekelas mereka,""Dan jangan pernah panggil aku 'Nyonya'!" tambah Kiran penuh peringatan.Aldi
"Apa maksudmu perempuan 6 tahun lalu muncul dihadapan Rayhan?" tanya Gilang dengan raut wajah merah menahan amarah."Bukankah kita sudah memberi uang agar keluarganya untuk menyingkirkan perempuan itu?" sahut Windy tak kalah terkejutnya dari Gilang."Mata-mata yang kita tempatkan di kediaman Tuan Muda melaporkan jika kemarin malam Tuan Muda membawa seorang wanita," kata asisten pribadi Gilang yang bernama Tuan Herman"Wanita itu bukan Nona Denna atau pun Nona Erina. Tuan Zahtan dan Tuan Zayyan memanggil perempuan itu 'Mommy'," lanjut Tuan Herman tanpa menutupi satu kejadian pun.Braaaak!Praaaang!Piring dan gelas berjatuhan saat Gilang memukul meja makan, Windy mengeryit tipis saat beberapa makanan mengenaik pakaiannya. Suasana yang awalnya tenang berubah berantakan karena kabar kemunculan Kiran dihadapan Rayhan.Selama beberapa tahun ini, Gilang dan Windy mencoba untuk menyingkirkan Kiran agar tidak menjadi penghalang masa depan Rayhan. Mereka memang tidak bisa menyingkirkan Zahran
Tubuh Kiran sedikit bergidik saat melihat senyuman Rayhan. Dia mencoba untuk memahami maksud laki-laki di depannya namun dia sama sekali tidak bisa membaca rencana Rayhan."Apa maksud anda? Kenapa saya harus setuju dengan rencana anda?" tanya Kiran dengan tatapan curiga ke arah Rayhan."Bukankah kamu ingin terus bersama dengan Zahran dan Zayyan?" balas Rayhan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Aku mempunyai cara agar kamu bisa terus bersama mereka,""Anda akan menyerahkan hak asuk Si Kembar pada saya?""Apa kamu gila? Zahran dan Zayyan anakku, kenapa aku harus menyerahkan mereka padamu?""Bukankah kehadiran mereka tidak diharapkan di keluarga Bintara?"Dahi Rayhan berkerut sesaat setelah mendengar perkataan Kiran. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Kiran. Meskipun keluarga Bintara tidak menginginkan Si Kembar, mereka tetap bagian dari keluarga Bintara. Dia tidak akan membiarkan orang lain meremehkan darah dagingnya sendiri."Tetap saja mereka berdua adalah b
Kiran bingung saat terbangun di tempat yang asing, matanya memandang berkeliling untuk mencari petunjuk tentang keberadaannya saat ini. Sebuah kamar mewah yang ukurannya melebihi rumah kontrakkannya dengan ranjang queen size di tengah ruangan dan lemari berukuran besar di sisi kanannya.Wajahnya berubah menjadi panik saat teringat kejadian kemarin malam, dia langsung melompat dan berlari ke arah pintu. Pikriannya semakin tidak karuan karena takut jika yang membawanya ke tempat ini adalah orang-orang yang menyergapnya diam-diam."Aku harus segera keluar dari tempat ini!" kata Kiran sambil berusaha untuk membuka pintu tersebut.Namun usahanya sia-sia karena pintunya terkunci, Kiran berlari dengan panik ke arah jendela mencoba untuk membukanya tapi dia semakin gelisah karena mengetahui bahwa dirinya berada di lantai yang cukup tinggi. Kiran kembali memutar otaknya agar dia bisa menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang berhasil menangkapnya.Saat Kiran sibuk mencari cara untuk melarik
"Siapa kamu?" tanya salah satu dari laki-laki yang bertampang paling garang."Lepaskan istri saya!" jawab Rayhan sambil menendang perut salah satu dari mereka dengan kuat.Wajah Rayhan semakin terlihat khawatir saat melihat Kiran hanya diam saja dengan air mata yang terus turun membasahi wajah cantiknya. Berbagai tendangan dan pukulan dia arahkan tanpa menghiraukan keselamatannya, karena dalam hatinya terus berteriak untuk menyelamatkan Kiran apapun yang terjadi.Dalam hati Rayhan sedikit menyesal karena dia tidak mengajak salah satu pengawalnya malam ini. Wajah dan tubuhnya sudah terasa perih namun gerombolan laki-laki itu sama sekali tidak terlihat menyerah, ingin rasanya dia menyerah tapi rintihan suara Kiran meminta tolong membuat dirinya terus bertahan."Jangan sentuh istri saya, saya akan berikan berapa pun yang kalian inginkan!" teriak Rayhan saat laki-laki berwajah garang itu mulai menyeret tubuh Kiran menjauh."Saya adalah CEO perusahaan Bintara, saya akan melepaskan kalian d
Sudah 1 minggu Kiran tidak lagi bekerja di perusahaan Bintara, panggilan dari Rara dan kepala divisi dia abaikan tanpa ingin menjelaskan apa yang terjadi sedikit pun. Dia memutuskan untuk tidak lagi bersentuhan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Rayhan, kecuali kedua anak kembarnya Zahran dan Zayyan. Saat ini dia lebih memilih untuk bekerja paruh waktu di toko serba ada di dekat rumah kontrakkannya sambil mencari cara untuk mendapatkan hak asuh kedua anaknya. Dia tidak akan membiarkan Si Kembar hidup sengsara di dekat orang-orang yang tidak menginginkan kehadirannya. Cerita Rara dan Aldi mengenai kedua anaknya semakin meyakinkan Kiran untuk membebaskan Zahran dan Zayyan. "Terima kasih atas kedatangannya, silahkan datang kembali!" kata Kiran sambil tersenyum profesional saat seorang pembeli melangkah keluar dari toko. "Aku harus mencari pekerjaan yang lebih layak sebelum aku menuntut hak asuh kedua anakku," lanjut Kiran sambil menghela napasnya dengan kasar. Hujan deras dan mie
Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya. "Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya. "Makasih," balas Kiran sing
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita
Hari ini merupakan hari pertama Kiran bekerja di perusahaan pusat, setelah sebelumnya dia bekerja hampir 3 tahun di perusahaan cabang yang ada di kota Y. Baju kerja berwarna biru gelap dan riasan tipis menambah kesan profesional Kiran dalam bekerja.Kiran menenangkan detak jantungnya saat berada di







