로그인Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya.
"Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya.
"Makasih," balas Kiran singkat sambil menaruh tas kerjanya di meja dan menyalakan komputer di depannya.
"Aku mau ngasih tau sesuatu ke kamu biar nggak patah hati lebih dalam," kata Rara sambil menatap serius pada Kiran.
"Aku perhatiin saat di aula kamu liatin Tuan Rayhan terus. Kamu nggak bisa jatuh hati ke beliau, kita udah beda kasta. Selain itu, kamu tau kan wanita yang duduk di sebelah Tuan Rayhan tadi?" lanjut Rara penuh peringatan.
Kiran menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rara tanpa suara karena terlalu fokus dengan cerita Rara. Dia sangat penasaaran dengan cerita tentang Rayhan terutama tentang anaknya. Kiran sendiri merasa bingung kenapa dia tiba-tiba tertarik dengan kehidupan orang lain.
"Itu Nona Erina, sekretaris pribadi sekaligus kekasih dari Tuan Rayhan. Terus kamu inget nggak satu-satunya wanita yang tadi presentasi di depan yang memakai pakain seksi warna merah?" tanya Rara lagi dengan wajah lebih serius.
Kepala Kiran kembali mengangguk dengan sedikit lebih bersemangat karena semakin penasaran dengan cerita Rara.
"Itu Nona Denna tunangan Tuan Rayhan sekaligus manager penjualan perusahaan Bintara ini. Di satu sisi cantik, baik dan lemah lembut sedangkan di sisi lainnya cantik, seksi, dan tegas. Kamu nggak bakalan bisa bersaing dengan mereka." kata Rara memberi penjelasan pada Kiran karena tidak ingin Kiran sama seperti rekan-rekannya yang lain patah hati dan meninggalkan perusahaan ini.
"Terus anak yang kamu maksud tadi apa?" tanya Kiran dengan bersemangat karena kembali teringat dengan 2 anak kembar yang dia temui kemarin.
"Tuan Rayhan mempunyai 2 anak kembar tapi sampai selama ini tidak diketahui siapa ibunya. Kalo bukan karena tes DNA yang menunjukkan bahwa mereka adalah anak kandung dari Tuan Rayhan mungkin mereka berdua bakalan di tinggal di panti asuhan." lanjut Rara menceritakan semua yang dia ketahui.
"Bagaimana bisa?" tanya Kiran semakin penasaran dengan identitas 2 anak kembar tersebut.
Perasaannya mengatakan bahwa dia mengenal 2 anak kember itu tapi dalam hidupnya dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka. Kepalanya menjadi sakit saat teringat dengan wajah Si Kembar.
"Tuan Rayhan merasa tidak pernah melakukan hubungan suami istri jadi mana mungkin tiba-tiba mempunyai 2 anak kembar. Selain itu, Tuan dan Nyonya Bintara juga tidak mengakui cucu mereka itu. Mereka berdua juga tidak mengakui Nona Erina oleh karena itu mereka memaksa Tuan Rayhan untuk bertunangan dengan Nona Denna," kata Rara mengakhiri penjelasannya.
"Bagaimana nasib 2 anak tersebut? Apakah Tuan Rayhan menyayangi mereka berdua?" tanya Kiran yang saat ini lebih tertarik dengan kisah Si Kembar.
Kiran merasa kasihan setelah mendengar bahwa kehadiran Si Kembar tidak diharapkan dalam keluarga Bintara. Perasaan ingin memeluk dan memiliki kedua anak itu tumbuh dengan cepat dihati Kiran tanpa tahu penyebabnya.
"Kurasa tidak. Tuan Rayhan selalu menyuruh Pak Aldi asisten pribadinya untuk mengurusi anak-anaknya. Kabarnya beliau hanya memenuhi kebutuhan finansial mereka berdua tanpa melimpahkan sedikit pun kasih sayang kepada Si Kembar," jawab Rara.
Perasaan cemas, kecewa, dan marah menyelimuti pemikiran Kiran saat mendengar bahwa Si Kembar tidak mendapatkan kasih sayang sedikit pun dari ayahnya. Tanpa terasa air mata jatuh di kedua pipi Kiran. Saat akan bertanya lebih lanjut, Kiran dipanggil oleh Pak Hendra untuk memberi pekerjaan pertamanya.
*****
Sedangkan di tempat lain, Aldi sedang menemani Si Kembar di kantin perusahaan menunggu Kiran istirahat. Sejak ada Si Kembar, Aldi beralih profesi dari asisten pribadi menjadi baby sitter yang selalu siap sedia 24 jam.
Saat pertama melakukan tugasnya, Aldi merasa terhina dan keberatan tapi setelah mengetahui kehidupan pribadi Si Kembar dia begitu mengagumi Si Kembar. Tanpa kasih sayang kedua orang tua mereka berdua bisa tumbuh dengan baik, dan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.
Terkadang Aldi juga tidak mengerti bagaimana bisa anak kecil seperti mereka memiliki ide gila yang membuat orang dewasa geleng-geleng kepala. Si Kembar pernah membantu Aldi untuk bernegosiasi dengan klien yang sangat sulit untuk ditangani, tapi hanya dengan beberapa kata dari Si Kembar klien tersebut langsung menandatangi kontrak perjanjian kerjasama mereka.
"Om, kenapa Mommy tidak keluar-keluar? kita capek menunggunya," kata Zayyan menyadarkan Aldi dari lamunannya.
"Apa kita perlu menyusulnya ke ruangannya Om?" tambah Zahran yang juga tidak sabar untuk bertemu dengan Kiran.
"Tunggu aja, Kalo kalian berdua kesana malah membuat Mommy kalian takut dan kabur," jawab Aldi santai mencegah Si Kembar untuk berbuat ulah lagi.
Zayyan dan Zahran kembali duduk dengan tenang sambil minum coklat panas di depannya, mereka dengan sabar menunggu Kiran karena tidak ingin membuat Kiran takut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.
"Mommy, aku ingin mendengar lagu 'Bintang-bintang' lagi!" kata Zayyan sambil naik ke atas tempat tidur Kiran."Zayyan, kamu seharusnya minta ijin terlebih dahulu sebelum naik ke tempat tidur Mommy!" tegur Zahran untuk kesekian kalinya. Selama ini Zahran selalu bersikap lebih dewasa dari Zayyan, namun hal itu membuat hubungan mereka terlihat semakin menggemaskan."Zahran Sayyang, sini!" panggil Kiran sambil menepuk-nepuk bagian kosong di sebalahnya, "Malam ini Mommy tidak hanya akan bernyanyi tapi juga cerita sesuatu yang pasti kalian suka!""Benarkah?" kali ini bukan Zayyan melainkan Zahran yang terdengar begitu bersemangat sambil naik ke tempat yang ditunjukkan Kiran.Mereka terlihat begitu bersemangat dengan apa saja yang dilakukan oleh Kiran. Bersama Kiran mereka merasakan pengalaman baru yang tidak pernah mereka lakukan. Meskipun merasa asing mereka tetap melakukannya karena hal itu bisa membuat Kiran bahagia."Mommy ingin kalian berkata jujur," kata Kiran terlihat serius sambil m
“Mommy!”Suara Zayyang terdengar begitu Kiran keluar dari gedung perusahaan Bintara.Anak laki-laki itu langsung melambaikan tangannya dengan penuh semangat ketika melihat sosok sang ibu.Senyuman lebar seketika menghiasi wajah cantik Kiran.Tatapannya langsung tertuju kepada Zayyang dan Zahran yang berdiri tidak jauh dari sana.Melihat kedua anaknya datang menjemput, rasa lelah yang sejak tadi memenuhi tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan setiap kali Kiran melihat mereka.Namun, di balik senyumannya, masih tersimpan sedikit rasa takut.Kiran tahu mereka tidak seharusnya terlalu sering terlihat bersama di tempat seperti ini.Apalagi setelah semua yang terjadi beberapa waktu terakhir.Dia takut seseorang mengetahui hubungan mereka.Takut rahasia tentang kedua anaknya terbongkar.Namun, sekeras apa pun Kiran berusaha menekan perasaan itu, hatinya tetap terasa hangat.Karena pada akhirnya...Kedua anak itu tetap datang mencarinya.Tetap menungguny
"Rayh...," Erina menutup mulutnya kembali sambil menundukkan kepala.Di sisi lain Denna hanya diam sambil menatap tajam ke arah Rayhan seolah ingin mengerti apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Selama ini Rayhan selalu berhasil mengendalikan emosinya seperti apa yang diharapkan seorang penerus keluarga kalangan atas.Namun kali ini Rayhan benar-benar kehilangan kendali sampai membuatnya berteriak di depan umum. Hal itu tentu membuat dahi Denna berkerut curiga. Tangannya terlepas dari rambut Erina dan langsung berjalan ke arah Rayhan.Mata dingin Rayhan menatapnya dengan emosi yang masih terlihat jelas. Kali ini Denna benar-benar menatap Rayhan tanpa senyuman nakal yang biasanya menghiasi wajah cantiknya. Dia tahu jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja."Tuan, sebaiknya Tuan Muda kembali ke ruang kerja," kata Aldi perlahan takut jika Rayhan semakin emosi, "Saya yang akan menyelesaikan semua ini,"Kali ini, pandangan Rayhan beralih kepada Aldi. Namun, tatapan dingin itu masih sam
Tanpa membuang waktu Denna langsung maju mendekat ke arah Erina dan langsung menjambak rambut Erina dengan kuat. Rayhan sama sekali tak menduga hal itu, dia tersadar saat Erina berteriak kencang. Suasana di ruang kantor Rayhan begitu kacau sampai membuat beberapa sekretaris Rayhan berpura-pura tak tahu."Aldi!" teriak Rayhan saat tak bisa memisahkan Denna dan Erina. Selama ini Aldi yang selalu menyelesaikan masalah pertengkaran kedua perempuan itu, Rayhan hanya perlu duduk dengan wajah bosan melihat drama mereka bertiga."Aldi masuk sekarang juga!" ulang Rahyan sambil mencoba untuk menarik Denna agar tidak menjawambak Erina.Keadaan menjadi semakin panas saat Erina membalas Denna. Tangannya terangkat keatas dan menampar pipi Denna dengan begitu kuat.Plaaak!Suara begitu keras sampai membuat seorang OB terjatuh saat mencoba untuk mengintip. Tidak ada yang berani bergerak maupun membuat suara sedikit pun. Beberapa orang menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya."Aaaakkkhh
"Mommy, apa sikap Daddy tadi membuatmu takut?" tanya Zahran hati-hati saat melihat wajah muram Kiran.Kiran tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Zahran, senyuman tipis menghiasi wajah Kiran sambil mengusap pelan kepala Zahran dan Zayyan, "Tentu saja tidak, Mommy hanya lapar dan lelah,""Kalau Mommy lapar, aku dan Kak Zahran bisa berangkat ke sekolah sendiri," sahut Zayyan sambil memeluk lengan Kiran."Tidak, Mommy harus memastikan dengan mata Mommy sendiri kalian berjalan masuk ke gerbang sekolah," kata Kiran tak ingin Si Kembar memanfaatkan keadaan."Kami bukan anak nakal yang suka bolos sekolah!" elak Zahran tak setuju dengan perkataan Kiran."Benar! Kalau Mommy tidak percaya, Mommy bisa tanya Bu Angel," tambah Zayyan mendukung perkataan kakak kembarnya."Mommy percaya, sangat percaya," balas Kiran santai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, "Mommy selalu percaya dengan Zahran dan Zayyan,""Mommy hanya ingin jalan-jalan sebentar, Mommy bosan di kantor," lanj
"Momm... eh Tante Kiran bangun!" kata Zayyan sambil menguncang tubuh Kiran perlahan."Tante Kiran kenapa tidur di sini? Aku dan Zayyan sudah menunggu Mom... Tante Kiran di rumah," bisik Zahran pelan.Suara Si Kembar membuat Kiran sedikit mengernyit sebelum membuka mata perlahan. Nyawanya perlahan terkumpul membuat Kiran mengeliat merenggangkan otot-otot di tubuhnya."Pagi Zahran, pagi Zayyan...," sapa Kiran sambil menguap beberapa kali masih belum sepenuhnya menyadari sekitarnya."Bangun!" suara dingin Rayhan membuat Kiran langsung membuka matanya lebar.Bukan hanya Kiran namun juga Dina dan Rara yang langsung terbangun dengan wajah terkejut dan bingung. Keduanya langsung berdiri dengan tatapan tak percaya jika Rayhan berdiri di depan mereka. Mereka ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka."Se-selamat pagi Tuan Rayhan!" kata Rara setelah memperoleh kesadaran sepenuhnya."Apa kalian bertiga tidur di sini semalam?" tanya Rayhan dingin tak mempedulika
Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita
Hari ini merupakan hari pertama Kiran bekerja di perusahaan pusat, setelah sebelumnya dia bekerja hampir 3 tahun di perusahaan cabang yang ada di kota Y. Baju kerja berwarna biru gelap dan riasan tipis menambah kesan profesional Kiran dalam bekerja.Kiran menenangkan detak jantungnya saat berada di







