Home / Rumah Tangga / Rahasia Cece / Bab 13. Tawaran Perjanjian

Share

Bab 13. Tawaran Perjanjian

Author: Wening
last update publish date: 2026-10-03 17:01:05

Aku bingung harus melakukan apa jika tuan rumah telah meninggalkan ruangan. Aku merasa diusir secara halus. Jadi tanpa memikirkan hal lain aku juga segera bergegas ke ruang depan dan berniat keluar dari rumah ini.

Pulang.

“Hei! Kau mau pergi begitu saja setelah numpang makan?”

Ya ampun bahasanya sungguh tak enak d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Cece   Bab 15. Si Untung

    “Bagaimana, Ko?”“Ya, nggak bagaimana-bagaimana.”“Jadi apa yang harus kulakukan?”“Jangan lakukan apapun. Aku akan pelan-pelan saja mendekatinya. Dia anak baik tak mungkin mau mencurangi atasan atau bos di tempat dia cari cuan.”“Jadi Koko akan menyerah? Cuma dia yang bisa diandalkan di area sana.”“Tentu saja tidak. Biarkan aku mendekatinya dengan cara yang berbeda. Kamu orang diam-diam saja pura-pura menyerah dan tak tahu apa-apa.”“Ta-tapi ….”“Aku tetap akan membayarmu tenang saja. Tapi kita jangan ketemu dulu kalau tidak kuminta

  • Rahasia Cece   Bab 14. Menunggu Janji

    Baru kuingat, kalau sejak perjalan Cece dan Tuan Hong ke puncak waktu itu, kami memang jarang mengobrol dekat. Ce Rosi tampak lebih pendiam dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat tanpa lembur beralasan lelah.Hal yang sebenarnya membuatku senang. Itu sebabnya, aku juga jadi bisa beberapa kali bersantai sampai sempat mengintai tempat tinggal Ko Philip, berlanjut ke beberapa pertemuan setelahnya.“Aku lagi sebel sama Akoh.”Lega rasanya karena wanita mungil di depanku ini bukan cemberut karena tahu apa yang kulakukan di belakangnya.“Ada apa?” tanyaku kepo berbalut simpati.Jadi merasa jahat.“Lu orang tahu nggak. malam itu hari apa?”

  • Rahasia Cece   Bab 13. Tawaran Perjanjian

    Aku bingung harus melakukan apa jika tuan rumah telah meninggalkan ruangan. Aku merasa diusir secara halus. Jadi tanpa memikirkan hal lain aku juga segera bergegas ke ruang depan dan berniat keluar dari rumah ini.Pulang.“Hei! Kau mau pergi begitu saja setelah numpang makan?”Ya ampun bahasanya sungguh tak enak didengar. Memangnya aku harus apa ketika tuan rumah pergi ke kamar apa iya aku juga mengikutinya untuk membayar makanan yang telah masuk ke perutku?Yang benar saja. Aku menepuk kepalaku yang mulai berpikiran kemana-mana.“Memangnya saya harus apa? Kalau Koko sudah mau istirahat aku juga harus pulang,kan?”“Siapa bilang aku mau masuk kamar dan

  • Rahasia Cece   Bab 12. Bukan Mata-Mata

    Ko Philip telah berganti pakaian dari kaos berlengan panjang menjadi pendek. Sepertinya sempat membasuh muka juga sehingga tampak basah dan segar menambah kesan maskulin yang sungguh mempesona.Aku mengalihkan pandangan menghindar dari magnet yang begitu kuat. Dadaku berdebar riuh.“Kenapa? Aku ganteng , ya?”“Cih kepedean,” semburku ketus.Ko Philip terbahak lagi.Duh jantungku sungguh tak aman. Ketika sedang mengatur sesuatu di dalam sini agar normal kembali justru malah perutku ikut berulah.Kruyukkkk!Degg!! Semburat merah kembali menyebar di kedua pipiku dan tawa Ko Philip semakin keras.

  • Rahasia Cece   Bab 11. Bukan Orang Jahat

    “Aku akan mencurigaimu sebagai mata-mata wanita jalang itu!” Teriak Ko Philip dari arah punggungku.Suasana sepi membuat suaranya seolah menggema dan aku ketakutan akan ada orang-orang keluar dari rumah mahal mereka lalu mengurungku untuk mencari kebenaran.Aku seperti terseret dalam permainan Mas Untung dan lelaki tampan di belakang sana membuat tanpa sadar dihantui ketakutan yang tak jelas.Aku tahu siapa yang dia maksud dengan wanita jalang. Siapa lagi kalau bukan Cece Rossi yang menurutnya telah merebut sosok ayah dari keluarganya?Meski cara menyebutnya sangat keterlaluan, aku bisa apa?Mungkin kalau aku berada di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kurasa kehilangan dan rasa

  • Rahasia Cece   Bab 10. Rumah Ko Philip

    Pulang kerja aku langsung jatuh tertidur begitu menemukan bantal di kasur. Rasa lelah menyerang seluruh tubuh, termasuk persendian yang terasa teramat pegal. Tanpa mengganti baju, apalagi menyempatkan diri mandi agar lebih segar, aku langsung merebahkan diri. Soal makan yang kubayangkan saat masih di pabrik kalah oleh tubuh yang minta diistirahatkan. Apalagi aku masih harus membuat atau membelinya di luar terlebih dahulu.Sungguh sulit hidup merantau seorang diri.Bayangan wajah teduh Ibu terlintas sebelum semuanya menjadi samar dan hilang dalam lelap. Untung saja aku sudah menunaikan salat Asar sebelum pulang ke kost.Azan Magrib membuatku tergagap.Sambil memicingkan mata, aku melihat ke luar melalui kaca jendela yang gordennya sedikit terbuka. Langit sudah berubah pek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status