Se connecterPagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.
Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya. La iya lelakinya dia sendirian. Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya. Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan Hong dan Cece Rosi. Betapapun aku tak menyukai cara mereka melepaskan rasa satu sama lain tetapi sekali lagi hidupku mengandalkan gaji dari mereka. Main di belakang punggung jelas bukan hal baik. Lalu apa bedanya aku dengan mereka kalau begitu? Cece main di belakang Dokter Maria dan aku main di belakang Cece meski dalam konteks yang berbeda tetap saja intinya main di belakang. Apa lagi motifku hanya demi sedikit uang tambahan buat jajan. Bahkan tanpa jajan aku masih bisa hidup dengan nyaman makan cukup tiga kali sehari dari uang gaji yang halal. “Apa semalam toko tutup lebih malam?,” tanya Cece membuatku mendongakkan kepala menatapnya. Wanita yang hari ini mengenakan rok payung sedikit di bawah lutut tampak manis dipadu dengan t-sirt pink pres di badan itu tersenyum simpul. Mungkin sejak tadi mata sipit itu mengawasi pergerakanku yang sering melamun dan mendesah. Juga rasa kantuk yang sejak tadi susah payah kuenyahkan. Satu jar kopi masih belum mampu menghalaunya. “Ini masih pagi tapi kamu sudah menguap berulang kali, Kar.” “O, maaf, Ce … toko tutup seperti biasa kok,” jawabku sambil menunduk malu. Aku malu karena ketahuan menguap terus saat bekerja bahkan jam kerja baru saja dimulai, tapi entah mengapa Si Cece malah tertawa mencurigakan melihat ekspresiku. Sepertinya dia salah paham hingga kemudian yang terucap membuatku kembali melongo. Entah apa yang terjadi padanya dan Tuan Hong hingga pikirannya selalu dipenuhi aora abu-abu alias tidak jelas. Lihat saja bola matanya yang terus berputar-putar sebentar mengerjab sebantar kemudian mengerling genit membuatku jelas jengah. “Eh, Karlina. Apa kau lanjut kencan malam mingguan sama Si Untung?” “A-apa!?” Aku menutup mulut dengan reflek karena suara yang keras tanpa kusadari. “Hihi … biasa saja reaksinya, Kar. Kata orang Jawa tresno jalaran soko kulino. Kamu tahu nggak artinya? Kamu kan orang Jawa pasti paham, kan? Kamu sama Untung, Kar …,” kata Cece sambil menguncupkan lima jemari diarahkan pada wajahku yang langsung memerah. Ya ampun, kenapa aku jadi merasa … jijik. Bukan, bukan aku membayangkan adegan iya, iya dengan Mas Untung tapi lihat gaya Cece yang mengedip-ngedipkan mata sambil memonyongkan bibir membuatku jengah. Apakah istilah kencan kata Cece identik dengan monyong-monyonya bibir seperti itu? Sungguh aku masih polos. “Udah nggak usah malu, Kar. Untung itu kan masih lajang biar katanya punya hubungan sama Nia yang penting kan mereka belum menikah. Sah saja kalau kamu suka, tinggal Si Untung pilih siapa, iya kan?” Astaga! Aku tambah melongo mendengarkan celoteh Si Cece yang tumbenan hari ini banyak bicara. Alih-alih senang aku kok malah ilfil lihat bosku. Eh siapa bosnya ya? Dia apa Tuan Hong? Tingkah Cece yang seperti itu sungguh membuat hariku tambah berat hari ini. Belum selesai urusan dengan Mas Untung sekarang ditambah dengan Cece juga. “Nia juga pacaran sama Untung itu karena tresno jalaran soko kulino. Karena terbiasa sama-sama di toko hampir tiap hari.” Rupanya masih berlanjut. Aku menarik napas panjang mengingat Mbak Nia yang adalah karyawan tetap Sukses Makmur. Meski sering izin konon Mbak Nia pegawai ulet yang telaten juga pandai membuat laporan toko yang runut dan detil. Hal itu membuat Tuan Hong yang lumayan perhitungan dan gampang curiga terutama soal laporan keuangan sangat terbantu. Mereka dikabarkan cinta lokasi dan terlibat asmara sesama pegawai Toko Sukses Makmur dengan Mas Untung. Kabarnya Mas Untung meminta Mbak Nia untuk jadi pacarnya. “Kata Mas Untung aku harus mau jadi pacarnya, ya udah gitu.” Begitu curhatan Mbak Nia padaku suatu hari. “Tapi ….” Belum lagi aku menemukan kata yang cocok untuk menyangkal kata-kata Cece, bibir tipisnya kembali monyong sambil mendesis persis ular. “Eh, ssttt Si Akoh juga begitu sama saya,” kata Cece sambil terkikik pelan. Jelas aku speechless mendapati pernyataan wanita mungil di hadapanku ini. Rupanya dengan sadar dirinya ingin membuka aibnya padaku. Memang posisiku sebagai asisten dalam bekerja rupanya akan merembet ke ranah pribadinya juga. Asal jangan minta aku untuk menemani kencannya bersama Tuan Hong saja, ya kan? Aku bisa tergoda iming-iming Ko Philip untuk setor laporan dan terima gaji kedua. Secara sepolosnya diriku juga seorang wanita bukan dibawah umur yang tak akan suka sama pelakor dan empati sesama wanita pasti akan tumbuh apalagi mengenal istri sah Tuan Hong yaitu Dr. Maria yang juga baik. “Eh, Karlina! Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Cece sambil melambaikan tangan di depan wajahku kemudian meraba dahi. “Kemarilah!” ajak Cece sambil membimbing tanganku ke arah kantornya yang bersebelahan dengan ruang desain di mana kami berkutat dengan gunting, kertas dan lain-lain. Kami duduk bersebelahan di kursi panjang depan meja kerja Cece. Kursi ini biasanya dipakai kami jika berkepentingan dengan Cece yang duduk di seberang meja sana. Pandangan wanita keturunan Tionghoa itu intens dan mata kami bertaut beberapa saat dalam diam. Seolah tengah mengukur atau menimbang seberapa bisa dipercayanya diri ini. Napasnya mengalun menyapu wajah lalu kemudian menunduk. “Saya dan Akoh sering bersama. Tanpa sadar tumbuh rasa nyaman lalu suka. Saya tahu kamu orang melihat kami kemarin. Kata Akoh kamu jadi pendiam. Rasa seperti itu tidak bisa dihindari, Kar … jadi tidak bisa disalahkan juga kalau kamu orang jadi suka sama Untung karena sering bersama.” Apa-apaan? Cece mungkin tidak tahan untuk menyimpan rahasia sendirian selamanya. Mencari pembenaran dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama? Jelas dia salah orang kalau dikira aku menyukai Mas Untung. Meski misalkan Mbak Nia karyawan asli toko Maju Sukses tidak ada hubungan dengan rekan kerjanya itu pun aku sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan special dengan Mas Untung. “Ce, a-aku ti ….” “Cece tahu. Penampilan Si Nia memang sama sekali tak menarik. Sama seperti Cik Maria. Kamu cantic dibanding Nia yang berkulit gelap, kamu jauh lebih menarik dengan wajah imut dan kulit putih. Sepertiku, kan? Kita banyak kesamaan, yah?” Cik adalah panggilannya pada Dokter Maria dan Akoh adalah panggilannya untuk Tuan Hong. Saat menunduk tadi aku berharap ada rasa bersalah telah menyakiti Dokter Maria dan terselip sesal di matanya. Tapi nihil. Senyumnya bahkan membuat perutku sedikit bergejolak. Sementara Mbak Nia memang suka tampil apa adanya. Wajahnya manis dengan wajah tirus dan rambut ikal sebahu. Lumayan cantik hanya saja bobot lima puluh kilo terlalu kurus untuk tubuhnya yang jangkung seratus enam puluh lima centi. Jomplang dengan ukuran tubuhku yang hanya seratus lima puluh tiga centi dengan bobot empat puluh lima kilo. Gusti … entah bagaimana aku menjelaskannya pada wanita ini? Yakin sekali bahwa kami sama. Jangan sampai Ya Allah, amit-amit! “Sudah! Ayo kerja lagi. Kita saling jaga rahasia kita yah,” kata Cece sambil bangkit dan menarik tanganku yang pasrah saja mengikutinya. Biarlah apapun yang dipikirkannya tentangku. Bersambung ….Aku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai
Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po
Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di
“Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.
Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost. Mie instan.“Lin!!!”Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. “Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. “Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.Hiss aku jadi menep
Pagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya.La iya lelakinya dia sendirian.Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya.Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan







