Accueil / Rumah Tangga / Rahasia Cece / Bab 3. Pasadena

Partager

Bab 3. Pasadena

Auteur: Wening
last update Date de publication: 2026-07-26 17:07:49

Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost.

 Mie instan.

“Lin!!!”

Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?

Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. 

“Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. 

“Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.

Hiss aku jadi menepuk dahi sendiri mengingat pikiran konyol ini.

“Ih, cantik-cantik stress,” katanya lagi sambil menyilangkan telunjuk di dahi lalu melanjutkan jogingnya.

Good!

Mimpi apa gerangan semalam, pagi-pagi begini bisa bertemu pria tampan bermulut rombeng dan menyemprotku pula. Aku menatapnya tanpa kedip dan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Melongo, lebih tepatnya terpesona menikmati ciptaan Tuhan yang maha sempurna. Tubuh jangkung, kulit putih dengan hidung bangir panjang dan dagu lancip. Rambutnya yang sedikit gondrong diikat kebelakang dengan anak rambut yang basah berantakan. 

Sungguh ganteng meski mulutnya mudah memaki.

Aku memilih minggir dan mencari kursi untuk istirahat dan meneguk minuman yang sengaja kubawa. Demi berhemat tentu saja setiap bepergian tas ransel di punggung ini selalu penuh perbekalan agar tidak perlu jajan. Belum lagi kelar bersendawa kembali terdengar namaku dipanggil lebih jelas.

“Karlina tunggu!!”

“Mas Untung,” gumamku heran.

Hari Minggu seperti ini biasanya Tuan Hong paling mengharamkan akhir pekan tutup toko. Mas Untung adalah tangan kanan Tuan Hong yang mengurusi segala hal tentang toko dan hanya dia yang dipercaya sang Bos untuk membuka dan menutup toko. Jika mas Untung sakit atau berhalangan toko pasti ditutup karena Tuan Hong tidak percaya pada karyawan lain untuk memegang uang hasil penjualan.

Mas Untung dan Mbak Nia adalah pasangan serasi bagi Tuan Hong.

“Lin, jangan bengong aja ayo cari kursi buat duduk,” kata Mas Untung sambil menyenggol bahuku dan berjalan lebih dulu ke arah sebuah kursi panjang di pinggir taman.

Aku mengikutinya dari belakang dan duduk lalu kembali meminum air mineral yang kusandang di leher.

Mas Untung memperhatikanku hingga aku menandaskan setengah dari isi botol yang kupegang.

“Mas Untung kenapa di sini?”

“Olahraga. Memangnya apa lagi?

“Tuang Hong mengizinkan toko tutup hari Minggu?” tanyaku tak percaya.

Pletakk!!

“Ih, apaan sih, Mas? Sakit tau!” aku melotot mendapat sentilan di dahi lumayan keras.

“Kamu itu kenapa sih, Karlina? Belakangan melamun melulu kerjaannya. Lagian ya … kapan Sukses Makmur buka sepagi ini? Sekarang aja baru setengah tujuh.” Lelaki hitam manis meski pendek di depanku itu malah ngedumel panjang lebar.  

Ah benar. Hari kerja biasanya aku berangkat jam setengah tujuh dan mulai pekerjaan jam tujuh. Mas Untung akan datang mengambil kunci pada Cece setelah aku bahkan sudah bermandi keringat membantu menggelar kain-kain di meja penjang dan lebar untuk segera dicoreti pola oleh Cece.

Pabrik masih kecil dan semua proses produksi masih dengan cara manual.

“Ya ampun malah melamun.” Mas Untung menepuk pundakku dengan gemas.

“Ngomong-ngomong bagaimana hasil penyelidikanmu?”

“Penyelidikan apa?” 

“Soal Cece dan Tuan Hong.”

“Kapan aku bilang setuju buat bantu Mas Untung?” Aku mengernyitkan dahi. Perasaan tak pernah mengiyakan permintaannya untuk memata-matai Cece dan Tuang Hong kenapa dia malah menagih hasil?

“Jadi kamu gak dapat apa-apa?” tanya Mas Untung sambil mendelikkan mata.

Aku hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli. Pekerjaan itu sungguh tak bisa kukerjakan. Aku memilih setidaknya biar kerja berat hasilnya halal. Hidup akan tambah rumit dan jauh dari berkah jika sembarangan memilih pekerjaan yang samar-samar halal haramnya. Aku masih percaya akan hal itu. Seperti yang selalu bapakku gaungkan, “Biar sedikit asal halal.”

“Ah, lu orang bikin waktuku terbuang sia-sia, Tung.”

Suara berat itu terdengar tak jauh dari kami duduk hingga aku dan Mas Untung sama-sama menengok ke arah dimana sesosok pria tinggi berdiri. Sosoknya yang menjulang dengan kulit putih dan rambut legam kontras membuat aura maskulin sempurna dengan tetesan keringat di dahi dan seluruh kaos pas badan yang telah basah. 

“Ko Philip,” gumam Mas Untung pelan yang masih tertangkap telingaku.

Tanganku mulai berkeringat dingin mengingat bagaimana pedasnya mulut pria sejuta pesona itu. Gugup aku melihat ke arah Mas Untung. 

Philip?

Anganku melayang pada sosok yang selalu bersepatu kets, celana jeans dan hoodie menutupi kepalanya. Jadi inikah sosoknya? Si pria tampan bermulut tajam.

Sebentar! 

Jadi lelaki ganteng tapi cerewet yang tadi menabrakku dan ngomel panjang pendek, itu Ko Philip? Aku meliriknya yang tengah menatapku juga. Pandangan kami bertemu dan dia mengalihkan pandangan dengan memutar bola mata malas. Ganteng sih tapi sepertinya punya sifat menyebalkan.

Angkuh dan sombong.

“Maaf, Ko. Kayaknya Karlina belum paham sama yang kumaksud kemarin. Nanti kujelaskan lagi biar dia paham tugasnya. Dia bakal setuju kok bantu, Koko. Ya, kan, Lin?” tanya Mas Untung sambil mengedipkan mata memberi kode agar aku bilang, Ok.

“Maaf. Aku tidak bisa kerja sama dengan kalian, main curang di belakang Tuan Hong dan Cece.”

“Karlina kau ….” Mas Untung  tak melanjutkan ucapannya karena aku langsung mengangkat tangan menyuruhnya berhenti.

“Aku Cuma anak rantau yang mengandalkan hidup dari gaji bekerja pada mereka jadi jangan membuat posisiku sulit di belakang hari,” ucapku tegas.

Mereka berdua saling berpandangan dan aku merasa sudah tak punya kepentingan lagi jadi memilih beranjak dan pergi ke area trek jogging melanjutkan lari setelah berpamitan meski tak dijawab. Aku tak habis pikir kenapa baru sekarang mereka bergerak padahal sepertinya hubungan ayahnya dengan Cece bukanlah baru. Lagi pula dari sekian banyak karyawan Cece kenapa mereka memilihku yang ingin dijadikan mata-mata.

“Lin kamu gak kasihan sama Ko Philip? Dia korban broken home karena perselingkuhan mereka.” Mas Untung menjajari langkah ikut lari di sampingku.

Aku menghiraukannya.

“Dokter Maria orang baik, Lin, emang kamu tega keluarga mereka hancur karena Cece?” Lelaki pendek itu belum menyerah juga.

Aku memilih keluar area jogging dan berjalan santai sambil mengelap keringat yang telah membanjiri wajah dan leher. Mas Untung masih saja mengekor di belakangku menunggu jawaban.

“Ayolah, Lin!” serunya tak sabar lagi.

“Mas Untung jangan memaksaku. Tolonglah mengerti hal itu akan membahayakan aku jika sampai ketahuan. Aku masih butuh pekerjaan Mas, lagi pula aku yakin Dokter Maria sudah tahu dan memilih diam jadi tak perlu lagi memantau dan kepo soal aktivitas percintaan mereka,” kataku mendesah lelah.

“Lagi pula kalau benar terjadi masalah apa Mas Untung mau tanggung jawab sama kelangsungan hidupku ke depan?” tanyaku sengit.

“Mau aja kalau kamu sudah jadi istriku,” katanya dengan mimik menyebalkan.

Seketika ingatanku melayang pada percakapan bersama Cece soal tresno jalaran soko kulino yang membuatku bergidik dan pergi secepat mungkin dari hadapan Mas Untung setelah memelototinya dan berteriak;

“Jangan sembarangan bicara! Mbak Nia mau dikemanakan!?”

Lelaki yang sebenarnya baik itu tak mengejarku. Nampaknya waktu buka toko hampir tiba dari gelagatnya yang terus melihat jam di tangannya sambil berjalan cepat menjauhi area taman.

Bersambung ….

 

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Rahasia Cece   Bab 7. Ruangan Misterius

    Aku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai

  • Rahasia Cece   Bab 6. Rahasia Rumah Cece

    Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po

  • Rahasia Cece   Bab 5. Benarkah Begitu Jauh?

    Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di

  • Rahasia Cece   Bab 4. Ko Philip

    “Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.

  • Rahasia Cece   Bab 3. Pasadena

    Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost. Mie instan.“Lin!!!”Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. “Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. “Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.Hiss aku jadi menep

  • Rahasia Cece   Bab 2. Mata-mata

    Pagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya.La iya lelakinya dia sendirian.Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya.Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status