Se connecterAku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai
Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po
Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di
“Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.
Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost. Mie instan.“Lin!!!”Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. “Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. “Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.Hiss aku jadi menep
Pagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya.La iya lelakinya dia sendirian.Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya.Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan







