Accueil / Rumah Tangga / Rahasia Cece / Bab 4. Ko Philip

Partager

Bab 4. Ko Philip

Auteur: Wening
last update Date de publication: 2026-07-26 17:12:58

“Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”

“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.

Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.

Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. 

Untung ganteng.

Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?

“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.

Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.

Aku segera tersadar dari bengong ketika mereka beranjak ke dalam  dan langkahku kembali terayun cepat sebelum suara melengking Cece terdengar. Wanita kesayangan Tuan Hong itu paling tak suka menunggu. Gerakannya yang gesit harus bisa kuimbangi kalau tak mau terus kena omelannya yang khas.

“Kamu orang lelet benar, ha!” Selalu begitu. Sampai hapal rasanya tiap matanya sudah mulai memicing melihat dari ujung mata.

Hari ini sangat sibuk tetapi pikiranku kurang bisa focus pada apa yang kukerjakan. Bayangan kerinduan Meyling pada kakaknya membuatku terganggu. Konon keluarga ini telah lama saling tercerai berai. Entah sejak kapan yang pasti suasana canggung antara Cece dan Dokter Maria telah lama kulihat. Bahkan aku mengira bahwa Dokter Maria bukanlah istri Tuang Hong karena mereka nyaris tak pernah bersama. Aku hanya melihat Tuang Hong telah ada di kantor setiap pagi ketika aktifitas pabrik dimulai dan kami selalu masuk ke ruangan untuk absen di mana Tuan Hong dan Cece selalu sedang bersama.

Suatu kali aku bahkan pernah menyaksikan Dokter Maria datang ke kantor menemui Cece hanya untuk meminta izin memakai mobil guna mengantar Meyling kembali ke asramahnya. Meyling menjalani masa pendidikan di Boarding scool. Padahal semua tahu bahwa mobil seri sejuta ummat itu adalah operasional pabrik milik Tuan Hong. Entah mengapa Bu Dokter tak menggunakan SUV kesayangan Tuan Hong yang biasa dipakai saat bersama putrinya atau bersama Cece Rosi.

“Em, anu … Rosi, saya mau pinjam mobil untuk antal Lingling balik aslamah, ya,” katanya serak sambil menatap sembarang arah tanda tak focus.

“I-iya, Cik.” Pendek saja Cece menjawab dengan tergagap.

Tanpa basa-basi lagi Dokter Maria langsung balik badan kembali masuk ke rumah utama. Sungguh aneh aku melihat interaksi mereka tapi lalu kuabaikan karena segudang kesibukan. Tanpa tawaran aneh dari Mas Untung pasti aku tak bakal mengingatnya lagi. Mau tak mau tanta sadar aku jadi mengaitkan setiap kejadian dan sensitive akan setiap kejanggalan yang ada.

Philip sang kakak akan datang setiap adiknya berlibur dan pulang ke rumah menemui ibu mereka. Bertiga tampak bahagia penuh tawa Meyling yang berderai. Tanpa Tuan Hong bersama mereka tentu saja, tapi sekali waktu Meyling dan ayahnya berdua saja berjalan berdampingan memasuki mobil dan pergi bersama.

 Diluar itu baik anak-anak juga kedua orang tua mereka hidup sendiri-sendiri meski satu atap. Tak terlihat kebencian Dokter Maria pada Cece begitupun tak pernah sekalipun pertengkaran suami istri itu terdengar. Yang sering terdengar justru tawa berderai Cece saat bersama Tuan Hong di dalam ruangannya maupun ketika Tuan Hong tampak meninjau ruang desain Cece.

Aku terlalu polos untuk menyadari kejanggalan hubungan mereka.

Sampai pulang ke kost aku masih juga kepikiran keluarga penuh misteri itu. Aku berpikir seumpama setuju membantu ko Philip mematai Cece dan Tuan Hong, lalu kemudian untuk apa? Mustahil Dokter Maria tak tahu hubungan suami dan pegawai cantiknya. Terlihat bagaimana canggungnya kedua wanita beda usia itu saat terpaksa berinteraksi. Mungkin saja ada moment-moment mereka bersitegang atau konflik yang aku lewatkan. Aku baru bekerja pada mereka di tiga bulan kebelakang ini saja.

Sekalipun belum pernah menikah aku yakin bisa memastikan hubungan Tuang Hong dan istrinya jelas tidak baik-baik saja. Cece tampak lebih menguasai setiap sarana dilingkungan kantor dan pabrik bahkan toko Sukses Makmur. Seolah asset Tuang Hong adalah miliknya juga sementara Dokter Maria tidak sekalipun melibatkan diri.

Akhir pekan mereka selalu keluar bersama dan Cece akan bercerita seru tentang akhir pekannya yang menyenangkan bersama Tuang Hong yang katanya memiliki komunitas bersama di pecinta hewan peliharaan. Mereka bahkan memiliki peliharaan bersama yaitu beberapa ekor anjing herder yang tingginya hampir melewati pinggang Cece.

“Aku sama Akoh rutin membawa mereka berlatih setiap Minggu, Kalau libur latihan mereka perlu juga perawatan ke dokter hewan. Itu kenapa aku sama Akoh selalu keluar bersama setiap seminggu sekali.”

Begitu celoteh Cece entah yang keberapa kalinya aku mendengar cerita yang sama di Senin pagi seolah untuk meyakinkan bahwa kegiatan dua orang beda gender dan usia itu adalah wajar.

Keadaan mereka adem ayem saja, sehingga kupikir untuk apa lagi Ko Philip ingin mengusiknya? Apa yang akan dibuktikan? Semua sudah jelas dan ibunya sendiri sepertinya sudah tak peduli.

Tanpa sadar aku berjalan pulang sambil melamun. 

Untuk menghemat ongkos aku sengaja menyewa kamar petak tak jauh dari Perum Pasadena yang berseberangan dengan pabrik. Aku cukup melintasi taman yang tampak sepi di jam-jam jelang maghrib seperti ini. Seperti biasa ketika karyawan lain telah pulang aku masih berkutat dengan kertas-kertas berserakan yang ditimbulkan Cece Rosi.

Tiba-tiba kudukku merinding menyadari jalanan yang sepi. Aku merasa seperti diperhatikan seseorang atau sesuatu. Kutengok kanan dan kiri yang kosong lalu melangkah lebih cepat tapi jantungku justeru berdegub kencang. Aku merasa tegang tanpa alasan sampai seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“Aaaa!! Hemmmppp ….” Napasku semakin memburu ketika sebuah tangan membekab mulutku.

“Heh jangan teriak bodoh!” katanya dengan geram.

Aku mengenal suaranya. Kenapa dia mengikutiku? Sengaja menakutiku atau….

“ Akk!” pekiknya tertahan saat tangan yang membekap kugigit.

Pikiran burukku bergerak liar hingga aku merasa harus menjadi kuat untuk melindungi diri. Dengan memasang kuda-kuda didepan dada aku berbalik dan memelototinya. Sialnya mataku malah jadi memicing melihat sosok memesona dengan jarak yang begitu dekat.

Memalukan.

“Apa yang Koko lakukan!?” sentakku ketika tangannya menyingkir dari mulutku dan dikibaskan karena mungkin sakit oleh gigitan. 

“Cewek aneh,” gumamnya sambil ngeloyor pergi melewatiku.

Anehnya aku seperti terhipnotis ikut melangkah mengikuti dibelakangnya. Sambil terus menatap punggung lebarnya aku mengekor seperti anak ayam mengikuti induknya. Sesekali aku berjingkat karena langkahnya yang panjang membuat aku tertinggal.  Semakin lama aku menyadari bahwa ini bukan arah jalan menuju kostku.

“Eh, Ko. Salah jalan harusnya ke kanan bukan lurus!” kataku mengingatkan.

Tiba-tiba dia berhenti membuat aku menabrak punggungnya yang keras.

“Aduhh!”

“Kenapa jadi kamu yang mengikutiku?” tanyanya dengan tatapan heran.

Aku berdiri menatapnya seperti orang bodoh. Benar-benar bodoh. Memangnya apa yang kupikirkan sebenarnya? Kutepuk kepalaku dengan kesal untuk menutupi malu. Ko Philip meneruskan langkah berjalan sementara aku berdiri menatapnya bingung.

“Ko Philip mau kemana?” Aku menutup mulut lancang ini yang menyampaikan jiwa kepo dalam kepalaku.

“Pulang. Rumahku ada di ujung blok ini. Kau boleh ikut ke rumahku kalau mau,” katanya sambil terkekeh pelan.

Deggg!

Jantunggku berulah riuh. Kenapa dia jadi begitu ramah? Tanpa banyak kata aku berbelok dan berjalan cepat menuju arah rumah kost. Tawanya berderai indah masih tertangkap pendengaranku meski semakin samar.

Bersambung ….

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Rahasia Cece   Bab 7. Ruangan Misterius

    Aku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai

  • Rahasia Cece   Bab 6. Rahasia Rumah Cece

    Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po

  • Rahasia Cece   Bab 5. Benarkah Begitu Jauh?

    Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di

  • Rahasia Cece   Bab 4. Ko Philip

    “Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.

  • Rahasia Cece   Bab 3. Pasadena

    Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost. Mie instan.“Lin!!!”Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. “Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. “Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.Hiss aku jadi menep

  • Rahasia Cece   Bab 2. Mata-mata

    Pagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya.La iya lelakinya dia sendirian.Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya.Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status