Se connecterAku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.
“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.” Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku. “Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar. Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang. Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar. Tok! Tok! “Karlina, sudah selesai mandinya?” “Ya, Ce … sebentar!” Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu. “Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Suka-suka orang mau bilang apa. “Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai pembantu. Mama tidak suka orang luar. Biasanya pekerjaan rumah kami kerjakan bareng-bareng. Tapi kan aku mau pergi, jadi tolong dibantu, ya!” Perintahnya sama persis seperti gayanya di pabrik. Ya, bagiku ini memang masih dalam pekerjaan, tugas luar. “Soal makan nanti Mama atur buat kamu,” katanya lagi. Aku hanya mengangguk paham. Begitulah akhirnya aku harus menjadi pembantu sementara di rumah Cece. Membantu Nyonya Lin yang tampak tertutup. Senyumnya tampak ragu dan khawatir. Sorot curiga terpancar jelas dari mata sipitnya ketika memperhatikan setiap gerakanku. Aku mencoba terus mengumbar senyum untuk menetralkan rasa kurang nyaman. - Pagi ini aku dibuat bingung karena Nyonya Lin tak kunjung keluar kamar. Aku memutuskan membantu bersih-bersih dulu sambil menunggu wanita bertubuh agak kurus itu keluar. Sambil celingak-celinguk, aku bermaksud mencari peralatan seperti sapu atau alat pel. Rumah ini cukup rapi. Aku berpikir mungkin saja ada gudang di dekat kamar mandi untuk menyimpan peralatan. Orang-orang kaya biasanya seperti itu. Memiliki ruang-ruang khusus untuk berbagai kebutuhan. Dan ternyata benar. Aku menemukan sebuah ruang khusus. Namun, itu bukan ruang penyimpanan peralatan kebersihan. Ruang yang kutemukan justru semacam ruang ritual dengan bekas bakaran dupa. Patung-patung aneh dan berbagai peralatan yang tidak kukenali memenuhi ruangan itu. Badanku merinding menatap semuanya. “Karlina!” Samar kudengar suara Nyonya Lin. Aku kebingungan mencari tempat bersembunyi. Karena takut ketahuan mengintip ruang rahasianya, aku bertekad melarikan diri. Ketukan sandal Nyonya Lin terdengar menjauh. Aku buru-buru keluar, menutup kembali pintu ruang rahasia itu, lalu menyelinap masuk ke kamar mandi. Napas masih memburu. Jantungku berdegup kencang. Kuambil air dengan gayung dan kusiramkan ke berbagai arah hingga terdengar suara air bercipratan. Benar saja. Langkah Nyonya Lin kembali terdengar mendekat, lalu suaranya memanggil dari depan pintu kamar mandi. “Kalina!” “Iya, Nyonya Lin.” Aku segera membuka pintu sambil meringis, berusaha mengurangi kegugupan. “Kau olang di kamal mandi, ha?” tanya wanita kurus berambut keriting dengan sebuah rol menggulung di atas dahinya itu. Wajahnya tampak heran. Aku yakin wanita tua itu sudah mengecek kamar mandi ketika mencariku tadi. Makanya, saat tiba-tiba melihatku berada di dalam, dia pasti bingung sekaligus curiga. Sungguh, aku jadi mahir berbohong entah sejak kapan. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang lemah ini. “Ya, Nyonya Lin. Saya tadi di samping rumah sana. Dengar Nyonya panggil, tapi tiba-tiba ingin pipis,” kataku sambil menunjuk ke satu arah dan memasang raut malu-malu. “Oh, pantes. Ayo salapan. Asep sudah belikan kamu makanan.” Aku mengikuti langkahnya menuju ruang makan dengan perasaan tidak nyaman. Bagaimanapun, wanita tua itu tidak pernah berbuat jahat kepadaku. Namun, sudah berulang kali aku membohonginya. Ini sungguh kebiasaan buruk. Rasa bersalah itu tidak mudah hilang sampai kami duduk berdua menghadap piring masing-masing. Sambil menatapnya, dalam hati aku berharap bisa menebus rasa ini dengan membantunya baik-baik selama berada di rumah ini. Nyonya Lin tampak beberapa kali melirik ke arahku hingga aku semakin salah tingkah. “Tak usah khawatil. Masakan ini tak ada pakai ham,” katanya sambil tersenyum. Ya Allah! Ternyata itu yang dipikirkannya. Aku membalas senyumnya dengan pikiran rumit. Bukan soal makanan itu yang tidak menggunakan ham—sebutan mereka untuk daging babi—melainkan karena Nyonya Lin ternyata tidak sedang mencurigaiku. Aku tahu makanan ini dibawakan Pak Asep. Beliau orang Sunda yang aku ketahui juga rajin shalat.Aku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai
Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po
Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di
“Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.
Minggu pagi aku pergi ke Taman Pasadena. Itu adalah perumahan cukup elit yang di tengahnya ada semacam taman dan sarana olahraga lumayan lengkap. Ada area jogging track di sana. Itulah yang membuat banyak orang datang dan memanfaatkan sarana yang disediakan gratis bagi warga komplek dan sekitarnya. Termasuk aku ini yang suka banget lari pagi untuk menjaga berat badan dan tetap sehat meski tiap hari dijejali makanan wajib anak kost. Mie instan.“Lin!!!”Aku celingukan mencari sumber suara yang sepertinya memanggil namaku. Suara seorang lelaki yang familiar di telinga. Namun tempat ini sangat ramai membuat pendengaran agak terganggu karena bising. Mungkin saja ada orang yang nama panggilannya sama denganku?Aku ingin berhenti dan menunggu tapi__. “Aduh!!” Seseorang menabrakku dari belakang. “Jangan berhenti mendadak dong! Sakit nih, kaya di area pribadi aja seenaknya punya tingkah.” katanya merepet seperti emak-emak kehabisan uang belanja dari suaminya yang pelit.Hiss aku jadi menep
Pagi ini aku datang ke pabrik agak terlambat. Bukan karena bangun kesiangan tapi karena kebanyakan bengong sehabis shalat subuh. Jatah tilawah yang biasa dua lembar kukerjakan pun hanya selembar saja. Semua bermula ketika pagi buta pesan di aplikasi hijau berjejalan masuk ke ponsel jadulku.Dari mana lagi kalau bukan dari lelaki pendek penjaga toko itu? Dia tak menyerah untuk mempengaruhiku agar mau menjadi mata-mata Ko Philip. Dasar kurang kerjaan saja Mas Untung si lelaki pendek dengan tingkat percaya diri super wahid merasa paling ganteng di seantero Toko Makmur Jaya.La iya lelakinya dia sendirian.Aku mendengus kesal sendirian. Bagaimanapun aku menginginkan uang banyak tapi tetap memilih yang halal. Apa tawaran Mas Untung termasuk halal kalau kerjanya saja kepo pada urusan pribadi dan keluarga orang lain? Apa lagi Ce Rosi dan Tuan Hong adalah bos yang notabene hidupku tergantung pada uluran gaji mereka. Aku meragukan kehalalannya.Semalam aku menolak ajakannya untuk mematai Tuan







