LOGINAku benar-benar kehabisan akal.
Bagaimana mempertahankan peninggalan terakhir orang tua? Jika Maria keberatan mengalah dan putraku sendiri berpihak pada ibunya, habislah sudah.
Jalan terakhir hanyalah pasrah pada nasib, semoga Rosi berbaik hati menjadikan harta yang telah diambilnya dijadikan modal awal untuk memindah pabrik dan berjuang bersama untuk memulihkannya
Lelaki yang mendapatkan amanat dari Tuan Hong untuk mengatasi bagian produksi menggantikan Ce Rosi sementara waktu, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.Selain tak begitu paham seluk beluk produksi busana, dirinya tak mendapat arahan lengkap hanya disuruh memantau dan memastikan produksi berjalan. Nampak mudah saja tetapi siapa mengira heboh di grup obrolan aplikasi hijau mengakibatkan perdebatan dan berkembang menjadi pertengkaran sengit adu argumen dan berakhir saling hujat di beberapa bagian.Perintah Sang Tuan yang menginstruksikan agar membuat list dan mengeluarkan mereka yang bermasalah dengan iming-iming pesangon justru menjadi musibah berkepanjangan. Terlalu banyak yang mengisi list dari berbagai bagian hingga beberapa bagian kosong dan membuat proses produksi tersendat-sendat.Perinta
Paginya, Tuan Hong menggosok mata yang sulit dibuka. Semalam dirinya duduk terpekur mencari cara untuk menghadapi hari kembalinya Rosi ke pabrik.Dini hari baru bisa terlelap.“Sayang, sebaiknya besok jangan cepat-cepat kerja langsung. Bersantailah karena sekarang, Rosi bukan lagi pegawai tapi nyonya yang halus menyesuaikan diri.” kata Tuan Hong saat mereka berdua sedang sarapan pagi di resto hotel tempat mereka menginap.Si Cece yang terus saja dihujani perhatian merasa sangat bahagia dan hatinya berbunga-bunga oleh perlakuan manis Sang Suami Dia hanya mengangguk dengan wajah berbinar cerah.“Apa semua akan baik-baik saja kalau Rosi nggak handle, Koh?” tanyanya yang langsung pada mode serius jika tela
Entah apa yang akan dilakukan Rosi kalau tahu, suaminya kini tak memiliki harta yang akan diwariskan pada putra mereka kelak.Selain sedikit aset yang sudah di tangannya, lahan dan rumah yang kini telah menjadi sebuah gedung pabrik yang megah, jatuh pada anak-anak Dokter Maria.Bahkan itu semua memang milik ibu mereka bukan karena ayahnya yang berikan.“Koh,” Rosi masih belum puas karena suaminya diam saja hingga membuatnya heran.Ayah dua anak yang telah kehilangan buah hatinya demi wanita lain itu masih terdiam. Dengan gemas ditolaknya bahu Sang Tuan.Wanita yang kini memakai hotpant putih dengan kaos gombrong sepanjang bawah pusar itu mengerutkan bibir. 
“Pastikan karyawan Anda tak akan bingung dan mengganggu kenyamanan penghuni rumah kami saat masuk pertama besok,” kata Philip seolah pada seorang asing tanpa ikatan kekeluargaan apalagi hubungan darah.“Papa, tahu,” jawabku lirih.Peringatannya itu sekaligus mengingatkanku bahwa waktu liburan karyawan tinggal sehari besok. Aku harus bersiap menghadapi drama panjang di hari-hari pertama. belum suasana hati Rosi yang bakalan buruk.Tanda sadar aku mendesah lelah.Menyadari bahwa putraku ini sudah dewasa, tapi ironis, bahwa kedewasaan yang seharusnya membuatku bangga dipakainya untuk melawan ayahnya sendiri.Cara pikirnya cerdas, tegas sebagai pemimpin dan gagah pul
Setelah kata-katanya yang seperti sengaja mengejek, penjaga itu menghentikan kegiatannya dan kembali menatapku ke atas lalu ke bawah dan keatas lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.Matanya menelisik seperti aku ini maling yang akan melakukan aksi yang harus sangat diwaspadai.“Apa yang kamu orang lakukan?”“Mana mobil, Tuan? Dan penjaga?” Dia malah balik tanya yang membuat aku jengah.“Sudah katakan saja pada majikanmu kalau wa Adrian Hong ingin beltemu.”“Baik. Tunggu sebentar.”Aku melongo ketika gerbang kembali menutup menelan bayangan penjaga menyebalkan itu tanpa mempersilahkan aku masuk le
“Sayang, bersiaplah … kita akan berbulan madu dan berangkat siang nanti.”Wajah yang sedikit kusut itu berbinar ceria. Mata sipitnya menjadi sebuah garis dengan bulu mata bergetar.“Benarkah, Akoh!?”“Tentu saja, wa mau pergi dulu sebentar urus sesuatu,” kataku sambil merapikan anak rambut di keningnya.Kabar semalam membuatku tak tenang. Rosi yang terbangun membuat aku panik. Untung saja dirinya masih dalam keadaan mengantuk hingga tak mendengar percakapan lewat telepon seluler yang kulakukan.“Berapa lama kita akan pergi, Koh?” tanya istri mahalku itu dengan wajah cerah penuh kebahagiaan, khas pengantin baru.







