تسجيل الدخول“Sayang, bersiaplah … kita akan berbulan madu dan berangkat siang nanti.”
Wajah yang sedikit kusut itu berbinar ceria. Mata sipitnya menjadi sebuah garis dengan bulu mata bergetar.
“Benarkah, Akoh!?”
“Tentu saja, wa mau pergi dulu sebentar urus sesuatu,” kataku samb
Setelah kata-katanya yang seperti sengaja mengejek, penjaga itu menghentikan kegiatannya dan kembali menatapku ke atas lalu ke bawah dan keatas lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.Matanya menelisik seperti aku ini maling yang akan melakukan aksi yang harus sangat diwaspadai.“Apa yang kamu orang lakukan?”“Mana mobil, Tuan? Dan penjaga?” Dia malah balik tanya yang membuat aku jengah.“Sudah katakan saja pada majikanmu kalau wa Adrian Hong ingin beltemu.”“Baik. Tunggu sebentar.”Aku melongo ketika gerbang kembali menutup menelan bayangan penjaga menyebalkan itu tanpa mempersilahkan aku masuk le
“Sayang, bersiaplah … kita akan berbulan madu dan berangkat siang nanti.”Wajah yang sedikit kusut itu berbinar ceria. Mata sipitnya menjadi sebuah garis dengan bulu mata bergetar.“Benarkah, Akoh!?”“Tentu saja, wa mau pergi dulu sebentar urus sesuatu,” kataku sambil merapikan anak rambut di keningnya.Kabar semalam membuatku tak tenang. Rosi yang terbangun membuat aku panik. Untung saja dirinya masih dalam keadaan mengantuk hingga tak mendengar percakapan lewat telepon seluler yang kulakukan.“Berapa lama kita akan pergi, Koh?” tanya istri mahalku itu dengan wajah cerah penuh kebahagiaan, khas pengantin baru.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel bintang lima, suami istri yang baru sah beberapa jam lalu, tergolek di ranjang bertabur bunga.Mereka baru saja mereguk nikmatnya hubungan halal. Meski bukan muslim, setidaknya istilah itu bisa diartikan sebagai hal yang tak perlu dilakukan secara sembunyi-sembunyi lagi.Karena aktivitas padat beberapa hari, Rosi yang melibatkan diri menyiapkan pernikahannya hingga berhasil sempurna menjadi kelelahan dan segera jatuh tertidur setelah sang suami melepaskannya.SementaraTuan Hong sendiri masih saja belum bisa memejamkan mata. Banyak hal mengganggu pikiran. Dengan berjingkat agar tak mengeluarkan bunyi Sang Tuan perlahan turun dari ranjang dan berjalan pelan menuju balkon, setelah meraih ponsel dengan cepat.“Ap
Penjaga baru yang telah diatur keluarga Tuan Chiang segera datang berlari mendekati bos barunya.“Selamat malam semuanya. Saya Tono, petugas keamanan yang baru.” katanya memperkenalkan diri.Pak Tono tampak supel, tapi kata-katanya tegas dan berbadan tegap. Lelaki matang berusia sekitar empat puluh tahun itu mengelilingi semua yang ada di sana.Pak Hendra menampar bahuny
Di kediaman Tuan Hong, mobil Ranto dihentikan oleh penjaga. Namun setelah memperlihatkan tanda pengenal mereka, semua diperkenankan masuk dan duduk di aula yang lumayan luas dan bisa menampung ribuan orang.Ruangan ini dibangun Tua Hong untuk difungsikan sebagai sarana kumpul karyawan di moment-moment tertentu.“Jadi, Bapak ini, penjaga gedung ujung jalan sana, ya?” tanya Philip mengakrabkan diri.“Iya. Saya juga sering lihat Aden sepedaan saat SD, SMP, motoran pas SMA-nya,” kata lelaki baya dengan logat sundanya yang kental sambil tersenyum.“Wah bener. Bapak memang yang itu.”“Yang itu yang mana, Tuan Muda?” bisik Ranto menyenggol bahu Philip dengan bahunya.
“Namanya Pak Hendra.Beliau adalah seorang pengacara hebat yang akan membantumu mensterilkan lokasi. Saat ini sedang meluncur kesana jadi kalian bersiaplah.” Begitu instruksi Tuan Chiang pada dua pemuda yang terus mengangguk di depannya.“Maria juga akan ikut untuk menyerahkan berkas agar diurus Pak Hendra nanti,” katanya lagi sambil mengangkat wajah ke arah Dokter Maria.“Ya, Kak.”“Wa ikut kan, Ma?” Meyling kebingungan melihat orang-orang akan pergi.“Tidak boleh, Sayang. Banyak orang akan menarik perhatian dan bisa jadi akan sampai pada papamu kalau ada yang lapor.”“Non Lingling sama saya dan







