LOGINMelihat Mama aku segera melupakan rasa penasaran dan kembali merasa sangat sedih.
Kupeluk wanita yang satu-satunya keluarga itu dengan erat. Tangisku kembali meledak. Setelah agak reda kusadari Mama dalam pelukanku tak seperti biasanya.
Tubuhnya tegang dan kaku tanpa membalas rangkulan seperti biasa.
“M-mama
Rupanya anak perempuan yang kini telah menginjak usia tiga puluh tahun itu sedang sedih.Sambil memeluknya aku mengambil gumpalan kertas dalam genggamannya dan melemparkan ke arah ranjang, mengumpulkannya dengan barang lain.Semula Rosi bingung dengan tak berhenti menatap onggokan barang-barang lawas itu.“Itu bukan apa-apa cuma balang longsokan yang gak guna lagi.” Rosi hanya mengangguk ragu.Kali ini aku masih selamat. Jika gumpalan kertas itu dibuka maka akan terpampang wajah seseorang yang, karena ikatan batin akan merasa dia kenali. Habislah aku kalau hal itu terjadi.Aku mengalihkan perhatian dengan membawanya ke sofa ruang keluarga.
Setelah hari pernikahan Rosi, aku diam di rumah selepas menghadiri resepsi mewahnya. Meski aku tersemat sebagai ibu mempelai wanita, tak ada apapun yang kulakukan untuk acara itu.Rosi mengurus semua dengan bantuan wedding organizer yang dia sewa.Rumah kami sepi dari kerumunan orang memasak atau bantu-bantu selayaknya orang tua lain yang akan hajatan menikahkan seorang putri.Kami tak memiliki keluarga.Setelah Achiang mengambilku dari panti, hidup ini hanya seputar menjadi istrinya dan memendam dendam berkepanjangan setelah berpisah.Kehidupan bahagia yang sebentar, terus saja ku hayalkan merasa masih memilikinya.Aku bahkan tak merasa bersalah sedikitpun saat putri Achian
Melihat Mama aku segera melupakan rasa penasaran dan kembali merasa sangat sedih.Kupeluk wanita yang satu-satunya keluarga itu dengan erat. Tangisku kembali meledak. Setelah agak reda kusadari Mama dalam pelukanku tak seperti biasanya.Tubuhnya tegang dan kaku tanpa membalas rangkulan seperti biasa.“M-mama, ok?”Mama bergerak melepaskan pelukan dan mengambil gumpalan kertas foto di tanganku lalu melemparkannya pada barang2 yang berserak.Kemudian Mama menarik tanganku untuk mengikutinya keluar kamar.Aku berjalan dengan sedikit linglung sambil menengok ke arah onggokan barang aneh di ranjang itu.“Itu ba
Rasanya perasaan ini hancur lebur ketika lelaki tua bangka itu memarahi dan membela mantan istri kerempengnya.“Semua aset sudah wa ambil katanya? Itu tak ada apa-apanya timbang yang di dapat Si Maria sialan itu.” Aku menggerutu sepanjang jalan.Setelah dibentak-bentak oleh Akoh aku menyambar tas dan kunci mobil dan berlalu pergi dari gedung tua itu.Sungguh tak ikhlas rasanya jika mantan istri si Akoh begitu beruntung hidupnya.Sudahlah dia seorang dokter yang laris di tempat prakteknya. Sekarang ketiban rezeki tak terhingga mendapatkan gedung megah yang bisa dijadikan Mini mall atau supermarket lengkap yang pasti akan mengalirkan banyak cuan.“Dia selalu lebih unggul.”
Dengan tetap mengabaikan istrinya, Tuan Hong memarkir kendaraan dan segera turun. Memandang berkeliling seolah meneliti. Tak peduli bagaimana Sang Istri histeris dan berlarian ke sana ke mari memastikan atribut gedung itu yang benar-benar berciri J-fashion.Pabrik garment kebanggaan yang semula kecil dan menjadi berkembang besar di tangannya.“Akoh!!” Rosi kembali berteriak dengan wajah yang kini telah memerah.“Rosi tenanglah. Ayo masuk.” Dengan mencekal lengan istrinya Tuan Hong memasuki gedung yang masih sepi. Gambaran dari Johan tentang ruang kantor yang diperuntukkan baginya telah dikirim via aplikasi pesan jadi tak bingung lagi meski pos penjagaan kosong, entah di mana penghuninya.Sebuah ruangan coba dibukanya yang terny
Aku mematut diri di depan cermin.Kemeja putih lengan panjang agak longgar, agar tak mencetak bentuk badan, dipadu dengan celana kulot hitam formal.Kerudung segi empat diatur sedemikian rupa agar terlihat ringkas dan tetap menutupi bagian yang seharusnya dan mengulurkan bagian dada lebih ke bawah. Dengan penampilan ini aku cukup percaya diri juga merasa aman.“Beres.”Setelah merasa cukup kusandang tas hitam berisi segala perlengkapan. Sementara map berisi berkas lamaran hanya kupeluk di dada. Aku takut akan lecek nanti kalau dimasukkan ke dalam tas.Kukunci pintu kamar kost dengan mengapit terlebih dahulu map yang kupegang di ketiak.Mengintip







