Share

Senyuman Bu Diana

Penulis: Yulistriani
last update Terakhir Diperbarui: 2024-02-14 14:26:30

"Mas Gama!"

Aku tersentak setelah Pak Dirgantara sedikit meninggikan suara sembari menatap wajahku. Pun wanita itu, dia tak bersikap seperti tadi. Sebaliknya, dia justru tersenyum manis dan bergelayut manja pada bahu pria di hadapan.

"Sayang, aku pergi dulu, ya," katanya dengan senyum manis.

Sebuah senyuman yang mengingatkanku pada almarhumah Rengganis. Entah, aku pun tak mengerti kenapa. Padahal, wajah mereka sangat berbeda, akan tetapi sekilas terlihat sangat mirip. Namun, aku segera menepis pikiran itu, mungkin saja semua hanya ilusi karena aku sangat merindukannya.

"Iya, kamu duluan ya, nanti aku nyusul," jawab Pak Dirgantara dengan mata berbinar.

"Sampai ketemu di kantor sayang," katanya, wanita yang mengenakan blazer dan rok span pendek itu pun mencium pipi Pak dirgantara.

Oh Tuhan, maafkan aku yang selalu merasa Rengganis masih di sini. Bukan, sama sekali bukan tak menerima takdir, tetapi aku hanya tak menyangka kini telah menjadi seorang duda.

"Maaf, tadi itu calon istri saya," ujarnya setelah wanita itu pergi.

"Oh, iya, tidak apa-apa, Pak," jawabku sungkan. Melihat kemesraannya, aku pikir wanita tadi adalah istri, tetapi rupanya baru calon.

"Oh ya, Celine kuliah di Universitas Cipta Bangsa, sebentar lagi dia berangkat, kalau dia bersikap tidak baik, tidak perlu dipikirkan. Saya capek karena dia selalu bersikap nakal padahal sudah bukan anak kecil lagi," jelas Pak Dirgantara.

"Mohon maaf, Pak, jika saya lancang, bukankah Bapak tahu bahwa saya mantan narapidana, tetapi kenapa Bapak menerima saya untuk melindungi putri Pak Dirgantara?"

Sebuah pertanyaan yang sejak kemarin bergelayut di kepala, tetapi baru bisa ku tanyakan saat berhadapan langsung.

"Sejak saya melihat CV dan melakukan wawancara, saya yakin kamu orang baik," jawabnya dengan senyum mantap.

Aku pun mengangguk, jauh dalam hati sangat terharu dengan kebijakan hati Pak Dirgantara. Aku penasaran senakal apa anak gadisnya? Rasa-rasanya pria berwibawa dan bersahaja seperti Pak Dirgantara ini tak mungkin gagal dalam mendidik anak.

"Baik, Pak, kalau begitu saya akan menjalani pekerjaan ini sebaik mungkin," anggukku.

"Kalau begitu ini kunci mobilnya, hari ini juga kamu sudah boleh kerja."

"Terima kasih, Pak, karena telah memberikan saya kepercayaan," kataku kemudian menyalami tangan Pak Dirgantara.

Perihal hak dan kewajiban bekerja, sudah kami bicarakan dalam wawancara daring. Selain menjadi sopir, aku juga ditugaskan untuk menjaga Celine dari pergaulan yang tidak baik, sehingga Pak Dirgantara menjanjikan gaji yang sangat pantas untukku.

***

Aku sudah duduk sembari memanaskan mesin mobil saat seseorang masuk dan menghentakkan pintu.

"Jalan!" titahnya dengan suara penuh penekanan.

"Iya, Non__"

Mataku melebar saat melihat siapa yang duduk, rupanya dia si anak gila yang hampir membuat Rengganis celaka waktu itu.

"Kamu!" Aku terkesiap, meski sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi aku masih ingat wajah sombongnya.

"Ternyata sejauh apapun melangkah, Tuhan akan mempertemukan kita karena kamu belum meminta maaf, Nona." Aku berceletuk sinis.

"Bentar ...." Gadis itu menatapku seperti tengah mengingat sesuatu, " Oh, Lo 'kan cowok alay yang mesra-mesraan di jalan itu?" tuduhnya dengan ekspresi wajah jijik, aku sangat yakin dia ingat semua kejadian waktu itu.

Beberapa tahun lalu saat aku masih berpacaran dengan almarhumah istri, aku yang tengah mengajari Rengganis naik motor sempat tertabrak oleh mobilnya yang membuat tangan kiri Rengganis patah. Aku sempat beradu mulut dengan anak SMA itu, tetapi alih-alih meminta maaf, dia justru kabur setelah mengucapkan kata-kata kotor.

"Pantas Pak Dirgantara nggak bolehin kamu bawa mobil lagi, manusia seperti kamu kalau dibiarin bisa bunuh ratusan orang," celetuk ku dengan perasaan kesal.

"Enak aja, waktu itu lo yang salah, bukan gue!" elaknya.

"Tapi kalau kamu mau meminta maaf, saya masih bisa memaafkan, kok," kataku berusaha memberi penawaran.

"Ogah, lagian kejadiannya udah lama, yang paling penting gue nggak salah!" tolaknya dengan wajah judes, gadis itu juga mengerlingkan mata dan menyilangkan tangan di dada.

Aku menatap matanya sekilas, anak ini ternyata memang sangat sombong dan liar, tak heran banyak sopir dan asisten rumah tangga yang malas dengannya.

"Ayok jalan, gue buru-buru."

Aku melajukan kendaraan tanpa membahas apapun.

"Berhenti di sini!" pintanya saat kami sudah setengah perjalanan.

"Tapi ini belum sampai!"

"Gue bilang berhenti ya berhenti!" sungut Celine dengan tatapan judes.

Meskipun dia adalah majikan, tetapi bos ku yaitu Pak Dirgantara, menjaganya adalah pekerjaan, sehingga aku tak ingin menuruti permintaan anak nakal ini.

"Nggak, saya harus antar kamu ke kampus!" tegasku.

"Om, gue bilang berhenti di sini, lo budek, ya!" Celine semakin marah ketika mobil terus melaju.

"Om?"

Aku terkejut mendengar sapaannya. Usiaku baru dua puluh tujuh tahun, rasanya masih cocok dipanggil Mas, atau bahkan Pak agar sedikit berwibawa meski hanya sekadar sopir.

"Buruan berhenti, atau gue loncat!" ancamnya kemudian.

Mendengar kalimat itu, aku hanya tertawa sinis. Generasi sekarang memang sangat lebay, keinginan tak terpenuhi saja ingin bunuh diri. Akan tetapi, sedikit banyaknya aku sudah mendapatkan wejangan terkait karakter anak manja ini, sehingga aku tak ingin peduli dengan ancamannya.

"Ini bukan tujuan kita!" jawabku singkat, tak ada niat sedikitpun untuk berhenti di tengah jalan.

Celine menatapku dengan tajam. "Lo cuma sopir, nggak berhak atur gue!" teriaknya.

"Ya, tapi memastikan kamu sampai di kampus dengan selamat adalah tanggungjawab saya!" tegasku.

"Lo berani sama gue, ya!"

"Saya diberi amanah untuk menjalankan tugas ini," jawabku sembari fokus menyetir. Entah apakah aku kuat menghadapi anak ini atau tidak, baru beberapa jam kerja saja rasanya sudah penat kepala.

Gadis berwajah cantik itu murung lantaran keinginannya tak terpenuhi. Biarkan saja, mungkin dia bisa melakukan apapun pada sopir yang dulu, tetapi dia tak bisa melawan ku sebab aku hanya akan mematuhi Pak Dirgantara. Aneh, berstatus mahasiswa yang hanya tinggal belajar saja sering bolos, padahal dulu aku sampai harus membagi waktu dengan pekerjaan hanya untuk mendapatkan gelar sarjana.

"Sudah sampai, turun di sini saja," pinta Celine saat mobil berada di gerbang kampus.

"Nggak Non, saya harus pastikan Non Celine masuk kelas, sebab Pak Dirgantara memerintahkan demikian!" tegasku lagi, meskipun kesal aku harus berusaha sopan.

"Hah? Papa nyuruh lo begitu? Iiishh."

Celine mengerutu, mungkin anak itu kesal karena hari ini tak bisa bolos seperti biasanya.

"Ya," jawabku singkat.

Wajahnya semakin ditekuk, anak manja itu memang sangat cantik, dengan kulit putih dan rambut panjang sepundak membuatnya terlihat manis, terlebih gayanya yang trendi. Namun, sayangnya dia benar-benar sombong.

"Wah Celine, lo sama siapa?" tanya seorang mahasiswi lain saat kami baru saja turun dari mobil.

"Sama sopir gue, kenapa?" jawab Celine nyolot.

"Oh, gue kira sama cowok lo," sahut mereka lagi.

Mataku membulat, sementara Celine hanya mengangkat sebelah bibir, dia benar-benar terlihat judes. Kemudian aku memilih pamit dan menunggunya di luar kampus. Meskipun aku seorang duda, tetapi orang bilang wajahku masih cocok menjadi mahasiswa.

"Kalau begitu saya permisi," ucapku.

"Hemm," jawabnya ketus, gadis itupun berlalu meninggalkanku dan juga temannya.

Sembari menunggu, aku berjalan ke kantin dan memesan kopi serta makanan ringan, melihat para mahasiswa wira-wiri mengingatkanku pada masa kuliah dulu, masa di mana aku mengenal Rengganis dan jatuh cinta padanya.

Drttt .... drtttt....

Ponselku tiba-tiba berdering, rupanya Pak Dirgantara menelpon.

"Halo, Pak," sapaku setelah panggilan tersambung.

"Gama, kamu sudah mengantar Celine?" tanyanya.

"Sudah, Pak, ini saya menunggu di kampus sampai Non Celine selesai perkuliahan," jawabku.

"Oh, syukurlah kalau dia tidak bolos kelas, kalau begitu, saya minta tolong sebentar bisa?"

"Minta tolong apa, Pak?"

"Ada beberapa berkas yang tertinggal di meja kerja, saya sudah telpon Kokom, kamu tolong ambilkan dan bawa ke kantor saya, nanti saya kirim alamatnya."

"Oh, baik, Pak."

Setelah panggilan terputus, aku segera meneguk kopi dan membayar, aku yakin Celine sudah masuk kelas dan dia tak akan kabur.

***

"Ini Mas ganteng berkas Tuan."

"Terima kasih, Mbak Kokom."

"Aihhh, jangan panggil Mbak dong," tolaknya dengan wajah genit.

"Oh iya, Teh." Aku meralat.

"Ih, jangan Teteh juga, panggil aja Neng Kokom," pintanya manja.

Aku hanya tersenyum geli melihat sikapnya, meskipun begitu dia terlihat sangat lucu.

"Iya, Kokom, kalau begitu saya pergi dulu, Pak Dirgantara butuh berkas secepatnya," ucapku kemudian memasuki mobil dan berlalu.

Sesampainya di perusahaan Pak Dirgantara, aku dipersilakan ke ruangannya. Jam kerja tengah berlangsung sehingga lift yang kunaiki sangat sepi. Saat berhenti di lantai dua, aku terkejut melihat calon istri Pak Dirgantara masuk dan tersenyum.

"Kamu sopir baru Celine, ya?" tanyanya.

"Iya, Bu," jawabku segan.

"Oh, perkenalkan, nama saya Diana," katanya dengan menjulurkan tangan. Sungguh, aku sangat terkejut melihat keramahtamahan nya.

"Iya, Bu, saya Gama," jawabku.

Bu Diana tak lagi mengatakan apapun, dia hanya tersenyum lalu memalingkan pandangan kearah lain, dan sialnya senyuman itu membuat dadaku berdebar hebat. Entah, aku selalu merasa ada diri Rengganis pada senyuman itu.

Bersambung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Tamat

    Bab 30"Gama, hati-hati."Di sudut ruangan, Rengganis duduk lemah dengan tangan terikat. Wanita itu menatap Gama dengan kepanikan luar biasa, sekilas Celine menoleh ke arahnya, dia menyadari cinta Rengganis masih sangat besar untuk mantan suaminya. Kenangan betapa Gama mencintai Rengganis teringat jelas di kepala Celine, seakan menjadi validasi bahwa wanita itu memang luar biasa dan pantas dicintai.Sementara Diana, di tengah kelemahannya berusaha merangkak ke arah sang ibu, lalu memohon di kakinya agar tak menyakiti siapapun lagi."Momy, hentikan! Jangan sakiti siapapun lagi," rintihnya."Diam kamu!" Winda dengan penuh amarah dan kebencian menendang putrinya hingga kepala Diana terbentur pada ujung besi yang berada di sana. Seketika darah berlinang, melihat itu Rengganis, Celine dan Gama semakin panik."Diana!" pekik Celine dan Rengganis berbarengan.Gama berlari untuk menolong orang yang sama sekali tak dikenalnya. Pria itu berusaha menghentikan pendarahan di kepala Diana dengan t

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Part 29

    Celine duduk termenung di sofa, mencoba mengalihkan pikirannya dari perasaan terpuruk yang terus mengintainya. Udara malam terasa berat, dan suara-suara kecil dari luar rumah membuat pikirannya semakin tidak tenang. Bunyi ponsel Gama yang tiba-tiba bergetar di atas meja membuatnya tersentak.Celine menoleh, melihat nama di layar ponsel. Tapi sebelum dia sempat membaca lebih jelas atau memanggil Gama yang masih sibuk di dapur, panggilan itu terputus. Rasa penasaran membuatnya mengangkat ponsel itu, lalu matanya menangkap sebuah pesan masuk.Nomor Tak Dikenal[Saya sudah menemukan bukti bahwa Pak Akbar yang telah membunuh Pak Dirgantara]Pesan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Celine terpaku. Pak Akbar? Orang yang selama ini dipercaya keluarganya? Celine membaca ulang pesan itu, berharap ada kejelasan lebih, tapi hanya itu yang tertulis.Dengan pikiran yang penuh pertanyaan, dia memutuskan untuk menghadap Gama. "Mas Gama," panggilnya dengan nada serius saat pria itu kembali ke rua

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Part 28

    Malam ini, Rengganis duduk di tepi ranjangnya, memandangi langit malam yang kosong dari balik jendela besar di kamarnya. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir ingatan yang terus menghantuinya. Namun bayangan itu terlalu kuat, menyeretnya kembali ke lima bulan lalu, saat segalanya mulai menjadi jelas namun juga kelam.Hari itu, ia tak sengaja melewati ruang kerja Winda. Pintu yang sedikit terbuka membuat suara dari dalam ruangan itu terdengar samar."Pastikan dia tetap di sana. Jangan sampai ada yang tahu. Jika perlu, hutan itu harus tertutup untuk siapa pun," suara dingin Winda bergema di ruangan kecil itu.Rengganis berhenti melangkah. Alisnya berkerut. Ia mencoba mengintip dari celah pintu, tapi yang terlihat hanyalah Winda sedang berbicara dengan seorang pria yang wajahnya tak dikenalnya."Baik, Bu. Saya akan pastikan semuanya berjalan sesuai rencana," jawab pria itu.Rengganis mundur perlahan, dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu yang tidak beres. Ia tak tahu apa yang sedang dire

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Part 27

    Gama duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah Celine yang pucat. Matanya kosong, bibirnya kering, dan tubuhnya mulai terlihat kurus. Sudah seminggu sejak kepergian Dirgantara, dan kondisi Celine tak kunjung membaik. Dia menolak makan, berbicara, bahkan sekadar bangkit dari tempat tidur.Dengan napas panjang, Gama meraih semangkuk bubur hangat yang telah dia siapkan. Dia mengaduknya perlahan, berharap aroma dan kehangatan bubur itu bisa memancing selera Celine. Namun, gadis itu hanya memalingkan wajahnya."Celine," suara Gama lembut namun penuh tekanan. "Kamu harus makan. Kalau kamu terus seperti ini, kamu bisa sakit."Celine menutup netranya, air mata mengalir perlahan di sudutnya. "Aku nggak bisa, Mas. Setiap kali aku mencoba, aku hanya bisa membayangkan Papa. Wajahnya, suaranya, semua itu ada di kepalaku. Dan aku tahu... aku yang menyebabkan semua ini."Gama menatapnya dengan hati yang berat. Perlahan, dia meletakkan mangkuk bubur di meja dan menggenggam tangan Celine."Sayang, den

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Part 26

    Bab 26Langit mendung menggantung berat di atas pemakaman, seolah turut berduka atas kepergian Dirgantara. Hujan gerimis turun sejak pagi, membasahi tanah merah yang telah disiapkan untuk liang lahat. Aroma hujan bercampur tanah basah memenuhi udara, menciptakan suasana yang suram. Para pelayat berdiri di sekitar nisan, mengenakan pakaian serba hitam, wajah-wajah mereka dipenuhi duka."Papa," lirih Celine.Gadis itu berdiri paling depan, tubuhnya gemetar. Air mata terus mengalir di pipinya. Wanita itu seolah-olah tidak bisa percaya bahwa ayahnya kini benar-benar telah pergi. Sosok yang selama ini menjadi pelindungnya, panutannya, kini hanya tinggal nama yang terukir di atas batu nisan. Dirgantara dimakamkan tepat di samping makam Jessika, ibunda Celine. Itu adalah permintaan langsung dari Celine yang berharap ayahnya bisa beristirahat damai di samping orang yang pernah dicintainya. Celine bahkan tak peduli meskipun saat ini Dirgantara sudah menikah lagi dengan Diana karena baginya c

  • Rahasia Dibalik Perginya Istriku   Part 25

    "Nis, kenapa kamu menangis, mana Kevin?" tanya Bu Ranti melihat putrinya turun dari mobil dan langsung lari."Kevin aku biarkan pulang sama Mas Dirga, Bu.""Terus kamu kenapa? Bukannya sekarang hari wisuda Celine?" "Ya, acaranya udah beres dan aku benci ada di sana," jawabnya lagi."'kenapa, karena di sana ada Gama?" tanya Bu Ranti, jauh dalam hati dia kasihan melihat putrinya yang masih mencintai Gama, tetapi di lain sisi dia senang dengan hidup sekarang yang jauh lebih baik."Iya, Bu ... di sana Mas Gama melamar Celine," katanya sambil terisak.Bu Ranti terdiam, kini sudah lebih dari tiga puluh menit melihat putrinya menangis tanpa henti."Mau sampai kapan kamu menangis, Nis?"Bu Ranti duduk bersebelahan dengan Diana di sofa. Wajahnya nampak kesal, tepat di bawahnya terdapat tong sampah yang sudah dipenuhi dengan tisu bekas pakai."Aku nggak rela Bu. Ibu tahu kan gimana dulu Mas Gama cinta aku? Dulu aku itu pusat dunianya dan sekarang dia melamar perempuan lain di depanku, sakit ba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status