Share

Bab 3

Author: Star Harvest
Tatapanku terus menyapu tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pada akhirnya, Shinta bergegas pergi ke depan minimarket untuk melayani pelanggan yang hendak membeli rokok.

Tatapanku terus tertuju pada Shinta. Melihat lekuk tubuhnya yang memikat di balik kebaya yang membalut erat tubuhnya, aku merasa akal sehatku perlahan menghilang.

Bagaimanapun, Shinta hanyalah ibu angkat pacarku, bukan keluarga pacarku yang sebenarnya.

Bahkan jika aku memainkan Shinta dan melecehkannya, aku tak akan merasa bersalah.

Apalagi, menurutku Shinta ini benar-benar wanita penggoda.

Jika tidak, mana mungkin dia bermain dengan mainan itu sendirian?

Soal hobi koleksi yang dia katakan tadi, menurutku malah dengan adanya hobi itulah, dia jadi lebih mudah kukendalikan!

Begitu niat jahat itu muncul, pikiran tersebut pun tak bisa lagi dikendalikan.

Saat Shinta sedang melayani pelanggan yang membeli rokok, aku memerhatikan bahwa pria paruh baya bernama Rudi itu terus menatap tubuh Shinta dengan pandangan penuh nafsu.

Hal itu semakin memperkuat niatku.

Daripada membiarkan Shinta dinikmati orang luar, lebih baik kunikmati.

Memikirkan hal itu, aku melirik pintu gudang yang tak terkunci, lalu mendapatkan sebuah ide.

Aku masuk ke dalam, lalu menggunakan ponselku untuk memotret seisi gudang.

Setelah selesai memotretnya, aku kembali keluar.

Tiba-tiba, aku melihat orang-orang yang berkumpul di luar sudah semakin banyak.

Hanya saja, semua pelanggannya laki-laki.

Para pria itu saling mengobrol, tapi pandangan mereka tertuju pada tubuh Shinta.

Seolah-olah sedang menilai dan mengomentari Shinta dengan pandangan mereka.

Mereka meminta ini dan meminta itu, membuat Shinta harus terus berjalan bolak-balik mengambilkan barang.

Tatapan mereka tertuju lekat-lekat pada tubuh Shinta.

Hatiku merasa sangat tidak nyaman.

Menurutku, setelah kejadian tadi, ibu angkat pacarku, si Shinta itu sudah sepenuhnya menjadi milikku.

Aku tak boleh membiarkan hal ini terus berlanjut. Aku pun mengirimkan pesan ke ponsel Shinta.

Di pesan itu, terlampir foto mainan-mainan koleksinya yang baru saja kufoto.

“Cepat masuk ke gudang. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Jangan pedulikan pria-pria itu atau aku bakal cemburu.”

Setelah mengirim pesan itu, aku mengawasi Shinta yang berdiri di depan meja kasir.

Ternyata benar, begitu melihat pesan di ponselnya, ekspresi wajah Shinta langsung berubah.

Dia berpura-pura seolah ada urusan mendesak, lalu berpamitan dengan orang-orang di sana.

Setelah itu, dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah gudang.

Melihat itu, aku merasa sangat senang.

Aku mendorong pintu dan masuk ke dalam gudang, lalu bersembunyi di balik pintu.

Suara langkah kaki semakin mendekat dan Shinta pun masuk ke dalam.

Aku langsung memeluk Shinta dari belakang.

Menempelkan tubuhku erat-erat padanya.

Aku dengan tegas mendorong Shinta ke depan, mendesaknya maju dengan tubuhku.

Begitu dipeluk olehku, awalnya Shinta hendak berteriak, tapi aku berbisik di dekat telinganya,

“Tante Shinta, kamu nggak mau rahasia koleksimu ini terbongkar, ‘kan? Sebaiknya kamu menuruti kata-kataku sekarang.”

“Sebagai hukuman karena kamu genit dengan pria-pria di luar tadi, aku akan melahapmu habis-habisan hari ini.”

Mendengar ucapanku, Shinta terkejut.

Seiring dengan langkahku yang terus mendorongnya maju sambil memeluknya, meskipun terhalang oleh kain kebaya, aku bisa merasakan betapa panasnya suhu tubuh Shinta.

Hal ini membuatku semakin yakin.

Tubuh Shinta sangat sensitif dan sangat menginginkannya lagi!

“Jangan, Jack, aku ini ibu angkat pacarmu… mana boleh… mana boleh kamu mengancamku….”

“Tante Shinta, jangan menolakku. Kamu benar-benar mau rahasia hobi koleksimu terbongkar?”

Mendengar kata-kataku, Shinta pun terdiam.

Aku menyadari bahwa sebenarnya Shinta tak berani mengakui bahwa dirinya adalah wanita genit!

Karena mulutnya terus-menerus menolak, tapi tubuhnya sama sekali tak melakukan perlawanan.

Bukan hanya menempel erat pada tubuhku seperti tadi, dia bahkan seolah-olah mulai merespon dan mendorong bagian belakang tubuhnya ke belakang secara perlahan.

Seolah-olah ingin menekan bokongnya erat-erat ke tubuhku.

Uji cobaku telah berhasil.

Aku tahu Shinta sudah seperti sepotong daging lezat di hadapanku saat ini.

Memikirkan hal itu, aku menekan tubuh Shinta, membuatnya membungkuk di atas sebuah bangku kecil di dalam gudang, dengan bokongnya yang terangkat menghadap ke arahku.

Lalu, aku menarik turun kain kebayanya menggunakan satu tangan dengan perlahan….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 9

    Dia tak mau putus denganku semata-mata karena ingin mempermainkanku dan tetap menikmati kepuasan fisik yang kuberikan.Di sisi lain, dia juga bisa menikmati kepuasan materi dari pria lain.Pantas saja setiap kali liburan, dia tak pernah mengajakku. Ternyata karena ada orang lain yang diajak.Saat aku mau meminta putus dengannya, dia malah tak setuju.Namun, semua itu sudah tak penting lagi bagiku. Karena sekarang aku sudah punya Tante Shinta.Aku meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu menatap Tante Shinta dengan pandangan yang bergairah.“Tante Shinta, aku sudah putus dengannya. Kamu mau coba sekarang? Bagaimana kalau bandingkan diriku dengan semua mainanmu itu?”Mendengar kata-kataku, wajah Tante Shinta langsung merona.“Jack, kamu benar-benar nakal sekali, malah membalas soal itu.”Aku terkekeh, lalu menindih Tante Shinta ke atas sofa.Keesokan harinya saat terbangun, aku sudah berada di kamar tidur Tante Shinta.“Kamu memang jauh lebih hebat daripada mainanku.”Setelah memberikan

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 8

    Bisa-bisanya Tante Shinta memindahtangankan tokonya secepat itu.Biasanya dia tinggal di lantai atas toko tersebut, sekarang tokonya sudah dipindahtangankan, aku bahkan tak tahu harus mencarinya di mana.Aku hanya bisa terus meneleponnya, tapi panggilannya tetap tak diangkat.Saat ini, hatiku dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam. Seandainya aku datang lebih awal tadi.Tante Shinta pasti juga merasa tidak nyaman, makanya dia sengaja memindahtangankan tokonya dan memilih untuk tak menemuiku lagi.Aku berjalan ke bawah sebuah pohon di seberang toko, lalu berjongkok di sana. Rasanya diriku seperti kehilangan separuh jiwa.Sambil memandangi minimarket di seberang jalan dengan tenang, bayangan tubuh Tante Shinta yang memikat terus bermunculan di dalam benakku.Kok dia bisa menghilang begitu saja?Aku bahkan sempat berpikir untuk bertanya pada Wenny, mungkin saja dia tahu apa yang sedang terjadi.Namun, dia tak mungkin mau memberitahuku.Dari pagi hingga malam, aku berjongkok di sana sambil

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 7

    Memegang model yang berbeda total membuatku tak bersemangat sama sekali.Terutama karena Tante Shinta ada di rumah, tiba-tiba aku merasa enggan melakukan apa pun dengan Wenny.Aku merasa diriku benar-benar pria brengsek, tapi tetap saja mendorongnya menjauh.“Wenny, aku benar-benar sudah mengantuk.”Melihatku bersikap acuh tak acuh, akhirnya Wenny berhenti memaksa dan membalikkan badan untuk tidur.Keesokan paginya saat terbangun, Wenny sedang duduk di tepi ranjang sambil menatapku dengan cemas.“Jack, kamu ada masalah, ya? Kalau ada masalah, kamu bisa ceritakan padaku. Kita cari jalan keluarnya sama-sama.”Aku menggeleng, tak tahu harus menjawab apa.“Nggak ada apa-apa, aku mau ke kampus dulu.”Usai bicara, aku pun segera kabur dari rumah Tante Shinta.Setibanya di kampus, hatiku dipenuhi rasa bersalah terhadap pacarku. Bagaimanapun juga, aku telah mengkhianatinya.Namun, aku benar-benar tak punya pilihan.Selama beberapa hari berturut-turut, aku tak menemui Wenny. Bukan bermaksud per

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 6

    Tepat saat aku sangat menantikannya, tiba-tiba raut wajahku berubah.Sialnya, pacarku, si Wenny malah pulang.Bukan hanya dia sendiri, melainkan bersama teman-teman seasramanya.Aku tak bisa menahan diri dan menghela napas, kesempatan ini gagal lagi.Melihatku berdiri di dekat pintu, Wenny berlari menghampiriku.“Sayang, terima kasih sudah membantu ibu angkatku jaga toko. Kamu pasti sudah lelah, ‘kan? Di mana ibu angkatku?”Melihat aku membeku di tempat tanpa bergerak, Wenny mencium pipiku, lalu berjalan masuk ke dalam bersama teman-teman seasramanya.Begitu melihat kondisi rak yang berantakan di dalam, Wenny langsung mengerutkan kening.“Ibu, ada yang datang menghancurkan toko?”Aku menoleh dan tak sengaja malah bertatapan dengan tatapan Tante Shinta yang canggung.Jelas sekali, dia juga tak menyangka Wenny akan pulang secepat ini.“Tadi ada orang yang berkelahi di sini sampai merobohkan raknya.”Tante Shinta segera mengalihkan pandangannya, lalu menjawab Wenny.Wenny buru-buru mengaj

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 5

    Belum sempat aku mulai, tiba-tiba ada orang masuk dengan penuh amarah.Mulutnya terus mengomel,“Shinta! Dasar wanita jalang, suamiku sampai melukai orang lain gara-gara kamu, uang ganti ruginya harus kamu yang bayar!”Ternyata itu adalah seorang wanita paruh baya.Karena tak melihat Tante Shinta di dekat pintu, dia langsung melangkah masuk sambil terus memaki-maki.Untungnya kami terhalang oleh rak tadi. Jika tidak, adegan kami barusan pasti sudah ketahuan oleh wanita itu.Mendengar perkataan wanita itu, Tante Shinta mendorongku dengan panik. Dia merapikan pakaiannya dan berjalan keluar.Aku mengumpat dalam hati, karena wanita paruh baya itu telah merusak kesempatan bagusku. Aku pun hanya bisa menyusul ke depan.Begitu melihat Tante Shinta keluar, wanita paruh baya itu berniat menerkam dan memukulnya.“Semua ini gara-gara kamu, dasar jalang! Suamiku sampai tergila-gila denganmu, sampai-sampai membuat masalah. Aku bakal mencakar wajahmu sampai hancur hari ini!”Tante Shinta begitu keta

  • Rahasia Ibu Angkat Pacarku   Bab 4

    Di tengah gairah yang mendebarkan, tanganku agak gemetaran.Tanganku yang satu lagi buru-buru melonggarkan celanaku.Aku bisa merasakan tubuh Tante Shinta sudah lemas, sementara bokongnya yang terangkat mulai bergoyang lebih kuat.Brak!Suara barang-barang dari rak yang berjatuhan terdengar dari luar.“Kenapa? Emangnya hanya kamu saja yang boleh belanja? Aku nggak bisa? Bos Shinta membuka usaha untuk umum, aku juga pelanggannya.”“Sudah kubilang Shinta itu milikku, kalian semua pergi!”“Baru minum sedikit saja sudah nggak tahu diri. Emangnya kenapa kalau aku nggak pergi….”Sepertinya beberapa pelanggan mulai bertengkar, bahkan berujung berkelahi dan merobohkan rak barang.“Jack, gawat… aku harus keluar melihat keadaan.”Keributan itu berhasil menyadarkan Tante Shinta. Dengan panik, dia mencoba mendorongku menjauh.Entah apa lagi yang akan terjadi kalau keributan di luar dibiarkan terus. Kalau toko Tante Shinta sampai rusak, urusannya bakal repot.Meskipun sangat ingin melakukan sesuatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status