Share

Bab 3

Author: Liam
Memalukan sekali.

Bagaimana bisa aku jadi seperti ini?

Tujuan awalku adalah menemani sahabatku, tapi kok aku malah bermain api dengan kekasihnya sekarang?

Hatiku dipenuhi rasa bersalah, tapi tubuhku malah dengan jujur menikmati sensasi terlarang itu.

Tangan Jimmy mulai tak puas jika hanya mengelus dari luar.

Jarinya bagaikan seekor ular yang liar, mengikuti lekuk bokongku, bergerak lurus ke atas dan menemukan seutas tali yang tipis.

Dia menariknya dengan lembut.

Tali yang mempertahankan harga diri terakhir itu langsung disingkirkan olehnya.

Bukan… bukan dilepaskan, melainkan digeser ke samping.

Bagian terdalam dari area tersembunyiku terpampang sepenuhnya tanpa penghalang di tengah hembusan angin sungai yang dingin!

“Ja… jangan….” ujarku dengan suara bercampur isakan, bergetar begitu hebat hingga nyaris tak terdengar.

Dengan posisi dan kondisi seperti ini, dia hanya perlu memberikan sedikit sentakan untuk bisa….

Aku tak berani membayangkannya lebih jauh.

Aku menjepit kedua kakiku dengan sekuat tenaga dan merapatkan belahan bokongku, mencoba menutup satu-satunya jalan masuk demi mempertahankan lini pertahanan terakhirku.

Namun, Jimmy tidak terburu-buru sama sekali.

Dia bertindak layaknya seorang pemburu yang berpengalaman, dengan sabar mempermainkan mangsa di dalam cengkeramannya.

Jarinya membuat gerakan melingkar dengan tekanan yang samar di luar celahku yang tertutup rapat.

Rasa menggelitik yang menusuk hingga ke tulang itu hampir membuatku hilang kendali.

Setiap kali ujung jarinya menyentuh titik paling sensitif itu, seluruh tubuhku akan tersentak dan aku pun menjepitnya semakin erat.

Namun, setiap kali tubuhku menegang, hal itu malah tampaknya membuatnya semakin bergairah.

Aku bisa merasakan benda yang menempel di belakang tubuhku kembali membesar, menekanku seperti besi panas, seolah dalam detik berikutnya akan membakar gaunku hingga berlubang.

“Lepas… lepaskan aku… kumohon….” Tekadku terombang-ambing di antara rasa hina dan kenikmatan, hingga air mata yang tak terbendung mulai mengalir.

“Baru begini saja sudah memohon ampun?” Dia terkekeh pelan sambil menarik keluar tangannya yang nakal.

Baru saja aku menghela napas lega, mengira dia akan melepaskanku.

Detik berikutnya, dia malah membawa jarinya yang basah karena berlumuran cairan tubuhku itu ke depan bibirku.

Aroma yang intim, sekaligus memalukan itu langsung menyerang masuk ke dalam rongga hidungku.

“Coba icip aroma dirimu,” ucapnya dengan nada memerintah yang tak menerima penolakan.

Wajahku terasa begitu panas membara, aku menggelengkan kepala sekuat tenaga dan mengatupkan bibir erat-erat.

“Nggak mau?” Suaranya berubah menjadi dingin.

Dia mencengkeram daguku, memberikan sedikit tekanan dan memaksaku untuk membuka mulut.

Setelah itu, jarinya langsung menyusup masuk begitu saja.

“Hmm…!”

Seketika, mataku terbelalak dan air mata penghinaan langsung menetes tanpa bisa ditahan.

Bisa-bisanya… dia memaksaku….

Jarinya mengaduk-aduk dalam mulutku. Rasa asing yang berasal dari diriku sendiri dengan sedikit sentuhan amis dan manis, membuat perutku terasa mual dan bergejolak hebat.

Rasa malu, muak, murka… berbagai emosi bercampur aduk menjadi satu, hampir membuaku sesak napas.

Namun anehnya, di tengah kekacauan itu, ada secercah gairah lain yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, menjalar bagai tanaman merambat yang melilit jantungku.

Jari-jarinya sama seperti tubuhnya, dipenuhi oleh kekuatan dan dominasi yang agresif.

Aku bahkan bisa merasakan kasarnya kapalan tipis di ujung jarinya.

“Gadis pintar.” Dia tampaknya sangat puas melihat reaksiku. Akhirnya, dia menarik keluar jarinya, lalu berganti menggunakan ibu jari untuk mengusap bibirku yang memerah dan bengkak akibat ulahnya, lalu berkata, “Sekarang, kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan?”

Aku bagaikan sebuah boneka yang telah kehilangan seluruh tulangnya, bersandar dengan lemas di dalam pelukannya sambil terengah-engah, bahkan tak punya tenaga lagi untuk melawan.

Tepat pada saat itu, sebuah suara gemuruh yang menggelagar tiba-tiba terdengar dari arah sungai

“Duar!”

Kembang api pertama meledak di langit malam. Seketika, cahaya yang memukau menerangi seluruh permukaan sungai, sekaligus menyinari sudut gelap tempat kami berada.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 8

    Tangannya menyelinap masuk dari ujung bajuku, dengan lihai menemukan kelembutan di dadaku.“Hmm….” Aku tak bisa menahan diri untuk mendesah.“Lihat, tubuhmu masih tetap sejujur ini.” Dia tersenyum penuh kemenangan, sambil menambah tekanan pada tangannya.“Jangan… jangan di sini… Sisil masih menunggu kita….” ucapku dengan panik.“Takut apa, sih?” ucapnya dengan acuh tak acuh.“Semakin lama dia menunggu kita, dia malah akan semakin nggak curiga.”Sambil berbicara, dia bahkan menurunkan ritsleting celanaku dan menyusupkan tangannya ke dalam.“Kamu sudah gila?!” Aku benar-benar panik.Ini adalah tempat publik, siapa saja bisa masuk kapan saja!“Aku memang sudah gila.” Dia menatapku dengan tatapan mata yang membara, “Sejak hari pertama melihatmu, aku sudah tergila-gila olehmu.”Jarinya bergerak cepat, mengulik di dalam area rahasiaku yang telah basah sepenuhnya.Aku menggigit bibirku erat-erat, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.Gelombang kenikmatan di dalam tubuh terasa seperti omba

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 7

    Air hangat mengalir membasuh tubuh kami yang masih dipenuhi keringat, sekaligus menghapus jejak-jejak percintaan kami.Aku bersandar lemah dalam pelukannya, begitu lelah hingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.Dia menyeka tubuhku, lalu menggendongku kembali ke ranjang dan menyelimutiku.“Tidurlah.” Dia mengecup lembut keningku, lalu kemudian beranjak pergi.Aku meraih tangannya tiba-tiba.“Bagaimana… hubungan kita selanjutnya?” tanyaku dengan suara serak sambil menatapnya.Dia menoleh, menatapku dalam-dalam, lalu membungkuk dan berbisik di telingaku.“Mulai sekarang, kamu itu milikku.”Usai bicara, dia pun pergi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.Aku berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sepanjang malam tanpa bisa tidur.….Keesokan paginya, saat Sisil bangun, aku masih terbaring di ranjang seperti mayat.“Cindy, kamu nggak tidur nyenyak tadi malam? Lingkaran hitam di matamu parah sekali,” tanya Sisil dengan khawatir.“Iya… aku sudah tidur di ranjang baru,” j

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 6

    Otakku sepenuhnya dipenuhi oleh wajah Jimmy dan ucapannya.Ditambah lagi dengan sensasi yang masih membekas di tubuhku yang dipenuhi oleh dirinya.Aku merasa diriku benar-benar hampir gila.Aku bangkit berdiri untuk mengambil segelas air minum. Namun, baru saja membuka pintu kamar, aku langsung menabrak sebuah dada yang keras dan membara.Itu Jimmy.Ternyata dia berjaga di depan pintu.“Kamu….”Baru saja mengucapkan satu kata, dia sudah menggendong tubuhku dan menghempaskanku kembali ke atas ranjang.“Jimmy! Kamu sudah gila?! Sisil masih di sebelah!” Aku menekan suaraku dengan panik, menggunakan kedua tangan dan kakiku untuk berusaha mendorongnya menjauh.“Dia tidur sangat nyenyak.” Jimmy dengan mudahnya mematahkan perlawananku. Tubuhnya yang tinggi besar seperti sebuah gunung yang menindihku, membuatku tak bisa bergerak sedikitpun.Di dalam kegelapan, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam, bagaikan seekor binatang buas yang sedang berburu di malam hari.“Sebenarnya apa maumu?

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 5

    Aku bisa merasakan bahwa gelombang familiar dan siap meledak itu kini tengah menyerang menuju ke arahku.“Ja… jangan… sudah mau keluar….”Ujarku sambil mencengkeram lengannya dengan panik.Di tempat seperti ini, di hadapan begitu banyak orang….“Kalau begitu keluarkan saja.” Alih-alih melambat, dia malah semakin kuat menghentak titik paling sensitifku dengan kekuatan penuh.“Aahh…!”Aku tak bisa menahannya lagi. Di tengah kejang hebat yang mengguncang tubuhku, luapan yang selama ini kutahan akhirnya keluar begitu saja.Seketika, dunia di hadapanku berubah menjadi kilauan cahaya putih yang memukau.Tepat di saat kesadaranku terombang-ambing dan tubuhku lemas bagaikan genangan lumpur, aku mendengar suara Sisil dari kejauhan dan semakin mendekat.“Cindy! Jimmy! Kok kalian sembunyi di sini, kembang apinya sudah hampir selesai!”Tubuhku tersentak dan tersadar seketika.Aku menatap Jimmy dengan penuh ketakutan, tapi dia malah bersikap sangat tenang. Dia segera menarik diri keluar dari tubuhk

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 4

    “Wah! Sudah mulai!” teriak Sisil dengan sangat gembira.Pandangan semua orang langsung tertuju ke arah langit.Memanfaatkan kesempatan ini, tindakan Jimmy menjadi jauh lebih berani.Dia kembali menyingkap ujung gaunku, tapi kali ini tak lagi menggunakan jari.Dia agak menyesuaikan posisinya, lalu menggunakan benda miliknya yang sudah mengeras bagaikan baja untuk menghentak titik paling tersembunyiku berkali-kali dengan yang terhalang oleh celana dalam thong tipis milikku yang sudah basah.“Ahh….”Gesekan yang terhalang oleh kain itu malah terasa jauh lebih menyiksa daripada sentuhan langsung.Setiap hentakan terasa bagaikan aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhku, membuat tubuhku kebas dan kakiku lemas.Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar suara memalukan itu tak lolos dari mulutku.Di sekeliling kami, suara kembang api yang memekakkan telinga dan sorak-sorai penonton menyamarkan seluruh kejanggalan di sudut ini dengan sangat sempurna.Aku menatap profil samping wajah Sisil

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 3

    Memalukan sekali.Bagaimana bisa aku jadi seperti ini?Tujuan awalku adalah menemani sahabatku, tapi kok aku malah bermain api dengan kekasihnya sekarang?Hatiku dipenuhi rasa bersalah, tapi tubuhku malah dengan jujur menikmati sensasi terlarang itu.Tangan Jimmy mulai tak puas jika hanya mengelus dari luar.Jarinya bagaikan seekor ular yang liar, mengikuti lekuk bokongku, bergerak lurus ke atas dan menemukan seutas tali yang tipis.Dia menariknya dengan lembut.Tali yang mempertahankan harga diri terakhir itu langsung disingkirkan olehnya.Bukan… bukan dilepaskan, melainkan digeser ke samping.Bagian terdalam dari area tersembunyiku terpampang sepenuhnya tanpa penghalang di tengah hembusan angin sungai yang dingin!“Ja… jangan….” ujarku dengan suara bercampur isakan, bergetar begitu hebat hingga nyaris tak terdengar.Dengan posisi dan kondisi seperti ini, dia hanya perlu memberikan sedikit sentakan untuk bisa….Aku tak berani membayangkannya lebih jauh.Aku menjepit kedua kakiku denga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status