แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Liam
Sensasi itu terasa sangat asing, sekaligus menantang.

Selama dua puluh tahun hidupku, aku selalu menjadi anak gadis yang baik. Jangankan disentuh seperti ini, menggenggam tangan laki-laki pun sangat jarang.

Aku berusaha sekuat tenaga menggeliatkan tubuhku, mencoba melepaskan diri dari kurungannya.

“Sisil, jangan takut,” bisiknya tiba-tiba di telingaku.

Namun, gerakan tangannya malah semakin nakal. Ujung jarinya bahkan mengikuti lekuk bokongku, menyelinap menuju celah yang lebih dalam dan tersembunyi.

Seketika, seluruh tubuhku menegang.

Dia mengira aku adalah Sisil?

Wajar saja, tinggi badanku dan Sisil hampir sama, gaya rambut kami pun mirip, ditambah lagi aku sedang membelakanginya. Di lingkungan yang gelap dan padat ini, wajar kalau dia salah mengenali orang.

Aku pun menghela napas lega, tapi entah kenapa rasanya agak kecewa.

Tepat saat aku bersiap mengingatkannya, dia malah terkekeh pelan. Suara tawanya yang rendah membuat telingaku terasa geli.

“Cindy, kamu sudah nggak sanggup berpura-pura?”

“Jelas-jelas kamu lebih sensitif daripada dia.”

Boom!

Seketika, otakku menjadi kosong, seolah-olah baru saja tersambar oleh petir yang menggelegar.

Dia… dia tahu ini diriku?!

Sejak awal dia sudah tahu kalau ini diriku?!

Artinya semua yang terjadi baru saja bukanlah ketidaksengajaan ataupun salah mengenali orang, melainkan… sudah direncanakan?!

Rasa takut dan malu langsung menenggelamkanku. Bagaikan seekor kucing yang ekornya terinjak, aku langsung memberontak liar.

“Lepaskan aku! Jimmy, dasar brengsek!” ujarku menekankan setiap katanya dengan suara yang rendah.

“Sstt….” Alih-alih melepaskanku, dia malah memelukku semakin erat. Tangannya yang lain ikut melingkar dari arah depan, mengunci seluruh tubuhku di antara dirinya dan pagar kapal.

Tubuhnya bagaikan sebuah sangkar yang membara, mengurungku dengan sangat erat.

“Jangan gerak.” Bibirnya hampir menempel pada daun telingaku. Hembusan napasnya yang panas menerpa kulitku, membuatku merinding.

“Kalau sampai dia melihatnya, ini nggak akan menyenangkan lagi.”

Aku membeku.

Tak jauh dari sana, Sisil sedang berjinjit dengan penuh semangat sambil menunjuk-nunjuk ke tengah sungai, sama sekali tak menyadari pergerakan diam-diam yang terjadi di antara kami.

Aku tak berani bergerak lagi, sangat takut jika gerakannya akan membuat Sisil mengetahuinya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Sisil jika dia tahu bahwa sahabat terbaiknya dan kekasihnya melakukan hal seperti ini tepat di depan matanya.

Aku pasti dibenci mati-matian olehnya.

Jimmy tampaknya sangat puas dengan kepatuhanku. Lengan yang melingkari pinggangku agak melonggar, tapi tangan yang tengah berbuat nakal di belakangku malah semakin menjadi-jadi.

Jarinya dengan lihai menyingkap ujung bawah gaun sutraku.

Angin sungai di malam musim panas terasa dingin, berhembus menerpa paha telanjangku, membuatku tak bisa menahan diri dan menggigil.

Aku memakai celana dalam thong renda hari ini. Selain seutas tali yang tipis, hampir tidak ada penutup sama sekali di bagian belakang.

Telapak tangannya yang lebar dan kasar kini menempel tanpa halangan pada belahan bokongku yang paling lembut dan montok.

“Hmm….”

Aku tak bisa menahan diri untuk mengerang pelan, lalu segera menggigit bibirku erat-erat.

Itu adalah sebuah sentuhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Telapak tangannya sangat panas dan memiliki kapalan tipis. Setiap belaiannya terasa seperti kertas amplas yang menggesek kulit sensitifku, menghantarkan gelombang kebas yang menggelitik hingga ke dalam tulang.

Tubuhku kehilangan kendali dan lemas, bahkan nyaris tak mampu berdiri tegak, sehingga terpaksa menumpukan sebagian besar berat badanku pada tubuhnya.

“Lihat, kamu jelas-jelas sangat menyukainya,” bisiknya di telingaku dengan suara yang mengandung tawa penuh kemenangan.

“Nggak!” Aku menyangkal dengan keras kepala, tapi reaksi tubuhku malah mengkhianatiku.

Aliran hawa panas terus melonjak keluar dari bagian terdalam tubuhku, membasahi kain renda kecil itu hingga basah kuyup.

Aku bisa merasakan area di antara kedua kakiku sudah sangat basah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 8

    Tangannya menyelinap masuk dari ujung bajuku, dengan lihai menemukan kelembutan di dadaku.“Hmm….” Aku tak bisa menahan diri untuk mendesah.“Lihat, tubuhmu masih tetap sejujur ini.” Dia tersenyum penuh kemenangan, sambil menambah tekanan pada tangannya.“Jangan… jangan di sini… Sisil masih menunggu kita….” ucapku dengan panik.“Takut apa, sih?” ucapnya dengan acuh tak acuh.“Semakin lama dia menunggu kita, dia malah akan semakin nggak curiga.”Sambil berbicara, dia bahkan menurunkan ritsleting celanaku dan menyusupkan tangannya ke dalam.“Kamu sudah gila?!” Aku benar-benar panik.Ini adalah tempat publik, siapa saja bisa masuk kapan saja!“Aku memang sudah gila.” Dia menatapku dengan tatapan mata yang membara, “Sejak hari pertama melihatmu, aku sudah tergila-gila olehmu.”Jarinya bergerak cepat, mengulik di dalam area rahasiaku yang telah basah sepenuhnya.Aku menggigit bibirku erat-erat, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.Gelombang kenikmatan di dalam tubuh terasa seperti omba

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 7

    Air hangat mengalir membasuh tubuh kami yang masih dipenuhi keringat, sekaligus menghapus jejak-jejak percintaan kami.Aku bersandar lemah dalam pelukannya, begitu lelah hingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.Dia menyeka tubuhku, lalu menggendongku kembali ke ranjang dan menyelimutiku.“Tidurlah.” Dia mengecup lembut keningku, lalu kemudian beranjak pergi.Aku meraih tangannya tiba-tiba.“Bagaimana… hubungan kita selanjutnya?” tanyaku dengan suara serak sambil menatapnya.Dia menoleh, menatapku dalam-dalam, lalu membungkuk dan berbisik di telingaku.“Mulai sekarang, kamu itu milikku.”Usai bicara, dia pun pergi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.Aku berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sepanjang malam tanpa bisa tidur.….Keesokan paginya, saat Sisil bangun, aku masih terbaring di ranjang seperti mayat.“Cindy, kamu nggak tidur nyenyak tadi malam? Lingkaran hitam di matamu parah sekali,” tanya Sisil dengan khawatir.“Iya… aku sudah tidur di ranjang baru,” j

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 6

    Otakku sepenuhnya dipenuhi oleh wajah Jimmy dan ucapannya.Ditambah lagi dengan sensasi yang masih membekas di tubuhku yang dipenuhi oleh dirinya.Aku merasa diriku benar-benar hampir gila.Aku bangkit berdiri untuk mengambil segelas air minum. Namun, baru saja membuka pintu kamar, aku langsung menabrak sebuah dada yang keras dan membara.Itu Jimmy.Ternyata dia berjaga di depan pintu.“Kamu….”Baru saja mengucapkan satu kata, dia sudah menggendong tubuhku dan menghempaskanku kembali ke atas ranjang.“Jimmy! Kamu sudah gila?! Sisil masih di sebelah!” Aku menekan suaraku dengan panik, menggunakan kedua tangan dan kakiku untuk berusaha mendorongnya menjauh.“Dia tidur sangat nyenyak.” Jimmy dengan mudahnya mematahkan perlawananku. Tubuhnya yang tinggi besar seperti sebuah gunung yang menindihku, membuatku tak bisa bergerak sedikitpun.Di dalam kegelapan, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam, bagaikan seekor binatang buas yang sedang berburu di malam hari.“Sebenarnya apa maumu?

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 5

    Aku bisa merasakan bahwa gelombang familiar dan siap meledak itu kini tengah menyerang menuju ke arahku.“Ja… jangan… sudah mau keluar….”Ujarku sambil mencengkeram lengannya dengan panik.Di tempat seperti ini, di hadapan begitu banyak orang….“Kalau begitu keluarkan saja.” Alih-alih melambat, dia malah semakin kuat menghentak titik paling sensitifku dengan kekuatan penuh.“Aahh…!”Aku tak bisa menahannya lagi. Di tengah kejang hebat yang mengguncang tubuhku, luapan yang selama ini kutahan akhirnya keluar begitu saja.Seketika, dunia di hadapanku berubah menjadi kilauan cahaya putih yang memukau.Tepat di saat kesadaranku terombang-ambing dan tubuhku lemas bagaikan genangan lumpur, aku mendengar suara Sisil dari kejauhan dan semakin mendekat.“Cindy! Jimmy! Kok kalian sembunyi di sini, kembang apinya sudah hampir selesai!”Tubuhku tersentak dan tersadar seketika.Aku menatap Jimmy dengan penuh ketakutan, tapi dia malah bersikap sangat tenang. Dia segera menarik diri keluar dari tubuhk

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 4

    “Wah! Sudah mulai!” teriak Sisil dengan sangat gembira.Pandangan semua orang langsung tertuju ke arah langit.Memanfaatkan kesempatan ini, tindakan Jimmy menjadi jauh lebih berani.Dia kembali menyingkap ujung gaunku, tapi kali ini tak lagi menggunakan jari.Dia agak menyesuaikan posisinya, lalu menggunakan benda miliknya yang sudah mengeras bagaikan baja untuk menghentak titik paling tersembunyiku berkali-kali dengan yang terhalang oleh celana dalam thong tipis milikku yang sudah basah.“Ahh….”Gesekan yang terhalang oleh kain itu malah terasa jauh lebih menyiksa daripada sentuhan langsung.Setiap hentakan terasa bagaikan aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhku, membuat tubuhku kebas dan kakiku lemas.Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar suara memalukan itu tak lolos dari mulutku.Di sekeliling kami, suara kembang api yang memekakkan telinga dan sorak-sorai penonton menyamarkan seluruh kejanggalan di sudut ini dengan sangat sempurna.Aku menatap profil samping wajah Sisil

  • Rahasia Indah Di bawah Kembang Api   Bab 3

    Memalukan sekali.Bagaimana bisa aku jadi seperti ini?Tujuan awalku adalah menemani sahabatku, tapi kok aku malah bermain api dengan kekasihnya sekarang?Hatiku dipenuhi rasa bersalah, tapi tubuhku malah dengan jujur menikmati sensasi terlarang itu.Tangan Jimmy mulai tak puas jika hanya mengelus dari luar.Jarinya bagaikan seekor ular yang liar, mengikuti lekuk bokongku, bergerak lurus ke atas dan menemukan seutas tali yang tipis.Dia menariknya dengan lembut.Tali yang mempertahankan harga diri terakhir itu langsung disingkirkan olehnya.Bukan… bukan dilepaskan, melainkan digeser ke samping.Bagian terdalam dari area tersembunyiku terpampang sepenuhnya tanpa penghalang di tengah hembusan angin sungai yang dingin!“Ja… jangan….” ujarku dengan suara bercampur isakan, bergetar begitu hebat hingga nyaris tak terdengar.Dengan posisi dan kondisi seperti ini, dia hanya perlu memberikan sedikit sentakan untuk bisa….Aku tak berani membayangkannya lebih jauh.Aku menjepit kedua kakiku denga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status