Sensasi itu terasa sangat asing, sekaligus menantang.Selama dua puluh tahun hidupku, aku selalu menjadi anak gadis yang baik. Jangankan disentuh seperti ini, menggenggam tangan laki-laki pun sangat jarang.Aku berusaha sekuat tenaga menggeliatkan tubuhku, mencoba melepaskan diri dari kurungannya.“Sisil, jangan takut,” bisiknya tiba-tiba di telingaku.Namun, gerakan tangannya malah semakin nakal. Ujung jarinya bahkan mengikuti lekuk bokongku, menyelinap menuju celah yang lebih dalam dan tersembunyi.Seketika, seluruh tubuhku menegang.Dia mengira aku adalah Sisil?Wajar saja, tinggi badanku dan Sisil hampir sama, gaya rambut kami pun mirip, ditambah lagi aku sedang membelakanginya. Di lingkungan yang gelap dan padat ini, wajar kalau dia salah mengenali orang.Aku pun menghela napas lega, tapi entah kenapa rasanya agak kecewa.Tepat saat aku bersiap mengingatkannya, dia malah terkekeh pelan. Suara tawanya yang rendah membuat telingaku terasa geli.“Cindy, kamu sudah nggak sanggup berp
Read more