LOGINPertemuan pertama Levana dengan kedua orang tua Galen tidak menimbulkan efek apa pun dalam hubungan pasangan tersebut. Levana yang sudah bekerja di salah satu hotel dan menjadi kru dapur pun tetap bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Begitu juga dengan Galen yang sibuk dengan kuliah S2-nya sambil bekerja di perusahaan ayahnya menjadi sfat biasa.
Komunikasi mereka sangat lancar dan bahkan mereka juga memiliki waktu untuk berkencan ketika waktu luang. Ada masa-masa di mana Levana memikirkan tentang kelanjutan hubungannya dengan Galen mengingat bagaimana orang tua Galen tidak menyukainya.
“Kamu mau nunggu aku sampai aku lulus S2 ‘kan, Lev?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Galen suatu hari. “Tolong kamu nggak perlu memikirkan tentang orang tuaku karena aku yang akan memikirkan caranya untuk meluluhkan hati mereka.”
Levana tidak langsung menjawab. Tentu saja dia bersedia menunggu Galen meskipun memerlukan puluhan tahun sekalipun. Namun, apa pada akhirnya nanti, restu itu juga akan didapatkan dari orang tua Galen? Bagaimana kalau pada akhirnya, dia tetap ditolak? Pikiran-pikiran seperti itu menimbulkan kekhawatiran yang besar dalam hidupnya.
Dia hanyalah perempuan biasa yang sedang berusaha mengubah takdir hidupnya. Levana kini sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus dan ingin memiliki karir yang cemerlang di masa depan.
Ya, dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan, dia yakin karirnya akan berkembang dengan baik dan memantaskan diri untuk menjadi pendamping dari seorang Galen Ravindra Wiraguna. Tidak masalah jika dia tidak lahir dari keluarga kaya, tetapi bukan berarti dia tidak bisa menjadi pantas, ‘kan?
Berbekal keyakinan itulah, dia akhirnya mengangguk. “Aku pasti akan nunggu kamu. Kamu fokus dengan pekerjaan kamu, begitu juga denganku. Saat waktunya nanti, aku pasti akan pantas untuk menjadi pendampingmu.”
Galen tersenyum lebar. Kegigihan yang ditunjukkan oleh Levana adalah bukti nyata jika gadis itu memiliki semangat juang yang tinggi.
“Suatu hari, tentu saja kita akan berdiri bersisihan di pelaminan menjadi sepasang suami istri yang akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Memiliki anak-anak yang tampan dan cantik dengan kamu sebagai ibu dan aku ayahnya.” Galen menarik napas panjang. Menarik Levana mendekat agar menempel di tubuhnya dan dia bisa memeluk gadis itu dengan erat. “Aku nggak sabar hari itu tiba, Lev. Kita pasti akan sangat bahagia.”
Sayangnya, semua impian itu tidak sepenuhnya terealisasi. Dua tahun setelahnya, ketika Galen sudah menyelesaikan kuliah S2-nya dan siap menikah, tidak ada pesta pernikahan untuknya. Bahkan pernikahan itu tertutup rapat dan hanya segelintir orang yang tahu tentang pernikahan mereka.
Tidak ada pelaminan mewah, tidak ada gaun menyapu lantai dengan harga ratusan juga yang dikenakan Levana, hanya sebuah acara kecil yang dibuat untuk mengesahkan pernikahan mereka. Semua itu terjadi karena Retno terpaksa menikahkan mereka karena Galen terus mendesak orang tuanya.
Saat itulah kehidupan baru Levana dimulai. Dia dipaksa oleh ibu mertuanya untuk resign dari pekerjaannya dan mengabdikan dirinya untuk keluarga Galen.
“Hari minggu nanti, ada acara arisan di rumah ini. Levana, tugasmu adalah memasak makanan untuk kami semua. Ingat, kamu harus suguhkan menu yang premium untuk tamu-tamu saya.” Itu adalah awal Levana menjadi juru masak di rumah mertuanya saat ada acara.
Tidak ada yang tahu posisi Levana dalam keluarga Wiraguna karena pernikahannya dengan Galen tidak di ekspos. Orang-orang menganggap jika Galen masih lajang dan tidak memiliki istri. Itu adalah salah satu syarat yang diberikan oleh orang tua Galen jika Galen ingin menikahi Levana.
Persyaratan itu diambil oleh Galen karena yang terpenting baginya adalah dia bisa menikahi Levana, ada atau tanpa pesta sekalipun.
“Ibu bisa tentukan menunya, biar saya yang masak nanti.” Itu adalah tanggapan Levana ketika perintah ibu mertuanya sudah terlontar.
Sontak saja, tatapan Retno mengarah lurus pada wajah Levana. Keningnya berkerut, dan pendar amarah menyorot menantunya tanpa ampun. Menutup majalah yang sempat dibaca, Retno memfokuskan atensinya pada sang menantu.
“Levana, gunakan isi kepalamu itu sedikit saja agar kamu bisa berpikir.” Ucapannya tenang, tetapi mampu menusuk perasaan Levana sampai ke jantung. “Sebagai orang yang sudah bergelut di bidang kuliner, seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu buat untuk tamu-tamu saya nanti. Kenapa hal sepele seperti ini saja kamu tidak bisa memutuskan?”
“Bukan begitu maksud saya, Bu.” Levana langsung menjawab. “Saya hanya khawatir kalau-kalau menu yang sudah terhidang tidak sesuai keinginan ibu.”
“Saya sudah bilang, buat menu premium. Artinya, menu yang biasa disajikan untuk acara kalangan atas.” Retno berdecak sebelum membuka majalahnya kembali. “Inilah pentingnya hidup dengan orang yang sepadan. Karena perbedaan strata social itu sangat menjengkelkan.”
Levana tidak menjawab dan memilih menelan semua rasa getir itu di dalam hatinya. Dia tidak memiliki kuasa apa pun untuk membantah dan yang bisa dia lakukan hanya menerima perintah dari ibu mertuanya.
Galen datang tak lama setelah itu, dan saatnya Levana memberikan senyum terbaiknya. Kepura-puraan yang harus dia pertahankan agar Galen tidak mengkhawatirkannya. Levana kali ini benar-benar terjebak pada situasi tak menyenangkan karena cinta. Ya, karena cintanya yang begitu besar kepada Galen, dia rela menjalani kehidupan yang seperti ini.
Mereka tinggal di paviliun belakang rumah hanya berdua bersama suaminya. Retno tidak mengizinkan Galen tinggal terpisah dan meminta untuk tetap tinggal di sana tetapi tidak di rumah utama. Galen pada awalnya menolak dan ingin hidup berdua dengan Levana. Tidak masalah kalau harus menyewa sebuah rumah. Sayangnya, keputusan sudah ditetapkan, dan Galen memilih mengalah.
“Kamu masih nggak nyaman tinggal di sini?” Pertanyaan itu Galen lontarkan ketika mereka sudah berada di dalam kamar. “Aku akan mencari rumah untuk kita tinggali berdua. Aku janji bisa membuat Mama berubah pikiran dan mengizinkan kita pergi. Untuk sementara, kamu tahan dulu, ya. Aku akan mengusahakannya.”
Galen belum menjadi siapa-siapa kala itu. Dia baru lulus S2-nya dan gaji yang dia miliki belum begitu besar. Untuk membeli rumah mewah di pusat kota tentu harus mengantongi uang milyaran. Meskipun dia putra pemilik perusahaan dan calon pewaris, dia tetap harus bekerja dari nol. Mulai dari staf biasa, dan sekarang sudah naik tingkat menjadi seorang manajer.
“Aku nggak masalah, Mas. Aku akan ikut kamu di mana pun kamu pergi. Aku nggak akan membebani kamu.” Levana benar-benar berperan sebagai istri yang baik untuk Galen dan lelaki itu jelas menyukainya.
Levana tak menuntut banyak hal, bahkan tidak mengeluh ketika Retno selalu bersikap tidak baik kepadanya. Levana pernah melalui kehidupan yang lebih sulit dari hari ini dan dia mampu bertahan. Kali ini pun dia juga akan bertahan untuk Galen. Laki-laki yang sangat dia cintai.
Sampai suatu hari sesuatu terjadi.
***
Hari masih pagi, Levana turun ke lantai bawah hanya untuk sekedar menghirup udara pagi yang menyejukkan. Hari ini minggu, dan Galen masih bergulung di dalam kasur bersama kedua anaknya. Dia kembali tidur setelah subuh dan Levana membiarkannya.Tak lama para ART muncul untuk mulai bekerja. Ada yang bersih-bersih, ada yang memulai membuat sarapan. Mereka tahu di hari minggu seperti ini sarapan sedikit lebih lambat. Tuan rumah mereka akan bangun telat.“Ibu mau dibuatin sesuatu nggak? Biasanya kan sarapannya agak siangan.” Salah satu Bibi menawarkan kepada Levana.“Nggak perlu, Bik. Makasih. Nanti aku buat sendiri kalau lapar.”Bibi memilih kembali ke dapur setelah itu dan meninggalkan Levana seorang diri. Angin pagi yang segar sebelum matahari muncul menjadi salah satu favorit Levana. Dia bisa berlama-lama di halaman rumah hanya untuk menatap langit dan menikmati aroma pagi yang menenangkan.Tamu datang tak lama setelah itu. Levana sedikit menyipitkan matanya sebelum tamu tersebut masuk
Duduk berdua dengan sang istri sambil melihat anak-anak bermain dengan riang adalah salah satu bayangan Galen sejak dulu. Sekarang terealisasi.Di siang hari sebelum makan siang, di weekend yang damai, Galen dan Levana bersantai di halaman belakang sambil ditemani suara tawa Birru dan Ivory. Ivory sudah mulai belajar berjalan dan sudah bisa diajak bermain oleh sang kakak.Birru yang dulu melihat adiknya bisa berdiri dan melangkahkan kakinya, tampak bahagia luar biasa. Tanpa diminta oleh siapa pun, dia langsung mengambil ipad-nya dan merekam adiknya.“Jadi, cukup dua aja atau mau nambah satu lagi?”Melihat dua anaknya yang tampan dan cantik tentulah membuat Galen merasa jika produk yang dihasilkan olehnya dan Levana adalah bibit unggul. Tak masalah kalau dia punya lebih dari dua.“Cukup dua aja. Pabriknya tutup.” Levana menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galen masih sambil memantau kedua anaknya.“Bisa dibuka lagi, ‘kan? … pabriknya.” Semilir angin menerbangkan rambut Levana dan mengenai
“Birru, kok sendirian?” Birru yang sibuk dengan tabletnya itu menoleh ke arah sumber suara. Dalam satu hari, Birru mendapatkan kesempatan dua jam untuk bermain gadget dan dia sekarang tengah menggunakan kesempatan itu dengan baik.“Iya,” jawabnya singkat sebelum kembali fokus pada tabletnya.Yang bertanya adalah Retno yang baru sampai ke rumahnya. Tidak bersama siapa pun, hanya sendiri. Birru sama sekali tidak peduli dengan neneknya tersebut.Retno duduk di sofa single sambil menatap pada cucunya yang tampak begitu tak acuh. Seperti Retno yang tidak pernah mengakui Birru di masa lalu, sekarang Birru pun melakukan hal yang sama.Waktu sudah berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka. Bahkan Birru pun tidak pernah memanggil Retno sama sekali seakan tahu jika hubungan mereka memang tidak bagus.“Om Dante ke mana kok kamu di sini sendirian?” tanya Retno lagi.“Lagi ada urusan sebentar.” Meskipun singkat, tetapi Birru tidak pernah tidak menjawab pertanyaan Retno.“Kamu ma
Ivory Leora Wiraguna menjadi penambah kebahagiaan dalam keluarga Galen dan Levana. Setelah drama melahirkan yang berjalan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia lahir bergabung dengan sesaknya dunia.Birru yang melihat adik cantiknya sudah terlahir itu enggan melakukan apa pun. Bahkan untuk pergi ke sekolah pun harus melalu drama panjang.“Mama, Mas mau sama Adek.” Begitu katanya ketika dia diminta untuk bersiap sekolah.“Nanti sepulang sekolah juga kan sama Adek lagi, Mas. Sekarang Mas pergi sekolah dulu. Lagian sekolahnya juga nggak lama.”“Tapi kalau Mas Birru di sekolah suka kepikiran Adek, Ma.”“Mikirin Adek boleh, tapi jangan sampai Mas Birru nggak fokus sekolahnya.”Itulah kira-kira rentetan percakapan antara Birru dan Levana di suatu pagi. Birru yang tak mau sekolah dengan banyak sekali alasan. Ya, mungkin karena masih senang-senangnya dia menjadi seorang kakak.Jarak usia Birru dan Ivory yang cukup jauh membuat Birru sudah paham bagaimana menjadi seorang kakak. Sebelumnya s
“Udah berapa lama kira-kira kita udah nggak ketemu, ya, Bu? Terakhir kali sepertinya waktu lahirannya Naka.”“Iya, Bu. Kalau nggak ada acara begini saya milih di rumah aja. Perjalanan jauh begini kasihan papanya Heydar.”Obrolan ibu dan mertua Gia itu kembali terjalin setelah semua orang sudah pamit pulang. Tinggal orang tua Gia dan orang tua Heydar yang tetap ada di sana karena mereka memutuskan untuk menginap.Retno sebenarnya menolak rencana tersebut, tetapi pada akhirnya menyetujuinya. Galen sudah membawa istri dan anaknya pulang karena Levana pun sudah tampak kelelahan. Hamil tua membuat tenaga perempuan itu terasa tersedot habis meskipun tidak ada banyak hal yang dilakukan.“Tapi, udah nggak pernah kumat-kumat lagi ‘kan, Bu, sakitnya papanya Heydar? Waktu saja dikabari kalau waktu itu masuk rumah sakit lagi, saya juga cemas.”“Alhamdulillah, Bu. Ya, sekarang kalau di rumah saya nemani jalan setiap pagi. Yang penting harus dibuat gerak aja tubuhnya biar nggak lemes.”Obrolan itu
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gia akan menempati rumah barunya sebelum Levana melahirkan. Setelah perabotan rumah tangga sudah terpenuhi di rumah tersebut, saatnya keluarga kecil itu berpindah rumah.Kebahagiaan itu tampak tumpah ruah tidak karuan. Levana yang perutnya sudah membesar itu hanya melihat orang-orang sibuk menyiapkan makanan.“Mbak Leva, Ibu buatkan jamu buat Mbak Leva.” Itu adalah ibu mertua Gia. Perempuan berhijab itu tampak begitu keibuan.Sejak awal mengenal Levana beberapa waktu lalu, perempuan paruh baya itu sangat perhatian dengan Levana. Jika mereka bertemu pun ada banyak sekali wejangan yang diberikan terkait kehamilan.Levana merasa memiliki ibu dan diperhatikan dan itu membuat hatinya menghangat. Andai saja dia memiliki ibu mertua sebaik itu, Levana pasti akan membalasnya tak kalah baiknya.“Terima kasih, ya, Bu. Ibu udah banyak banget buatin saya ini dan itu.” Levana tersenyum tulus ketika menatap perempuan itu.“Nanti sebelum Ibu pulang, Ibu aka







