LOGINLevana praktis tak bisa tidur. Bayangan Galen terus menerus berputar dalam ingatannya. Memiringkan tubuhnya, Levana mencoba menutup matanya rapat. Mencoba tenggelam dalam dunia mimpi yang panjang, sayangnya sampai tengah malam pun dia tetap terjaga.
Beranjak dari ranjang, Levana memilik duduk di sofa single yang menghadap langsung pada jendela kamarnya yang lebar. Menatap langit malam yang gelap, Levana mencoba untuk melepaskan segala pikiran yang membelenggunya. Mengingatkan dirinya sendiri jika semuanya sudah berakhir. Galen juga sudah menikah dengan perempuan pilihan ibunya tak lama setelah dia meninggalkannya.
Akan tetapi, semua kisah masa lalu itu tiba-tiba mengeroyoknya tanpa bisa dicegah. Ulasan kejadian demi kejadian yang terjadi sejak awal dia diperkenalankan kepada orang tua Galen sampai pernikahannya dengan Galen itu terbayang dalam ingatan.
“Ma, Pa. Ini pacarku. Namanya Levana.” Kala itu, Galen membawa Levana ke rumahnya, memperkenalkan gadis itu sebagai kekasihnya, menunjukkan kepada orang tuanya tentang keberadaannya. “Kami teman kuliah, hanya beda jurusan. Dia jurusan tata boga.”
Ekspresi tidak tertarik yang ditunjukkan oleh ibu Galen itu tidak repot-repot ditutupi. Tidak ada antusias dalam wajah datar Retno Hamiruddin, terlebih lagi Fajar Wiraguna yang hanya menatap lekap pada sosok Levana yang duduk tepat di samping Galen.
Melihat bagaimana orang tua Galen bereaksi atas kedatangan dirinya di rumah besar tersebut, membuat Levana tahu jika dirinya tidak diterima oleh keluarga kekasihnya. Ya, apa yang dia harapkan ketika memacari seorang lelaki kaya raya? Dipeluk lalu diterima dengan kedua tangan terbuka oleh orang tua kekasihnya? Itu akan terjadi jika dia lahir dari kalangan berada.
Galen menambahkan informasi lain kepada kedua orang tuanya. “Kami sudah pacaran sejak dua tahun lalu, Ma. Lebih tepatnya kami mengawali saat kami di semester empat.” Galen tampak antusias ketika bercerita, sayangnya hal itu tidak mengubah raut wajah Retno atau pun Fajar. Mereka tampak diam menunjukkan ketidak tertarikannya.
Melihat bagaimana reaksi orang tua Galen, Levana merasa semakin kecil. Dia bahkan harus menundukkan kepalanya dalam diam-diam menutup matanya resah. Dia salah masuk ke dalama lingkungan yang seharusnya dia hindari.
“Levana.” Suara itu milik Retno yang memecah keheningan di ruang tamu mewah rumahnya. “Bagaimana latar belakang keluargamu?” Tanpa perlu berbasa-basi, perempuan paruh baya itu segera memastikan hal penting tersebut kepada gadis yang dipacari oleh putranya. “Tolong ceritakan kepada kami dari mana kamu berasal.”
Levana menoleh menatap Galen. Ada keraguan besar yang berkumpul menjadi satu di dalam hatinya. Levana mengerti, jika orang tua Galen pasti akan menanyakan hal penting itu kepadanya. Levana bukannya enggan, tetapi baginya, tidak ada yang menarik dari kehidupan yang dijalaninya.
Lantas, apa Levana bisa menolak permintaan Retno? Tentu saja tidak. Mau tak mau, siap tidak siap, Levana tetap harus membuka latar belakang keluarganya. Galen menggenggam tangan Levana dengan lembut memberikan tatapan dalam seolah mengatakan, ‘Kamu tidak perlu mengatakan apa pun bila belum siap,’ yang tentu saja tidak bisa dilakukan oleh Levana.
Maka dari itu, dengan meneguhkan hati, Levana membuka mulutnya untuk berbicara. “Saya sudah tidak memiliki orang tua, Bu,” kata Levana dengan santun. Bahkan panggilan ‘tante’ pun tidak bisa dia sematkan untuk ibu Galen. “Orang tua saya meninggal saat saya masih SD, dan tanggung jawab orang tua saya di ambil alih oleh nenek saya sampai saya SMP karena Nenek menyusul kedua orang tua saya. Setelah nenek saya meninggal, saya hanya berusaha sendiri untuk tetap bertahan hidup dan bisa sekolah.”
Kisah hidup Levana yang pahit membuat si empunya merasa kecil. Tidak ada air mata yang lolos dari netranya, tetapi perasaannya mendadak diliputi mendung hitam yang gelap.
“Kamu bekerja?” tanya Retno mengulik kisah Levana lebih dalam.
“Iya, saya bekerja setelah pulang sekolah. Saya bersyukur karena saya mendapatkan beasiswa full dari sekolah. Tapi, untuk kehidupan saya, saya tetap harus berjuang sendiri.”
“Di mana kamu bekerja?” Seolah tidah sabaran, Retno langsung melontarkan tanya setelah Levana selesai bersuara.
“Di kedai bakso dari pulang sekolah sampai jam lima sore, dan di warung tenda dari jam enam sampai dua belas malam.” Levana menatap Retno dengan tatapan keteguhan yang dimiliki.
“Kamu tidak memiliki keluarga yang lain?”
“Ada. Tapi, mereka tidak ingin melibatkan diri dengan saya dan tidak ingin mengurus saya. Maka, saya tidak punya pilihan lain selain harus berjuang untuk hidup saya sendiri.”
“Kuliahmu, kamu juga mendapatkan beasiswa?” tanya Retno lagi.
“Benar, Bu. Selama saya bisa mempertahankan nilai IPK saya di nilai tertentu, maka saya akan tetap mendapatkan bea siswa tersebut.”
“Hidupmu benar-benar sulit, Levana,” komentar Retno setelah itu. “Lantas, bagaimana kamu bisa memiliki keberanian untuk mendekati putra saya yang hidupnya sangat berkecukupan? Apa kamu berpikir jika kamu mampu menggaet laki-laki dengan strata tinggi, lantas kamu bisa hidup dengan nyaman?”
“Mama!” Galen bereaksi cepat.
“Kamu sudah berani membawa Levana datang menemui kami, Mas Galen. Artinya kamu sudah mempertimbangkan konsekuensi yang timbul. Apa kamu nggak merasa kalau perbedaan kalian terlalu besar? Harusnya kamu sadar kamu siapa dan Levana siapa.”
“Seharusnya Mama bisa mengapresiasi Levana yang mampu berjuang sampai sejauh ini. Dia mampu menghadapi kehidupan yang keras ini tanpa siapa pun.”
“Tentu saja Mama mengapresiasinya.” Tatapan Retno mengarah lurus pada Levana seolah tengah menguliti gadis itu. “Tapi bukan untuk menjadi pendampingmu, Mas Galen. Kami sudah mempersiapkan perempuan yang pantas untuk menjadi bagian dari keluarga kita dan menjadi pendampingmu.”
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Levana saat itu karena tentu saja dia merasa sangat rendah diri. Untuk pertama kalinya dia datang ke rumah Galen dan bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya, tetapi justru penolakan yang dia dapatkan.
Levana bukannya tidak tahu diri. Dia tahu jika Galen adalah putra dari seorang pengusaha ternama. Lelaki itu berada jauh di strata atas hidupnya. Levana pernah menolak Galen berkali-kali sebelum dia menerima lelaki itu sebagai kekasihnya di semester empat kuliahnya.
Levana sempat tidak percaya jika seorang Galen jatuh cinta kepadanya. Bahkan bisa dibilang lelaki itu adalah budak cinta dari seorang Levana. Galen serius dengan hubungan yang sedang dijalani dengan Levana. Dia ingin menikahi Levana dan menjadikan gadis itu sebagai pendampingnya. Itulah kenapa dia langsung membawa Levana ke rumahnya dan mengenalkannya kepada kedua orang tuanya setelah mereka lulus kuliah.
“Kamu masih harus meneruskan kuliahmu, Mas.” Akhirnya Fajar Wiraguna pun bersuara setelah hanya menjadi pendengar dan pengamat. “Selesaikan S2-mu lebih dulu agar kamu bisa segera mengambil alih perusahaan. Singkirkan urusan yang tidak penting dan fokuslah pada tujuanmu.”
“Levana bagian dari tujuanku, Pa. Aku ingin menikahinya.” Galen serius mengatakan itu. Bagi Galen, dia tetap harus mengungkapkannya cepat atau lambat.
Retno tersenyum kecil. “Jangan terlalu terburu-buru, Mas. Kamu masih sangat muda untuk mengambil keputusan untuk menikah. Mama kira pertemuan kita cukup sampai di sini, Mas Galen. Kamu bisa mengantarkan Levana pulang.”
***
Hari masih pagi, Levana turun ke lantai bawah hanya untuk sekedar menghirup udara pagi yang menyejukkan. Hari ini minggu, dan Galen masih bergulung di dalam kasur bersama kedua anaknya. Dia kembali tidur setelah subuh dan Levana membiarkannya.Tak lama para ART muncul untuk mulai bekerja. Ada yang bersih-bersih, ada yang memulai membuat sarapan. Mereka tahu di hari minggu seperti ini sarapan sedikit lebih lambat. Tuan rumah mereka akan bangun telat.“Ibu mau dibuatin sesuatu nggak? Biasanya kan sarapannya agak siangan.” Salah satu Bibi menawarkan kepada Levana.“Nggak perlu, Bik. Makasih. Nanti aku buat sendiri kalau lapar.”Bibi memilih kembali ke dapur setelah itu dan meninggalkan Levana seorang diri. Angin pagi yang segar sebelum matahari muncul menjadi salah satu favorit Levana. Dia bisa berlama-lama di halaman rumah hanya untuk menatap langit dan menikmati aroma pagi yang menenangkan.Tamu datang tak lama setelah itu. Levana sedikit menyipitkan matanya sebelum tamu tersebut masuk
Duduk berdua dengan sang istri sambil melihat anak-anak bermain dengan riang adalah salah satu bayangan Galen sejak dulu. Sekarang terealisasi.Di siang hari sebelum makan siang, di weekend yang damai, Galen dan Levana bersantai di halaman belakang sambil ditemani suara tawa Birru dan Ivory. Ivory sudah mulai belajar berjalan dan sudah bisa diajak bermain oleh sang kakak.Birru yang dulu melihat adiknya bisa berdiri dan melangkahkan kakinya, tampak bahagia luar biasa. Tanpa diminta oleh siapa pun, dia langsung mengambil ipad-nya dan merekam adiknya.“Jadi, cukup dua aja atau mau nambah satu lagi?”Melihat dua anaknya yang tampan dan cantik tentulah membuat Galen merasa jika produk yang dihasilkan olehnya dan Levana adalah bibit unggul. Tak masalah kalau dia punya lebih dari dua.“Cukup dua aja. Pabriknya tutup.” Levana menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galen masih sambil memantau kedua anaknya.“Bisa dibuka lagi, ‘kan? … pabriknya.” Semilir angin menerbangkan rambut Levana dan mengenai
“Birru, kok sendirian?” Birru yang sibuk dengan tabletnya itu menoleh ke arah sumber suara. Dalam satu hari, Birru mendapatkan kesempatan dua jam untuk bermain gadget dan dia sekarang tengah menggunakan kesempatan itu dengan baik.“Iya,” jawabnya singkat sebelum kembali fokus pada tabletnya.Yang bertanya adalah Retno yang baru sampai ke rumahnya. Tidak bersama siapa pun, hanya sendiri. Birru sama sekali tidak peduli dengan neneknya tersebut.Retno duduk di sofa single sambil menatap pada cucunya yang tampak begitu tak acuh. Seperti Retno yang tidak pernah mengakui Birru di masa lalu, sekarang Birru pun melakukan hal yang sama.Waktu sudah berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka. Bahkan Birru pun tidak pernah memanggil Retno sama sekali seakan tahu jika hubungan mereka memang tidak bagus.“Om Dante ke mana kok kamu di sini sendirian?” tanya Retno lagi.“Lagi ada urusan sebentar.” Meskipun singkat, tetapi Birru tidak pernah tidak menjawab pertanyaan Retno.“Kamu ma
Ivory Leora Wiraguna menjadi penambah kebahagiaan dalam keluarga Galen dan Levana. Setelah drama melahirkan yang berjalan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia lahir bergabung dengan sesaknya dunia.Birru yang melihat adik cantiknya sudah terlahir itu enggan melakukan apa pun. Bahkan untuk pergi ke sekolah pun harus melalu drama panjang.“Mama, Mas mau sama Adek.” Begitu katanya ketika dia diminta untuk bersiap sekolah.“Nanti sepulang sekolah juga kan sama Adek lagi, Mas. Sekarang Mas pergi sekolah dulu. Lagian sekolahnya juga nggak lama.”“Tapi kalau Mas Birru di sekolah suka kepikiran Adek, Ma.”“Mikirin Adek boleh, tapi jangan sampai Mas Birru nggak fokus sekolahnya.”Itulah kira-kira rentetan percakapan antara Birru dan Levana di suatu pagi. Birru yang tak mau sekolah dengan banyak sekali alasan. Ya, mungkin karena masih senang-senangnya dia menjadi seorang kakak.Jarak usia Birru dan Ivory yang cukup jauh membuat Birru sudah paham bagaimana menjadi seorang kakak. Sebelumnya s
“Udah berapa lama kira-kira kita udah nggak ketemu, ya, Bu? Terakhir kali sepertinya waktu lahirannya Naka.”“Iya, Bu. Kalau nggak ada acara begini saya milih di rumah aja. Perjalanan jauh begini kasihan papanya Heydar.”Obrolan ibu dan mertua Gia itu kembali terjalin setelah semua orang sudah pamit pulang. Tinggal orang tua Gia dan orang tua Heydar yang tetap ada di sana karena mereka memutuskan untuk menginap.Retno sebenarnya menolak rencana tersebut, tetapi pada akhirnya menyetujuinya. Galen sudah membawa istri dan anaknya pulang karena Levana pun sudah tampak kelelahan. Hamil tua membuat tenaga perempuan itu terasa tersedot habis meskipun tidak ada banyak hal yang dilakukan.“Tapi, udah nggak pernah kumat-kumat lagi ‘kan, Bu, sakitnya papanya Heydar? Waktu saja dikabari kalau waktu itu masuk rumah sakit lagi, saya juga cemas.”“Alhamdulillah, Bu. Ya, sekarang kalau di rumah saya nemani jalan setiap pagi. Yang penting harus dibuat gerak aja tubuhnya biar nggak lemes.”Obrolan itu
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gia akan menempati rumah barunya sebelum Levana melahirkan. Setelah perabotan rumah tangga sudah terpenuhi di rumah tersebut, saatnya keluarga kecil itu berpindah rumah.Kebahagiaan itu tampak tumpah ruah tidak karuan. Levana yang perutnya sudah membesar itu hanya melihat orang-orang sibuk menyiapkan makanan.“Mbak Leva, Ibu buatkan jamu buat Mbak Leva.” Itu adalah ibu mertua Gia. Perempuan berhijab itu tampak begitu keibuan.Sejak awal mengenal Levana beberapa waktu lalu, perempuan paruh baya itu sangat perhatian dengan Levana. Jika mereka bertemu pun ada banyak sekali wejangan yang diberikan terkait kehamilan.Levana merasa memiliki ibu dan diperhatikan dan itu membuat hatinya menghangat. Andai saja dia memiliki ibu mertua sebaik itu, Levana pasti akan membalasnya tak kalah baiknya.“Terima kasih, ya, Bu. Ibu udah banyak banget buatin saya ini dan itu.” Levana tersenyum tulus ketika menatap perempuan itu.“Nanti sebelum Ibu pulang, Ibu aka







