Home / Romansa / Rahasia Malam Itu / Bab 5 - Ruang Rapat Yang Terlalu Sempit

Share

Bab 5 - Ruang Rapat Yang Terlalu Sempit

Author: iskz08
last update Last Updated: 2025-09-13 07:00:36

Pagi itu, Anetta menatap pantulan dirinya di kaca lift kantor yang mengkilap. Rambut hitamnya tergerai rapi, beserta blazer biru navy yang menempel pas di tubuhnya. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam degup jantung yang sejak semalam sulit untuk dikendalikan. Hari ini, ia akan menghadapi sebuah pertemuan penting. Ya pertemuan bisnis, katanya. Tapi jauh di dalam hati, ia tahu ini lebih dari sekadar urusan kerja. Ada hati yang menjadi taruhan terbesarnya.

Nama di email itu masih menari-nari jelas di kepala Anetta. Anthony Reynard. CEO muda yang kariernya melesat, dan… pria yang sama lima tahun lalu meninggalkan bekas luka di hidup Anetta. Dia juga adalah pria yang baru dua minggu lalu Anetta temui kembali di pesta pernikahan sahabat SMA mereka.

Pertemuan di pesta itu singkat, penuh tatap yang menekan, kata-kata sopan yang disembunyikan di balik segelas wine. Bagaimana percakapan sengit berakhir di area parkiran. Masih terekam kuat di benaknya. Dan Anetta pun sudah bertekad, setelah pesta itu ia tak akan lagi bersinggungan dengan Anthony. Sayangnya, takdir seakan mengejek, dengan kembali mempertemukan mereka.

Pintu lift terbuka. Anetta melangkah keluar dengan langkah mantap, walau telapak tangannya basah dingin. Asisten pribadinya, Karin, menyusul di belakang sambil membawa map tebal.

“Bu Anetta, saya sudah siapkan semua data. Agenda presentasi bisa jalan sesuai rencana.”

“Baik. Pastikan semua dokumen lengkap. Jangan sampai ada yang terlewat,” jawab Anetta datar.

Namun dalam hati, ia ingin sekali berkata: Andai saja aku juga bisa memastikan tidak ada perasaan lama yang ikut terbawa dalam ruangan itu.

Anetta menghembuskan nafas kasar, sebelum benar-benar kembali berhadapan dengan sosok Anthony.

Ruang rapat lantai 30 terlihat profesional, dengan meja panjang dari kayu walnut dan layar besar di dinding. Begitu pintu terbuka, Anetta langsung melihat sosok yang berkeliaran di pikirannya sejak dua pekan lalu.

Anthony Reynard.

Duduk di ujung meja, mengenakan setelan abu-abu gelap, dasi hitam tipis, dengan wajah tenang yang sulit ditebak. Waktu seakan berhenti sesaat. Mata coklat amber itu menatap lurus ke arah Anetta, seperti menusuk langsung ke inti hatinya dan ingin menelannya hidup-hidup.

“Selamat pagi, Bu Anetta,” sapa Anthony dengan senyum tipis, nyaris formal.

Anetta membalas dengan anggukan dingin.

“Selamat pagi, Pak Anthony. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Karin buru-buru mengatur proyektor, sementara beberapa staf Anthony juga sudah siap dengan laptop masing-masing. Suasana dibuat seprofesional mungkin, tapi atmosfer aneh menyelubungi ruangan. Seolah hanya ada mereka berdua di sana, padahal meja dipenuhi orang.

Presentasi berjalan dengan lancar. Anetta bicara tegas, menyampaikan rencana kolaborasi, menekankan keuntungan jangka panjang. Anthony mendengarkan dengan serius, kadang mengangguk, sesekali mengajukan pertanyaan tajam. Diskusi formal itu menjadi arena duel intelektual—tak ada satupun yang mau terlihat lemah.

Namun di balik kalimat-kalimat bisnis mereka, terselip bahasa lain.

Ketika Anthony bertanya, “Apakah perusahaan Anda siap menghadapi risiko ini?” tatapannya jelas berkata, Apakah kamu siap menghadapi aku lagi?

Saat Anetta menjawab, “Kami sudah mengantisipasi semua kemungkinan,” yang ia maksud sebenarnya adalah, Aku sudah mengantisipasi hatiku, jangan harap kau bisa masuk lagi.

Satu jam berlalu. Presentasi selesai. Staf satu per satu meninggalkan ruangan, menyisakan hanya dua manusia berbeda genre, yaitu Anetta dan Anthony. Keheningan jatuh, menekan dada Anetta lebih berat daripada percakapan bisnis barusan.

Anthony membuka suara lebih dulu. “Kamu masih sama seperti dulu. Gigih, penuh kendali. Bahkan lebih… memikat.”

Anetta menegang. “Kita di sini bicara kerja sama, Tony. Jangan campur aduk hal pribadi.”

Pria itu berdiri, berjalan pelan mendekati sisi meja tempat Anetta duduk. Ada jarak formal, tapi aura keintiman masa lalu ikut menyeruak.

“Kalau kerja sama ini jalan, kita bakal sering ketemu lagi, Ta,” ucap Anthony lagi dengan nada tenang, tapi ada ketegangan samar di balik suaranya.

Tata hanya mengangguk singkat. “Aku tahu.”

Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu, mengingatkan pada malam yang sama-sama mereka simpan rapat-rapat. Ada sesuatu yang tak terucapkan, tapi jelas terasa.

“Aku tidak bisa berpura-pura, Ta,” lanjut Anthony rendah. “Lima tahun lalu aku bodoh. Aku biarkan ego dan nafsuku menghancurkan kita. Tapi melihatmu lagi, di pesta itu, lalu sekarang… rasanya mustahil menganggap semua ini kebetulan.”

Anetta menegakkan tubuh, mencoba menahan gejolak di dadanya akibat dari perkataan Anthony barusan. “Itu sudah masa lalu, Tony. Aku sudah membangun hidupku sendiri. Jangan tarik aku ke belakang.”

Anthony menatapnya lekat, lalu menundukkan kepala sedikit, seolah menahan sesuatu. “Entah kenapa… aku merasa kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kalimat itu membuat Anetta tercekat. Sesaat ia takut Anthony bisa menyinggung rahasia yang mati-matian ia jaga. Tapi ia buru-buru berdiri, meraih map dan tasnya.

“Pertemuan selesai. Jika perusahaanmu serius dengan kerja sama ini, kita lanjutkan secara formal lewat tim masing-masing.” Potong Anetta menyudahi percakapan yang makin menjurus ke masa lalu.

Tangannya bergetar saat memegang gagang pintu. Tapi sebelum keluar, Anthony bersuara lagi.

“Aku tidak akan mundur kali ini, Ta.” Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi penuh tekad. “Baik dalam bisnis… maupun dalam hidupmu.”

Anetta menarik nafas dalam. Sebisa mungkin Anetta tidak menoleh. Ia tahu jika ia menatap ke arah Anthony, pertahanannya pasti bisa runtuh. Maka ia melangkah keluar, meninggalkan Anthony dengan segudang kalimat tak terucap.

Namun di dalam hatinya, satu kenyataan mengguncang: rahasia terbesar yang ia sembunyikan selama lima tahun… tetap aman, untuk sementara waktu.

Sementara Anthony, semakin yakin jika takdir tidak pernah main-main dalam mempertemukan mereka lagi.

Di koridor luar ruang rapat, Anetta melangkah cepat. Tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, tapi suaranya kalah bising dibanding detak jantungnya sendiri.

Ia menekan tombol lift, berusaha fokus pada angka-angka digital yang menyala. Tapi pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang tatapan Anthony, nada suaranya, dan terutama kalimat terakhir itu: "Aku tidak akan mundur kali ini."

Saat pintu lift terbuka, Anetta masuk tergesa. Ia baru sadar, jemarinya sejak tadi menggenggam ponselnya begitu erat. Layar ponsel menyala, menampilkan notifikasi foto terbaru dari galeri otomatis.

Sebuah gambar kecil: Dion, sang putra, dengan senyum polos di halaman rumah.

Anetta menutup layar cepat-cepat, seakan takut ada mata lain yang bisa mengintip. Dadanya sesak. Ia tahu satu hal pasti: semakin dekat Anthony mencoba masuk ke hidupnya lagi, semakin rapuh benteng yang ia bangun selama lima tahun terakhir. Nafas Anetta memburu, tidak boleh, Anthony tidak boleh tau, batinnya.

Dan di lantai 30 yang kembali sepi, Anthony berdiri di tepi jendela. Ia menatap ke luar gedung, ke arah langit Jakarta yang kelabu. Namun sorot matanya lebih tajam dari langit yang murung. Jemarinya mengetuk pelan meja.

“Aku akan cari tahu, Ta… semua yang kamu sembunyikan dariku," gumannya pelan. "Termasuk yang kau pikir aman selama lima tahun terakhir.” Tekad bulat Anthony dan berbahaya.

Sebagai orang yang paling mengenal Anetta, tentu saja Anthony sangat yakin seratus persen ada yang disembuyikan oleh wanita itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Malam Itu   Bab 104 - Lamaran

    Pagi itu, Bram bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena rapat. Bukan juga karena alarm yang membangunkan. Melainkan karena satu keputusan yang semalaman tidak memberinya tidur nyenyak, bukan karena ragu, tapi karena bobotnya terlalu nyata. Ia berdiri di depan jendela penthouse, memandang Jakarta yang masih setengah sadar. Langit abu-abu muda. Kota belum sepenuhnya bising. Di meja dapur tampak sebuah kotak beludru hitam tergeletak terbuka. Cincin di dalamnya sederhana.Tidak besar, tidak mencolok, tapi terlihat begitu elegan. Potongannya presisi, sama persisi menggambarkan seperti sosok Anetta.Tegas, bersih, dan tidak berusaha mengesankan siapa pun selain orang yang memahaminya. Bram menutup kotak itu perlahan. Hari ini. Bukanlah sebuah momentum romantis.Bukan juga karena ia takut kehilangan. Melainkan karena satu kesadaran yang datang tanpa drama, kini ia sudah selesai menunda. Saatnya bagi Bram untuk mengajak wnaitanya ke tahap yang lebih matang dan dewasa. Dimana r

  • Rahasia Malam Itu   Bab 103 - Kontrak Telah Berakhir

    Pagi menyapa, begitu juga dengan hiruk piruk kota Jakarta kemacetan di hari kerja. Anetta Aileya, termasuk menjadi salah satu orang yang terjebak di dalam situasi tersebut. Cukup lama ia terjebak dalam kemacetan, hingga akhirnya bisa tiba di gedung Reynard Group. Setibanya Anetta di ruang rapat lantai 15 Gedung Reynard Group pagi itu dipenuhi cahaya alami. Dinding kaca membingkai kota yang bergerak seperti biasa—sibuk, ambisius, dan tidak peduli pada cerita personal siapa pun. Di dalam ruangan, semua sudah duduk. Anthony berada di sisi kanan meja panjang, mengenakan setelan abu gelap. Wajahnya tenang, fokus, juga profesional versi dirinya yang dulu selalu muncul saat bisnis memanggil. Di seberangnya, Anetta duduk tegak dengan map tipis berlogo Atelier Anetta. Rambutnya disanggul sederhana, ekspresinya terkendali, matanya jernih.“Baik,” ujar Anthony Reynard membuka rapat, suaranya datar namun berwibawa.“Kita masuk agenda finalisasi Skyline Tower.” Layar besar di dinding menampil

  • Rahasia Malam Itu   Bab 102 - Rahasia Malam Itu

    Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan halus. Lampu kabin menyala perlahan. Namun Dion yang tengah terlelap tidak terbangun. Ia masih meringkuk di dada Anthony, napasnya teratur, tangan kecilnya mencengkeram kain kemeja Anthony seperti jangkar. Anthony tidak menggeser posisi.Tidak juga terburu-buru. Ia tidak ingin merusak apa yang terasa… tepat. Untuk pertama kali di dalam hidup Anthony, kepulangan tidak terasa seperti akhir perjalanan. Tapi kelanjutan sesuatu yang baru terbentuk.Setibanya di area kedatangan internasional Tampak bandara yang selalu selalu ramai.Suara koper diseret, pengumuman berlapis-lapis, wajah-wajah lelah bercampur rindu. Anthony melangkah keluar dengan Dion masih di gendongan. Dan di sana, pandangan netra berwarna amber milik Anthony berhenti pada sosok Bram berdiri sedikit menjauh dari kerumunan. Postur pria itu tegak, ekspresinya tenang, tapi mata hazelnya langsung menemukan Anthony. Di sampingnya, terlihat Anetta yang seketika tersenyum leb

  • Rahasia Malam Itu   Bab 101 - Alexandra

    Sore pun tiba, mereka memutuskan untuk jalan ke taman kecil dekat hotel, tempat anak-anak lokal bermain. Ada jungkat-jungkit, perosotan, dan kursi panjang untuk orang tua duduk. Dion berlari-lari kecil, lalu berhenti ketika melihat dua anak yang lebih besar.Bukan apa-apa, hanya… bocah itu punya sejarah takut pada anak yang lebih agresif. Anthony memperhatikan dari kejauhan. Dion memandang dua anak itu. Lalu memandang kembali ke Anthony. Matanya jelas memikirkan 'Boleh mendekat nggak? Aman nggak?' Anthony berjalan pelan ke arah Dion, kemudian jongkok menyamai tinggi tubuh sang putra. “Nak. Kamu boleh main sama siapa pun, tapi kalau merasa nggak nyaman, kamu balik ke Papa.” “Kalau mereka jahat gimana?” tanya Dion kecil. Anthony tersenyum sedikit. “Kalau mereka jahat, kamu nggak harus jadi jahat balik.” “Terus gimana?” Anthony mengelus kepala Dion perlahan. “Kamu bilang, ‘Aku nggak suka itu.’ Tegas, tapi nggak marah.” Ia menunjuk dada Dion.“Laki-laki yang kuat itu bukan yang

  • Rahasia Malam Itu   Bab 100 - Dion Sayang Papa

    Ini hari kedua mereka di Tokyo dan Disneyland. Anthony bangun lebih dulu. Ia duduk di sisi ranjang hotel, memperhatikan Dion yang masih meringkuk sambil memeluk boneka Mickey hasil hadiah semalam. Ada sesuatu yang berubah pada anak itu yang lebih lengket, lebih percaya, lebih… rumah. Dan anehnya, ada hal yang ikut berubah di dalam Anthony sendiri. Bukan sebagai mantan kekasih Anetta. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai lelaki yang mencoba menebus masa lalu. Tapi sebagai ayah yang sepenuhnya jatuh hati pada anaknya. Hoam! Dion menguap kecil. “Papa…” Suara serak bangun tidur itu membuat jantung Anthony sempat berhenti. Tapi Dion melanjutkan,“…Anthony… Dion lapar.” Anthony mengernyit, separuh geli, separuh patah. “Sampai kapan kamu mau manggil Papa pakai nama belakang, Son?” tanya Anthony pada sang putra. “Kan Dion belum tau boleh apa nggak…” sahut Dion polos. Anthony mencubit pipinya pelan. “Manggil Papa juga harus izin dulu?” Balas Anthony gemas. Dion mengangguk sangat serius.

  • Rahasia Malam Itu   Bab 99 - Disneyland

    Hujan turun sejak siang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Tetesannya menambuk lembut jendela apartemen Anetta, menciptakan suara ritmis yang menghangatkan ruangan. Lampu-lampu kuning temaram membuat ruang tamu terasa seperti kepompong, tempat di mana dunia luar tidak bisa ikut campur. Dion duduk di karpet, tengkurap dengan kaki diangkat, sibuk menyusun puzzle dinosaurus setebal buku telepon. Dinosaurus kesukaannya, tentu saja adalah T-rex, si raja kecil yang menurut Dion “galak tapi baik”. Hujan yang turun pelan memberi kesan damai. Namun di balik itu, ada getaran emosional yang belum selesai antara tiga manusia dewasa yang belajar hidup berdampingan demi satu anak. Dan hari itu… satu langkah besar akan terjadi. Tok!Tok! Tok! Ketukan lembut di pintu membuat Dion mengangkat kepala. Ia menoleh cepat, mata ambernya berbinar, seperti sudah tahu siapa yang datang. Anetta berjalan pelan menuju pintu, dan begitu ia memutar gagang, pintu terbuka sedikit, menampilkan soso

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status