مشاركة

Bab: 10 Tuduhan

مؤلف: fazaa
last update تاريخ النشر: 2026-07-06 15:30:19
Brak!

Pintu kayu lapuk itu dihantam keras hingga engselnya nyaris terlepas dari dinding batu.

Seluruh isi kamar kecil milik Nayla langsung diacak-acak tanpa ampun oleh para Pengawal Hitam yang beringas.

Pakaian, tikar, dan wadah air tembikar dilemparkan ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Di sudut ruangan, Nayla hanya mampu berdiri membeku dengan wajah pias dan napas yang tertahan di tenggorokan.

Penggeledahan brutal itu terus berlangsung dengan intensitas yang semakin menakutkan. Kasur je
fazaa

Plot twist abad ini, Bund! Emak mau jerit! Alih-alih pancung, Sultan Azfar malah nge-bluff bilang itu parfum hadiah pribadi buat Nayla! Skakmat buat Selir Safiya cs yang udah kadung syok sampai pucat pasi. Sultan kita mulai bucin terselubung atau ada taktik lain nih? Aura pelindung Sultan bikin baper maksimal, kan? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngebut up bab selanjutnya! 🔥

| 5
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (4)
goodnovel comment avatar
Saroh Mutiah
kak lanjut kak yaampun napa up dikit bgt
goodnovel comment avatar
raffe
Aaaa sialan sultan ny galak" malah rela bohong demi nayla tpi gw malah curuga
goodnovel comment avatar
may
Kak janji sama aku tiap hari up sampe 10 bab ya ;>
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 93: Pertemuan Diam-Diam

    Nayla akhirnya memiliki waktu singkat untuk bertemu orang-orang yang masih membuatnya merasa seperti dirinya sendiri. Namun pertemuan itu membawa satu keputusan besar. Nayla tidak ingin diam lagi.Nayla melangkah cepat menyusuri koridor batu, menuju sudut gudang penyimpanan linen lama di dapur bawah yang pengap dan relatif sepi.Ia menyelinap masuk dengan sigap. Di sana, Sofyan, Bu Suraya, dan Rania sudah menunggunya dengan wajah cemas di antara tumpukan kain bersih yang menggunung.Begitu Nayla menutup pintu kayu tebal itu dengan rapat dan memutar kuncinya, Rania langsung melangkah maju mendekatinya.Rania memandangi wajah sahabatnya dari dekat dengan mata membelalak heran. Ia memperhatikan gurat ketegasan yang kini tercetak jelas di paras mungil Nayla."Kau kelihatan berbeda sekali, Nayla," ujar Rania seraya menatap sepasang mata jernih gadis di depannya.Nayla tersenyum tipis, lalu merapikan letak selendang lusuhnya yang sedikit miring."Berbeda bagaimana, Rania? Wajah hamba masih

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 92: Kecurigaan Sultanah

    Sultanah Mariam mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di istana. Namun perubahan itu bukan pada Nayla, melainkan pada Sultan. Selama beberapa hari terakhir, Sultan semakin sering meminta Nayla berada di ruang kerjanya. Bukan hanya untuk menyiapkan dokumen atau makanan, tetapi juga untuk mendengarkan pendapatnya. Dan bagi Sultanah, hal itu mulai menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.Sultanah Mariam berdiri anggun di balkon paviliun pribadinya, memandangi pantulan gemericik air mancur di taman tengah istana. Wajahnya tampak begitu tenang tanpa riak emosi, namun sepasang matanya yang tajam menyimpan kalkulasi politik yang sangat mendalam.Di belakangnya, seorang dayang kepercayaan berdiri mematung dengan kepala tertunduk patuh, menunggu perintah dari sang penguasa harem.Sultanah membalikkan badan perlahan, jubah sutra ungunya menyapu lantai marmer putih dengan desiran halus."Katakan padaku, apa yang dilakukan gadis desa itu akhir-akhir ini?" tanya Sultanah Mariam dengan nad

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 91: Surat Dari Timur

    Sebuah surat tiba di kediaman Safiya pada sore hari. Begitu melihat lambang kerajaan di bagian luar amplop, wajah Safiya langsung berubah. Ia mengenali pengirimnya.Ibu Suri Nadira.Jantung Safiya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh segel lilin emas berlambang burung elang timur.Ia segera masuk ke ruangan pribadinya dengan langkah terburu-buru, menyapu pandangan ke penjuru paviliun.Ia membanting pintu kayu tebal itu dan menguncinya rapat dari dalam. Safiya berdiri mematung beberapa detik, memastikan tidak ada selir lain atau dayang suruhan Sultanah Mariam yang menguping di koridor luar sebelum ia merobek segel tersebut.Napas Safiya memburu saat membaca bait demi bait tuntutan dari wanita paling berpengaruh di masa lalu istana itu.Rasa dengki yang membakar dadanya kian memuncak ketika mengingat posisi Nayla yang semakin tak tersentuh di sisi sang Sultan.Jemari Safiya bergerak cepat menyambar pena bulu dan membuka botol tinta hitam pekat di meja riasnya.Ia mulai menulis sura

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 90: Makan Siang Yang Berbeda

    "Duduk."Hari itu Nayla bersiap berdiri seperti biasa ketika Sultan makan siang. Namun sebelum ia sempat mengambil posisi di belakang kursi Sultan, suara dingin itu menghentikannya.Nayla membeku di atas lantai marmer. "Yang Mulia Sultan?"Sultan menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan ujung dagunya. "Aku menyuruhmu duduk."Nayla mengerjapkan matanya berulang kali. Otaknya mendadak macet total menghadapi situasi yang sangat melanggar hukum istana ini.Ia menatap kursi berlapis beludru merah marun di hadapan sang penguasa dengan ragu dan waswas."Hamba?" tanya Nayla pelan, memastikan pendengarannya tidak salah menangkap titah.Sultan Azfar meletakkan cangkir peraknya ke atas meja tanpa ekspresi di wajah tampannya yang dingin."Ada orang lain di ruangan ini selain kita berdua, Nayla?" cetus Sultan datar.Nayla refleks melihat ke sekeliling ruangan megah yang sunyi, lalu kembali menatap mata gelap sang penguasa. "Tidak ada, Yang Mulia Sultan.""Kalau begitu, menurutmu aku sedang bicar

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 89: Janji Panglima Rafiq

    Sejak kejadian racun, Nayla mulai menyadari satu hal. Ke mana pun ia pergi, selalu ada prajurit yang mengikutinya.Awalnya ia mengira itu hanya kebetulan. Sampai suatu pagi, ketika Nayla berhenti di lorong untuk mengambil sesuatu yang terjatuh, dua prajurit di belakangnya ikut berhenti.Nayla menoleh. Mereka langsung pura-pura melihat arah lain. Nayla menghela napas."Ini sudah berlebihan."Nayla merapikan lipatan kain gaun katun sederhananya, lalu berbalik memutar tumit dengan ketukan mantap.Ia tidak kembali ke ruang perawatan atau paviliun, melainkan melangkah tegas menyeberangi lapangan batu menuju sayap barat benteng.Dua prajurit bertubuh kekar di belakangnya tersentak panik, terpaksa mempercepat derap langkah sepatu bot besi mereka demi mengimbangi langkah cepat gadis itu.Nayla melangkah mantap memasuki gerbang barak pertahanan dalam tanpa ada keraguan di matanya. Suara denting pedang yang diasah dan bau minyak senjata menyambut indra penciumannya di aula utama.Di ujung meja

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 88: Empat Selir Kembali Berkumpul

    Kabar tentang keberanian Nayla menyebar lebih cepat daripada yang Safiya inginkan.Bukan karena Nayla melakukan kesalahan, justru karena Sultan mulai mendengarkan pendapatnya.Selir Safiya mengunci pintu aula pribadinya dengan bantingan pelan yang membentur bingkai kayu tebal.Di dalam ruangan, Jihan, Layla, dan Amira sudah menunggu dalam keheningan yang mencekam.Suasana pertemuan malam itu jauh lebih tegang dibanding sebelum-sebelumnya.Bau kemenyan wangi yang dibakar di sudut ruangan sama sekali tidak mampu menenangkan ketakutan yang menggantung keras di udara.Layla duduk meremas bantal kursi sutranya kencang-kencang, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan wajahnya pucat bagai orang mati.Ia beberapa kali menoleh histeris ke arah pintu kayu, napasnya memburu pendek dan tidak teratur."Kita seharusnya tidak melakukan hal gila ini lagi... aku mohon, Safiya. Hentikan..." suara Layla bergetar hebat, nyaris berupa bisikan ketakutan.Safiya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status