เข้าสู่ระบบIstana tampak tenang.Tetapi di balik dinding tebalnya, empat orang sedang memainkan permainan yang berbeda.Nayla ingin melindungi semua orang yang tertindas karena tak mau ada lagi pelayan yang dipenggal seperti waktu itu.Rania ingin melindungi Nayla.Safiya ingin menghancurkan Nayla.Dan Ibu Suri Nadira ingin mengetahui apakah Nayla bisa dimanfaatkan.Sinar matahari sore menembus celah-celah pilar marmer, memantulkan bayangan panjang yang kaku di sepanjang koridor sayap kanan istana.Nayla menjalani harinya seperti biasa. Ia menyusun berkas, membersihkan meja mahoni, dan memastikan kebutuhan Sultan Azfar terpenuhi tanpa cacat.Namun, setiap kali matanya menatap halaman tengah, bayangan panggung kayu eksekusi itu seolah kembali membayang tebal di dalam kepalanya. Leher pelayan yang tebas darahnya menyiprat ke lantai batu masih menghantuinya.Nayla menarik napas panjang, menekan rasa mual yang mendadak muncul di dada. Ia mengusap jemarinya yang dingin sebelum membawa nampan teh ke d
Sultan Azfar tidak menyadarinya.Tetapi orang-orang di sekitarnya mulai menyadari perubahan kecil dalam dirinya.Atmosfer di dalam ruang kerja utama kini tidak lagi sekaku dan sedingin beberapa bulan yang lalu.Sultan Azfar semakin sering meminta agar Nayla berdiri di sisinya. Bukan hanya untuk menata tumpukan kertas dokumen atau mengganti sumbu lilin yang meleleh, atau melakukan hal yang biasa dilakukan sebagai pelayan pribadinya melainkan karena ada rasa haus yang mendadak mengusik jiwanya.Jika cerita tentang dunia luar meluncur dari bibir Nayla, Sultan Azfar selalu terhanyut dalam ketertarikan yang mendalam.Nayla tidak menceritakan kemegahan kota besar atau rute perdagangan yang mewah.Gadis itu memilih mengisahkan sudut termiskin, padang gandum yang gersang, dan gubuk-gubuk reot rakyat jelata yang tak pernah dilirik oleh para bangsawan."Di desa hamba, Yang Mulia sultan," bisik Nayla pelan seraya merapikan ujung kertas di meja, "rakyat tidak meminta emas. Mereka hanya ingin air
Sementara itu, di sudut lain sayap utama istana yang diterangi lentera temaram, Nayla masih terjaga di meja kerjanya.Jemari cantiknya yang halus bergerak teliti menyalin catatan resep obat-obatan herbal untuk pengobatan ibunya di desa."Sedikit lagi, Ibu... Nayla akan membawa obat ini pulang," bisik Nayla pada dirinya sendiri.Tiba-tiba, daun pintu kayu berukir di ruangan itu berdecit pelan, terbuka sedikit.Langkah kaki tegap tanpa suara melangkah masuk ke dalam keheningan ruangan. Sultan Azfar berdiri di sana tanpa jubah kebesarannya, hanya mengenakan kemeja kain putih longgar yang memperlihatkan bahu kokohnya.Nayla seketika meletakkan pena bulunya dan berdiri tegap, menundukkan kepalanya penuh hormat. "Yang Mulia Sultan... mengapa Anda belum beristirahat? Apakah ada dokumen penting yang perlu hamba rapikan?atau ada keperluan yang harus hamba lakukan?"Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah mendekat, menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja kerja Nayla.
Malam pun bergulir dengan kepekatan kabut hitam yang mencekam, menelan seluruh kompleks paviliun harem istana Al-Qamar.Di dalam ruangan tertutup kediaman resmi Ibu Suri Nadira yang harum oleh kepulan dupa, Selir Safiya sudah berdiri tegak menanti penuh ambisi terselubung.Ibu Suri Nadira duduk anggun di kursi takhtanya, membiarkan cahaya temaram lilin menyinari garis wajah keriputnya yang sedingin es batu.Rania berlutut di tengah ruangan, menyerahkan selembar laporan perkamen tertulis mengenai hasil pengawasannya terhadap Nayla sepanjang hari ini.Namun, isi dari lembaran laporan yang disusun Rania telah resmi dimanipulasi secara total oleh kepalanya sendiri.Ia sengaja membuat kalimat-kalimat di dalamnya sesamar dan sebersih mungkin dari rahasia; Rania hanya menuliskan bahwa Nayla sepanjang hari sibuk mengelap debu rak buku perpustakaan agung, menghitung sisa beras dan tidak pernah melakukan perlakuan atau mengatakan hal aneh apa pun.Ia menyembunyikan fakta bahwa Sultan Azfar meng
Rania akhirnya resmi menjadi pelayan pribadi Ibu Suri Nadira.Dan langkah pertamanya justru membawanya mendekati Nayla.Pagi itu, suasana di sudut dapur kecil bawah tanah terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Aroma panggangan roti gandum kasar dan rebusan sup miju-miju mengepul tipis, menyelimuti empat orang yang kini berkumpul mengelilingi meja kayu panjang.Nayla duduk dengan punggung tegak, namun binar kebahagiaan yang teramat murni seketika terpancar dari sepasang manik mata cokelat jernihnya saat mendengar kabar terbaru mengenai sahabat kecilnya."Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar sebuah keajaiban yang luar biasa besar!" seru Nayla, wajah cantiknya yang semula agak pucat kini merona segar penuh rasa syukur yang tak terbendung. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan Rania yang terasa dingin."Aku sangat bahagia mendengarnya! Menjadi pelayan pribadi utama Ibu Suri Nadira berarti kau tidak perlu lagi mengangkat baskom air berat di dapur luar ini!" lanjut Nayla dengan mata berb
Entah kenapa kini Rafiq mulai sering berada di sekitar Nayla.Bukan sebagai kebetulan.Langkah kaki tegap yang berbalut sepatu bot baja itu tidak lagi berderap kaku memimpin barisan patroli di benteng luar.Sebaliknya, ketukan konstan itu bergema halus di antara keheningan lorong-lorong perpustakaan agung yang sunyi dan beraroma kertas tua.Di balik rak-rak kayu raksasa yang menjulang tinggi, Panglima Rafiq berdiri tegap tanpa mengenakan pelindung kepala zirahnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci gerak-gerik Nayla yang sedang sibuk memilah naskah pengobatan herbal.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menolehkan kepalanya perlahan seraya menatap heran ke arah sosok pria perkasa yang berdiri terlalu dekat di sampingnya. "Panglima Rafiq? Mengapa Anda masih berdiri mematung di dekat rak ini? Apakah hamba melakukan kesalahan dalam penyusunan berkas administrasi kesultanan?"Rafiq tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah barisan buku kuno bersampul ku







