홈 / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 2: Menunggu Hukuman

공유

Bab 2: Menunggu Hukuman

작가: fazaa
last update 게시일: 2026-05-31 15:07:53

"Kau dengar gosip terbaru dari Paviliun Barat? Katanya, selera Sultan kita jauh lebih liar dari yang tertulis di hukum kerajaan," bisik Rania sembari merapikan tumpukan kain linen di sudut barak pelayan.

Nayla yang sedang melipat handuk mendadak kaku, jemarinya bergetar hebat hingga kain di tangannya terlepas begitu saja. "Go-gosip apa, Rania? Jangan sembarangan bicara, nanti ada yang dengar."

"Hei, ini bukan rahasia lagi di antara pelayan senior! Sultan Azfar itu tidak pernah puas hanya dengan satu Sultanah atau empat selir sah. Diam-diam, beliau sering mendatangkan wanita bayaran dari luar tembok istana untuk memuaskan nafsunya," sahut Rania dengan volume suara yang semakin mengecil, matanya melirik ke pintu keluar dengan waswas.

Nayla menelan ludah dengan susah payah, bayangan kejadian semalam langsung berputar liar di kepalanya.

Desahan panas tiga wanita bayaran, otot-otot kekar Sultan Azfar yang basah oleh keringat, serta cengkeraman kuat pria matang itu di dagunya terasa begitu nyata hingga membuat dadanya sesak.

"Tapi... bukankah itu melanggar hukum kesultanan?" tanya Nayla dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan, mencoba mengorek informasi tanpa terlihat mencurigakan.

Rania mendengus pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Nayla. "Hukum itu hanya berlaku untuk kita yang lemah, Nayla. Bagi Sultan Azfar, beliau adalah hukum itu sendiri. Siapa yang berani menentangnya? Kau ingat pelayan magang tahun lalu yang tidak sengaja memecahkan cangkir teh kesukaannya?"

"Kenapa dengan dia?" Nayla merasakan firasat buruk mulai merayapi tengkuknya.

"Kepalanya dipenggal hari itu juga di halaman belakang istana, tanpa ampun," bisik Rania dengan ekspresi ngeri. "Sultan kita itu sangat kejam dan tidak pernah segan mengeksekusi siapa saja yang tidak dia sukai. Jadi, kalau kau tidak sengaja melihat atau mendengar sesuatu di Paviliun Utama, kunci mulutmu rapat-rapat atau nyawamu melayang."

Kalimat terakhir Rania menghantam kesadaran Nayla seperti hantaman godam yang sangat keras. Seluruh permukaan kulitnya mendadak dingin, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Semalam, Sultan Azfar tidak hanya menangkap basah dirinya yang sedang mengintip, tetapi pria berusia empat puluh tiga tahun itu juga sudah menanyakan namanya.

"Nayla? Hei, kenapa wajahmu mendadak pucat begitu?" Rania mengguncang bahu sahabatnya dengan bingung.

Nayla tersentak, dengan cepat memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat kaku. "Ah, tidak apa-apa. Aku... aku hanya sedikit kurang tidur semalam karena kepikiran ibuku di kampung."

"Kau terlalu banyak bekerja, Nayla. Istirahatlah sejenak, biar sisa linen ini aku yang selesaikan," ucap Rania dengan nada khawatir sebelum berbalik kembali ke tumpukan kain.

Malam harinya, barak pelayan perempuan sudah dipenuhi oleh suara dengkur halus dari puluhan gadis yang kelelahan setelah seharian bekerja. Namun, di sudut ruangan yang paling gelap, Nayla hanya bisa berbaring telentang dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit kayu.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah sedingin es milik Sultan Azfar selalu muncul membayangi kegelapannya.

"Bagaimana kalau besok pagi pengawal datang dan menyeretku ke ladang eksekusi?" gumam Nayla lirih, suaranya tenggelam di antara keheningan malam.

Ia membalikkan tubuhnya ke kanan, memeluk kedua lututnya erat-erat di atas dipan kayu yang keras. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, membasahi bantal kain tipis miliknya.

Pikiran tentang ibunya yang sedang sakit sakau di desa membuat dadanya semakin terasa berdenyut nyeri.

"Ibu... maafkan Nayla. Jika terjadi sesuatu padaku, siapa yang akan membelikan obat untukmu?" bisik Nayla terisak pelan, meratapi nasib sialnya yang harus berakhir tragis hanya karena sebuah rasa penasaran yang bodoh.

Setiap detak jarum jam dinding di lorong luar terdengar seperti hitung mundur menuju kematiannya sendiri.

Rasa takut yang begitu murni menggerogoti akal sehatnya, membuat perutnya terasa mual dan kepalanya berdenyut pening. Antara bayangan adegan intim yang sensual dan kilatan pedang algojo kerajaan, Nayla benar-benar terjebak dalam siksaan mental yang tidak berkesudahan sepanjang malam.

Keesokan paginya, fajar baru saja menyingsing ketika Ibu Suraya, sang kepala pelayan yang terkenal dengan tatapan matanya yang setajam elang, melangkah masuk ke dalam barak dengan tergesa-gesa.

Suara ketukan tongkat kayunya di atas lantai batu membuat seluruh pelayan yang baru saja bangun langsung berdiri berjejer dengan rapi.

"Nayla Azura! Maju ke depan sekarang juga!" seru Ibu Suraya, suaranya yang lantang menggema kuat di dalam ruangan yang luas itu.

Nayla yang sedang mengikat rambutnya langsung membeku, seluruh sendi kakinya mendadak lemas bagai lolos dari tulang. "Ya, Ibu Suraya. Hamba di sini."

"Ikut aku ke gerbang depan barak. Ada yang mencarimu," perintah Ibu Suraya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, wajah tuanya tampak sangat serius dan tidak bersahabat.

Rania yang berdiri di sebelah Nayla langsung menyenggol lengannya dengan cemas. "Nayla, apa yang sudah kauperbuat? Kenapa Ibu Suraya terlihat begitu tegang?"

"Aku... aku tidak tahu, Rania," jawab Nayla berbohong, padahal hatinya sudah berteriak histeris karena ketakutan.

Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Nayla berjalan mengekor di belakang punggung tegap Ibu Suraya. Sepanjang koridor menuju gerbang barak, pelayan-pelayan lain mulai berbisik-bisik dan menatapnya dengan pandangan penuh tanya sekaligus kasihan.

Gosip tentang kekejaman Sultan yang tidak segan memenggal kepala pelayan rendahan kembali terngiang-ngiang di telinganya, membuat napasnya semakin memburu berkejaran dengan detak jantungnya.

Begitu mereka sampai di gerbang depan, langkah kaki Nayla benar-benar terhenti total, dan seluruh pasokan udara di parunya seolah menguap begitu saja ke langit.

Tiga orang pengawal kerajaan dengan seragam zirah besi berlapis perak berdiri tegak di sana, lengkap dengan pedang panjang yang bertengger di pinggang mereka.

Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian jubah sutra abu-abu yang sangat rapi—sang utusan pribadi dari Paviliun Utama Sultan.

"Apakah benar gadis ini yang bernama Nayla Azura?" tanya sang utusan dengan suara yang berat dan berwibawa, matanya yang tajam meneliti penampilan Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ibu Suraya membungkuk hormat dengan sangat rendah. "Benar, Tuan Malik. Dia adalah pelayan magang yang baru bekerja beberapa bulan di sini. Jika dia melakukan kesalahan besar, mohon ampuni kami yang kurang mendidiknya."

"Aku tidak datang untuk mendengarkan pembelaanmu, Kepala Pelayan," sahut Tuan Malik dingin, lalu beralih menatap lurus ke arah mata Nayla yang bergetar. "Nayla Azura, kau diperintahkan untuk ikut bersama kami ke Paviliun Utama sekarang juga. Sultan sendiri yang meminta kehadiranmu."

Nayla merasakan bumi di bawah kakinya seolah runtuh seketika itu juga. Ia menatap dua pengawal zirah yang kini mulai melangkah maju ke arahnya dengan tangan yang siap mencengkeram kedua lengannya.

"Tunggu... Tuan, apakah hamba akan dihukum?" tanya Nayla dengan sisa keberanian terakhirnya, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang siap meledak.

Salah satu pengawal zirah menatapnya tanpa ekspresi, lalu menarik lengannya dengan paksa hingga Nayla tersentak maju. "Bukan hak kami untuk menjawab, Pelayan. Bersiaplah menerima apa pun keputusan dari Yang Mulia Sultan."

fazaa

OMG, Bun! Jantungan massal gak sih? Baru juga pagian, Nayla udah dijemput paksa sama pengawal zirah atas perintah Sultan Azfar! Apakah ini akhir dari nasib si pelayan gemoy, atau malah awal dari 'hukuman' privat yang bikin merinding disko? Duh, Emak gak kuat bayanginnya! Makin deg-degan parah, kan? Yuk, klik LIKE, FOLLOW,Support dan jangan lupa tumpahin KOMENTAR kalian! Dukungan kalian bener-bener booster buat author biar makin gercep update bab selanjutnya!

| 8
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (10)
goodnovel comment avatar
fazaa
hehehe di dlem pertemanan pasti ada yang sll update ttg pergosipan
goodnovel comment avatar
fazaa
tpi yakin lu ttp suka
goodnovel comment avatar
fazaa
hehehe nggk seserem pak dosen yang nagih sripsi
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 118: Keinginan Sultan

    Nayla tahu dirinya sedang merancang sesuatu yang sangat berbahaya. Setiap kali Sultan tersenyum kepadanya, rencana besar itu terasa semakin sulit dibedakan dari perasaan hatinya sendiri.Pijaran lilin dari tatakan tembaga di sudut ruang kerja utama memantulkan bayangan malam yang hangat. Nayla bergerak amat perlahan, merapikan tumpukan kertas pajak daerah dan meletakkan cangkir teh gandum hangat di sisi meja mahoni yang tebal.Di balik keheningan yang menyelimuti ruangan, suasana di antara mereka berdua kini telah resmi bergeser melintasi batas kaku antara penguasa dan pelayan.Sultan Azfar meletakkan pena bulunya perlahan, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi takhta kayu. Tatapan mata abu-abunya yang biasanya dingin kini menatap lekat-lekat garis wajah pelayan pribadinya."Nayla," panggil Sultan Azfar, suaranya yang berat memecah kesunyian malam dengan nada yang sehalus beludru.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menangkupkan kedua belah tangannya sopan di depan tubuh. "

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 117: Laporan Untuk Dua Orang Ular

    Rania kini hidup dengan dua wajah. Satu wajah untuk Safiya, satu wajah untuk Nadira, dan hanya Nayla yang mengetahui wajah aslinya.Lorong selasar sayap barat istana bergema samar oleh langkah kaki Rania yang terbungkus jubah perak pelayan dalam. Dinginnya marmer malam merambat menembus alas sepatunya, namun tidak sedingin ketakutan yang mencengkeram dadanya.Di balik saku pakaiannya, surat dari ayahnya tentang ancaman orang-orang bertudung hitam masih terasa berat. Surat itu laksana bara api yang siap membakar habis seluruh keluarganya di desa jika ia melakukan satu saja kesalahan kecil di tempat ini.Di dalam kamar tempat tinggal yang dipenuhi kepulan asap dupa mawar, Selir Safiya sudah menanti dengan raut wajah kejam yang tidak sabar. Jemari lentiknya yang berkuku merah mengetuk-ngetuk permukaan meja rias emas."Bawa dokumen itu kemari, Rania! Jangan biarkan aku menunggu seperti pengemis!" perintah Selir Safiya, suaranya melengking tajam memecah kesunyian kamar.Rania melangkah maj

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 116: Dosa Yang Tak Bisa Dilupakan

    Di kamar Amira, tidak ada yang berani menyebut nama Nayla terlalu keras.Bukan karena takut Nayla mendengar.Mereka takut mengingat apa yang sudah mereka lakukan.Selasar paviliun bagian dalam itu teramat sunyi saat angin malam gurun berembus pelan melewati tirai-tirai sutra hijau zaitun. Di dalam bilik pribadi yang temaram oleh pendaran lilin, aroma minyak cendana yang menenangkan sama sekali tidak mampu mengikis hawa dingin yang mencekik batin tiga orang wanita di dalamnya. Selir Layla duduk dengan gelisah di atas dipan rendah, sementara Jihan berdiri kaku di sudut ruangan, meremas kedua jemari tangannya sendiri. Selir Amira berdiri membelakangi mereka, menatap lurus ke arah kegelapan taman luar dari balik jendela kayu.Layla memajukan tubuhnya sedikit, memecah kesunyian dengan suara yang setengah berbisik karena didera rasa paranoid yang akut. "Amira... jawab aku dengan jujur. Kau benar-benar tidak memiliki niatan untuk kembali berkumpul dan mematuhi perintah di paviliun Safiya?"A

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 115: Rencana Nayla

    “Aku akan mengambil kendali atas Sultan.”Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Nayla. Seketika itu pula, Rania berhenti menangis. Isak tangis yang semula memenuhi kesunyian kamar asrama pelayan langsung terputus di tenggorokan, meninggalkan keheningan yang mencekam.Rania mendongak perlahan, menatap wajah sahabatnya dengan mata sembap yang membelalak lebar. Nayla berdiri teramat tenang, tetapi ada pendar tajam di matanya yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tekad yang membakar itu mengintimidasi siapa saja yang memandangnya.Nayla melangkah pelan menuju meja kayu di sudut ruangan. Jemarinya yang ramping bergerak halus, mengelus permukaan gulungan kitab herbal yang tergeletak di sana. Udara malam yang menembus celah jendela kayu terasa begitu dingin, menampar kulit mereka yang terekspos."Aku tidak ingin sekadar menjadi pelayan pribadi yang berdiri membisu di balik meja mahoni Sultan Azfar, Rania," ucap Nayla tanpa berbalik. "Aku ingin mendapatkan sebuah posisi yang membuat suarany

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 114: Sahabat Yang Jujur

    Langkah kaki Rania terasa bagaikan terseret beban timah panas saat ia menelusuri koridor belakang yang remang. Kepalanya terus menoleh gelisah ke kiri dan kanan, mengawasi setiap sudut lorong. Ia menahan napas setiap kali melewati pilar batu, khawatir bayangan dayang-dayang milik Selir Safiya mendadak muncul dari balik kegelapan.Matanya juga menyapu semak-semak taman tengah dengan cermat. Ia sangat waspada pada kemungkinan hadirnya prajurit rahasia utusan Ibu Suri Nadira yang mengintai pergerakannya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rania dengan cepat mendorong pintu kayu kamar asrama pelayan milik Nayla.Ia menyelinap masuk laksana hantu malam dan memutar selot besi pintu dari dalam. Suara dentang besi yang mengunci ketat seketika memecah kesunyian ruangan.Nayla yang sedang duduk di tepi ranjang bambu seraya membaca gulungan kitab tanaman obat mendadak terkejut. Matanya terangkat, menatap gurat wajah sahabatnya yang berantakan dengan kelopak mata membengkak merah."Rani

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 113: Surat Untuk Rania

    Rania selalu tahu bahwa ancaman Selir Safiya bukan sekadar kata-kata kosong. Tetapi pagi itu, ia menerima bukti bahwa wanita kejam itu benar-benar mulai merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.Matahari baru saja menyembul tipis di ufuk timur ketika seorang kurir pengirim barang menyerahkan sepucuk surat kumal berikat tali rami kepada Rania. Di sudut kanan kertas kasar tersebut, tertera tulisan tangan ayahnya yang sangat ia kenali.Rona bahagia sempat terbit di wajah Rania. Ia mengira surat itu hanya berisi kabar kerinduan biasa dari rumah panggung kayu mereka di pelosok desa.Namun, begitu ia melangkah menyelinap ke balik sekat kamar pelayan yang sepi dan merobek amplopnya, mata Rania bergerak cepat membaca baris pertama. Detik itu juga, seluruh darah di wajahnya seraya menguap habis. Kulitnya berubah pucat pasi."Rania, anakku yang paling kami sayangi..." tulis ayahnya dengan goresan pena yang gemetar dan berantakan."Ayah terpaksa menulis surat ini dengan sisa keberanian yang kami

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status