Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 3: Perintah Sultan

Share

Bab 3: Perintah Sultan

Author: fazaa
last update publish date: 2026-05-31 15:12:57

"Lepaskan aku! Kumohon, ke mana kalian akan membawaku?" ratap Nayla sembari meronta dalam cengkeraman dua pengawal berzirah besi.

"Diam, Pelayan! Jangan membuat kegaduhan di koridor istana jika kau masih sayang dengan nyawamu," bentak salah satu pengawal dengan suara berat yang menggelegar, mempererat cekalannya di lengan kiri Nayla hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Hamba tidak bersalah! Demi Tuhan, hamba hanya menjalankan tugas!" tangis Nayla pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang kini sepucat kain kafan.

Langkah kaki para pengawal itu bergema konstan, menyeret tubuh lemas Nayla menyusuri lantai marmer mengilap menuju Aula Utama Kesultanan Al-Qamar.

Di sepanjang jalan, puluhan pasang mata dari para bangsawan, dayang, dan pengawal lainnya menatap Nayla dengan pandangan mencemooh sekaligus kasihan. Bisik-bisik miring mulai menjalar cepat seperti api yang membakar semak kering.

"Lihat gadis malang itu. Wajahnya asing, pasti salah satu pelayan magang yang cari masalah," cibir seorang wanita bangsawan bertubuh tambun di balik kipas sutranya.

"Kudengar dia nekat mendekati Paviliun Terlarang semalam. Berani sekali dia mengusik ketenangan Sultan Azfar," sahut pria di sebelahnya dengan senyum sinis. "Siap-siap saja melihat kepalanya menggelinding di ladang eksekusi sebelum matahari meninggi."

Mendengar kalimat-kalimat kutukan itu, dada Nayla semakin bergemuruh hebat, berdegup begitu kencang hingga membuatnya sesak napas.

Bayangan pedang algojo yang tajam dan dingin seolah sudah menempel di tengkuknya, siap memisahkan kepala dari tubuhnya. Ia tahu betul, bagi pria matang berusia tiga puluh lima tahun seperti Sultan Azfar, menghilangkan nyawa pelayan rendahan tidak lebih sulit daripada membalikkan telapak tangan.

Pintu gerbang emas Aula Utama yang menjulang tinggi akhirnya terbuka dengan derit yang berat dan lambat. Udara di dalam ruangan luas itu terasa begitu pekat, dingin, dan sangat mengintimidasi hingga menghentikan sisa tangis di tenggorokan Nayla.

"Jatuhkan dirimu dan bersujud!" perintah pengawal zirah sembari mendorong bahu Nayla dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke lantai batu.

"Ampun, Yang Mulia... mohon ampuni hamba yang hina ini," bisik Nayla terbata-bata dengan dahi yang menempel erat pada marmer dingin. Tubuhnya gemetar hebat, tidak berani sedetik pun mengangkat wajah untuk menatap ke depan.

Di ujung ruangan, di atas takhta emas yang megah, duduklah Sultan Azfar Zayn Al-Qamar dengan keangkuhan seorang penguasa mutlak.

Pria matang itu mengenakan jubah kebesaran beludru hitam berlapis sulaman benang emas, kontras dengan kulit kecokelatannya yang tegas.

Wajahnya yang luar biasa tampan tampak datar tanpa ekspresi, namun sepasang mata elangnya yang tajam terkunci rapat pada tubuh mungil yang sedang bersujud di bawah sana.

"Berdiri, Pelayan Kecil," suara bariton Sultan Azfar bergema kuat, memenuhi setiap sudut aula dan seketika membungkam seluruh bisikan para hadirin.

Nayla menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram ujung gaunnya yang kusut dengan jemari yang memutih. "Hamba... hamba tidak berani menatap wajah agung Anda, Yang Mulia."

"Aku tidak suka mengulang perintahku. Berdiri dan tatap mataku, Nayla Azura," tekan Sultan Azfar dengan nada rendah yang sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima penolakan.

Mendengar namanya disebut dengan begitu jelas oleh sang penguasa, jantung Nayla berdetak dua kali lebih cepat hingga rasanya ingin melompat keluar.

Bagaimana mungkin Sultan mengingat namanya dengan tepat setelah insiden semalam? Dengan sisa-sisa keberanian yang hampir habis, Nayla perlahan menegakkan tubuhnya dan mengangkat wajah, menantang langsung sorot mata gelap yang penuh misteri itu.

Di sisi kanan takhta, Sayyid Malik Al-Hafiz, sang penasihat kerajaan yang berwajah licik, melangkah maju dengan senyum tipis yang merendahkan. "Yang Mulia Sultan, pelayan rendahan ini telah melanggar batas wilayah paling suci di istana ini. Hukum kesultanan dengan tegas menyatakan bahwa siapa pun yang mengusik privasi penguasa tanpa izin tertulis harus dihukum pancung."

"Benar, Yang Mulia! Jangan biarkan kelalaian seperti ini merusak kedisiplinan istana!" seru beberapa bangsawan lain, ikut memanaskan suasana aula.

Nayla memejamkan matanya rapat-rapat, air mata keputusasaan kembali meleleh di pipinya saat mendengar desakan hukuman mati tersebut.

Pikiran tentang ibunya yang sakit keras di desa langsung melintas, membuat dadanya berdenyut nyeri yang teramat sangat. "Ibu... maafkan Nayla..." bisiknya dalam hati, siap menerima takdir tragisnya malam ini.

Namun, Sultan Azfar justru terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang dingin dan membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang sempurna.

Pria matang itu menegakkan posisi duduknya, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan yang dihiasi cincin batu zamrud besar.

"Hukum pancung, katamu? Sayyid Malik, sejak kapan kau yang memegang kendali atas keadilan di istanaku?" tanya Sultan Azfar, nadanya begitu santai namun sarat akan ancaman yang mematikan.

Sayyid Malik langsung tersentak, membungkuk panik dengan keringat dingin yang mulai membanjiri dahinya. "Ma-maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba hanya mengingatkan aturan yang berlaku."

"Akulah aturan di kesultanan ini," sahut Sultan Azfar dingin, matanya beralih kembali menatap lurus ke arah mata Nayla yang bergetar penuh ketakutan.

Sultan Azfar perlahan bangkit dari takhtanya, melangkah turun menyusuri anak tangga marmer satu per satu dengan langkah yang berat dan penuh wibawa.

Setiap ketukan sepatunya terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur nasib Nayla. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu berhenti tepat di hadapan Nayla, membuat tubuh mungil gadis itu sepenuhnya tenggelam di bawah bayangan tubuh tegap sang Sultan.

"Semalam, kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat, bukan?" bisik Sultan Azfar dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, menyunggingkan senyum misterius yang sangat berbahaya.

Nayla mendongak dengan napas yang memburu, seluruh permukaan kulitnya mendadak kaku. "Hamba... hamba bersumpah tidak akan pernah membocorkannya pada siapa pun, Yang Mulia. Mohon biarkan hamba hidup demi ibu hamba yang sakit."

Sultan Azfar tidak menjawab pembelaan itu. Ia justru berbalik menghadap ke arah seluruh hadirin di Aula Utama, lalu mengangkat sebelah tangannya yang besar untuk memberikan pengumuman yang akan mengguncang seluruh pondasi istana.

"Mulai detik ini, tidak akan ada hukuman mati untuk pelayan ini," seru Sultan Azfar dengan lantang, suaranya menggelegar memecah keheningan aula.

Seluruh ruangan mendadak riuh dengan bisik-bisik kebingungan dari para bangsawan dan pengawal yang tidak mempercayai pendengaran mereka sendiri.

"Tapi Yang Mulia, apa yang akan terjadi padanya?" tanya Sayyid Malik dengan wajah yang berkerut tidak suka, merasa wibawanya sebagai penasihat baru saja diabaikan.

Sultan Azfar memutar tubuhnya kembali menghadap Nayla, lalu menatap gadis desa itu dengan pandangan posesif yang begitu pekat dan dominan.

"Nayla Azura Al-Hayyan, mulai hari ini kau dibebaskan dari tugas pelayan magang," ucap Sultan Azfar, jeda sejenak sengaja ia berikan untuk membangun ketegangan yang mencekam di dalam aula. "Aku mengumumkan bahwa kau resmi diangkat menjadi pelayan pribadi di kamar tidurku. Kau akan melayaniku siang dan malam, dan tidak ada satu orang pun di istana ini yang boleh menyentuhmu tanpa izin dariku!"

DEG!!!

Nayla terbelalak sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar perintah gila dari sang penguasa.

Menjadi pelayan pribadi di kamar tidur Sultan Azfar—pria matang yang baru saja ia pergoki melakukan aktivitas seksual liar bersama tiga wanita bayaran sekaligus—bukanlah sebuah pengampunan, melainkan awal dari neraka dunia yang jauh lebih berbahaya dan mengancam nyawanya setiap detik.

fazaa

Oemji hellooo, Emak syok berat! Bukannya leher melayang, Nayla malah ditarik jadi pelayan kamar pribadi Sultan Azfar! Kamar tidur, loh! Siap-siap aja nih si pelayan polos bakal 'dilalap' habis-habisan sama Sultan yang super liar itu. Neraka dunia atau surga dunia nih, Nay? Makin panas dan bikin penasaran, kan? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan drop KOMENTAR kalian! Dukungan kalian berharga banget biar author makin ngegas update bab selanjutnya!

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Rikko
Nggak dibunuh malah jdi pelayan pribadi hm menarik
goodnovel comment avatar
Saroh Mutiah
huaaa makin takut
goodnovel comment avatar
raffe
Gw nebak klo macam"kepalanya dipenggal, secara dah jadi pelayan pribadi sultan pasti diawasin mulu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 93: Pertemuan Diam-Diam

    Nayla akhirnya memiliki waktu singkat untuk bertemu orang-orang yang masih membuatnya merasa seperti dirinya sendiri. Namun pertemuan itu membawa satu keputusan besar. Nayla tidak ingin diam lagi.Nayla melangkah cepat menyusuri koridor batu, menuju sudut gudang penyimpanan linen lama di dapur bawah yang pengap dan relatif sepi.Ia menyelinap masuk dengan sigap. Di sana, Sofyan, Bu Suraya, dan Rania sudah menunggunya dengan wajah cemas di antara tumpukan kain bersih yang menggunung.Begitu Nayla menutup pintu kayu tebal itu dengan rapat dan memutar kuncinya, Rania langsung melangkah maju mendekatinya.Rania memandangi wajah sahabatnya dari dekat dengan mata membelalak heran. Ia memperhatikan gurat ketegasan yang kini tercetak jelas di paras mungil Nayla."Kau kelihatan berbeda sekali, Nayla," ujar Rania seraya menatap sepasang mata jernih gadis di depannya.Nayla tersenyum tipis, lalu merapikan letak selendang lusuhnya yang sedikit miring."Berbeda bagaimana, Rania? Wajah hamba masih

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 92: Kecurigaan Sultanah

    Sultanah Mariam mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di istana. Namun perubahan itu bukan pada Nayla, melainkan pada Sultan. Selama beberapa hari terakhir, Sultan semakin sering meminta Nayla berada di ruang kerjanya. Bukan hanya untuk menyiapkan dokumen atau makanan, tetapi juga untuk mendengarkan pendapatnya. Dan bagi Sultanah, hal itu mulai menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.Sultanah Mariam berdiri anggun di balkon paviliun pribadinya, memandangi pantulan gemericik air mancur di taman tengah istana. Wajahnya tampak begitu tenang tanpa riak emosi, namun sepasang matanya yang tajam menyimpan kalkulasi politik yang sangat mendalam.Di belakangnya, seorang dayang kepercayaan berdiri mematung dengan kepala tertunduk patuh, menunggu perintah dari sang penguasa harem.Sultanah membalikkan badan perlahan, jubah sutra ungunya menyapu lantai marmer putih dengan desiran halus."Katakan padaku, apa yang dilakukan gadis desa itu akhir-akhir ini?" tanya Sultanah Mariam dengan nad

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 91: Surat Dari Timur

    Sebuah surat tiba di kediaman Safiya pada sore hari. Begitu melihat lambang kerajaan di bagian luar amplop, wajah Safiya langsung berubah. Ia mengenali pengirimnya.Ibu Suri Nadira.Jantung Safiya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh segel lilin emas berlambang burung elang timur.Ia segera masuk ke ruangan pribadinya dengan langkah terburu-buru, menyapu pandangan ke penjuru paviliun.Ia membanting pintu kayu tebal itu dan menguncinya rapat dari dalam. Safiya berdiri mematung beberapa detik, memastikan tidak ada selir lain atau dayang suruhan Sultanah Mariam yang menguping di koridor luar sebelum ia merobek segel tersebut.Napas Safiya memburu saat membaca bait demi bait tuntutan dari wanita paling berpengaruh di masa lalu istana itu.Rasa dengki yang membakar dadanya kian memuncak ketika mengingat posisi Nayla yang semakin tak tersentuh di sisi sang Sultan.Jemari Safiya bergerak cepat menyambar pena bulu dan membuka botol tinta hitam pekat di meja riasnya.Ia mulai menulis sura

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 90: Makan Siang Yang Berbeda

    "Duduk."Hari itu Nayla bersiap berdiri seperti biasa ketika Sultan makan siang. Namun sebelum ia sempat mengambil posisi di belakang kursi Sultan, suara dingin itu menghentikannya.Nayla membeku di atas lantai marmer. "Yang Mulia Sultan?"Sultan menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan ujung dagunya. "Aku menyuruhmu duduk."Nayla mengerjapkan matanya berulang kali. Otaknya mendadak macet total menghadapi situasi yang sangat melanggar hukum istana ini.Ia menatap kursi berlapis beludru merah marun di hadapan sang penguasa dengan ragu dan waswas."Hamba?" tanya Nayla pelan, memastikan pendengarannya tidak salah menangkap titah.Sultan Azfar meletakkan cangkir peraknya ke atas meja tanpa ekspresi di wajah tampannya yang dingin."Ada orang lain di ruangan ini selain kita berdua, Nayla?" cetus Sultan datar.Nayla refleks melihat ke sekeliling ruangan megah yang sunyi, lalu kembali menatap mata gelap sang penguasa. "Tidak ada, Yang Mulia Sultan.""Kalau begitu, menurutmu aku sedang bicar

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 89: Janji Panglima Rafiq

    Sejak kejadian racun, Nayla mulai menyadari satu hal. Ke mana pun ia pergi, selalu ada prajurit yang mengikutinya.Awalnya ia mengira itu hanya kebetulan. Sampai suatu pagi, ketika Nayla berhenti di lorong untuk mengambil sesuatu yang terjatuh, dua prajurit di belakangnya ikut berhenti.Nayla menoleh. Mereka langsung pura-pura melihat arah lain. Nayla menghela napas."Ini sudah berlebihan."Nayla merapikan lipatan kain gaun katun sederhananya, lalu berbalik memutar tumit dengan ketukan mantap.Ia tidak kembali ke ruang perawatan atau paviliun, melainkan melangkah tegas menyeberangi lapangan batu menuju sayap barat benteng.Dua prajurit bertubuh kekar di belakangnya tersentak panik, terpaksa mempercepat derap langkah sepatu bot besi mereka demi mengimbangi langkah cepat gadis itu.Nayla melangkah mantap memasuki gerbang barak pertahanan dalam tanpa ada keraguan di matanya. Suara denting pedang yang diasah dan bau minyak senjata menyambut indra penciumannya di aula utama.Di ujung meja

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 88: Empat Selir Kembali Berkumpul

    Kabar tentang keberanian Nayla menyebar lebih cepat daripada yang Safiya inginkan.Bukan karena Nayla melakukan kesalahan, justru karena Sultan mulai mendengarkan pendapatnya.Selir Safiya mengunci pintu aula pribadinya dengan bantingan pelan yang membentur bingkai kayu tebal.Di dalam ruangan, Jihan, Layla, dan Amira sudah menunggu dalam keheningan yang mencekam.Suasana pertemuan malam itu jauh lebih tegang dibanding sebelum-sebelumnya.Bau kemenyan wangi yang dibakar di sudut ruangan sama sekali tidak mampu menenangkan ketakutan yang menggantung keras di udara.Layla duduk meremas bantal kursi sutranya kencang-kencang, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan wajahnya pucat bagai orang mati.Ia beberapa kali menoleh histeris ke arah pintu kayu, napasnya memburu pendek dan tidak teratur."Kita seharusnya tidak melakukan hal gila ini lagi... aku mohon, Safiya. Hentikan..." suara Layla bergetar hebat, nyaris berupa bisikan ketakutan.Safiya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status