เข้าสู่ระบบDARURAT BANGET BUND! Nayla makin dipercaya Sultan Azfar buat bikin sistem istana. Tapi gawat, Selir Safiya sama Layla makin panik dan fix siap tuang racun mematikan ke minuman Nayla! Makin deg-degan nunggu nasib Nayla berikutnya? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, dan tumpahin KOMENTAR kalian! Jangan lupa berikan SUPPORT terbaik kalian secara ugal-ugalan buat author lewat koin atau hadiah. SUPPORT kalian adalah bensin utama biar bab baru cepet up!
Pagi itu, aula utama istana dipenuhi ketegangan. Sultan Azfar baru saja menerima kabar yang membuat seluruh pejabat berhenti berbicara. Ibu Suri Nadira telah tiba di ibu kota. Dan ia datang bersama seseorang, Pangeran Faris Qamar.Di aula utama istana Al-Qamar, gulungan perkamen bersayap elang baru saja dibuka di depan meja Sultan Azfar. Para penasihat langsung berkerumun, bisik-bisik ketakutan memecah keheningan ruangan.Kedatangan mendadak rombongan besar dari wilayah timur itu membuat suasana istana mendadak tegang.Sayyid Malik melangkah terburu-buru ke depan takhta, membungkuk dalam dengan pelipis berteteskan keringat dingin."Yang Mulia Sultan, kedatangan Ibu Suri Nadira ini sama sekali bukan perkara kecil," ujar Sayyid Malik dengan nada gemetar."Kita semua tahu bagaimana kekuasaannya di timur selama pengasingan. Hamba khawatir ada niat terselubung di balik kedatangan ini," lanjut sang penasihat.Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah utusan pemba
Nayla akhirnya memiliki waktu singkat untuk bertemu orang-orang yang masih membuatnya merasa seperti dirinya sendiri. Namun pertemuan itu membawa satu keputusan besar. Nayla tidak ingin diam lagi.Nayla melangkah cepat menyusuri koridor batu, menuju sudut gudang penyimpanan linen lama di dapur bawah yang pengap dan relatif sepi.Ia menyelinap masuk dengan sigap. Di sana, Sofyan, Bu Suraya, dan Rania sudah menunggunya dengan wajah cemas di antara tumpukan kain bersih yang menggunung.Begitu Nayla menutup pintu kayu tebal itu dengan rapat dan memutar kuncinya, Rania langsung melangkah maju mendekatinya.Rania memandangi wajah sahabatnya dari dekat dengan mata membelalak heran. Ia memperhatikan gurat ketegasan yang kini tercetak jelas di paras mungil Nayla."Kau kelihatan berbeda sekali, Nayla," ujar Rania seraya menatap sepasang mata jernih gadis di depannya.Nayla tersenyum tipis, lalu merapikan letak selendang lusuhnya yang sedikit miring."Berbeda bagaimana, Rania? Wajah hamba masih
Sultanah Mariam mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di istana. Namun perubahan itu bukan pada Nayla, melainkan pada Sultan. Selama beberapa hari terakhir, Sultan semakin sering meminta Nayla berada di ruang kerjanya. Bukan hanya untuk menyiapkan dokumen atau makanan, tetapi juga untuk mendengarkan pendapatnya. Dan bagi Sultanah, hal itu mulai menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.Sultanah Mariam berdiri anggun di balkon paviliun pribadinya, memandangi pantulan gemericik air mancur di taman tengah istana. Wajahnya tampak begitu tenang tanpa riak emosi, namun sepasang matanya yang tajam menyimpan kalkulasi politik yang sangat mendalam.Di belakangnya, seorang dayang kepercayaan berdiri mematung dengan kepala tertunduk patuh, menunggu perintah dari sang penguasa harem.Sultanah membalikkan badan perlahan, jubah sutra ungunya menyapu lantai marmer putih dengan desiran halus."Katakan padaku, apa yang dilakukan gadis desa itu akhir-akhir ini?" tanya Sultanah Mariam dengan nad
Sebuah surat tiba di kediaman Safiya pada sore hari. Begitu melihat lambang kerajaan di bagian luar amplop, wajah Safiya langsung berubah. Ia mengenali pengirimnya.Ibu Suri Nadira.Jantung Safiya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh segel lilin emas berlambang burung elang timur.Ia segera masuk ke ruangan pribadinya dengan langkah terburu-buru, menyapu pandangan ke penjuru paviliun.Ia membanting pintu kayu tebal itu dan menguncinya rapat dari dalam. Safiya berdiri mematung beberapa detik, memastikan tidak ada selir lain atau dayang suruhan Sultanah Mariam yang menguping di koridor luar sebelum ia merobek segel tersebut.Napas Safiya memburu saat membaca bait demi bait tuntutan dari wanita paling berpengaruh di masa lalu istana itu.Rasa dengki yang membakar dadanya kian memuncak ketika mengingat posisi Nayla yang semakin tak tersentuh di sisi sang Sultan.Jemari Safiya bergerak cepat menyambar pena bulu dan membuka botol tinta hitam pekat di meja riasnya.Ia mulai menulis sura
"Duduk."Hari itu Nayla bersiap berdiri seperti biasa ketika Sultan makan siang. Namun sebelum ia sempat mengambil posisi di belakang kursi Sultan, suara dingin itu menghentikannya.Nayla membeku di atas lantai marmer. "Yang Mulia Sultan?"Sultan menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan ujung dagunya. "Aku menyuruhmu duduk."Nayla mengerjapkan matanya berulang kali. Otaknya mendadak macet total menghadapi situasi yang sangat melanggar hukum istana ini.Ia menatap kursi berlapis beludru merah marun di hadapan sang penguasa dengan ragu dan waswas."Hamba?" tanya Nayla pelan, memastikan pendengarannya tidak salah menangkap titah.Sultan Azfar meletakkan cangkir peraknya ke atas meja tanpa ekspresi di wajah tampannya yang dingin."Ada orang lain di ruangan ini selain kita berdua, Nayla?" cetus Sultan datar.Nayla refleks melihat ke sekeliling ruangan megah yang sunyi, lalu kembali menatap mata gelap sang penguasa. "Tidak ada, Yang Mulia Sultan.""Kalau begitu, menurutmu aku sedang bicar
Sejak kejadian racun, Nayla mulai menyadari satu hal. Ke mana pun ia pergi, selalu ada prajurit yang mengikutinya.Awalnya ia mengira itu hanya kebetulan. Sampai suatu pagi, ketika Nayla berhenti di lorong untuk mengambil sesuatu yang terjatuh, dua prajurit di belakangnya ikut berhenti.Nayla menoleh. Mereka langsung pura-pura melihat arah lain. Nayla menghela napas."Ini sudah berlebihan."Nayla merapikan lipatan kain gaun katun sederhananya, lalu berbalik memutar tumit dengan ketukan mantap.Ia tidak kembali ke ruang perawatan atau paviliun, melainkan melangkah tegas menyeberangi lapangan batu menuju sayap barat benteng.Dua prajurit bertubuh kekar di belakangnya tersentak panik, terpaksa mempercepat derap langkah sepatu bot besi mereka demi mengimbangi langkah cepat gadis itu.Nayla melangkah mantap memasuki gerbang barak pertahanan dalam tanpa ada keraguan di matanya. Suara denting pedang yang diasah dan bau minyak senjata menyambut indra penciumannya di aula utama.Di ujung meja







