Malam pergantian tahun begitu riuh. Reva, yang baru pertama kali lepas dari aturan ketat rumah, takjub melihat betapa ramainya perbatasan kota. Apalagi, artis viral Denny Cicak turut diundang, membuat penggemarnya berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru kecamatan dan kabupaten.
"Ini lebih dari ekspektasiku, Fit. Ternyata semeriah ini, ya," gumam Reva. "Ini belum seberapa, Mbak. Nanti kalau kembang api sudah dinyalakan, pasti lebih ramai lagi," balas Fitri sambil menggendong putranya. "Wah, aku makin tak sabar," Reva semakin bersemangat. "Bunda beli itu," Salmi menunjuk sebuah makanan khas turkey. "Mbak Reva, aku mau kesana. Salmi minta kebab," ucap Fitri. "Aku nunggu di sini aja deh," balas Reva. Sedangkan Faiz dan Dani sudah maju ke depan untuk menyaksikan dangdut. Di sekitar mereka, suara musik dangdut menggelegar. Faiz dan Dani sudah maju ke depan, menikmati hiburan. Sementara itu, Fitri dan Reva memilih tetap di belakang, menghindari desakan orang banyak, apalagi Fitri membawa Salmi. Saat Fitri pergi membeli kebab untuk putranya, Reva segera mengirim pesan pada Nathan. "Mas, aku di sini." Reva mengirimkan sebuah foto lokasi tempatnya berdiri. "Oke, kamu di situ aja. Aku akan menyusul." Nathan, yang berada di tengah kerumunan bersama teman-temannya, segera mundur untuk menjemput sang pacar. "Reva," panggilnya begitu sampai. Ia langsung menarik tubuh Reva ke dalam pelukannya. "Mas Nathan, main peluk-peluk aja! Aku kira siapa tadi, bikin jantungan," omel Reva, meski pipinya mulai memerah. "Tapi sekarang nggak jadi jantungan, kan?" goda Nathan, terkekeh. "Nggak," balas Reva manja. "Kamu cantik banget malam ini. Aku makin cinta sama kamu." "Dih, mulai kumat gombalnya. Perasaan aku tiap hari biasa aja kayak gini. Jangan-jangan kamu ada maunya, ya?" Reva mengerutkan keningnya curiga. Nathan tertawa kecil. "Tentu saja. Aku cuma mau kamu tetap bersamaku. Jangan jauh-jauh, aku takut kehilangan kamu." Nathan merangkul Reva, membawanya lebih ke depan. Mereka menikmati malam, bergoyang mengikuti irama dangdut. Reva yang awalnya canggung mulai terbiasa, ikut bernyanyi meski lebih suka lagu Nella Kharisma daripada dangdut koplo. "Dah yuk kita bersenang-senang malam ini, kita nikmati masa muda kita. Jangan tegang gitu, tenang saja ada aku disini yang akan jagain kamu," imbuh Nathan merangkul Reva dan mengajaknya agak ke depan. Pasangan muda-muda itu merasa bahagia dan bisa bebas dari pantauan orang tua masing-masing. "Hilih, bilangnya aja bakal dijagain. Ujung-ujungnya di tinggalin," protes Reva. Nathan merasa tersindir karena pernah ninggalin Reva saat malam dikejar-kejar nini kunti. Dan ia berjanji itu tidak akan pernah terjadi lagi. Semua orang bergoyang dan bernyanyi bersama. Begitu juga dengan Reva dan Nathan. Meski Reva masih kaku tetapi ia suka mengikuti alunan musik itu sehingga dirinya mulai terbiasa. Semakin malam Reva semakin menikmatinya apalagi ada Nathan bersamanya, sesekali Nathan memeluknya dari belakang dan mereka bergoyang bersama. Sayang.. Titip rogoku Titip roso tresnaku Meski Reva agak kaku lidahnya karena ia tak terlalu suka dengan lagu-lagu itu. Ia lebih suka dengan lagunya Nella Berkharisma. Seneng iki mung koe seng ngerti Dadio konco ceritaku Sepanjang uripku Bruug!! Seseorang dari belakang mendorong Reva. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di atas Nathan. Nathan justru menikmati momen itu. Wangi rambut Reva begitu menenangkan. Satu tangannya mengusap rambut Reva, sementara tangan lainnya masih di atas perutnya. "Mas, aku mau bangun. Kamu malah peluk aku kenceng banget. Apa nggak sakit bokong kamu?" tanya Reva, berusaha berdiri. "Nggak, justru aku senang begini." Tiba-tiba, wajah Reva berubah aneh. "Mas... ini apaan?" tanyanya, terkekeh. "Apaan yang mana?" Nathan pura-pura tidak mengerti. "Ada sesuatu yang bangun di bawah bokongku. Gerak-gerak. Keras lagi. Apaan itu?" "Eehh..." Nathan buru-buru bangkit, wajahnya merah padam. "Hayo, apaan tadi?" goda Reva. "Nggak apa-apa!" "Kasihan, tuh. Kalau nggak ditidurin lagi nanti nangis," Reva makin menggoda. "Memangnya kamu mau bantu?" "Nggak, aku nggak bisa!" Reva cepat-cepat menggeleng. "Ya udah, kalau nggak bisa, jangan mancing-mancing, entar aku paksa malah nangis-nangis minta pulang." Kini gantian Nathan yang membuat Reva bergidik ngeri. "Iihh apaan sih, serem amat otak mesummu, Mas," ujar Reva. Nathan hanya terkekeh menanggapi. Tanpa Reva sadari, Nathan perlahan mengajaknya menjauh dari keramaian. Saat itu juga, tempat mereka bergoyang tadi berubah kacau—sekelompok orang terlibat perkelahian. "Gini, nih. Aku males nonton dangdut kalau pasti ada aja yang bikin ribut," gerutu Reva. "Udah, nggak apa-apa. Namanya juga orang banyak," Nathan menenangkan. Hening beberapa saat. "Dek," suara Nathan terdengar lebih lembut. "Dalem," balas Reva iseng. Nathan tersenyum, lalu menatapnya dalam. "Aku sayang sama kamu." "Terus?" "Aku pengin nyium kamu." Reva mendelik. "Aku nggak mau—" Tapi Nathan langsung memotongnya. "Nggak mau nolak, kan?" Mereka tertawa bersama. Nathan menarik pinggang ramping Reva, mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibirnya. Awalnya lembut, lalu semakin dalam. Reva sedikit terkejut, namun perlahan membalas. Sesapan demi sesapan, bibir mereka menyatu. Nathan semakin menuntut, menarik tengkuk Reva agar tak bisa mundur. Duarrr! Duarrr! Pyarrr! Kembang api mulai dinyalakan, menerangi langit dengan percikan warna-warni. Mereka melepas ciuman, sama-sama tersenyum, lalu mendongak, menikmati pertunjukan. "Wuaaah, keren banget, Mas! Aku seneng banget," ujar Reva penuh semangat. "Kamu senang??" "He'em, seneng banget." Nathan menatapnya dalam, mengusap pipinya. "Aku lebih senang bisa di sini bersamamu." Reva tersenyum, tetapi dalam hatinya, entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Nathan menatap wajah Reva dalam-dalam, seolah menghafal setiap lekuknya. Wajah yang tak pernah membosankan, senyum yang selalu menyimpan kehangatan. Di matanya, tawa Reva adalah melodi kebahagiaan yang tak tergantikan. Dengan lembut, Nathan mengangkat dagu Reva, mempersempit jarak di antara mereka. Lalu, bibirnya kembali menyapu bibir gadis itu, membiarkan sensasi itu menyatu dalam dentuman kembang api di langit. Cahaya keemasan membingkai siluet mereka, menciptakan momen yang terasa begitu magis. Sesekali, Nathan melepaskan ciumannya, memberi ruang bagi Reva untuk bernapas, sebelum jemarinya menghapus jejak saliva di sudut bibir gadis itu. Namun, alih-alih meredakan gejolak di dada mereka, momen itu justru menyulut api yang lebih besar. Mereka kembali terhanyut, berulang kali menyatukan bibir dalam tarian yang semakin dalam—bukan lagi sekadar sentuhan, melainkan ketagihan. Dan saat kembang api terakhir meledak di langit, Nathan tahu—ia tak akan pernah bisa melepaskan Reva.Matno dan Rahmat menyusul berdiri untuk menenangkan sang Ustadz. "Sabar, Tadz, pasti Nisa ketemu kok," ujar Rahmat.Matno yang menyadari tatapan Ustadz Mahfud tertuju pada Ali segera berbisik, "Tenang, Ustadz, jangan kebawa emosi apalagi menuduh Ali. Bisa-bisa kita ketahuhan kalau sudah menjebak dia."Nafas ustadz Mahfud tersengal-sengal menahan emosi yang sudah bergejolak.Para santri dan ustadz masih riuh di masjid, kebingungan dan khawatir dengan hilangnya Nisa dan Zahra. Ustadz Husain menenangkan suasana riuh tersebut."Tenang, semua harap tenang ya," ucap Ustadz Husain. Ia juga berdiri untuk memberi instruksi."Kita berbagi untuk mencari keseluruh pondok, sampai belakang pondok dan di setiap sudutnya. Kalau belum ketemu terpaksa kita harus mencari keluar area pondok, tapi ini berlaku untuk santri putra saja. Santri putri tidak di perkenankan mencari di luar pondok ya. Semoga Zahra dan Nisa ketemu di area pondok saja jadi ki
Aisyah bingung mencari Zahra dan Nisa di area pondok. Ia sudah bertanya ke sana kemari tapi tak ada satu pun yang melihat."Nisa, Zahra kalian kemana sih," ucap Aisyah dengan lirih."Mungkin mereka pulang dadakan kali, Syah," ujar Ginah. Mereka sudah bersiap untuk sholat magrib berjamaah."Enggak mungkin lah, Mbak, kalau pulang pasti mereka pamit sama aku. Lagian baju mereka masih utuh." Aisyah heran dengan kedua sahabatnya yang tiba-tiba menghilang."Tadi sore sih kita piket bareng, Zahra dan Nisa buang sampah dan aku balik yang balikin sapu. Setelah itu aku enggak lihat mereka lagi, apa jangan-jangan mereka masih di belakang gudang ya?" tebak Nina sambil memakai mukena."Ih kamu itu ada-ada aja, Nin, ngapain coba di sana sampai malam. Lagian aku juga udah nyari ke sana tadi," balas Aisyah.Adzan sudah selesai, mereka segera terburu-buru menuju masjid agar tidak terlambat. Meski hatinya cemas dan takut Aisyah tetap mengikuti atu
Perlahan-lahan Zahra membuka kedua matanya, menatap Nisa yang melotot. Zahra bisa mendengar detak jantung Nisa yang berdebar, dengan pelan ia melepas pelukannya pada tubuh Nisa dan mengikuti arah pandang mata sahabatnya itu.Dan benar saja, di depan pintu gudang ada sosok Ali yang sedang menatap Nisa. Zahra memandang Nisa dan Ali secara bergantian, tatapan mata Ali dan Nisa itu seolah bisa mengungkapkan isi hati mereka tanpa harus mengatakan apapun."Bagaimana bisa, Ali, bisa ada di dalam gudang?" tanya Zahra.Mendengar itu, seketika Nisa beristigfar di dalam hatinya. Ia segera menundukkan kepalanya. "Tadi ada yang bilang Nisa ke sini, makanya gue ke sini," balas Ali. Ia menatap Nisa yang menundukkan kepala, tak berani menatap dirinya seperti tadi."Mau ngapain?" tanya Zahra. Ia mencecar Ali dengan nafas yang memburu, sedangkan Nisa tak berani berkutik."Mau ngobrol sama Nisa,""Ngobrolin apa?" Zahra menatap Ali s
Setelah sholat dhuhur usai, para santri bergegas menghampiri Abah Kiyai untuk bersalaman. Mereka membentuk barisan rapi, menundukkan kepala dengan penuh takzim saat mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan beliau. Abah Kiyai, dengan senyum lembut dan tatapan penuh kasih, menyambut setiap santri satu per satu. Beliau mengelus kepala beberapa santri yang masih kecil, memberikan mereka rasa nyaman dan kebapakan."Rafiq, Ali kemana? Kenapa enggak sholat berjamaah?" tanya Abah Kiyai.Rafiq yang di tanya seketika, menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Ali. Dan, benar saja ternyata sosok tampan dan berwajah bersih itu tak terlihat."Maaf, Bah, tadi saat saya sama Ziyad masih di gotaan, Ali sudah pamit berangkat ke masjid terlebih dulu," balas Rafiq merasa bingung."Benar, Bah, tapi kenapa ya Ali enggak ada? Dimana dia?" sahut Ziyad yang juga kebingungan sebab tak melihat Ali di dalam masjid.Setelah memastikan se
Hari menjelang Dzuhur Mbok Tati dan pak Supir berpamitan kepada Umi dan Abah kiyai untuk segera pulang.Tak lupa mbok Tati memberi pelukan hangat untuk majikan mudanya itu, dan memberi semangat untuk menjadi diri yang lebih baik.Ali menuju gotaan dengan membawa makanannya, di dalam gotaan ia meminta teman-temannya untuk makan, meski satu jam lagi jatah makan siang pondok akan segera hadir."Wah makasih banyak ya, Li. Kita enggak pernah loh makan enak kayak gini, kalau orang tuamu sering-sering kesini dan bawa makanan jangan lupa bagi sama kita-kita lagi ya. Orang yang suka bagi-bagi tuh rezekinya bertambah kali lipat loh," modus Ziyad sambil menyantap ayam goreng."Suwun ya, Li, semoga berkah Rezki orang tuamu," sahut Rafiq."Amin, makanlah," balas Ali.Di saat sedang menikmati makan tiba-tiba terdengar salam dari luar, membuat semua mata tertuju ke arah pintu. Ridwan datang dengan membawa tas milik Ali. Pandangannya t
"Maksudnya, kamu rayu Allah untuk meluluhkan hati Nisa," kata Rafiq sambil tersenyum tipis. "Intinya cintai dulu Allah lebih dalam, baru minta Dia bantu meluluhkan hati manusia. Itu namanya jodoh jalur langit."Ali mengerutkan kening, "Jodoh jalur langit? Kok kedengarannya rumit banget.""Iya, enggak semudah merayu manusia, tapi kalau Allah sudah berkehendak, enggak ada yang bisa menolaknya. Jadi, coba lebih banyak berdoa, tirakat, dan ibadah. Usaha di dunia, doanya di langit," ujar Rafiq tertawa kecil. Hari ini dirinya tak masuk sekolah, sebab merasa demam sejak semalam dan meminta izin untuk beristirahat.Ziyad menambahkan, "Iya, Li. Siapa tahu, Nisa jadi berubah hati atau malah kamu dikasih yang lebih baik."Di saat obrolan mereka tengah berlangsung dan Ali mulai tertarik dengan saran-saran Rafiq dan Ziyad, tiba-tiba Ustadz Husain muncul di pintu dengan mengucapkan salam. "Ali, orang tuamu sedang menunggu di depan. Mereka ingin bertemu denganmu," katanya dengan suara tenang.Ali s
Nisa tertawa kecil mendengar omelan Aisyah, meski ada sedikit rasa gugup yang terbersit di wajahnya. "Ais, jangan dibesar-besarkan. Dan jangan sampai Zahra tahu tentang kejadian tadi, aku enggak mau dia kecewa atau sakit hati. Kamu tahu sendiri kan dibalik sikapnya yang bar-bar dan ceria, dia kekurangan kasih sayang dari orang tuanya.""Tapi, kamu gimana duka enggak sama Ali?" tanya Aisyah membuat wajah Nisa memerah."Kok, wajah kamu memerah. Kamu tersipu ya, jangan bilang......." Jari Aisyah menunjuk ke wajah Nisa."Em.....""Hey, kalian lama banget! Buruan nanti telat jamaah bakal di hukum loh," pekik Zahra.Nisa menghembuskan nafas lega, ia merasa terselamatkan dari maut. Eh, dari pertanyaan Aisyah."Iya, Ra. Ayo, Ais, kita buruan ke kamar mandi," ujar Nisa lebih merespon Zahra membuat Aisyah mengerucutkan bibirnya.***Malam harinya setelah selesai mengaji dan saat belajar, para sant
"Kalau bukan mahram gimana kalau elo, gue jadiin mahram gue. Elo mau kan jadi pacar gue?" tanya Ali to the point aja.Nisa yang mendengar ungkapan Ali, memandang wajah lelaki itu sepersekian detik, hingga akhirnya ia menundukkan pandangannya kembali."Maaf. Pacaran itu dosa, jadi saya enggak menerimanya!" balas Nisa dengan tegas. Suaranya terdengar mantap, seakan menegaskan prinsip yang selama ini ia pegang erat.Ali mengerutkan kening, lalu tersenyum penuh tantangan. "Ya udah kalau gitu, gue mahramin elo aja biar enggak dosa. Gimana?" tanyanya, bibirnya sedikit menyeringai, seolah yakin ucapannya adalah solusi sederhana.Nisa terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ali telah membuat dirinya bingung dengan cara bicaranya yang sembrono. Namun, sebelum Nisa sempat merespons, Aisyah yang berada di sampingnya sudah menyela lebih dulu. "Pernyataan enggak penting. Ayo, Nis, kita pergi aja!" ucap Aisyah sambil menarik lengan Nisa dengan lembut, mencoba mengakhiri obrolan yang tak ada juntr
Rafiq terus mengucapkan lafadz Allah tanpa henti, Ali yang tak bisa sama sekali hanya diam tak berani bersuara.Saat mereka sudah sampai di dalam masjid, bola api itu seakan-akan selalu terhempas saat ingin masuk mengikuti Ali dan Rafiq. Alhasil bola api itu hanya mutar-mutar saja di depan masjid.Ali dan Rafiq masuk ke dalam, keduanya duduk bersila di depan tempat imam. Tanpa mau menengok ke belakang lagi. Mereka berserah dan meminta perlindungan kepada Allah SWT.****"Bangun, Fiq. Ali, bangun."Mendengar ada seseorang yang membangunkan, Rafiq perlahan membuka mata."Allah hu Akbar...!" pekik Rafiq ketakutan."Astaghfirullah..!" Lelaki itu terjingkat kaget saat Rafiq menyebarkan sarung ke wajahnya."Ustadz Husain?" Rafiq mengucek kedua matanya. Ia memastikan bahwa penglihatannya tidak salah."Rafiq, ada apa? Kenapa kalian tidur di dalam masjid?" tanya Ustadz Husain penasaran.Mendengar orang berbicara Ali membuka mata, ia melihat sosok Rafiq dan ustadz Husain memandanginya."Bola ap