LOGINAula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol.
"If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna. Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menetes melewati sela bajunya. Bahkan celah-celah bra. Bagi Anna, mengikuti kegiatan ini seperti melakukan olahraga di tempat gym. Bedanya dia tidak perlu angkat beban atau berlari di atas treadmill. Cukup berdiri, menyanyi, dan berjoget bersama orang-orang tanpa takut berada dalam kegelapan. Puas menguras keringat, dia bergegas keluar dari aula bersama Shanon sekadar mengisi perut yang meraung-raung minta giliran untuk diisi. Kerongkongannya juga terasa kering bagai di padang tandus, melambai-lambai butuh seteguk air setelah mereka berteriak tanpa henti. Mereka tertawa dan berpendapat kalau acara seperti itu bagus untuk orang-orang yang ingin menggila tanpa diselimuti rasa malu. "Jangankan berdansa di kegelapan, bercinta di sana pun mungkin mereka tidak akan punya malu," canda Shanon dibalas cubitan di lengan oleh Anna. "Argh, itu agak sakit." "Karena kau mengatakannya tanpa dosa," balas Anna. "Kita istirahat di mana?" "Courthouse Hotel," jawab Shanon menunjuk papan penunjuk yang berada di ujung jalan. Bangunan bertingkat dua bercat kuning pucat nan usang sementara di beberapa bagian diwarnai hijau tua. Tempat itu surganya orang-orang bersantai sejak puluhan tahun lalu sampai dijuluki ikon Newtown. Tak butuh lama untuk meraihnya, Shanon dan Anna disambut meja dan kursi panjang berbahan kayu menghiasi setiap sudut bar, sementara pohon-pohon tua memayungi pengunjung ketika siang hari agar nyaman dan terkesan sejuk. Sedangkan di malam hari, tiang-tiang lampu bercat hitam akan memancarkan cahaya kuning lembut nan halus memberikan efek-efek romantis jika mengajak pasangan. Mereka nyaris kehabisan tempat duduk andai seorang pria penuh tato di kedua lengan tidak melambai untuk menawarkan tempat. Shanon membalas ajakan pria 'tak dikenal' itu sembari menyeret Anna agar bergabung dan mengabaikan tatapan sinisnya. "G'day mate!" ujar pria sangar tersebut melempar senyum ramah. "Aku akan selesai sebentar lagi." (Halo kawan) "Ups, Sorry," balas Shanon tak enak hati kemudian mengulurkan sebelah tangannya. "Aku Shanon." "Panggil saja, Benjamin atau Ben. Terserah kau," kata Benjamin membalas jabatan tangan Shanon. "Dan kau?" tanyanya kepada Anna. "Anna," jawab Anna ramah. "Kau tidak seperti orang sini," kata Benjamin saat Shanon mengangkat tangan untuk meminta menu kepada pelayan. "Iya, aku dari Indonesia dan di sini hanya untuk bekerja dan bersenang-senang," jelas Anna. "Good on ya, itu menarik," puji Benjamin kemudian melihat layar ponselnya. "Ah, sorry. Aku harus pergi untuk menemui temanku. Nikmati malam kalian!" pamitnya seraya bangkit berbarengan pelayan berpakaian santai menghampiri dua gadis itu. "Fucking hot," bisik Shanon mengawasi jejak langkah Benjamin sampai hilang dari pandangan yang dibalas sikutan di lengan oleh Anna. Dia berpaling ke arah lelaki yang sudah membawa menu makanan dan minuman, "Satu botol red wine Lagom Premium, beef nachos, dan temanku--" "Samakan saja," sahut Anna. "Ada tambahan?" tanya si pelayan terdengar ramah. "Salad dan terima kasih," ucap Shanon mengerlingkan sebelah mata. "Wow, kita akan mabuk seharian, Shanon," tukas Anna setelah pelayan itu pergi. "Ini untuk perpisahanmu, Annie," balas Shanon meyakinkan temannya bahwa malam ini tidak akan terulang lagi ketika Anna kembali ke negara asal. "Sebelum kau kembali ke Indonesia, aku ingin kita berpesta sampai tidak sanggup berjalan lagi. Selain itu, aku ingin menyenangkan diri bersama Lagom setelah malam panjang kita di ICU. Apa kau tidak hafal minuman anggur favoritku satu ini, huh?" Anna menggeleng seraya melengkungkan bibirnya. "Yang kutahu, semua minuman anggur di matamu terasa nikmat." "Bukan hanya itu saja, Mate." Shanon merangkul bahu Anna, menatap serius ke dalam bola mata cokelat gadis itu lalu berkata, "Kenikmatan Lagom sama seperti pesona pemiliknya. Dia masuk ke dalam daftar pria terseksi yang pernah kulihat seumur hidupku. Seksi, Anna, sialan seksi sampai kau ingin berlutut di depannya." "Bukan dunia?" ledek Anna mengalihkan pandangan ke arah pelayan tadi yang datang membawa pesanannya. "Kau terlalu berlebihan, Mate." Perhatian Anna teralih pada botol hitam berlabel Lagom dilapis keemasan memberi kesan mahal nan mewah. Di sana tertera tahun 2018 yang berarti tahun petik anggur dan sudah mencapai lima tahun yang kata orang sudah cukup untuk mendapatkan rasa sempurna. Anna bukan penggemar berat wine seperti Shanon yang masih terus menggebu-gebu menceritakan sepak terjang Lagom yang punya pusat perusahaan di Tuscany. Sesekali dia membeli untuk saat-saat tertentu, terutama merayakan ulang tahun sendiri juga ketika mengalami patah hati. "Berarti masih kalah menawan dibanding Ian Somerharder," balas Anna menimpali kalimat Shanon yang memuja pria pemilik Lagom. "Ck!" Shanon mendengus kesal selagi membiarkan si pelayan menunjukkan merk dan tahun minuman yang dipesannya. Kemudian pria itu membuka botol anggur menggunakan corckscrew dan meletakkan dua gelas di atas meja. "Thanks!" Buru-buru Shanon menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas tulip berkaki tinggi lantas menyodorkannya kepada Anna. Dia harus membuktikan kalau minuman ini seseksi pemilik Lagom yang benar-benar digilai selama beberapa tahun terakhir ketika mereka mempromosikannya ke Sydney. "Cobalah, Annie. Hirup dalam-dalam, rasakan aroma anggur bercampur mint, cherry, dan blackberry menggoda hidungmu. Kau bakal membayangkan seorang pria berotot bertelanjang dada tengah duduk di balkon menantimu untuk berbuat hal nakal," terang Shanon berapi-api membayangkan pria kekar turunan Dewa Yunani singgah di balkonnya hanya mengenakan kain sutera tipis. "Hah?" Anna menganga sampai tanpa sadar mengeluarkan ciri khasnya sebagai warga Indonesia. Shanon tergelak, tapi tetap menyuruh temannya itu untuk melakukan apa yang diminta. Menuang anggur untuk dirinya sendiri lalu menggoyangkan kaki gelas wine supaya lebih membuka aroma-aroma minuman sebelum mengendus tuk merasakan sensasi anggur kesukaan sepanjang masa. Anna meniru, memasukkan hidung ke dalam gelas sekadar mencari jawaban atas rasa penasaran mengapa Shanon begitu tergila-gila pada Lagom. Oke, dia memang tahu jika minum anggur merah seperti ini membuat seseorang serasa berada di suatu tempat berisi orang-orang kelas atas di dalamnya. Jangan lupakan musik klasik yang mengiringi, bukan musik pop rock yang sekarang mengalun memenuhi area bar. Benar-benar berbanding terbalik! Begitu membaui, Anna membenarkan ada karakter-karakter aroma yang tidak dapat dia tuangkan dalam kata-kata. Semacam kombinasi wangi herbal dan fruity jadi satu. Mengingatkan dirinya pada salah satu brand parfum terkenal. Victoria Secret? Anna mencicipi sedikit, membiarkan minuman tersebut berada dalam mulut agar menyebar di lidah dan meresap di setiap saraf perasa. Sesaat kemudian, dia tertegun kala muncul lapisan ringan dan halus seperti sutera menyentuh langit-langit mulut. Dimulai blackcurrant dan cherry berkembang menjadi kakao, lada hitam, dan sejenis oak di lidah. Ketika menelan dan menuruni kerongkongan, sensasi lain datang bagai harmoni. Rasa manis cukup dominan, disusul keasaman yang tidak terlalu tinggi, dan diakhiri rasa pahit yang tidak terlalu pekat. "Bagaimana menurutmu?" tanya Shanon menaik-turunkan alis tebalnya sudah bisa menebak ekspresi terkagum-kagum Anna. "Sudah bisa membayangkan pria seksi nan panas menyambutmu untuk bercinta sampai lemas?" "Shanon, ayolah ..." Anna tersipu malu tapi tidak mengelak opini liar Shanon. "Tidak ada hubungannya minum ini dengan sebuah percintaan." "Ada. Kau saja yang terlalu kolot!" sembur Shanon kesal. "Sialan!" seru Anna memukul lengan temannya gemas. "Jadi, bagaimana rupa si pemilik Lagom sampai kau memasukkannya dalam daftar pria seksi di hidupmu?" "Tidak banyak info, maksudku, dia sendiri yang tidak ingin diekspos oleh media. Jadi, sebagian besar internet membicarakan keluarganya juga tunangannya." Shanon membuka ponsel dan aplikasi I*******m di mana akun JL001 dengan jumlah pengikut ratusan ribu orang terpampang. "Lihat? Dia hanya memamerkan pemandangan, potret punggung yang sialan hot, dan rambut ikal yang ingin sekali kubelai dengan jemariku andai kata ada kesempatan untuk ONS. Tidak pernah sekali pun dia pamer betapa tampan manusia itu. Jadi, aku selalu membayanginya seperti Apollo." "Astaga, dasar gila!" ejek Anna. "Aku benar. Dia dijuluki si sexyback, pria punggung, atau sexy ass. Pantatnya, Annie, kau bisa lihat betapa padat pantat di balik celana itu," tunjuk Shanon seolah-olah tengah meneteskan air liur. "Di mana dia tinggal memangnya?" tanya Anna penasaran. "Kau tidak tahu?" Shanon membeliakkan mata. "Jesus! Buka matamu, Annie. Dia tinggal di Bali. Satu negara denganmu, satu provinsi, satu kota, atau dia mungkin saja tetanggamu! Tuhan, kenapa temanku begitu buta atas mahakarya-Mu?" "Aku tidak ada waktu untuk memikirkan pria panas seperti yang ada dalam kepalamu, Shanon," bela Anna menenggak minumannya lagi. Sialan, memang enak wine Lagom, batin Anna bakal memasukkan merk ini ke daftar minuman favorit. "Kau terlalu membentengi diri, Annie. Hei, jika kau bertemu dengan pria berciri-ciri seperti ini, beritahu aku. Oke?" pinta Shanon membulatkan pupilnya seperti seekor anak anjing meminta belas kasihan. "Semoga tidak, daripada kau kesetanan," cibir Anna menjulurkan lidah lalu meneguk kembali anggur merah itu sampai habis. Di sisi lain, aku penasaran oleh si JL001 ini. Siapa dia?Resort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n
Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me
Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma
Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti
"Makasih, Bli!" ucap Anna selepas dua orang pria suruhan Jake memasang CCTV di teras rumahnya. Dia mengeluarkan dua botol minuman dingin dan dua bungkus nasi Padang untuk diberikan sebagai imbalan sudah mau membantunya. "Oh iya, ini diminum dulu, Bli. Cuacanya panas. Saya beliin makanan juga.""Iya, Mbok," kata si pria bertubuh tambun. "Makasih."Mereka berdua duduk di kursi berbahan kayu jati, membuka penutup botol lalu meneguknya cepat. Sementara Anna mengamati mereka dalam diam karena rasa sungkan mengapa majikan mereka berbuat sampai sejauh ini. "Pak Jake itu ... emang kayak gitu ya, Bli?" tanya Anna duduk di salah satu kursi sembari melepas jaket denim kemudian mengikat rambutnya yang mulai memanjang. Rasa penasaran makin membelenggu Anna kenapa Jake terus-menerus menabur kebaikan kepada orang yang pernah membantu neneknya satu kali. Mungkin orang lain akan suka cita menerimanya, tapi Anna tidak bisa selamanya berpangku tangan membiarkan Jake mengurusnya terus. Dia sadar diri k
"Are you okay?" tanya Jake sembari menangkup wajah pucat pasi Anna begitu sampai di rumah gadis itu. "Apa yang terjadi?"Bibir Anna bergetar tanpa mampu meloloskan kalimat-kalimat yang berputar-putar dalam kepala. Semua untaian kata mendadak lenyap tanpa bekas menyisakan bayangan-bayangan mencekam saat seseorang menerima ancaman seperti itu. Kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya makin mengucur tanpa henti hingga korneanya terasa pedih. Dia takut setengah mati sampai-sampai memukul dadanya sendiri, mencoba membangunkan diri siapa tahu ini hanyalah sekadar mimpi buruk. Tapi, sebesar apa pun usahanya untuk bangkit dari kekacauan, semuanya terlalu seram tuk menjadi kenyataan.Apakah ada orang yang membencinya sampai tega mengirim benda mengerikan itu?Begitu mendapat paket menjijikkan tersebut hingga mengeluarkan isi perut. Alarm dalam kepala Anna langsung mengarah ke nama Jake. Dia berlari ke dalam kamar, meraih ponsel dan terpaksa memutus sambungan video call Shanon lalu mengh







