Share

Bab 4

Author: Ry-santi
last update publish date: 2026-08-25 14:25:23

Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol.

"If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.

Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menetes melewati sela bajunya. Bahkan celah-celah bra. Bagi Anna, mengikuti kegiatan ini seperti melakukan olahraga di tempat gym. Bedanya dia tidak perlu angkat beban atau berlari di atas treadmill. Cukup berdiri, menyanyi, dan berjoget bersama orang-orang tanpa takut berada dalam kegelapan.

Puas menguras keringat, dia bergegas keluar dari aula bersama Shanon sekadar mengisi perut yang meraung-raung minta giliran untuk diisi. Kerongkongannya juga terasa kering bagai di padang tandus, melambai-lambai butuh seteguk air setelah mereka berteriak tanpa henti. Mereka tertawa dan berpendapat kalau acara seperti itu bagus untuk orang-orang yang ingin menggila tanpa diselimuti rasa malu.

"Jangankan berdansa di kegelapan, bercinta di sana pun mungkin mereka tidak akan punya malu," canda Shanon dibalas cubitan di lengan oleh Anna. "Argh, itu agak sakit."

"Karena kau mengatakannya tanpa dosa," balas Anna. "Kita istirahat di mana?"

"Courthouse Hotel," jawab Shanon menunjuk papan penunjuk yang berada di ujung jalan.

Bangunan bertingkat dua bercat kuning pucat nan usang sementara di beberapa bagian diwarnai hijau tua. Tempat itu surganya orang-orang bersantai sejak puluhan tahun lalu sampai dijuluki ikon Newtown. Tak butuh lama untuk meraihnya, Shanon dan Anna disambut meja dan kursi panjang berbahan kayu menghiasi setiap sudut bar, sementara pohon-pohon tua memayungi pengunjung ketika siang hari agar nyaman dan terkesan sejuk. Sedangkan di malam hari, tiang-tiang lampu bercat hitam akan memancarkan cahaya kuning lembut nan halus memberikan efek-efek romantis jika mengajak pasangan.

Mereka nyaris kehabisan tempat duduk andai seorang pria penuh tato di kedua lengan tidak melambai untuk menawarkan tempat. Shanon membalas ajakan pria 'tak dikenal' itu sembari menyeret Anna agar bergabung dan mengabaikan tatapan sinisnya.

"G'day mate!" ujar pria sangar tersebut melempar senyum ramah. "Aku akan selesai sebentar lagi."

(Halo kawan)

"Ups, Sorry," balas Shanon tak enak hati kemudian mengulurkan sebelah tangannya. "Aku Shanon."

"Panggil saja, Benjamin atau Ben. Terserah kau," kata Benjamin membalas jabatan tangan Shanon. "Dan kau?" tanyanya kepada Anna.

"Anna," jawab Anna ramah.

"Kau tidak seperti orang sini," kata Benjamin saat Shanon mengangkat tangan untuk meminta menu kepada pelayan.

"Iya, aku dari Indonesia dan di sini hanya untuk bekerja dan bersenang-senang," jelas Anna.

"Good on ya, itu menarik," puji Benjamin kemudian melihat layar ponselnya. "Ah, sorry. Aku harus pergi untuk menemui temanku. Nikmati malam kalian!" pamitnya seraya bangkit berbarengan pelayan berpakaian santai menghampiri dua gadis itu.

"Fucking hot," bisik Shanon mengawasi jejak langkah Benjamin sampai hilang dari pandangan yang dibalas sikutan di lengan oleh Anna. Dia berpaling ke arah lelaki yang sudah membawa menu makanan dan minuman, "Satu botol red wine Lagom Premium, beef nachos, dan temanku--"

"Samakan saja," sahut Anna.

"Ada tambahan?" tanya si pelayan terdengar ramah.

"Salad dan terima kasih," ucap Shanon mengerlingkan sebelah mata.

"Wow, kita akan mabuk seharian, Shanon," tukas Anna setelah pelayan itu pergi.

"Ini untuk perpisahanmu, Annie," balas Shanon meyakinkan temannya bahwa malam ini tidak akan terulang lagi ketika Anna kembali ke negara asal. "Sebelum kau kembali ke Indonesia, aku ingin kita berpesta sampai tidak sanggup berjalan lagi. Selain itu, aku ingin menyenangkan diri bersama Lagom setelah malam panjang kita di ICU. Apa kau tidak hafal minuman anggur favoritku satu ini, huh?"

Anna menggeleng seraya melengkungkan bibirnya. "Yang kutahu, semua minuman anggur di matamu terasa nikmat."

"Bukan hanya itu saja, Mate." Shanon merangkul bahu Anna, menatap serius ke dalam bola mata cokelat gadis itu lalu berkata, "Kenikmatan Lagom sama seperti pesona pemiliknya. Dia masuk ke dalam daftar pria terseksi yang pernah kulihat seumur hidupku. Seksi, Anna, sialan seksi sampai kau ingin berlutut di depannya."

"Bukan dunia?" ledek Anna mengalihkan pandangan ke arah pelayan tadi yang datang membawa pesanannya. "Kau terlalu berlebihan, Mate."

Perhatian Anna teralih pada botol hitam berlabel Lagom dilapis keemasan memberi kesan mahal nan mewah. Di sana tertera tahun 2018 yang berarti tahun petik anggur dan sudah mencapai lima tahun yang kata orang sudah cukup untuk mendapatkan rasa sempurna.

Anna bukan penggemar berat wine seperti Shanon yang masih terus menggebu-gebu menceritakan sepak terjang Lagom yang punya pusat perusahaan di Tuscany. Sesekali dia membeli untuk saat-saat tertentu, terutama merayakan ulang tahun sendiri juga ketika mengalami patah hati.

"Berarti masih kalah menawan dibanding Ian Somerharder," balas Anna menimpali kalimat Shanon yang memuja pria pemilik Lagom.

"Ck!" Shanon mendengus kesal selagi membiarkan si pelayan menunjukkan merk dan tahun minuman yang dipesannya. Kemudian pria itu membuka botol anggur menggunakan corckscrew dan meletakkan dua gelas di atas meja. "Thanks!"

Buru-buru Shanon menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas tulip berkaki tinggi lantas menyodorkannya kepada Anna. Dia harus membuktikan kalau minuman ini seseksi pemilik Lagom yang benar-benar digilai selama beberapa tahun terakhir ketika mereka mempromosikannya ke Sydney.

"Cobalah, Annie. Hirup dalam-dalam, rasakan aroma anggur bercampur mint, cherry, dan blackberry menggoda hidungmu. Kau bakal membayangkan seorang pria berotot bertelanjang dada tengah duduk di balkon menantimu untuk berbuat hal nakal," terang Shanon berapi-api membayangkan pria kekar turunan Dewa Yunani singgah di balkonnya hanya mengenakan kain sutera tipis.

"Hah?"

Anna menganga sampai tanpa sadar mengeluarkan ciri khasnya sebagai warga Indonesia. Shanon tergelak, tapi tetap menyuruh temannya itu untuk melakukan apa yang diminta. Menuang anggur untuk dirinya sendiri lalu menggoyangkan kaki gelas wine supaya lebih membuka aroma-aroma minuman sebelum mengendus tuk merasakan sensasi anggur kesukaan sepanjang masa.

Anna meniru, memasukkan hidung ke dalam gelas sekadar mencari jawaban atas rasa penasaran mengapa Shanon begitu tergila-gila pada Lagom. Oke, dia memang tahu jika minum anggur merah seperti ini membuat seseorang serasa berada di suatu tempat berisi orang-orang kelas atas di dalamnya. Jangan lupakan musik klasik yang mengiringi, bukan musik pop rock yang sekarang mengalun memenuhi area bar. Benar-benar berbanding terbalik!

Begitu membaui, Anna membenarkan ada karakter-karakter aroma yang tidak dapat dia tuangkan dalam kata-kata. Semacam kombinasi wangi herbal dan fruity jadi satu. Mengingatkan dirinya pada salah satu brand parfum terkenal. Victoria Secret? Anna mencicipi sedikit, membiarkan minuman tersebut berada dalam mulut agar menyebar di lidah dan meresap di setiap saraf perasa.

Sesaat kemudian, dia tertegun kala muncul lapisan ringan dan halus seperti sutera menyentuh langit-langit mulut. Dimulai blackcurrant dan cherry berkembang menjadi kakao, lada hitam, dan sejenis oak di lidah. Ketika menelan dan menuruni kerongkongan, sensasi lain datang bagai harmoni. Rasa manis cukup dominan, disusul keasaman yang tidak terlalu tinggi, dan diakhiri rasa pahit yang tidak terlalu pekat.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Shanon menaik-turunkan alis tebalnya sudah bisa menebak ekspresi terkagum-kagum Anna. "Sudah bisa membayangkan pria seksi nan panas menyambutmu untuk bercinta sampai lemas?"

"Shanon, ayolah ..." Anna tersipu malu tapi tidak mengelak opini liar Shanon. "Tidak ada hubungannya minum ini dengan sebuah percintaan."

"Ada. Kau saja yang terlalu kolot!" sembur Shanon kesal.

"Sialan!" seru Anna memukul lengan temannya gemas. "Jadi, bagaimana rupa si pemilik Lagom sampai kau memasukkannya dalam daftar pria seksi di hidupmu?"

"Tidak banyak info, maksudku, dia sendiri yang tidak ingin diekspos oleh media. Jadi, sebagian besar internet membicarakan keluarganya juga tunangannya." Shanon membuka ponsel dan aplikasi I*******m di mana akun JL001 dengan jumlah pengikut ratusan ribu orang terpampang. "Lihat? Dia hanya memamerkan pemandangan, potret punggung yang sialan hot, dan rambut ikal yang ingin sekali kubelai dengan jemariku andai kata ada kesempatan untuk ONS. Tidak pernah sekali pun dia pamer betapa tampan manusia itu. Jadi, aku selalu membayanginya seperti Apollo."

"Astaga, dasar gila!" ejek Anna.

"Aku benar. Dia dijuluki si sexyback, pria punggung, atau sexy ass. Pantatnya, Annie, kau bisa lihat betapa padat pantat di balik celana itu," tunjuk Shanon seolah-olah tengah meneteskan air liur.

"Di mana dia tinggal memangnya?" tanya Anna penasaran.

"Kau tidak tahu?" Shanon membeliakkan mata. "Jesus! Buka matamu, Annie. Dia tinggal di Bali. Satu negara denganmu, satu provinsi, satu kota, atau dia mungkin saja tetanggamu! Tuhan, kenapa temanku begitu buta atas mahakarya-Mu?"

"Aku tidak ada waktu untuk memikirkan pria panas seperti yang ada dalam kepalamu, Shanon," bela Anna menenggak minumannya lagi. Sialan, memang enak wine Lagom, batin Anna bakal memasukkan merk ini ke daftar minuman favorit.

"Kau terlalu membentengi diri, Annie. Hei, jika kau bertemu dengan pria berciri-ciri seperti ini, beritahu aku. Oke?" pinta Shanon membulatkan pupilnya seperti seekor anak anjing meminta belas kasihan.

"Semoga tidak, daripada kau kesetanan," cibir Anna menjulurkan lidah lalu meneguk kembali anggur merah itu sampai habis.

Di sisi lain, aku penasaran oleh si JL001 ini. Siapa dia?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Sang CEO   Bab 8

    Jake berjalan mondar-mandir menunggu tanpa kepastian atas kondisi Barbara. Dentuman di dadanya belum bisa berdetak normal kalau dokter yang menangani neneknya tidak kunjung keluar dari ruang tindakan. Dia takut sungguh takut jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawa Barbara. Tapi, kata perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Anna, neneknya bakal baik-baik saja mengingat setelah pertolongan pertama Barbara sempat sadar.Ekor mata abu-abu gelap Jake melirik gadis berambut sebahu yang duduk di kursi ruang tunggu. Dia tampak begitu tenang, malah meneguk sebotol cola dingin juga melahap cokelat batang. Suatu kebiasaan aneh bagi Jake mendapati perempuan seperti Anna. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu benar-benar seorang perawat? Jika benar, bukankah mereka paham konsumsi cola dan cokelat berlebihan bisa menaikkan kadar gula secara drastis? Gadis aneh!Di luar kegilaan yang menyapa, harus Jake akui kalau bukan karena Anna, mungkin Barbara bisa jadi tak tertolong. Dia mema

  • Rahasia Sang CEO   Bab 7

    "Nonna!" seru Jake panik lalu meraba karotis Barbara. Seketika pupil matanya melebar merasakan tidak ada denyut di sana. "Nonna! Bangunlah!"Merasa nuraninya terpanggil, Anna berlari menghampiri si pria eksotis meninggalkan rombongannya sendiri. Dia berlutut sembari berkata, "Hei, I'm nurse Anna. I can help!""Tolong, please," kata Jake cemas tidak ingin terjadi apa-apa pada Barbara. "Tolong Nonna-ku. Tadi dia nggak apa-apa loh!"Anna tercengang beberapa saat mengetahui pria yang dikira sebagai orang asing ternyata fasih berbahasa Indonesia. Sungguh berbeda dengan aksen kebaratan yang tadi dia dengar. Dari sini dia baru bisa melihat jelas bagaimana bentuk rupa wajah yang membingkai pria asing ini. Apakah suara tadi yang menyarankan tes Brix itu suaranya? pikir Anna meragu. Ah! Dia menepis pertanyaan tak penting tersebut dan menyingkirkan kekaguman terhadap pria tampa di depannya. Tangan Anna bahu Barbara untuk mengecek respons ketika mendapati seseorang pingsan. Dia memanggil nonna s

  • Rahasia Sang CEO   Bab 6

    Anna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm. "Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu.Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan.Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat men

  • Rahasia Sang CEO   Bab 5

    Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka."Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun.""Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna suda

  • Rahasia Sang CEO   Bab 4

    Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol."If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menet

  • Rahasia Sang CEO   Bab 3

    "Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.(Selamat sore, Nenek!)Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status