Share

Bab 3

Author: Ry-santi
last update publish date: 2026-08-03 08:24:02

"Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.

(Selamat sore, Nenek!)

Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin.

"Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."

Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang bertemu atau sekadar berpapasan selalu berkata kalau Jake mirip seperti ayahnya saat muda. Postur tubuh tinggi tegap, iris mata abu-abu gelap nan tajam, rambut ikal hitam legam sekelam malam, serta rahang tegas membingkai apik wajahnya juga turut diwariskan. Mungkinkah karena anak pertama, Jake menerka kalau sebagian besar DNA Fabio Luciano mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Entahlah.

Jake berpaling sebentar ke arah badan pesawat Boeing 787-8 BBJ berlogo LC di bagian ekor bercat merah bata sebagai lambang keluarga besar Luciano. Tampak gagah dan menawan disembur senja manakala pesawat itu bergerak perlahan untuk diparkir di sisi utara Bandara Ngurah Rai. Kemudian, menggenggam tangan Barbara selagi bertukar cerita tentang kabar maupun hal-hal yang dilakukan selama terpisah beratus-ratus mil jauhnya. Mereka dibuntuti beberapa lelaki berpakaian formal dan berambut klimis sedang menyeret beberapa koper besar milik Barbara.

"Barangmu sangat banyak. Apa Nonna akan menghabiskan waktu di sini sampai akhir tahun?" goda Jake yang dibalas decak kesal Barbara. "Astaga, kenapa?"

"Kau tak akan percaya kalau musim panas tahun ini menyebalkan," omel Barbara ketika mobil Roll Royce Phantom hitam mengilap berhenti tepat di area penjemputan bandara. "Dan aku setuju usulanmu, mungkin aku perlu tinggal di sini sampai masalah di sana tuntas!" Garis bibirnya yang dipulas lipstik merah merenggang sebentar ke arah pria berkepala botak yang menyambut sopan.

"Biar aku saja, Pak," sela Jake menahan sopir itu membukakan pintu mobil untuk Barbara. Dalam hati dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada neneknya sampai-sampai menggerutu seperti itu. Apakah ini ada kaitan dengan kebun anggur yang ada di Tuscany?

Di belakang kendaraan mewah tersebut ada Alphard putih khusus digunakan para pengawal berkendara dan penyimpanan barang-barang bawaan Barbara. Jake menyilakan sang nenek segera duduk sebelum melanjutkan cerita sampai raut wajahnya bersungut tak suka. Kemudian, Jake melambaikan tangan ke arah mobil kedua, menyuruh pria-pria tersebut segera mengistirahatkan diri selepas perjalanan panjang dari Bologna. Mengisyaratkan kepada sopir agar berangkat dulu dan mengantar mereka ke tempat penginapan keluarga di Sanur.

"Terima kasih, Tuan Luciano," ucap salah seorang pria sebelum pamit pergi.

"Bersantailah selagi di sini," titah Jake ramah.

Mereka menunduk hormat, mengucapkan terima kasih sekali lagi selanjutnya masuk ke dalam mobil. Barulah Jake berjalan cepat mengitari mobil dan mendudukkan dirinya di samping kiri Barbara lantas bertanya, "Apa yang terjadi?"

"Turis-turis gila dari Jerman seenaknya memetik dan melahap anggur-anggurku, Jake!" sungut Barbara begitu jengkel. Wajahnya langsung memerah bak kepiting rebus tak sanggup menahan kemurkaan yang terlanjur mendidih hingga ke ubun-ubun. "Tanpa busana pula!" Dia memijit kening merasakan tekanan darahnya tiba-tiba naik setiap kali mengingat kejadian menjijikkan dan tak elegan itu. Dia bahkan tak bisa tidur nyenyak akibat ulah tangan-tangan jahil para turis tak bertanggung jawab menjamah kebun anggurnya.

Tidak hanya sekali ini saja. Kejadian yang menimpa perkebunan anggur milik Luciano terjadi secara berulang saat musim panas tiba. Wisatawan dari beberapa negara tetangga termasuk Jerman selalu datang berkunjung untuk melihat tur singkat bagaimana sebotol wine dihasilkan. Sayang segelintir orang tak bermoral begitu santai dan tanpa dosa mencuri anggur walau bukan anggota tur kelompok.

Bahkan pernah ada yang berani membobol pagar dan menggelar kain piknik tanpa rasa bersalah sedikit pun malah menyalak ketika ditegur. Jika dibiarkan terus-menerus, hal tersebut bakal mempengaruhi jumlah produksi wine di mana anggur adalah bahan baku utama. Tentunya Barbara tidak ingin rugi kan? Di mana ada tiket tur, di situlah mereka bisa menikmati anggurnya dalam jumlah yang sudah dihitung.

Barbara paham, orang-orang dari negeri Panser memang gemar sekali berekreasi dan makan buah-buahan terutama musim panas. Tapi, sasaran mereka sangat keliru di mana warga Italia kebanyakan bergantung pada hasil panen anggur di saat permintaan wine merah ikut melonjak drastis. Sedangkan turis-turis tak tahu diri itu berkelakar kalau sudah membayar satu tiket tur wisata wine, maka boleh makan buah sepuasnya walau tanpa mengenakan sehelai benang sekali. Mereka berpendapat itu salah satu hak sebagai wisatawan.

Bukankah itu gila? Mereka manusia atau binatang? gerutu Barbara dalam hati.

"Berapa banyak yang mereka habiskan?" tanya Jake ikut khawatir. Mungkin inilah yang menyebabkan ayahnya tak bisa ikut ke Indonesia untuk liburan tahunan bersama keluarga di Sanur.

"Empat keranjang setiap pasang," gerutu Barbara. "Jika setiap hari? Bisa kau bayangkan, perusahaan kita bisa mengalami krisis wine bukan?"

Jake mengangguk paham, menggenggam erat tangan Barbara yang mungil. "Akan kucoba mencari jalan keluarnya, Nonna."

"Lo apprezzo tanto. Kau selalu bisa diandalkan, Jake," puji Barbara mencium pipi cucunya penuh kasih sayang. "Tidak salah jika Fabio menaruh kepercayaan besar padamu."

(Aku sangat menghargainya)

"Ayolah ... adikku Ezio juga banyak membantuku, Nonna," elak Jake tidak ingin besar kepala.

"Benar. Tapi, kau pewaris utama, Jake," bisik Barbara mencolek hidung mancung cucu kesayangannya begitu bangga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Sang CEO   Bab 30

    Resort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n

  • Rahasia Sang CEO   Bab 29

    Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me

  • Rahasia Sang CEO   Bab 28

    Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma

  • Rahasia Sang CEO   Bab 27

    Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti

  • Rahasia Sang CEO   Bab 26

    "Makasih, Bli!" ucap Anna selepas dua orang pria suruhan Jake memasang CCTV di teras rumahnya. Dia mengeluarkan dua botol minuman dingin dan dua bungkus nasi Padang untuk diberikan sebagai imbalan sudah mau membantunya. "Oh iya, ini diminum dulu, Bli. Cuacanya panas. Saya beliin makanan juga.""Iya, Mbok," kata si pria bertubuh tambun. "Makasih."Mereka berdua duduk di kursi berbahan kayu jati, membuka penutup botol lalu meneguknya cepat. Sementara Anna mengamati mereka dalam diam karena rasa sungkan mengapa majikan mereka berbuat sampai sejauh ini. "Pak Jake itu ... emang kayak gitu ya, Bli?" tanya Anna duduk di salah satu kursi sembari melepas jaket denim kemudian mengikat rambutnya yang mulai memanjang. Rasa penasaran makin membelenggu Anna kenapa Jake terus-menerus menabur kebaikan kepada orang yang pernah membantu neneknya satu kali. Mungkin orang lain akan suka cita menerimanya, tapi Anna tidak bisa selamanya berpangku tangan membiarkan Jake mengurusnya terus. Dia sadar diri k

  • Rahasia Sang CEO   Bab 25

    "Are you okay?" tanya Jake sembari menangkup wajah pucat pasi Anna begitu sampai di rumah gadis itu. "Apa yang terjadi?"Bibir Anna bergetar tanpa mampu meloloskan kalimat-kalimat yang berputar-putar dalam kepala. Semua untaian kata mendadak lenyap tanpa bekas menyisakan bayangan-bayangan mencekam saat seseorang menerima ancaman seperti itu. Kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya makin mengucur tanpa henti hingga korneanya terasa pedih. Dia takut setengah mati sampai-sampai memukul dadanya sendiri, mencoba membangunkan diri siapa tahu ini hanyalah sekadar mimpi buruk. Tapi, sebesar apa pun usahanya untuk bangkit dari kekacauan, semuanya terlalu seram tuk menjadi kenyataan.Apakah ada orang yang membencinya sampai tega mengirim benda mengerikan itu?Begitu mendapat paket menjijikkan tersebut hingga mengeluarkan isi perut. Alarm dalam kepala Anna langsung mengarah ke nama Jake. Dia berlari ke dalam kamar, meraih ponsel dan terpaksa memutus sambungan video call Shanon lalu mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status