LOGIN"Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.
(Selamat sore, Nenek!) Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano." Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang bertemu atau sekadar berpapasan selalu berkata kalau Jake mirip seperti ayahnya saat muda. Postur tubuh tinggi tegap, iris mata abu-abu gelap nan tajam, rambut ikal hitam legam sekelam malam, serta rahang tegas membingkai apik wajahnya juga turut diwariskan. Mungkinkah karena anak pertama, Jake menerka kalau sebagian besar DNA Fabio Luciano mengalir di setiap pembuluh darahnya. Entahlah. Jake berpaling sebentar ke arah badan pesawat Boeing 787-8 BBJ berlogo LC di bagian ekor bercat merah bata sebagai lambang keluarga besar Luciano. Tampak gagah dan menawan disembur senja manakala pesawat itu bergerak perlahan untuk diparkir di sisi utara Bandara Ngurah Rai. Kemudian, menggenggam tangan Barbara selagi bertukar cerita tentang kabar maupun hal-hal yang dilakukan selama terpisah beratus-ratus mil jauhnya. Mereka dibuntuti beberapa lelaki berpakaian formal dan berambut klimis sedang menyeret beberapa koper besar milik Barbara. "Barangmu sangat banyak. Apa Nonna akan menghabiskan waktu di sini sampai akhir tahun?" goda Jake yang dibalas decak kesal Barbara. "Astaga, kenapa?" "Kau tak akan percaya kalau musim panas tahun ini menyebalkan," omel Barbara ketika mobil Roll Royce Phantom hitam mengilap berhenti tepat di area penjemputan bandara. "Dan aku setuju usulanmu, mungkin aku perlu tinggal di sini sampai masalah di sana tuntas!" Garis bibirnya yang dipulas lipstik merah merenggang sebentar ke arah pria berkepala botak yang menyambut sopan. "Biar aku saja, Pak," sela Jake menahan sopir itu membukakan pintu mobil untuk Barbara. Dalam hati dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada neneknya sampai-sampai menggerutu seperti itu. Apakah ini ada kaitan dengan kebun anggur yang ada di Tuscany? Di belakang kendaraan mewah tersebut ada Alphard putih khusus digunakan para pengawal berkendara dan penyimpanan barang-barang bawaan Barbara. Jake menyilakan sang nenek segera duduk sebelum melanjutkan cerita sampai raut wajahnya bersungut tak suka. Kemudian, Jake melambaikan tangan ke arah mobil kedua, menyuruh pria-pria tersebut segera mengistirahatkan diri selepas perjalanan panjang dari Bologna. Mengisyaratkan kepada sopir agar berangkat dulu dan mengantar mereka ke tempat penginapan keluarga di Sanur. "Terima kasih, Tuan Luciano," ucap salah seorang pria sebelum pamit pergi. "Bersantailah selagi di sini," titah Jake ramah. Mereka menunduk hormat, mengucapkan terima kasih sekali lagi selanjutnya masuk ke dalam mobil. Barulah Jake berjalan cepat mengitari mobil dan mendudukkan dirinya di samping kiri Barbara lantas bertanya, "Apa yang terjadi?" "Turis-turis gila dari Jerman seenaknya memetik dan melahap anggur-anggurku, Jake!" sungut Barbara begitu jengkel. Wajahnya langsung memerah bak kepiting rebus tak sanggup menahan kemurkaan yang terlanjur mendidih hingga ke ubun-ubun. "Tanpa busana pula!" Dia memijit kening merasakan tekanan darahnya tiba-tiba naik setiap kali mengingat kejadian menjijikkan dan tak elegan itu. Dia bahkan tak bisa tidur nyenyak akibat ulah tangan-tangan jahil para turis tak bertanggung jawab menjamah kebun anggurnya. Tidak hanya sekali ini saja. Kejadian yang menimpa perkebunan anggur milik Luciano terjadi secara berulang saat musim panas tiba. Wisatawan dari beberapa negara tetangga termasuk Jerman selalu datang berkunjung untuk melihat tur singkat bagaimana sebotol wine dihasilkan. Sayang segelintir orang tak bermoral begitu santai dan tanpa dosa mencuri anggur walau bukan anggota tur kelompok. Bahkan pernah ada yang berani membobol pagar dan menggelar kain piknik tanpa rasa bersalah sedikit pun malah menyalak ketika ditegur. Jika dibiarkan terus-menerus, hal tersebut bakal mempengaruhi jumlah produksi wine di mana anggur adalah bahan baku utama. Tentunya Barbara tidak ingin rugi kan? Di mana ada tiket tur, di situlah mereka bisa menikmati anggurnya dalam jumlah yang sudah dihitung. Barbara paham, orang-orang dari negeri Panser memang gemar sekali berekreasi dan makan buah-buahan terutama musim panas. Tapi, sasaran mereka sangat keliru di mana warga Italia kebanyakan bergantung pada hasil panen anggur di saat permintaan wine merah ikut melonjak drastis. Sedangkan turis-turis tak tahu diri itu berkelakar kalau sudah membayar satu tiket tur wisata wine, maka boleh makan buah sepuasnya walau tanpa mengenakan sehelai benang sekali. Mereka berpendapat itu salah satu hak sebagai wisatawan. Bukankah itu gila? Mereka manusia atau binatang? gerutu Barbara dalam hati. "Berapa banyak yang mereka habiskan?" tanya Jake ikut khawatir. Mungkin inilah yang menyebabkan ayahnya tak bisa ikut ke Indonesia untuk liburan tahunan bersama keluarga di Sanur. "Empat keranjang setiap pasang," gerutu Barbara. "Jika setiap hari? Bisa kau bayangkan, perusahaan kita bisa mengalami krisis wine bukan?" Jake mengangguk paham, menggenggam erat tangan Barbara yang mungil. "Akan kucoba mencari jalan keluarnya, Nonna." "Lo apprezzo tanto. Kau selalu bisa diandalkan, Jake," puji Barbara mencium pipi cucunya penuh kasih sayang. "Tidak salah jika Fabio menaruh kepercayaan besar padamu." (Aku sangat menghargainya) "Ayolah ... adikku Ezio juga banyak membantuku, Nonna," elak Jake tidak ingin besar kepala. "Benar. Tapi, kau pewaris utama, Jake," bisik Barbara mencolek hidung mancung cucu kesayangannya begitu bangga.Jake berjalan mondar-mandir menunggu tanpa kepastian atas kondisi Barbara. Dentuman di dadanya belum bisa berdetak normal kalau dokter yang menangani neneknya tidak kunjung keluar dari ruang tindakan. Dia takut sungguh takut jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawa Barbara. Tapi, kata perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Anna, neneknya bakal baik-baik saja mengingat setelah pertolongan pertama Barbara sempat sadar.Ekor mata abu-abu gelap Jake melirik gadis berambut sebahu yang duduk di kursi ruang tunggu. Dia tampak begitu tenang, malah meneguk sebotol cola dingin juga melahap cokelat batang. Suatu kebiasaan aneh bagi Jake mendapati perempuan seperti Anna. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu benar-benar seorang perawat? Jika benar, bukankah mereka paham konsumsi cola dan cokelat berlebihan bisa menaikkan kadar gula secara drastis? Gadis aneh!Di luar kegilaan yang menyapa, harus Jake akui kalau bukan karena Anna, mungkin Barbara bisa jadi tak tertolong. Dia mema
"Nonna!" seru Jake panik lalu meraba karotis Barbara. Seketika pupil matanya melebar merasakan tidak ada denyut di sana. "Nonna! Bangunlah!"Merasa nuraninya terpanggil, Anna berlari menghampiri si pria eksotis meninggalkan rombongannya sendiri. Dia berlutut sembari berkata, "Hei, I'm nurse Anna. I can help!""Tolong, please," kata Jake cemas tidak ingin terjadi apa-apa pada Barbara. "Tolong Nonna-ku. Tadi dia nggak apa-apa loh!"Anna tercengang beberapa saat mengetahui pria yang dikira sebagai orang asing ternyata fasih berbahasa Indonesia. Sungguh berbeda dengan aksen kebaratan yang tadi dia dengar. Dari sini dia baru bisa melihat jelas bagaimana bentuk rupa wajah yang membingkai pria asing ini. Apakah suara tadi yang menyarankan tes Brix itu suaranya? pikir Anna meragu. Ah! Dia menepis pertanyaan tak penting tersebut dan menyingkirkan kekaguman terhadap pria tampa di depannya. Tangan Anna bahu Barbara untuk mengecek respons ketika mendapati seseorang pingsan. Dia memanggil nonna s
Anna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm. "Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu.Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan.Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat men
Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka."Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun.""Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna suda
Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol."If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menet
"Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.(Selamat sore, Nenek!)Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang b







