LOGINJake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka.
"Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun." "Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna sudah mengeluh banyak hal tentang para pencuri itu. Kurasa kalau Papa tidak tegas, mereka akan semena-mena lagi." "Akan kupikirkan, Jake. Tapi, aku lebih suka idemu yang pertama. Sementara kami di sini membatasi jumlah kedatangan mereka. Aku kasihan kepada petani-petani kami yang kewalahan menghadapi orang-orang berkepala batu itu." Dia menghela napas panjang sekadar mengisi rongga dadanya yang terasa sesak harus turun tangan untuk membantu permasalahan di Tuscany. Selanjutnya Jake menyandarkan punggung ke kursi seraya memejamkan mata merasakan pembuluh darah di pelipis berkedut-kedut. Di satu sisi, beruntung anak perusahaan Tuscano yang dipimpin Jake tidak pernah ada masalah. Mungkin turis-turis lokal maupun luar negeri lebih menjaga adab dan tata krama mengingat setiap sudut yang ada di Bali itu dikeramatkan. Apalagi orang asing mungkin lebih menjaga sikap bila tidak ingin dideportasi. Lagi pula, tur wisata kebun anggur yang diberikan Jake menyuguhkan fasilitas petik buah dan mencicipi olahan Lagom yang sudah menjadi wine. Jadi, tidak mungkin kan kalau mereka mendadak rakus sampai ingin mengenyangkan perut mereka sendiri? Jam Patek Philippe klasik Calatrava berlapis emas dan bertali kulit buaya kecokelatan di tangan kiri Jake menunjukkan pukul 10.30. Dia ingat kalau harus bersiap-siap menemani Barbara berkeliling kebun anggur yang ada di Buleleng. Kemarin malam, neneknya berkata ingin melihat sejauh mana perusahaan Lagom berkembang sejak kebun seluas lima puluh hektar tersebut dibeli Fabio tahun 1988 lalu. Selain itu, dia juga menambahkan kalau tak sia-sia juga anaknya datang ke Indonesia untuk mengepakkan sayap bisnis turun-temurun keluarga Luciano di samping menikahi salah satu perempuan cantik di sini. "Kau selalu datang ke sini setiap tahun, Nonna," timpal Jake saat makan malam. "Perubahannya adalah ekspor kita makin meningkat. Lagom mendapat penghargaan di Hongkong tahun lalu kan?" Barbara mengangguk seraya mengacungkan jempolnya bangga. "Tapi, aku tidak bosan mengamati kesuksesanmu, Jake," puji Barbara. "Kau adalah nyawa Lagom." "Tanpa petani dan karyawanku, aku bukan apa-apa, Nonna," kilah Jake tak ingin besar kepala. Dengan mengendarai Audi R8 hitam pekat yang memesona di bawah terik mentari Sanur, Jake membawa Barbara melintasi jalanan lengang di Bypass Ngurah Rai sebelum berakhir ke jalan Ir. Soekarno sejauh 19 kilometer. Butuh waktu sekitar tiga jam agar bisa tiba di tujuan karena lokasi kebun anggurnya berada di area pedesaan Sanggalangit. Barbara berkomentar bahwa Bali adalah rumah kedua yang menurutnya tidak akan pernah bosan untuk disinggahi. Cuaca cerah hampir sepanjang tahun, keramahtamahan penduduk lokal yang begitu hangat, lingkungan asri, sampai surga tersembunyi turut disuguhkan Bali. Di samping itu, Barbara menyebut jika semua makanan penuh bumbu khas Bali ini benar-benar memanjakan lidahnya tanpa henti. Manalagi banyak anjing-anjing Kintamani yang lucu-lucu dan penurut seolah-olah sudah saling mengenal lama ketika Barbara menyapa. Hingga sekarang, Barbara masih suka mengunjungi tempat-tempat suci dengan segala sejarah di baliknya dilanjut duduk berdiam diri atau melakukan yoga. Tempat mana lagi yang bisa memberikan kemewahan seperti Bali? pikirnya. "Tapi, kau tidak melupakan tanah kelahiranmu bukan?" canda Jake kala mobilnya memasuki area perkebunan. Barbara tertawa sampai puncak pipinya memerah. "Tuscany sudah mengalir di darahku, Jake. Aku tidak bisa menggeser posisinya dengan Bali. Tapi, kau ... kau memiliki keduanya." "Aku tahu." Jake keluar dari mobil seraya mengenakan topi dan kacamata hitam kemudian membukakan pintu untuk neneknya. Mengulurkan sebelah tangan membantu Barbara menegakkan badan setelah perjalanan panjang. "Selamat datang di kebun Lagom, Nonna."Resort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n
Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me
Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma
Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti
"Makasih, Bli!" ucap Anna selepas dua orang pria suruhan Jake memasang CCTV di teras rumahnya. Dia mengeluarkan dua botol minuman dingin dan dua bungkus nasi Padang untuk diberikan sebagai imbalan sudah mau membantunya. "Oh iya, ini diminum dulu, Bli. Cuacanya panas. Saya beliin makanan juga.""Iya, Mbok," kata si pria bertubuh tambun. "Makasih."Mereka berdua duduk di kursi berbahan kayu jati, membuka penutup botol lalu meneguknya cepat. Sementara Anna mengamati mereka dalam diam karena rasa sungkan mengapa majikan mereka berbuat sampai sejauh ini. "Pak Jake itu ... emang kayak gitu ya, Bli?" tanya Anna duduk di salah satu kursi sembari melepas jaket denim kemudian mengikat rambutnya yang mulai memanjang. Rasa penasaran makin membelenggu Anna kenapa Jake terus-menerus menabur kebaikan kepada orang yang pernah membantu neneknya satu kali. Mungkin orang lain akan suka cita menerimanya, tapi Anna tidak bisa selamanya berpangku tangan membiarkan Jake mengurusnya terus. Dia sadar diri k
"Are you okay?" tanya Jake sembari menangkup wajah pucat pasi Anna begitu sampai di rumah gadis itu. "Apa yang terjadi?"Bibir Anna bergetar tanpa mampu meloloskan kalimat-kalimat yang berputar-putar dalam kepala. Semua untaian kata mendadak lenyap tanpa bekas menyisakan bayangan-bayangan mencekam saat seseorang menerima ancaman seperti itu. Kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya makin mengucur tanpa henti hingga korneanya terasa pedih. Dia takut setengah mati sampai-sampai memukul dadanya sendiri, mencoba membangunkan diri siapa tahu ini hanyalah sekadar mimpi buruk. Tapi, sebesar apa pun usahanya untuk bangkit dari kekacauan, semuanya terlalu seram tuk menjadi kenyataan.Apakah ada orang yang membencinya sampai tega mengirim benda mengerikan itu?Begitu mendapat paket menjijikkan tersebut hingga mengeluarkan isi perut. Alarm dalam kepala Anna langsung mengarah ke nama Jake. Dia berlari ke dalam kamar, meraih ponsel dan terpaksa memutus sambungan video call Shanon lalu mengh







