Share

Bab 5

Author: Ry-santi
last update publish date: 2026-08-25 14:28:17

Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka.

"Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun."

"Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna sudah mengeluh banyak hal tentang para pencuri itu. Kurasa kalau Papa tidak tegas, mereka akan semena-mena lagi."

"Akan kupikirkan, Jake. Tapi, aku lebih suka idemu yang pertama. Sementara kami di sini membatasi jumlah kedatangan mereka. Aku kasihan kepada petani-petani kami yang kewalahan menghadapi orang-orang berkepala batu itu."

Dia menghela napas panjang sekadar mengisi rongga dadanya yang terasa sesak harus turun tangan untuk membantu permasalahan di Tuscany. Selanjutnya Jake menyandarkan punggung ke kursi seraya memejamkan mata merasakan pembuluh darah di pelipis berkedut-kedut. Di satu sisi, beruntung anak perusahaan Tuscano yang dipimpin Jake tidak pernah ada masalah. Mungkin turis-turis lokal maupun luar negeri lebih menjaga adab dan tata krama mengingat setiap sudut yang ada di Bali itu dikeramatkan. Apalagi orang asing mungkin lebih menjaga sikap bila tidak ingin dideportasi. 

Lagi pula, tur wisata kebun anggur yang diberikan Jake menyuguhkan fasilitas petik buah dan mencicipi olahan Lagom yang sudah menjadi wine. Jadi, tidak mungkin kan kalau mereka mendadak rakus sampai ingin mengenyangkan perut mereka sendiri?

Jam Patek Philippe klasik Calatrava berlapis emas dan bertali kulit buaya kecokelatan di tangan kiri Jake menunjukkan pukul 10.30. Dia ingat kalau harus bersiap-siap menemani Barbara berkeliling kebun anggur yang ada di Buleleng. Kemarin malam, neneknya berkata ingin melihat sejauh mana perusahaan Lagom berkembang sejak kebun seluas lima puluh hektar tersebut dibeli Fabio tahun 1988 lalu. Selain itu, dia juga menambahkan kalau tak sia-sia juga anaknya datang ke Indonesia untuk mengepakkan sayap bisnis turun-temurun keluarga Luciano di samping menikahi salah satu perempuan cantik di sini.

"Kau selalu datang ke sini setiap tahun, Nonna," timpal Jake saat makan malam. "Perubahannya adalah ekspor kita makin meningkat. Lagom mendapat penghargaan di Hongkong tahun lalu kan?"

Barbara mengangguk seraya mengacungkan jempolnya bangga. "Tapi, aku tidak bosan mengamati kesuksesanmu, Jake," puji Barbara. "Kau adalah nyawa Lagom."

"Tanpa petani dan karyawanku, aku bukan apa-apa, Nonna," kilah Jake tak ingin besar kepala.

Dengan mengendarai Audi R8 hitam pekat yang memesona di bawah terik mentari Sanur, Jake membawa Barbara melintasi jalanan lengang  di Bypass Ngurah Rai sebelum berakhir ke jalan Ir. Soekarno sejauh 19 kilometer. Butuh waktu sekitar tiga jam agar bisa tiba di tujuan karena lokasi kebun anggurnya berada di area pedesaan Sanggalangit. 

Barbara berkomentar bahwa Bali adalah rumah kedua yang menurutnya tidak akan pernah bosan untuk disinggahi. Cuaca cerah hampir sepanjang tahun, keramahtamahan penduduk lokal yang begitu hangat, lingkungan asri, sampai surga tersembunyi turut disuguhkan Bali. Di samping itu, Barbara menyebut jika semua makanan penuh bumbu khas Bali ini benar-benar memanjakan lidahnya tanpa henti. Manalagi banyak anjing-anjing Kintamani yang lucu-lucu dan penurut seolah-olah sudah saling mengenal lama ketika Barbara menyapa. Hingga sekarang, Barbara masih suka mengunjungi tempat-tempat suci dengan segala sejarah di baliknya dilanjut duduk berdiam diri atau melakukan yoga. Tempat mana lagi yang bisa memberikan kemewahan seperti Bali? pikirnya. 

"Tapi, kau tidak melupakan tanah kelahiranmu bukan?" canda Jake kala mobilnya memasuki area perkebunan. 

Barbara tertawa sampai puncak pipinya memerah. "Tuscany sudah mengalir di darahku, Jake. Aku tidak bisa menggeser posisinya dengan Bali. Tapi, kau ... kau memiliki keduanya."

"Aku tahu." Jake keluar dari mobil seraya mengenakan topi dan kacamata hitam kemudian membukakan pintu untuk neneknya. Mengulurkan sebelah tangan membantu Barbara menegakkan badan setelah perjalanan panjang.   

"Selamat datang di kebun Lagom, Nonna."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Sang CEO   Bab 8

    Jake berjalan mondar-mandir menunggu tanpa kepastian atas kondisi Barbara. Dentuman di dadanya belum bisa berdetak normal kalau dokter yang menangani neneknya tidak kunjung keluar dari ruang tindakan. Dia takut sungguh takut jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawa Barbara. Tapi, kata perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Anna, neneknya bakal baik-baik saja mengingat setelah pertolongan pertama Barbara sempat sadar.Ekor mata abu-abu gelap Jake melirik gadis berambut sebahu yang duduk di kursi ruang tunggu. Dia tampak begitu tenang, malah meneguk sebotol cola dingin juga melahap cokelat batang. Suatu kebiasaan aneh bagi Jake mendapati perempuan seperti Anna. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu benar-benar seorang perawat? Jika benar, bukankah mereka paham konsumsi cola dan cokelat berlebihan bisa menaikkan kadar gula secara drastis? Gadis aneh!Di luar kegilaan yang menyapa, harus Jake akui kalau bukan karena Anna, mungkin Barbara bisa jadi tak tertolong. Dia mema

  • Rahasia Sang CEO   Bab 7

    "Nonna!" seru Jake panik lalu meraba karotis Barbara. Seketika pupil matanya melebar merasakan tidak ada denyut di sana. "Nonna! Bangunlah!"Merasa nuraninya terpanggil, Anna berlari menghampiri si pria eksotis meninggalkan rombongannya sendiri. Dia berlutut sembari berkata, "Hei, I'm nurse Anna. I can help!""Tolong, please," kata Jake cemas tidak ingin terjadi apa-apa pada Barbara. "Tolong Nonna-ku. Tadi dia nggak apa-apa loh!"Anna tercengang beberapa saat mengetahui pria yang dikira sebagai orang asing ternyata fasih berbahasa Indonesia. Sungguh berbeda dengan aksen kebaratan yang tadi dia dengar. Dari sini dia baru bisa melihat jelas bagaimana bentuk rupa wajah yang membingkai pria asing ini. Apakah suara tadi yang menyarankan tes Brix itu suaranya? pikir Anna meragu. Ah! Dia menepis pertanyaan tak penting tersebut dan menyingkirkan kekaguman terhadap pria tampa di depannya. Tangan Anna bahu Barbara untuk mengecek respons ketika mendapati seseorang pingsan. Dia memanggil nonna s

  • Rahasia Sang CEO   Bab 6

    Anna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm. "Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu.Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan.Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat men

  • Rahasia Sang CEO   Bab 5

    Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka."Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun.""Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna suda

  • Rahasia Sang CEO   Bab 4

    Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol."If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menet

  • Rahasia Sang CEO   Bab 3

    "Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.(Selamat sore, Nenek!)Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status