LOGINAnna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm.
"Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu. Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan. Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat menarik di Bali sebagai rutinitas merelaksasikan jiwa dan pikiran. Kecintaannya pada pulau Dewata ini tidak menimbulkan rasa jenuh sedikitpun, melainkan makin meningkat dari waktu ke waktu. Aroma sesajen di sanggah atau pura tempat sembahyang umat Hindu terendus di hidung, jajaran pohon rindang juga deburan ombak yang menghiasi Bali, anjing-anjing berkeliaran bebas, sampai lalu lalang turis asing menjadi atensi menyenangkan di mata Anna. Nggak perlu pakai bahasa Inggris setiap hari pula! Nggak perlu pakai bahasa formal yang bikin lidahku kaku! Namun, dia tidak pernah tahu kalau ternyata ada kebun anggur terbesar di Indonesia milik keluarga super kaya. Padahal di masa SD dulu, Anna pernah tinggal di sekitaran sini sebelum akhirnya pindah ke Ungasan. Apa mungkin karena dia terlalu sibuk sekolah, kuliah, dan mencari uang jadinya tidak mengenal tempat ini? Entahlah. Pada akhirnya, demi melepas rasa penasaran terhadap merk anggur favorit Shanon. Anna ingin mengikuti tur yang disediakan Lagom. Melangkahkan kaki berbalut sepatu converse putih menuju pintu berpelitur cokelat dari sebuah bangunan rumah bercat senada namun lebih pucat beratap merah bata. Di sana ornamen-ornamen berupa lukisan pemandangan alam Bali dan ukiran kayu hasil kerajinan penduduk setempat terpajang. Tanaman-tanaman perdu serta pepohonan rimbun bergoyang tertiup angin, menciptakan kesan sejuk dan damai. Di dalam sana ada beberapa etalase sebagai tempat display produk Lagom berbagai ukuran serta jenis anggur. Ada juga sertifikat-sertifikat penghargaan Lagom dari masa ke masa bukti hasil jerih payah pemiliknya untuk membawa wine merk lokal ini eksis di mancanegara. Anna manggut-manggut takjub sambil membatin bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, kecuali kekasih tak tahu diri. Sesaat kemudian, Anna menangkap seorang pria berkemeja putih mengenakan sarung khas Bali dan udeng di kepala sedang berdiri di depan rombongan kecil berisi sepuluh orang yang didominasi turis mancanegara. Anna disambut lelaki lain yang lebih tua dan berpakaian santai; kaus barong dan celana denim, melempar senyum ramah kepadanya. Kulit eksotis pria itu tampak berkilau terkena pantulan sinar matahari menyengat. "Rahajeng rauh. Mau ikut tur?" tanyanya. (Selamat datang) Anna melenggut cepat. "Berapa tiket masuknya, Bli?" "Lima puluh ribu. Nanti bisa mencicipi wine sama petik buah anggur," jawab pria itu. "Oke, saya ikut." Anna mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu kemudian memberikannya kepada pria tersebut. Dia berpaling sebentar lalu berbisik, "Bli, di sini pemiliknya sering datang nggak?" Sesaat kening lelaki eksotis di depannya ini mengerut lalu menyengguk. "Oh ... iya, sering. Pak Jake selalu datang buat memantau waktu panen. Tapi nggak tiap hari sih." "Oh ... Jake." Anna bergumam menyebut nama si sexyback. "Matur suksma, Bli," ucap Anna menerima topi jerami petani yang disewakan gratis agar terhindar dari sengatan panas. (Terima kasih, Mas) Buru-buru Anna bergabung ke dalam rombongan itu seraya mengetik pesan lagi kepada Shanon bahwa kemungkinan besar dia bisa bertemu si punggung. Jika beruntung. Dia berbaris di bagian belakang rombongan, bersebelahan dengan seorang perempuan berkulit seputih porselen. Tur dimulai dari penjelasan berdirinya Lagom sejak awal tahun 90-an oleh keluarga Luciano yang mencoba peruntungan membuat wine dari anggur merah dan anggur hijau dari beberapa varietas yang berhasil ditanam di tanah Buleleng. Beberapa di antara varietas itu benihnya dibawa langsung dari Italia--tanah kelahiran sang pemilik utama Lagom. Setiap hektar ada dua ribu pohon yang bisa menghasilkan sekitar 25 ton sekali panen. "Untuk white wine, kami menanam varietas Chenin Blanc yang mungkin sebagian besar penduduk kita tidak mengenal akrab. Tapi, jenis ini menurut saya yang terbaik karena bisa diolah menjadi sweet wine atau dry wine. Ada juga jenis Riesling bagi teman-teman yang suka tingkat keasaman menonjol seperti nanas, lemon, atau markisa. Jadi, sering kali saya merekomendasikan minuman kami yang satu ini bersama makanan-makanan khas Cina atau Thailand," jelas tour guide itu dalam bahasa Inggris yang benar-benar fasih. "Untuk red wine-nya, Bli?" tanya Anna makin penasaran dengan dunia anggur. Apakah dia harus bertekuk lutut kepada Shanon bahwa Lagom telah mengubah persepsinya? "Kami menanam varietas Sangiovese dari Tuscany yang dulunya dibawa langsung oleh pemilik Lagom. Namun, dalam pengolahannya dikombinasi bersama Syrah sehingga rasa dan karakter anggur merahnya lebih kuat," terang si pemandu tur. "Tapi, tiap varietas memiliki sistem dan metode tanam berbeda. Salah satunya ini, pakai cara double cordon, ada juga yang pakai sistem teralis." "Oh ... orang Itali," gumam Anna menengadahkan kepala melihat gerombolan buah anggur gemuk-gemuk yang terlihat menggiurkan untuk dicicipi. Dia membayangkan berapa banyak uang dihasilkan dalam sekali produksi. Bisa kaya mendadak nih! Tak sengaja bola mata Anna menangkap rombongan kecil di mana ada seorang pria tinggi berotot tengah berjalan sembari sesekali memegang tanaman anggur. Dia tampak menonjol dibanding orang-orang di sekelilingnya yang jauh lebih pendek. Anna menurunkan sedikit kacamata hitam yang menutup pandangannya dari sengatan panas, memfokuskan pupil pada sosok pria berkaus polo putih berlengan pendek. Otot-otot biseps pria di sana membuntang yang memperlihatkan si pemilik kalau dia rajin angkat beban. Dari belakang bahunya tampak bidang seolah-olah Anna bisa menyandarkan kepala. Belum lagi kulit eksotis pria itu begitu kontras dibanding pakaian yang membalut tubuh indahnya. Warna tan berkilau seperti sekumpulan berlian cokelat diterpa terik matahari. Sorot mata Anna turun ke celana linen longgar berwarna senada memeluk erat pantat padat pria itu seolah-olah mengingatkan Anna pada lelaki idaman Shanon. "Pantatnya, Annie. Lihat bagaimana pantatnya begitu padat." Sialnya, gadis itu tidak bisa mengamati begitu jelas siapa pria tersebut karena wajahnya tertutupi kacamata juga topi hitam. Posisinya juga membelakangi Anna sehingga hanya bisa mengamati punggung lebar dan pantat sialan padat. Dalam hati, dia menerka apakah pria tersebut orang Indonesia atau orang asing mengingat postur bongsor yang benar-benar berbeda daripada warga lokal pada umumnya. Di samping pria itu ada wanita tua berjalan anggun sembari merangkul mesra lengan kanannya. "Kenapa imajinasiku ... malah ke arah sugar baby ya?" gumam Anna mengabaikan penjelasan Bli Ketut. Bayang-bayang hubungan agegap memang sedang tren dan berputar-putar dalam kepala seperti halnya aktor pemeran Kick Ass--Aaron Taylor Jhonson--yang terpaut 23 tahun dengan istrinya yang berprofesi sebagai sutradara. "Sekarang kan banyak cowok-cowok ngincer wanita yang lebih tua. Sebaliknya juga gitu." Anna menajamkan pendengaran ke arah rombongan pria di sana yang kini bergerak sedikit ke utara menuju area anggur merah diselingi gelak tawa. Rasa penasarannya terhadap anggur kini teralihkan pada sosok misterius yang memesona mata melebihi indahnya gunung Agung yang melatarbelakangi perkebunan Lagom. Apalagi sayup-sayu Anna mendengar suara berat dan seksi hingga bertanya-tanya siapakah pemilik suara menyenangkan ini? Apakah dia? "Still 80 days, Nonna," ucap si pria menawan seraya mengangkat sebelah tangannya membelai buah anggur yang menggantung rendah di samping kanan. "Shall we do a Brix test? I think, they're almost done." Oh, suaranya ternyata, batin Anna. Pria itu menunjuk beberapa meter di depannya diikuti si wanita tua dan beberapa orang yang bergabung dalam tur kecil tersebut. Dia pemandu ya? Kok beda sama Bli Ketut, pikir Anna agak kecewa kalau pemandu wisatanya terkesan tua. "Tes Brix itu apa, Bli Ketut?" celetuk Anna dilanda ingin tahu yang menggebu. "Tes buat mengukur tingkat kemanisan anggur," jawab Ketut kemudian memetik salah satu anggur dan membuka sedikit kulitnya untuk dioleskan ke alat mirip pensil namun berukuran besar. Ketut menyipitkan sebelah mata dan berkata, "Nilainya sebelas. Ini sudah manis karena dalam pengolahan minuman anggur kita juga butuh sensasi manis di samping pahit dan sepat." "Oh, begitu ..." Anna baru tahu kalau anggur yang diolah jadi wine harus diukur juga tingkat kemanisannya. "Baik, teman-teman bisa memetik beberapa anggur untuk dicicipi," kata Ketut menyilakan rombongan yang diikuti Anna untuk merasakan kelezatan buah kebanggaan Lagom. Selang beberapa menit kemudian sebuah teriakan terdengar dari rombongan pria berbadan kekar tadi di mana wanita tua mendadak ambruk ke tanah. "Nonna! Nonna!" seru si pria panik. "Help!"Resort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n
Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me
Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma
Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti
"Makasih, Bli!" ucap Anna selepas dua orang pria suruhan Jake memasang CCTV di teras rumahnya. Dia mengeluarkan dua botol minuman dingin dan dua bungkus nasi Padang untuk diberikan sebagai imbalan sudah mau membantunya. "Oh iya, ini diminum dulu, Bli. Cuacanya panas. Saya beliin makanan juga.""Iya, Mbok," kata si pria bertubuh tambun. "Makasih."Mereka berdua duduk di kursi berbahan kayu jati, membuka penutup botol lalu meneguknya cepat. Sementara Anna mengamati mereka dalam diam karena rasa sungkan mengapa majikan mereka berbuat sampai sejauh ini. "Pak Jake itu ... emang kayak gitu ya, Bli?" tanya Anna duduk di salah satu kursi sembari melepas jaket denim kemudian mengikat rambutnya yang mulai memanjang. Rasa penasaran makin membelenggu Anna kenapa Jake terus-menerus menabur kebaikan kepada orang yang pernah membantu neneknya satu kali. Mungkin orang lain akan suka cita menerimanya, tapi Anna tidak bisa selamanya berpangku tangan membiarkan Jake mengurusnya terus. Dia sadar diri k
"Are you okay?" tanya Jake sembari menangkup wajah pucat pasi Anna begitu sampai di rumah gadis itu. "Apa yang terjadi?"Bibir Anna bergetar tanpa mampu meloloskan kalimat-kalimat yang berputar-putar dalam kepala. Semua untaian kata mendadak lenyap tanpa bekas menyisakan bayangan-bayangan mencekam saat seseorang menerima ancaman seperti itu. Kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya makin mengucur tanpa henti hingga korneanya terasa pedih. Dia takut setengah mati sampai-sampai memukul dadanya sendiri, mencoba membangunkan diri siapa tahu ini hanyalah sekadar mimpi buruk. Tapi, sebesar apa pun usahanya untuk bangkit dari kekacauan, semuanya terlalu seram tuk menjadi kenyataan.Apakah ada orang yang membencinya sampai tega mengirim benda mengerikan itu?Begitu mendapat paket menjijikkan tersebut hingga mengeluarkan isi perut. Alarm dalam kepala Anna langsung mengarah ke nama Jake. Dia berlari ke dalam kamar, meraih ponsel dan terpaksa memutus sambungan video call Shanon lalu mengh







