Início / Romansa / Rahasia Satu Malam / Bab 7. Pelukan Hangat

Compartilhar

Bab 7. Pelukan Hangat

Autor: Oh Hana
last update Data de publicação: 2026-09-22 09:00:40

“Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”

Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.

“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.

“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia mera
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Rahasia Satu Malam   Bab 7. Pelukan Hangat

    “Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia merasa canggung setiap membahas perihal mantan suami.Bukan karena malu-malu mengakui masih ada sisa-sisa rasa yang ia pendam. Perasaan tak enak hati itu muncul justru karena perempuan itu takut melukai putranya setiap membahas usaha-usaha mantan suami kembali.“Mama langsung terima?” Bara meletakkan ponsel di atas phone holder di atas meja. Ia mulai bersiap menata isi ransel untuk berangkat bekerja pagi ini.“Ck, belumlah! Mama selalu nungguin kamu siap. Kalau Mama kembali ke keluarga Kalingga, kam

  • Rahasia Satu Malam   Bab 6. Anak Haram

    “Kalau pernikahan Marcel dan Rihana batal, apa kata keluarga besar nanti? Saya nggak mau ngurusin buntut perkara yang bikin malu keluarga. Iya, kan, Nek?” Nyonya Diana meminta dukungan.Nenek Saidah mengangguk-angguk paham. Ibu pun tersenyum maklum. Sementara Nita hanya duduk di kursi pojok ruangan dengan tatapan enggan. Gadis itu memainkan kuku-kuku jari yang baru selesai ia kikir hingga mengilap.Rihana hanya duduk terdiam. Ia sudah terlalu lelah untuk sekadar menanggapi semua tekanan keluarga. Beginilah cara Marcel bekerja menyelesaikan setiap masalah yang ia buat sendiri. Laki-laki itu akan menghadirkan maminya untuk turun tangan, mendesak Nenek Saidah dan Ibu untuk membujuk Rihana.“Saya juga sudah telpon beberapa kolega bisnis papinya Marcel yang punya usaha WO buat atur pernikahan. Malah udah sempat ke butik buat pesan gaun pengantin. Tolonglah, saya kira ini hanya pre-wedding blues aja, kok, Ri.”Nyonya Diana mengulurkan tangan, mengusap punggung Rihana untuk menguatkan tekad

  • Rahasia Satu Malam   Bab 5. Batas Kesabaran

    ​“Dari mana kamu, Mbak? Kak Marcel dari tadi nungguin kamu, lho.”​Keterkejutan Rihana akibat menubruk dada bidang Marcel seketika buyar begitu mendengar suara manja yang teramat familier itu.​Di ruang tamu rumahnya yang temaram, Nita tampak sedang duduk santai di atas sofa. Kemeja putih longgar yang dikenakannya dibiarkan terbuka satu kancing atasnya. Setiap kali gadis itu menunduk sedikit saja, renda pakaian dalam di sebaliknya terekspos jelas tanpa rasa canggung.​Alih-alih menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Marcel maupun Nita, Rihana justru melangkah masuk dengan napas memburu. “Ke mana Ibu sama Nenek?” suaranya terdengar dingin dan bergetar.​“Pergi ke pasar dari tadi pagi. Kenapa?” Nita tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya santai sebelum akhirnya bangkit berdiri. Dengan gerakan perlahan yang terkesan disengaja, ia mengibas rambut panjangnya yang terurai ke belakang bahu.​Gerakan itu spontan mempertontonkan leher jenjangnya secara gamblang. Kening Rihana mengernyit heb

  • Rahasia Satu Malam   Bab 4. Satu Kesempatan Lagi

    “Are you okay?”Satu kalimat tanya sederhana yang keluar dari mulut Bara itu cukup untuk menyentak Rihana. Sendok di tangannya mendadak berhenti berputar di atas mangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul halus.Bara tahu Rihana sedang tidak baik-baik saja. Itu sebab pukul setengah 6 pagi tadi, ia sengaja menjemputnya untuk sekadar membuang sebal dengan jogging.Pertanyaan perhatian itu hanya Rihana jawab dengan satu desahan napas lelah yang teramat berat. Pandangannya terpaku pada mangkuk bubur ayam tanpa daun bawang pesenannya yang kini tampak tak lagi menggugah selera.“Nggak ngerti lagi gue, Bar. Kadang gue suka bertanya-tanya sendiri, kenapa Ibu sama Nenek Saidah nggak pernah kasih gue kesempatan membela diri waktu bertengkar sama Nita.”Mendengar nama Nita disebut, kilasan kejadian semalam mendadak berputar kembali di kepala Bara.​Semalam, saat Bara sedang makan malam seorang diri di sebuah restoran cukup mewah di pusat kota, ia tak sengaja melihat pemandangan yang mengganj

  • Rahasia Satu Malam   Bab 3. Orang Asing di Antara Mereka

    “Kamu tahu, kan, Marcel itu anak saya satu-satunya?”​Kalimat itu meluncur dingin sebagai pembuka pertemuan yang dijanjikan Marcel. Malam Minggu ini, Rihana dibawa ke sebuah private room bermeja bundar di resto mewah khusus kalangan VIP. Ruangan itu terasa terlalu melompong karena pada kenyataannya, hanya ada mereka berdua di sana.​Marcel? Laki-laki itu dengan entengnya pergi begitu saja dengan alasan ada urusan mendadak bersama klien.​Cih, klien katanya? Di Sabtu malam seperti ini?​Pada akhirnya, Marcel hanya berperan sebagai sopir yang menjemput Rihana di rumah, mengantarnya ke restoran, lalu menyerahkan seluruh urusan pembicaraan kepada maminya.​Sebagai wujud sopan santun yang diajarkan keluarganya, Rihana hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pembuka dari calon mertuanya itu.​“Marcel itu manja, Ri. Dia butuh istri yang bisa melayaninya all the time. Makan aja pilih-pilih, harus maminya yang turun tangan. Untuk itu, misal kamu benar bersedia serius menikah, kamu … mau m

  • Rahasia Satu Malam   Bab 2. Alasannya Kembali

    ​“Nikah aja belum, udah merencanakan kehamilan kamu, Ri?” Bu Jihan, ketua tim kreatif di perusahaan tempat Rihana dan Bara bekerja, tiba-tiba muncul di ambang pintu pantry.​Entah perempuan bertubuh sintal itu mendengar seluruh obrolan sensitif keduanya atau tidak. Namun, dilihat dari raut wajahnya yang santai dan tanpa kecurigaan, sepertinya situasi masih aman.​Rihana menyunggingkan senyum masam demi menutupi kepanikannya, sementara Bara diam-diam mengembuskan napas lega yang menumpuk di dada.​“Cepetan nikah, dong, Ri! Entar saya bawa anak-anak satu tim buat ngeramein. Jangan kelamaan. Nggak bosan ya, pacaran terus tapi nggak nikah-nikah?”​Lagi. Entah ini desakan ke berapa yang harus Rihana dengar dalam sepekan terakhir. Tidak di rumah, tidak di kantor, topik pernikahan seolah menjadi hantu yang terus mengejarnya. Usia Rihana bulan lalu genap 29 tahun, seumuran dengan Bara. Posisi Bara jauh lebih aman dari gunjingan hanya karena laki-laki itu belum berkeluarga. Rumor sinis seperti

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status