LOGIN“Kok, bengong? Dingin, Ri. Gue … boleh masuk sebentar nggak?”Suara Bara yang agak parau membuyarkan keheningan malam, membuat Rihana terperanjat kaget. Lamunannya seketika buyar menatap sosok jangkung yang masih membeku di luar pagar.“A-eh, iya! Sebentar!”Pelan-pelan Rihana membuka gembok besi pagar agar tak menimbulkan suara dentang yang keras. Ia mengajak Bara melangkah pelan menuju teras rumah, lalu menunjuk sebuah kursi kayu panjang.“Duduk yang tenang di sini. Gue ambilin kaos ganti buat lo,” bisik Rihana tegas.Bara hanya mengangguk pasrah. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding teras, menyadari tubuhnya mulai tak sanggup lagi menerima tumpukan hawa dingin dari baju yang basah dan rambutnya yang mulai setengah kering.Tak sampai dua menit, Rihana kembali ke teras membawa selembar kaos oversize milik pribadinya. Namun, saat Bara memegang kain katun itu dan menemukan gambar kepala beruang berwarna merah muda yang lucu tercetak di bagian dada, alis tebalnya langsung berta
“Nyonya Besar, toloooongg! Den Bara terjun ke kolam dari balkon, Nyonya!"Teriakan histeris dari para pelayan membelah keheningan malam, membuat perempuan tua yang hampir memejamkan mata di kamarnya itu berjengit kaget. Mendengar kabar cucunya melompat dari balkon lantai dua sontak membuat dadanya ditubruk rasa cemas dan ketakutan yang membuncah.Dengan napas terengah-engah, Oma Suhita bergegas bangkit. Langkah kakinya tertatih menepuk lantai marmer karena usianya yang mulai renta. Dua pelayan perempuan mengekor di belakang dengan raut wajah sama cemasnya, takut sang Nyonya Besar tersandung kakinya sendiri akibat terburu-buru.Tepat ketika Oma Suhita sampai di teras belakang yang menghadap kolam, Bara sudah berhasil berenang ke tepi. Cucu badungnya itu benar-benar nekat, keras kepala, dan tak kenal takut. Bara tahu betul apa kelemahan terbesar Oma Suhita: perempuan tua itu tidak akan pernah rela satu-satunya pewaris harapannya terluka parah atau cacat akibat kenekatannya sendiri
“Lepasin! Gue bisa jalan sendiri!”Bara berkelit kasar dari cekalan dua pengawal bertubuh kekar. Dua pria berbaju serba hitam itu baru melepas lengannya begitu mereka melintasi halaman rumah megah bergaya Mediterania.Rumah yang sangat familier. Deretan bunga bougenville tampak cantik membingkai pagar depan. Air mancur berdiri megah di tengah taman, dikelilingi rumput hijau yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak.Bara mendengkus jengkel saat matanya melirik deretan mobil mewah yang berjajar di carport samping. Ada dua mobil sport yang dulu pernah ditawarkan padanya, dan semuanya sudah ia kembalikan.Manik tajam Bara menelisik ke segala sudut, mencari celah untuk meloloskan diri. Namun, ia mendesah kecewa. Selama dua pria tegap di sisinya ini belum enyah, kesempatan untuk kabur nyaris nol. Ia memilih menurut untuk sementara sampai bertemu sang pemilik rumah.Langkahnya terhenti di sebuah ruang tamu yang luas. Di sofa panjang berwarna cokelat muda, seorang perempuan tua duduk sant
“Berhenti, Cel,” perintah Rihana tiba-tiba. Suaranya tidak tinggi, tetapi sarat dengan nada perintah yang dingin.Marcel yang tengah memegang kemudi mendadak kaku. Matanya melirik Rihana lewat kaca spion tengah sebelum kembali menatap jalanan sore yang padat.“Kita belum sampai, Sayang. Sebentar lagi sampai di butik. Mami udah nunggu.”“Hentikan mobil di taman kota depan saja,” potong Rihana tanpa memandang Marcel. Ia mengalihkan tatapan lurus ke kaca depan. “Berhenti juga bertingkah sok manis. Aku muak.”Rihana bersiap membenarkan posisi tas bahunya, menegakkan punggung demi bersiap keluar.Marcel mengentakkan napas pendek. Dengan gerakan kasar, ia memutar kemudi dan menghentikan mobil di pinggir jalan dekat deretan pohon taman kota.“Oh, kamu minta berhenti buat nyariin rekan kerja cowok kamu itu, ya?” tuding Marcel sinis. Wajah ramahnya yang tadi dipasang seketika luntur, berganti raut meremehkan.“Ngapain, sih, kamu ngarep sama karyawan baru itu? Lagaknya sok iya, padahal k
“Bara dipanggil ke ruangan HRD,” celetuk Bu Jihan usai meletakkan revisi naskah copywriting untuk brand voice yang Rihana buat.“Hah? Kenapa?” Rihana sontak mendongak dengan raut cemas.Perempuan berbalut blazer merah bata itu mengibas tangan seraya memutar bola mata jengah.“Ck, kamu ini! Gara-gara kamu, tahu. Anak-anak magang bilang sewaktu pulang dari acara makan-makan kantor itu kalian mabuk dan pulang bareng. Si Bela anak magang sempat cerita ke aku juga. Kamu jangan sembarangan, dong, Ri.”Bu Jihan menjelaskan dengan suara berbisik seraya menarik kursi milik karyawan lain yang kubikelnya kosong. Jam pulang kantor sudah tiba, sebagian orang bersiap-siap melangkah keluar.“Seantero kantor udah pada tahu kamu punya tunangan. Kamu sama Bara, kok, makin ke sini makin deket. Bela bilang tadi pagi kamu berangkat bareng? Boncengan? Bener itu? Tunangan kamu tahu dan kasih izin?”“Ya Tuhan, Bu. Kenapa mesti dibawa ke HRD, sih? Ibu bisa tanya saya dulu atau tanya Bara. Lagian Bela kurang k
“Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia merasa canggung setiap membahas perihal mantan suami.Bukan karena malu-malu mengakui masih ada sisa-sisa rasa yang ia pendam. Perasaan tak enak hati itu muncul justru karena perempuan itu takut melukai putranya setiap membahas usaha-usaha mantan suami kembali.“Mama langsung terima?” Bara meletakkan ponsel di atas phone holder di atas meja. Ia mulai bersiap menata isi ransel untuk berangkat bekerja pagi ini.“Ck, belumlah! Mama selalu nungguin kamu siap. Kalau Mama kembali ke keluarga Kalingga, kam







