Beranda / Romansa / Rahasia Satu Malam / Bab 6. Anak Haram

Share

Bab 6. Anak Haram

Penulis: Oh Hana
last update Tanggal publikasi: 2026-09-21 10:46:41

“Kalau pernikahan Marcel dan Rihana batal, apa kata keluarga besar nanti? Saya nggak mau ngurusin buntut perkara yang bikin malu keluarga. Iya, kan, Nek?” Nyonya Diana meminta dukungan.

Nenek Saidah mengangguk-angguk paham. Ibu pun tersenyum maklum. Sementara Nita hanya duduk di kursi pojok ruangan dengan tatapan enggan. Gadis itu memainkan kuku-kuku jari yang baru selesai ia kikir hingga mengilap.

Rihana hanya duduk terdiam. Ia sudah terlalu lelah untuk sekadar menanggapi semua tekanan keluarga. Beginilah cara Marcel bekerja menyelesaikan setiap masalah yang ia buat sendiri. Laki-laki itu akan menghadirkan maminya untuk turun tangan, mendesak Nenek Saidah dan Ibu untuk membujuk Rihana.

“Saya juga sudah telpon beberapa kolega bisnis papinya Marcel yang punya usaha WO buat atur pernikahan. Malah udah sempat ke butik buat pesan gaun pengantin. Tolonglah, saya kira ini hanya pre-wedding blues aja, kok, Ri.”

Nyonya Diana mengulurkan tangan, mengusap punggung Rihana untuk menguatkan tekad menuju ke jenjang pernikahan.

“Lagian kenapa, sih, Mbak Riri selalu salah paham sama aku? Kemarin, kan, kamu yang pulang diantar cowok sampai bikin Kak Marcel nunggu. Kok, malah jadi berbalik cari masalah buat putus gini dengan nuding aku sama Kak Marcel ada main di belakang kamu?” Nita ikut bersuara tak terima.

Gadis itu sedang berusaha membersihkan namanya. Angkat tangan atas segala perkara pelik yang terjadi.

Rihana sontak mendongak. Kali ini ia tak mau mengalah lagi. “Kamu ada main sama tunanganku atau nggak cuma kamu sama Marcel yang tahu.”

“Ri, saya berani jamin antara Marcel dan Nita bersih. Adik kamu itu udah saya anggap kayak anak sendiri. Marcel juga suka dan nggak keberatan punya adik cewek yang manis kayak Nita. Iya, kan, Cel?”

Perempuan paruh baya itu menatap Marcel di sisi kirinya. Marcel tersenyum canggung seraya mengusap tengkuk–cara laki-laki itu menyembunyikan kebohongan. Rihana mengenal Marcel sejak bangku kuliah. Laki-laki ini akan mengusap tengkuk dengan gaya canggung ketika menyimpan kebohongan.

“Tuh, percaya sama Marcel. Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa. Tolong ya, Bu, Nek, yakinkan terus Rihana agar tetap lanjut,” pungkas Nyonya Diana.

Sebelum perempuan itu pergi, ia sempat menyelipkan amplop tebal saat bersalaman dengan Nenek Saidah. “Buat beli lauk sama beras. Uang saku Nita juga sudah saya transfer. Kasihan Nita, dia butuh makanan bergizi untuk mengerjakan skripsi.”

Rihana memalingkan wajah muak. Nenek Saidah menerima uang pelicin itu dengan mata berbinar.

“Mulai sekarang aku bakal berubah, Ri. Kabarin jam pulang kerja kamu biar aku bisa selalu jemput. Oke?” Marcel mengusap puncak kepala Rihana.

Kalimat itu terdengar manis dan penuh janji. Namun, Rihana membaca sikap posesif dari kalimat terakhirnya. Laki-laki itu sedang mengawasi dan menunggu waktu yang tepat mencari celah membalikkan keadaan.

Marcel sedang mencari kesalahan Rihana lewat laki-laki yang mengantarnya sampai depan rumah kemarin–Bara.

Rihana mengetatkan rahang, meremas dua sisi kemeja oversize-nya semakin erat. Ada deru napas emosi yang ia tahan sejak kedatangan Marcel bersama Nyonya Diana hari ini.

Usai laki-laki itu pergi bersama maminya, Rihana berniat mengurung diri di kamar. Berharap hari cepat pagi dan meminta Bara segera menjaga jarak. Ia sama sekali tak ingin sahabatnya terlibat dalam masalah hidupnya yang rumit.

“Siapa laki-laki itu?”

Suara Nenek Saidah menghentikan langkah Rihana di anak tangga pertama menuju kamar. Rihana mengembuskan napas panjang. Ia berbalik menatap lelah pada sang Nenek.

“Duduk!” pinta Nenek Saidah. Dagunya mengedik ke arah kursi di ruang makan.

Dengan sikap enggan, Rihana terpaksa turun dan menarik kursi. Ibu bersegera mengambilkan teh tubruk yang sudah diseduh air panas lagi untuk Nenek Saidah. Perempuan itu–ibunya–sebenarnya teramat sering diperlakukan buruk oleh Nenek Saidah. Alih-alih terlihat seperti menantu, Ibu malah terkesan seperti pembantu dan mesin pencetak uang melalui bisnis jualan kudapan di pasar.

Bahkan Rihana tahu betul pernikahan kedua ibunya disusun oleh ibu mertuanya–Nenek Saidah–sendiri. Bersama suaminya yang kedua–Rudi–lahirlah Nita. Ibu adalah yatim piatu–sebuah alasan yang membuatnya tetap mau bertahan di rumah ini demi bertahan hidup.

“Apa kurangnya Marcel? Dia tampan, mapan, dari keluarga terpandang. Kenapa kamu masih cari laki-laki lain di luar, hah? Jangan bikin malu kamu, Ri!” Nenek Saidah berbicara sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja berlapis kaca dengan geram.

Rihana menghela napas panjang, berusaha menghimpun keberanian bicara.

“Nenek percaya aku sehina itu? Lalu, gimana sama Marcel? Nenek udah tanya gimana dia bersikap selama ini ke aku? Apa Nenek pura-pura buta dengan hubungan Marcel sama Nita … cucu kesayangan Nenek itu?”

Rihana menekan kata ‘cucu kesayangan’ demi mempertegas bagaimana cara Nenek Saidah pilih kasih selama ini.

“Rihana … kok, kamu gitu sama Nenek?” Ibu mulai takut ada pertengkaran yang siap meledak di meja makan.

“Tahu nih Mbak Riri makin ke sini makin mojokin aku mulu. Jangan beralih konteks, dong, Mbak. Semua orang lagi berusaha menyelamatkan pertunangan kamu sama Kak Marcel.” Nita yang baru saja masuk ke ruang makan mulai ikut menyulut bara api di benak Rihana.

“Stop! Jawab dulu pertanyaan Nenek. Siapa laki-laki itu, Ri?”

“Bara Kalingga,” jawab Rihana tegas seraya memejam putus aja.

Ia sudah tak ada tenaga lagi untuk meluruskan segala duduk perkara ini.

“Kalingga? Anaknya Bu Maira yang dulu tinggal di depan rumah kita itu, Ri?” Ibu tampak terkejut.

Pasalnya dulu sewaktu Rihana masih kanak-kanak, Ibu kerap menitipkan Rihana ke rumah Bu Maira saat sedang kerepotan berjualan di pasar.

Nenek Saidah membeku sejenak. Tatapannya berubah keruh. “Putuskan hubunganmu dengannya, Ri!”

“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Bara, Nek.”

Ya, setidaknya sebelum malam rahasia yang mereka lalui bersama, keduanya tak ada hubungan spesial kecuali rekan kerja.

“Jauhi dia kalau begitu! Dia itu anak haram keluarga Kalingga, Ri! Anak tidak sah!”

Satu fakta itu membuat sekujur tubuh Rihana kaku. Potongan-potongan kecil ingatan Rihana bermunculan. Ia ingat bagaimana pertengkaran hebat keluarga Kalingga di rumah seberang jalan sana. Ingat Bara yang sesenggukan memeluk kaki papanya yang pergi begitu saja, tapi gagal mempertahankan sang papa untuk tetap tinggal. Rihana juga ingat Tante Maira yang kemudian memeluk erat Bara, membawa masuk ke dalam rumah bersama tangis yang kian pecah.

Semua keributan itu menjadi gambaran pilu kehidupan Bara–sahabat masa kecil Rihana. Hari mendung sebelum Bara pergi meletakkan sebungkus permen manis stroberi di telapak tangan Rihana.

“Sampai jumpa lagi, Ri!” Hanya itu kalimat pamit dari Bara.

Dan Rihana dengan polosnya tersenyum menerima kudapan manis itu dan berteriak sambil melambai ke arah mobil yang membawa Bara bersama ibunya pergi.

“Hati-hati di jalan, Bara!”

Ada yang terasa mencelos di dada Rihana. Napasnya mendadak sesak. Seharusnya masa lalu itu bukan urusannya. Namun, sejak kedekatan itu terjalin usai malam rahasia itu, entah mengapa masa lalu menyakitkan Bara ikut serta melukai hatinya.

“Jauhi dia, Ri! Camkan kata-kata Nenek ini!” kata Nenek Saidah lebih tegas sebelum beringsut berlalu meninggalkan Rihana yang mematung.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Arcelia V
Kak .. ceritanya seruuu
goodnovel comment avatar
Ardhya Rahma
wow plot twist ini.
goodnovel comment avatar
Dwisur Penulis
yah, dikunci ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Rahasia Satu Malam   Bab 42. Runtuhnya Topeng Mertua

    Pintu kamar rawat itu terbuka dengan dorongan kasar.​Nenek Saidah melangkah masuk dengan dagu terangkat, memancarkan aura permusuhan yang pekat. Di belakangnya, Nita mengekor dengan wajah dingin, matanya menatap nyalang seolah siap mendeklarasikan perang terbuka.​“Sungguh kelakuan kalian benar-benar tidak adil dan memalukan, Ranti!” gertak Nenek Saidah tajam, langsung menyasar menantunya yang masih memeluk erat Rihana di pembaringan.​Ranti sontak melonggarkan pelukannya. Ia menoleh dengan kening berkerut dalam, menatap tak percaya pada ibu mertuanya dan anak bungsunya yang kedatangannya sama sekali tidak diharapkan di tengah momen rapuh ini.​“Ada apa ini? Rihana masih dalam masa pemulihan. Tolong jangan membuat keributan di sini,” suara Ranti tercekat, berusaha menahan sisa-sisa getar air mata di tenggorokannya.Rihana yang sadar akan reaksi nyalang sang nenek spontan merangkul erat lengan ibunya. Berharap untuk saat ini situasi sedikit lebih tenang dan terkendali.​“Ada apa, kamu

  • Rahasia Satu Malam   Bab 41. Bukan Perempuan Cacat

    ​“Kalau aku bakalan susah punya anak gimana, Bar?”​Satu pertanyaan rapuh itu membuat Bara menghela napas panjang sebelum ia menyunggingkan senyuman simpul yang menenangkan.​“Aku mau sama kamu dengan atau tanpa anak, Ri. Kalau memang jalannya nggak bisa, ada kamu aja buat aku udah lebih dari cukup,” tutur Bara lembut seraya menyeka pelan telapak kaki Rihana yang terjulur hampir menyentuh lantai dengan handuk kecil basah.​Kalimat sederhana penuh ketulusan itu berhasil menyalurkan kehangatan langsung ke dalam dada Rihana, membuatnya tersenyum tipis meski matanya masih menyisakan sisa lelah.​Laki-laki itu lantas bangkit untuk mengembalikan kain basah tersebut ke kamar mandi sekaligus mencuci tangannya.​Perempuan yang sedang terduduk bersandar di ranjang pasien itu sebenarnya sudah terbangun sejak pukul delapan pagi. Ia sempat terdiam cukup lama saat dokter spesialis datang mengontrol kondisinya sembari memberikan penjelasan medis pasca-tindakan. Meski dokter mengatakan semuanya berja

  • Rahasia Satu Malam   Bab 40. Pilihan Keji Nita

    Nita bergerak mundur secara perlahan. Gadis berkaus jingga itu memilih bungkam dengan dada yang berdegup kencang tak beraturan. Ia sama sekali tidak menyangka surat medis rahasia itu bisa sampai begitu cepat ke tangan sang ibu.​“Kamu benar-benar menggugurkannya? Jawab Ibu, Nita!” desak Ranti dengan suara bergetar yang sarat akan tekanan emosi luar biasa. “Jawab Ibu, Nita!” bentaknya penuh amarah.​Satu bentakan keras itu membuat Nita terperanjat kaget. Pertahanan dirinya runtuh, digantikan oleh sikap defensif yang buruk. Ia spontan menggeleng kuat-kuat.“I-ini hidupku! Aku … sudah dewasa, Bu! Ibu nggak perlu ikut campur urusanku!”​“Tapi aku ibumu, Nit! Ibu yang melahirkanmu! Ibu berhak meluruskanmu saat kamu berjalan di jalur yang salah!” Mata Ranti membelalak merah, menatap tajam penuh kecewa.​“Nggak!” Putri bungsunya itu menghimpun sisa-sisa keberanian semu. Kertas keterangan medis di tangannya diremas kuat hingga beringsut kusut tak berbentuk. “Aku punya hak penuh mengatur jalan

  • Rahasia Satu Malam   Bab 39. Dua Rahasia Putri Ranti

    Test-pack bergaris dua itu tergeletak tenang di atas permukaan meja kantin.​Ranti masih tertegun, menatap lekat pada benda kecil di hadapannya dengan perasaan yang berkecamuk tak keruan. Sementara itu, Maira duduk diam di seberangnya, sabar menunggu reaksi dari wanita paruh baya itu.​Keduanya duduk berdua di sudut kantin rumah sakit menjelang subuh. Sepanjang malam tadi, baik Bara, Maira, maupun Ranti tak ada yang sanggup memejamkan mata walau sedetik pun. Mereka dihantui rasa cemas yang teramat sangat saat tim medis berjuang di dalam ruang operasi demi menyelamatkan nyawa Rihana yang kehilangan banyak darah.​Beruntung, di saat-saat kritis malam itu, Maira dengan sukarela menawarkan diri menjadi pendonor darah darurat setelah mengetahui golongan darah mereka sama persis. Nyawa putri sulung Ranti berhasil diselamatkan karenanya.​Ketegangan yang mencengkeram dada mereka perlahan memudar, berganti menjadi air mata haru serta kelegaan yang luar biasa. Melihat wajah Ranti yang masih sa

  • Rahasia Satu Malam   Bab 38. Hadir di Tempat yang Salah

    Rihana hamil enam minggu. ​Sebuah kenyataan pahit yang menampar keras mental seorang ibu. Ranti terpekur dalam di dalam ruang dokter. Relung hatinya berusaha keras menyangkal kenyataan itu. Bagaimana mungkin putri sulungnya sudah dinyatakan hamil enam minggu, sementara usia pernikahannya dengan Bara baru berjalan belum ada seminggu? ​Lalu, dugaan lain yang mengerikan mendadak membuat Ranti semakin tegang. Apa mungkin … anak yang dikandung Rihana itu adalah anak Marcel? ​Bara terlalu baik jika harus dijadikan tersangka atas perbuatan sejauh itu. Sikap laki-laki itu yang ramah, sopan, penyayang, serta teramat menghargai kehormatan wanita, sangat bertolak belakang dengan tragedi kehamilan di luar nikah ini. ​Namun, diamnya Bara dan sikapnya yang terlalu protektif belakangan ini membuat Ranti berasumsi lain lagi. Melihat kondisi hubungan Rihana dan Marcel yang hancur, serta kedekatan putri sulungnya dengan Bara selama ini, tak menutup kemungkinan laki-laki yang menghamili Rihana me

  • Rahasia Satu Malam   Bab 37. Cairan Merah di Teras Ruko

    “Serius, Ibu lama-lama makin khawatir. Kamu pucat, lho, Ri. Kamu nggak lagi sakit, kan?”Ranti meninggalkan meja kasir, menghampiri Rihana yang baru saja kembali melayani pesanan pelanggan.“Iya, Bu. Rihana bandel banget dibilang diantar ke dokter nggak mau terus.” Bara yang sibuk menggunting flyer promosi buatannya sedikit emosi.Ini hari kedua kondisi Rihana tak kunjung membaik. Nyeri itu masih hilang timbul dan perempuan itu bertahan dengan meminum obat pereda nyeri.Rihana mengibaskan tangan sambil tersenyum simpul. “Nggak papa. Nggak usah cemas begitu. Aku baru aja mens hari pertama, kok, ini. Makanya lemes gini.”Subuh tadi, Rihana menemukan flek kecokelatan di pakaian dalamnya. Namun, nyeri itu semakin intens dan ia berasumsi mungkin hanya nyeri haid biasa.“Ibu buatkan minuman hangat, ya? Duduk aja dulu mumpung pelanggan belum datang lagi. Atau mau pulang aja? Masalah ruko biar Ibu handle. Kalian nggak usah cemas.”“Ih, Ibu … ini weekend! Ruko lagi rame. Entar Ibu kewalahan se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status