Se connecter
Angin pagi yang dingin menyeruak dari pegunungan, membungkus gerbang besi tempa Moels International School yang megah. Di sinilah, di jantung salah satu institusi pendidikan paling elit dan berkelas di Asia Tenggara, Kella memulai penyamarannya. Kella, yang baru berusia tujuh belas tahun, bergerak di antara mobil-mobil mewah berharga fantastis seolah ia adalah bayangan yang tak diinginkan. Ia sengaja menanggalkan semua atribut kecantikannya, kecerdasan mata dan postur elegan, dan menggantinya dengan paket ‘siswa paling cupu yang pernah ada’.
Rambut hitam pekatnya dibiarkan jatuh dalam dua kepang kaku yang dipadukan dengan kemeja seragam kebesaran berwarna krem yang lusuh, menutupi lekuk tubuhnya. Namun, fokus utama dari penyamarannya terletak pada kacamata berbingkai asetat tebal berwarna merah tua yang menutupi sepertiga wajahnya, memberikan kesan mata yang kecil dan pandangan yang canggung.
Setiap langkah Kella di atas jalur marmer mengilat menuju lobi sekolah terasa disengaja, sebuah akting yang harus sempurna. Moels adalah titik nol pencariannya. Sepuluh tahun yang lalu, ibunya ditemukan tewas, dan laporan resmi kepolisian menutup kasus itu dengan klaim sederhana: bunuh diri. Kella tahu itu kebohongan. Ibunya, ilmuwan brilian yang selalu memandang hidup dengan optimisme tiada batas, tidak akan pernah menyerah. Ia ada di Moels bukan untuk belajar, melainkan untuk membongkar fondasi kebohongan yang telah merenggut kebahagiaannya.
"Minggir, kamu menghalangi jalan," suara bernada tinggi dengan aksen Inggris yang berlebihan menyentak Kella.
Kella bergeser sedikit, menundukkan pandangannya. Di sekitarnya, para siswa Moels. Putra-putri para menteri, duta besar, dan taipan menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu yang singkat dan jijik yang mendalam. Mereka adalah bagian dari ekosistem kekuasaan yang mungkin saja melindungi pembunuh Ibunya. Ia harus menjadi objek yang tidak patut diwaspadai.
Kacamata tebal itu, ironisnya, adalah satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan kecerdasan superior Ibunya. Itu adalah Future-Sight (FS) Lens, sebuah teknologi prototipe yang dikembangkan Ibunya. Bukan sekadar lensa korektif, kacamata ini adalah antarmuka digital canggih, senjata pertahanan dan serangan bagi Kella.
Kella menyentuh bingkai kacamata secara halus, sebuah gerakan yang mengaktifkan mode scanning biometrik dan intelijen lingkungan tingkat rendah. Seketika, pandangannya dipenuhi dengan lapisan data yang tak terlihat oleh mata telanjang:
[ANALISIS LINGKUNGAN MOELS]: Kepadatan Pengawasan: Tinggi. Total Kamera Tersembunyi: 147 Unit. Titik Akses Wifi Tidak Aman: 4. Pelajar dengan Akses Keamanan Level-B: 43% .
Kella memproses data tersebut dalam hitungan milidetik. Ia harus sangat berhati-hati.
Tiba-tiba, sentuhan jarinya mengaktifkan memori yang disimpan dalam chip kacamata itu, memunculkan kilasan masa lalu yang cepat:
[RECALL MEMORY: 10 TAHUN LALU]
“...Kella, kacamata ini adalah matamu. Warisan kita. Hanya kamu yang bisa melihat kebenaran,” bisik Ibunya, suaranya tercekat karena ketakutan yang tersembunyi. Ibunya memasangkan kacamata itu ke wajah Kella yang kecil. “Jangan pernah lepaskan. Lihatlah, Nak, lihatlah masa depan yang mereka coba sembunyikan.”
Kella menarik napas panjang. Ia harus membalas kepercayaan itu.
Pagi yang tegang di Moels hanyalah kelanjutan dari drama yang ia alami di rumah. Ayahnya, pewaris bisnis besar yang kini bersikap dingin dan kejam, adalah bagian tersulit dari akting ini. "Kau yakin akan mengenakan itu, Kella?" suara Ayahnya terdengar datar, nyaris tak bernada. Ia duduk di ujung meja makan besar mereka. "Kau tampak seperti badut dari sirkus yang gulung tikar."
Kella menunduk dalam-dalam, membuat kepangnya semakin tampak lusuh. "Maaf, Ayah. Kella tidak punya yang lain."
"Tentu saja dia tidak punya, Sayang," Ibu Tiri Kella, Miranda, menyahut dengan suara yang terdengar meremehkan, namun ada nada tertekan yang tersembunyi. "Anak sepertinya tidak tahu apa itu selera. Kuharap kau tidak membuat malu nama keluarga di Moels, Kella. Kau tahu bagaimana Ayahmu membenci ketidaksempurnaan."
Kacamata Kella berkedip. Dalam sekejap pandangan, teks digital merah muncul: WARNING: EMOTIONAL SUPPRESSION EXTREME. Kella melihat Ayahnya menyentuh cincin di jarinya, sebuah kebiasaan lama yang ia lakukan saat sedang sangat sedih.
Kella tahu, Ayahnya tidak membencinya. Perlakuan kejam dan dingin ini adalah tameng. Ayahnya sedang melindunginya dari bahaya tak terlihat, bahaya yang mungkin telah menghapus Ibunya dari dunia ini. Dan Miranda, Ibu Tirinya yang selalu tampil jahat, juga memainkan peran dalam sandiwara ini, sebuah fakta yang Kella ketahui, walau ia belum sepenuhnya mengerti.
"Aku akan kembali nanti sore, Ayah," ujar Kella lirih, sebelum segera berbalik dan meninggalkan rumah besar itu.
…
Begitu Kella melangkah masuk ke aula utama Moels, ia merasakan sebuah tatapan yang berbeda itu bukan jijik, melainkan rasa ingin tahu yang tajam. Di tengah kerumunan yang mengaguminya, berdiri seorang pemuda tampan dengan rambut cokelat muda dan senyum sombong yang terkenal di seluruh sekolah. Dia adalah Azzam, siswa paling populer, cerdas, dan, sayangnya bagi Kella, paling tampan. Azzam menyilangkan tangan, menyandarkan bahu ke dinding marmer, dan mengamati Kella dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi heran. Ia mendekat, diikuti oleh dua orang temannya.
"Hei, Nona Kepang Dua," sapa Azzam, suaranya rendah dan sinis, "kau yakin tidak salah masuk? Kami tidak mengadakan acara kostum tahun ini."
Kella mengatupkan rahang, mempertahankan persona 'cupu' yang gugup "A-Aku siswa baru. Kella."
Azzam memiringkan kepalanya, matanya menyipit ke arah kacamata tebal itu. "Kau mengenakan kacamata yang bahkan Paman Buta kami tidak akan sudi memakainya. Menarik." Ia berbisik pada temannya, "Kau lihat, dia pasti menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin orang sekolahan kita se-'eksentrik' ini."
[FS TERSULUT: WARN LEVEL 3 – AZZAM]
Tiba-tiba, kacamata Kella memancarkan kilasan samar, lebih kuat dari sebelumnya.
Kilasan masa depan yang sangat cepat:
Azzam, di tengah malam, melindungi Kella dari sekelompok pria berseragam gelap. Azzam menatap Kella dengan keputusasaan yang mendalam. Lalu, kilasan itu menghilang, digantikan oleh bayangan pernikahan mereka yang tertutup salju.
Kella membeku, jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, tetapi karena kebingungan emosional. "Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Azzam, sedikit bingung karena kebisuan Kella.
Kella menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Maaf. K-kaca mataku kotor," dustanya, segera menjauh, membawa rahasia besarnya dan pandangan masa depan yang rumit itu bersamanya. Pencarian Kella baru saja dimulai, dan ia sudah menemukan intrik, musuh palsu, dan, yang paling berbahaya, cinta sejati yang terbungkus dalam bahaya besar.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.







