Beranda / Fantasi / Rahasia Si Gadis Cupu / Kedatangan di Sekolah Baru

Share

Rahasia Si Gadis Cupu
Rahasia Si Gadis Cupu
Penulis: Ayakshara_senja

Kedatangan di Sekolah Baru

Penulis: Ayakshara_senja
last update Terakhir Diperbarui: 2021-07-16 22:26:14

Lantai marmer SMA Moels Internasional tidak sekadar bersih, ia berkilau layaknya cermin perak di bawah guyuran cahaya lampu gantung kristal Swarovski yang menggantung megah di langit-langit koridor. Aroma parfum niche yang mahal dan udara dingin dari AC sentral memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada sebuah institusi pendidikan.

Di luar gerbang besi tempa yang menjulang, deretan mobil sport dan sedan mewah berbaris rapi, menurunkan para pewaris tahta bisnis yang mengenakan seragam pesanan khusus dengan jahitan sempurna. Namun, di tengah hiruk-pikuk kemewahan itu, sebuah anomali muncul.

Seorang gadis melangkah dengan kepala tertunduk dalam, seolah sedang menghitung tiap pola pada ubin yang ia injak. “Satu, dua, tiga..” ia menghitung tiap pola ubin dengan wajahnya yang datar. Kella gadis itu, Penampilannya adalah sebuah paradoks yang menyakitkan mata bagi para penghuni Moels.

Rambutnya, hitam lebat diikat dengan gaya kepang dua yang sangat kaku, mengingatkan orang pada potret siswi teladan tahun 80-an yang membosankan. Bingkai hitam tebal yang bertengger di hidungnya menyembunyikan sepasang mata yang sebenarnya setajam elang (Kacamata). Ia sengaja memilih ukuran dua tingkat lebih besar, membuat tubuh rampingnya tenggelam dalam lipatan kain yang kedodoran dan kusam.

Deskripsi yang membuat seluruh mata Moels mengarah pada anomali tersebut, Kella. Mereka bersuara kecil mengejek Kella yang sedang melewati siswa-siswi itu, "Lihat itu, ada spesies langka yang tersesat masuk ke Moels," bisik seorang siswi berambut pirang sambil menutup mulut dengan tas Hermès edisi terbatas. Tawanya meledak kecil, memancing perhatian siswa lain di deretan loker emas. "Apa sekolah kita sekarang mulai menerima jalur donasi panti asuhan?" tawa kecil siswi tersebut.

Kella tidak bereaksi. Ia terus berjalan, membiarkan cibiran itu menguap di udara seperti asap. Jemari tangannya yang sedikit gemetar menyentuh gagang kacamatanya yang terasa dingin, sebuah benda yang ia sebut sebagai 'Aegis'.

Kacamata ini bukan sekadar alat bantu medis. Ini adalah mahakarya terakhir ibunya, Sarah Vorren. Seorang ilmuwan jenius yang sepuluh tahun lalu dinyatakan bunuh diri secara tragis. Sebuah vonis kepolisian yang bagi Kella adalah kebohongan paling busuk yang pernah diciptakan manusia.

Kaki Kella berhenti, kacamata itu berbunyi.

Ting.

Sebuah titik cahaya biru neon berkedip halus di sudut kanan lensa, tepat di atas retina mata Kella. Detik itu juga, realita di sekitarnya seolah melambat.

[SISTEM AKTIF: PREDIKSI MASA DEPAN — 10 DETIK]

Dalam hologram yang sekilas itu tampak terlihat seorang siswa laki-laki berlari terburu-buru dari balik tikungan koridor sambil membawa segelas besar Americano panas. Sepatu kulit mengkilapnya akan menginjak sisa air pembersihan lantai yang belum kering sempurna. Lalu tiba-tiba Gelas kopi itu akan meluncur deras, menyiram dada Kella hingga basah kuyup.

Kilasan hologram itu membuat Kella terdiam sejenak, ia tersenyum kecil yang samar. “Membosankan,” lirihnya. Kella kembali ke realita sepenuhnya. Ia mulai menghitung mundur dalam hati dengan ketenangan seorang profesional.

Tiga... dua... satu.

Tepat di detik nol, siswa laki-laki itu muncul dari tikungan, persis seperti dalam kacamatanya. Saat kaki siswa itu mulai tergelincir, Kella menggeser langkahnya ke kiri sejauh dua puluh sentimeter dengan gerakan yang sangat halus, seolah ia hanya sedang menghindari sebuah noda di lantai.

BYUR!

Cairan cokelat pekat yang mengepulkan uap panas mendarat tragis di lantai marmer, menciptakan bercak besar tepat di posisi Kella berdiri satu detik yang lalu. Siswa itu jatuh terjungkal, mengaduh kesakitan sementara kopinya membasahi ubin yang berkilau.

Kella tidak berhenti. Ia tidak menoleh sedikit pun untuk sekadar memastikan keadaan siswa itu. Ia terus melangkah datar seolah semua itu hanyalah kebetulan semata.

Tanpa Kella sadari, di balkon lantai dua, seorang pemuda berdiri menyandarkan tubuhnya pada pagar besi yang elegan. Azzam. Dengan seragam yang rapi namun sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, ia memperhatikan setiap gerak-gerik Kella dari ketinggian.

Azzam menyipitkan matanya yang tajam. Sebagai seseorang yang terbiasa membaca pola dan kebohongan manusia, ia menangkap sesuatu yang tidak masuk akal.

"Kau lihat itu, Revan?" tanya Azzam tanpa menoleh pada sahabatnya yang sibuk dengan ponsel.

"Lihat apa? Si Cupu yang hampir kena kopi?" jawab Revan acuh tak acuh.

"Bukan hampir," gumam Azzam, bibirnya membentuk seringai tipis yang penuh teka-teki. "Gadis itu tidak menghindar karena terkejut. Dia menghindar seolah-olah dia sudah bosan menunggu kopi itu jatuh."

Azzam menarik tubuhnya tegak, matanya tidak lepas dari punggung Kella yang perlahan menghilang di balik pintu perpustakaan.

"Menarik," bisik Azzam. "Mari kita lihat, seberapa dalam kau menyembunyikan dirimu di balik kacamata bodoh itu, Kella."

***

Jam istirahat telah berdering panjang, siswa dan siswi Moels mulai berhamburan keluar ruang kelas. Mereka pergi ke kantin, lapangan, dan ada juga yang sekedar duduk di depan area kelas. Kella yang termasuk murid baru dia memandang ke sekelilingnya dengan wajah seperti kebingungan.

“Hai, kamu murid baru itu kan?” tepuk lengan Kella, sehingga tubuh gadis ini seketika terkejut. “Iya?” jawab Kella.

“Aku Aletta, panggil saja Ale” Gadis berambut panjang sedada, dengan gaya feminimnya mengulurkan tangan kepada Kella.

“Kella,” balasnya datar sembari menjabat tangan Ale.

“Ke perpus?” Kella hanya mengangguk sebagai jawabanya, Ale tampak senang dengan murid baru yang bisa ia jadikan teman, tidak hanya itu Ale juga merangkul lengan Kella sembari tersenyum lebar.

{Perpustakaan Moels}.

Perpustakaan SMA Moels International lebih menyerupai katedral ilmu pengetahuan daripada sekadar ruang baca. Rak-rak kayu mahoni setinggi lima meter berjajar rapi, menampung ribuan jilid buku yang aroma kertas tuanya bercampur dengan wangi lilin aromatik sandalwood. Di sini, keheningan adalah hukum tertinggi.

Kella melangkah menuju sudut paling belakang, area di mana arsip-arsip lama sekolah disimpan. Ia membutuhkan data tahun 2016. Ia perlu tahu siapa saja orang-orang yang berada di laboratorium pada malam ibunya mengembuskan napas terakhir.

Saat jemarinya menyentuh punggung buku bertajuk ‘Laporan Tahunan Yayasan Moels 2016’, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi meja di depannya.

"Biasanya, siswi sepertimu akan pergi ke kantin untuk mencari perlindungan, bukan ke gudang debu seperti ini," suara bariton itu memecah kesunyian dengan nada yang sangat tenang, namun mengintimidasi.

Kella tersentak kecil. Sebuah reaksi yang sengaja ia buat agar terlihat seperti gadis lemah yang mudah terkejut. Ia membetulkan letak kacamata tebalnya dan menunduk dalam saat melihat sepatu pantofel mengkilap milik Azzam berada di hadapannya.

"Aku hanya membaca," cicit Kella, langkahnya seketika terhenti.

Azzam tidak bergeming. Ia melangkah maju satu langkah, memaksa Kella mundur hingga punggungnya menyentuh rak buku yang dingin. Azzam menundukkan kepalanya, menyamai tinggi wajah Kella hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napasnya.

"Refleksmu di koridor tadi... itu bukan refleks orang yang memakai kacamata setebal pantat botol," bisik Azzam tajam. Matanya yang berwarna cokelat gelap seolah mencoba menembus lensa hitam Kella. "Siapa kau sebenarnya? Tidak ada orang yang masuk ke Moels tanpa membawa rahasia besar."

Kella meremas ujung seragamnya yang kebesaran. Di balik lensa Aegis, sebuah antarmuka digital sedang memindai detak jantung Azzam. Status: Curiga. Tingkat Ketertarikan: Tinggi.

"Saya hanya Kella, Kak. Siswi beasiswa yang beruntung," jawab Kella datar, tetap mempertahankan pandangannya pada lantai. "Tolong, biarkan saya lewat." Azzam baru saja akan membalas, namun dia menangkis lengan Azzam yang lumayan kekar. Kella bergegas pergi, ia behenti sejenak di tengah keheningan keduanya dengan jarak sedikit menjauh. Ia menoleh ke Azzam sejenak, “Berbahaya,” lirih Kella.

Ting.

[SISTEM AKTIF: PREDIKSI MASA DEPAN — 5 DETIK]

Dalam hologram kacamatanya, Kella melihat rak buku di sisi kanan Azzam goyah. Sebuah vas bunga porselen berat yang diletakkan di atas rak paling atas akan jatuh karena getaran dari renovasi di lantai atas, dan vas itu akan mendarat tepat di kepala Azzam.

Kella tahu, jika ia membiarkan ini terjadi, Azzam akan terluka parah. Namun, jika ia menolongnya, identitasnya akan semakin terancam.

‘Ck, jika Aku membantunya semua akan ketahuan, apa ya’ pikirnya dengan arah mata yang melihat sekitar jika ada sesuatu yang dapat membuatnya ketahuan.

Dua detik.

“Ck,” Kella segera berbalik ke tempat Azzam.

"Kak, awas!"

Tanpa berpikir panjang, Kella menjatuhkan tumpukan buku di tangannya dan menarik kerah seragam Azzam dengan kuat ke arahnya. Tenaga Kella jauh lebih besar dari yang terlihat. Azzam yang tidak siap kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Kella, mengunci gadis itu di antara tubuhnya dan rak buku.

PRANG!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Tantangan Kella

    "Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Bertemu Dengannya Lagi

    “Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Surat Petunjuk

    Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Di antara Aku, Kamu!

    Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Pasar Malam yang Menyeramkan

    Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Kehebohan Sesaat

    Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status