LOGINVas porselen itu hancur berkeping-keping tepat di posisi Azzam berdiri sedetik yang lalu. Serpihannya berhamburan, beberapa helai rambut Azzam bahkan terkena debu porselen tersebut.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka. Azzam membeku. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Kella. Untuk pertama kalinya, dari jarak sedekat ini, Azzam melihat sesuatu yang janggal pada kacamata Kella. Ada pendaran cahaya biru samar yang bergerak-gerak di balik lensa gelap itu.
Azzam bisa merasakan detak jantung Kella yang tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan hampir maut.
"Kau..." Azzam berbisik, suaranya kini terdengar serak. "Bagaimana kau tahu vas itu akan jatuh? Tidak ada suara, tidak ada peringatan."
Kella segera mendorong dada Azzam dengan sisa kekuatannya, mencoba memulihkan jarak. Ia kembali menundukkan kepala, menyembunyikan matanya. "Hanya... hanya insting, Kak. Saya mendengar suara retakan." Ucapnya dengan sedikit gugup, namun wajah tetap datar tanpa ada unsur mencurigakan.
"Pembohong," geram Azzam, namun kali ini ada nada kekaguman yang terselip dalam kebenciannya pada kepalsuan Kella.
Azzam berdiri tegak, merapikan seragamnya yang sedikit kusut. Ia menatap Kella yang sedang memunguti bukunya dengan terburu-buru.
"Kau boleh bersembunyi hari ini, Gadis Cupu. Tapi ingat satu hal," Azzam menjeda kalimatnya saat ia berbalik pergi. "Di Moels, dinding pun punya telinga, dan aku adalah pemilik pendengaran terbaik di sini. Buku itu-"
Kella terpaku. Azzam melihat buku yang ingin ia ambil. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Permainan ini baru saja dimulai, dan ia sudah berhadapan dengan lawan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar perundung di sekolah.
“Ah sudahlah,” Azzam segera mengambil buku yang ia bawa tadi, lalu pergi meninggalkan Kella yang masih mengeratkan bukunya di antara buku-buku yang jatuh tadi.
Kella berhenti sejenak setelah semua kejadian tadi, apalagi mendengar perkataan Laki-laki tadi yang membuatnya semakin cemas jika ketahuan penyamarannya.
“Seharusnya Aku tidak membantunya, dasar bre****!!” gerutu Kella dengan terpaksa membereskan semua kekacauan itu sendiri.
“Kella!” panggil Ale dengan menepuk pundak Kella.
Kella meringis sakit dengan samar, “Bisa tidak kamu jangan mengagetkan ku, Ale?” tatapan tajamnya dengan senyum samar yang memaksa.
“Hehe, maaf Kel, lagian kamu dipanggil dari tadi nggak nyaut sih, ya sudah aku tepuk aja,” balas Ale dengan wajahnya yang kecil itu, dengan mulut yang manyun juga.
“Kamu, minjam buku apa Kel? Coba Aku mau lihat!” Tangan Ale akan segera meraih buku itu, tetapi Kella segera mencegatnya. “Ale yang baik tidak perlu tau, ya” tuturnya. Ale segera mendengus seperti anak kecil, “Kalo nggak boleh ya sudah, kantin yuk!” ajaknya.
Kella mengangguk, iya.
***
Sepulang sekolah, {Mansion, Amersoln}.
Jika SMA Moels International adalah istana kaca, maka kediaman keluarga Amersoln adalah peti mati yang terbuat dari perak. Rumah megah bergaya kolonial modern itu berdiri angkuh di kawasan elit Jakarta, namun bagi Kella, setiap inci marmer di dalamnya terasa seperti es yang membekukan kakinya.
Begitu Kella melangkah masuk melewati pintu kayu jati yang menjulang, aroma hio dan pembersih lantai yang menyengat menyambutnya. Keheningan rumah itu segera pecah oleh suara langkah kaki yang menuruni tangga melingkar.
"Wah, lihat siapa yang pulang. Si Gadis Sampah dari sekolah elit," suara melengking itu milik Sherly Amersoln, saudara tiri Kella yang selalu tampil sempurna dengan balutan gaun tidur sutra bermerek.
Sherly berdiri di anak tangga terakhir, melipat tangan di dada sambil memandang Kella dari bawah ke atas dengan tatapan menjijikkan. "Ku dengar kau hampir mencelakai Kak Azzam di perpustakaan tadi? Beraninya kau mendekati Pangeran Moels dengan tampang seperti pelayan begitu!"
Kella tidak mendongak. Ia tetap pada perannya yaitu gadis dingin yang tidak punya harga diri. "Itu hanya kecelakaan, Sherly." Balas Kella dengan dingin.
"Jangan panggil namaku dengan mulut kotor itu!" Sherly maju, tangannya bergerak cepat hendak menampar wajah Kella.
Ting.
[SISTEM AKTIF: PREDIKSI MASA DEPAN — 3 DETIK]
Dalam penglihatan Kella, tangan Sherly akan mengenai pipi kirinya. Kella memiliki pilihan: menghindar atau menerima. Jika ia menghindar, sandiwaranya terancam. Jika ia menerima, ia akan terluka.
Kella memilih opsi ketiga. Ia sedikit memiringkan kepala di detik terakhir sehingga tamparan Sherly hanya mengenai bingkai kacamatanya hingga terjatuh ke lantai.
"Ada apa ini? Ribut-ribut di jam makan malam!"
Sesosok wanita cantik dengan gaun merah darah muncul dari ruang makan. Maudy Terrasa Amersoln, ibu tiri Kella. Ia menatap kacamata Kella yang tergeletak di lantai, lalu menatap Kella dengan mata yang memancarkan kebencian murni atau setidaknya, itulah yang ingin ia perlihatkan.
"Masuk ke ruang makan, Kella. Jangan membuat Ayahmu menunggu," perintah Maudy ketus. Ia kemudian berbalik, namun sebelum benar-benar pergi, matanya sempat menangkap memar kecil di jemari Kella. Siska mengepalkan tangannya di balik gaun, menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu.
Di ujung meja makan panjang, duduk Winson Amersoln, ayah kandung Kella. Wajahnya keras, dengan rahang yang selalu terkatup rapat. Ia tidak pernah menatap mata Kella sejak kematian istrinya sepuluh tahun lalu.
"Duduk," ucap Winson singkat. Suaranya seberat beton.
Kella duduk di kursi paling ujung, paling jauh dari jangkauan mereka. Pelayan menyajikan sup krim jamur di hadapannya.
"Aku mendengar laporan dari sekolah," Winson memulai, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. "Kau mencari arsip tahun 2016. Untuk apa?"
Kella membeku. Sendok di tangannya beradu dengan piring porselen, menciptakan denting yang tajam. "Saya hanya tertarik pada sejarah sekolah, Ayah."
Brak!
Winson menggebrak meja hingga air di gelas-gelas kristal berguncang. "Berhenti membuang waktu dengan masa lalu yang tidak berguna! Ibumu mati karena kesalahannya sendiri! Jika kau terus bertingkah aneh di sekolah dan memalukan namaku, aku tidak akan segan-segan mengeluarkanmu dari rumah ini!"
Maudy segera menimpali dengan nada sinis, "Benar, Kella. Lebih baik kau belajar cara berdandan agar tidak seperti gelandangan. Lihat Sherly, dia adalah kebanggaan keluarga ini, bukan kau." Sherly tersenyum penuh kemenangan, sementara Kella hanya bisa menunduk dalam-dalam.
***
Malam itu, di kamar lotengnya yang sempit dan berdebu kontras dengan kamar Sherly yang luas, Kella memasang kembali kacamatanya. Ia mengaktifkan mode Night Vision dan memindai dokumen yang sempat ia selundupkan dari perpustakaan.
Tiba-tiba, kacamatanya menangkap pergerakan di bawah pintu. Sebuah bayangan. Kella waspada. Ia mendekati pintu dan mengintip melalui celah kecil. Di luar sana, ia melihat Maudy, ibu tirinya, sedang berdiri diam. Namun, Maudy tidak sedang membawa cambuk atau kata-kata makian. Wanita itu meletakkan sebuah kotak kecil berisi salep memar dan sepotong roti lapis yang masih hangat di depan pintu kamar Kella.
Maudy berbisik sangat pelan, hampir seperti desisan angin, "Bertahanlah, Kella... jangan biarkan mereka tahu kau kuat. Maafkan kami."
Kella terpaku. Pikirannya berputar. ‘Maafkan kami? Siapa yang dimaksud Maudy?’
Belum sempat Kella mencerna itu, ia mendengar suara langkah kaki berat mendekat. Itu ayahnya, Winson. Maudy segera mengubah ekspresinya menjadi dingin dan berjalan menjauh. Winson berhenti di depan kamar Kella, menatap pintu kayu itu dengan tatapan yang sangat rapuh, jauh dari sosok monster yang baru saja berteriak di meja makan.
Winson menyentuh gagang pintu, tapi tidak memutarnya. Ia menarik napas panjang, air mata tampak menggenang di sudut matanya yang lelah sebelum ia berbalik dan pergi dengan langkah tegas.
Kella menyandarkan tubuhnya ke pintu. Jantungnya berdegup kencang.
"Ayah... Ibu Maudy..." gumam Kella. "Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku? Apakah kematian Ibu melibatkan kalian... atau kalian justru sedang melindungi aku dari sesuatu yang jauh lebih besar?"
Kella kembali ke mejanya, membuka kacamata Aegis-nya, dan melihat sebuah nama yang tertulis di sudut arsip yang ia temukan hari ini: "Proyek Arthemis - V Group". Mata Kella membelalak. V Group. Itu adalah perusahaan milik keluarga Vaughan.
“Vaughan? Tunggu sebentar,” Kella segera membuka laptop silvernya yang canggih, lalu klik pencarian ‘Pendiri SMA Moels Internasional’. “Benar, Vaughan” ia menyeluruh dan mencari sehingga di salah satu pencariannya tertulis nama ‘Azzam Vaughan, Cucu kedua keluarga Vaughan’.
“Kak Azzam dia bemarga Vaughan?” pikir Kella dengan tanda tanya, ia langsung menutup laptopnya setelah menemukan nama yang membuatnya terkejut.
“Heh, Azzam ya?”
Kella menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang kasar, membiarkan keheningan kamar lotengnya menyerap guncangan informasi yang baru saja ia terima. Nama Vaughan bukan sekadar nama besar; itu adalah nama yang mengendalikan ekonomi separuh negara ini. Jika ibunya terlibat dalam Proyek Arthemis di bawah naungan V Group, maka kematian ibunya bukan lagi sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan penghapusan jejak oleh raksasa.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.







