Mag-log in"Cepat bersihkan, b*d*h! Kau merusak gaun mahal Sherly!" Maudy menghampiri anaknya dengan wajah merah padam, mencoba membantu Sherly berdiri. Namun, lantai yang terlalu licin membuat Maudy sendiri hampir terpeleset jika tidak berpegangan pada pinggiran meja.
Kella mengambil serbet kain di dekatnya, berlutut dengan gerakan lambat yang tampak penuh pengabdian, namun matanya terus memindai. Melalui lensa Aegis, ia melihat noda minyak itu tidak hanya di lantai, tapi sudah meresap ke serat gaun sutra Sherly.
Permanen, batin Kella puas.
"Sudah, Maudy! Biar pelayan yang mengurus ini," suara berat Winson menginterupsi. Sang ayah menatap tajam ke arah lantai, lalu ke arah Sherly yang sedang menangis sesenggukan karena malu.
Winson bukan orang bodoh, dia tahu siapa yang bermain api tapi dia terlalu malas untuk membela Kella. "Sherly, naik ke atas dan ganti bajumu. Kau memalukan."
"Tapi Ayah! Ini salah Kella! Dia menyenggolku!" jerit Sherly tidak terima.
Kella hanya menunduk, meremas serbet dengan tangan yang gemetar dengan akting yang sempurna. "Maaf, Ayah... lantainya memang sangat licin di sekitar kursiku. Aku tidak tahu kenapa ada cairan seperti ini di sini."
Winson mendengus, matanya beralih ke Kella. "Masuk ke kamarmu! Jangan makan malam ini, Aku tidak mau melihat wajahmu yang membawa sial itu!"
"Baik, Ayah."
Kella berbalik, langkahnya mantap namun tetap mempertahankan postur bahu yang lesu. Begitu ia sampai di balik pintu kamarnya, ia langsung menegakkan punggung. Rasa lapar sama sekali tidak mengganggunya. Ia punya simpanan protein di dalam laci rahasianya.
Ia kembali menyalakan Aegis.
"Sistem, simpan rekaman tadi ke folder 'Amersolns'," bisik Kella.
[SISTEM : COMMAND ACCEPTED. FILE SAVED.]
Kella duduk di depan laptopnya. Layar itu kini menampilkan peta digital SMA Moels, khususnya area perpustakaan sayap barat yang sangat tertutup. Ia memperbesar gambar denah yang ia dapatkan dari peretasan server sekolah sore tadi.
"Ada ruangan yang tidak terdaftar di denah resmi," gumamnya. Jarinya menari di atas keyboard, melacak arus listrik gedung tersebut. "Ruang bawah tanah dengan konsumsi listrik setara ruang server utama. Dan aksesnya... tepat di bawah rak buku sejarah keluarga Vaughan."
Kella teringat tatapan Azzam di kantin. Azzam tidak hanya curiga pada kacamatanya, tapi pria itu seolah bisa membaca bahwa Kella bukan sekadar ‘siswi beasiswa’.
"Azzam Arnawama Vaughan," Kella menyebut nama itu dengan nada menantang. "Kalau kau pewaris tunggal, kenapa kau menghabiskan waktu di sekolah biasa daripada mengurus kerajaan bisnismu? Apa yang kau sembunyikan di sekolah itu?"
Kella kemudian membuka sebuah file terenkripsi berjudul 'Project Chimera'. Di dalamnya terdapat foto-foto lama kecelakaan mobil yang menewaskan ibunya sepuluh tahun lalu. Salah satu foto menunjukkan sebuah simbol yang sangat familiar, simbol yang sama dengan yang ia lihat di kancing seragam khusus milik Azzam tadi siang.
“Chimera? Bukannya di perpustakaan kemarin Arthemis, ya?”
File tersebut di dapatkan Kella dari seseorang yang ia bayar untuk mengambil sebuah data secara rahasia di kantor ke polisian, namun itu hanya sebuah salinan foto dan dokumentasi forensik korban.
“Apakah kedua project ini saling berkaitan? Hem...”
Napas Kella sedikit menghela. Mengingat kembali kenangan buruk, dimana Kella mendapat kabar sang Ibu kecelakaan, tanpa selang beberapa menit ekspresi dan nafasnya memburu. Kebetulan adalah sesuatu yang tidak ia percayai.
"Vaughan, Ayah, Ibu Maudy," bisiknya dengan mata yang berkilat tajam.
"Jika mereka terlibat maka harus lakukan rencana tambahan, dan untuk Ayah… Kella gak tahu apakah nantinya akan memaafkan mu Ayah."
“Vaughan, akan Aku mulai dari mu Azzam! Walaupun dengan cara menggelikan karena harus menggoda mu.” Kella mengepalkan tangannya, dan mata memburu.
Ia mengambil lipstik merah tua dari laci, mengoleskannya tipis di bibir, lalu menghapusnya kembali hingga hanya menyisakan rona alami yang menggoda. Ia menatap pantulan dirinya perpaduan antara kecerdasan tajam dan kecantikan yang disembunyikan.
Kella berjalan ke arah cermin, ia berdiri. "Besok, kita lihat seberapa kuat pertahananmu, Azzam."
“Aku cantik, namun jika menggodamu dengan kecantikan sungguh membuatku tidak sudi, akan Aku goda dengan penampilan cupu ini.” Senyum jahat Kella di depan cermin.
“Lalu kita lihat dengan penampilan seperti ini apakah bisa membuat hatimu jatuh cinta pada Aku, si cupu yang orang lain katakan?” senyum jahat, dan tatapan mata di cermin yang tajam dan membara.
Kella kemudian menghapus riasan itu kembali, Kella mematikan lampu kamar di kegelapan, lensa kacamatanya masih menyala biru tipis, memproses ribuan data yang akan menjadi senjata pamungkasnya esok hari.
Kella melepaskan kacamatanya, ia meletakan di tempat yang aman. “Sebaiknya Aku harus tidur, besok masih banyak yang harus dilakukan.”
Ia menyalakan lilin aroma, dan kembali ke ranjang tidurnya dan terlelap.
***
DI SEKOLAH MOELS
Pagi itu, udara di SMA Moels terasa lebih mencekik dari biasanya. Kabar mengenai ‘insiden minyak’ di kediaman Amersoln memang tidak sampai ke sekolah, namun sisa-sisa insiden kantin kemarin telah berubah menjadi api liar yang membakar reputasi Kella. Di sekolah ini, sekali kau ditandai oleh Azzam Vaughan, kau adalah target terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari muka.
Begitu Kella menginjakkan kaki di koridor utama, suasana mendadak hening sebelum kemudian pecah oleh tawa yang ditahan.
"Eh, lihat. Bau sampahnya sudah hilang, tapi bau miskinnya masih nempel ya?" celetuk seorang siswi dari kelompok pemandu sorak saat Kella melintas.
Kella terus berjalan, matanya datar di balik kacamata tebalnya. Namun, Aegis Sistem di telinganya mulai memberikan peringatan dini.
[ SISTEM: DETEKSI GERAKAN CEPAT, SISI KANAN].
Sret!
Sebuah botol minuman isotonik terbuka sengaja dijatuhkan tepat di depan langkah Kella. Kella bereaksi dengan gerakan yang tampak seperti hampir terpeleset yang kikuk, namun sebenarnya ia sedang memposisikan dirinya agar tumpahan air itu tidak mengenai sepatunya sedikit pun.
"Ups! Licin ya? Maklum, lantai Moels terlalu mewah buat kaki kotoran beasiswa," ujar Clarissa, salah satu antek Sherly di sekolah, sambil melipat tangan di dada.
Kella melihat name tag siswi itu, “Clarissa ya? Heh, menjijikan” celetuknya.
“Bicara apa Kau!” pipi Clarissa merah, matanya memburu, tangannya terangkat ke atas ingin menampar Kella. Namun, Kella menghindar kebalikannya agar tidak terkena sebuah tamparan.
Setelah gagal tamparan itu. Kella berjalan mendekat ke Clarissa, ia berbisik “Jangan macam-macam denganku, kalau kau tidak ingin hancur!” kecamnya.
Clarissa mematung, ia mengigil takut terhadap hawa dingin dari Kella. Namun Clarissa menepis itu semua, “Kau!” geramnya. Sebelum semuanya kacau Kella pergi begitu saja meninggal Clarissa dan pengikutnya.
***
Puncaknya terjadi saat jam pelajaran kedua berakhir. Kella sengaja melambat, membiarkan Aletta pergi lebih dulu ke ruang seni musik, sedangkan Kella harus ke toilet terlebih dahulu.
Awal masuk semua masih aman-aman saja, selang beberapa menit Kella menyelesaikan hajatnya. Ketika Kella keluar dari bilik toilet, Segerombolan siswi berdatangan dari pintu masuk toilet luar.
Mereka berempat mulai berakting tidak terjadi apa-apa, salah satu gadis yaitu ketua gengnya memoles lipstik merah merona di bibirnya. “Nah, cantik!” Kella yang sedang mencuci tangannya di wastefel merasa ada yang janggal. Suara kunci pintu yang diputar terdengar jelas.
Klik.
Namun, tiba-tiba sistem kacamatanya berbunyi alarm warning.
[ SISTEM WARNING: BAHAYA MENGINTAI DI BELAKANG! GERAKAN CEPAT!]
Kella mencoba untuk pergi, namun sebelum berhasil keluar empat orang siswi, dipimpin oleh Clarissa. Mereka sudah berdiri mengepung Kella.
Kella yang diberitahu sistem tersebut bisa menghindar, namun karena kalah jumlah Kella tertangkap oleh mereka. “Lepaskan!” geram Kella yang kedua tangannya tercekal oleh Valerie. Nadia sudah mempersiapkan sebuah ember merah dari dalam bilik toilet.
“Nah, selesai!” Clarissa menyimpan kembali lipstiknya ke dalam tas, ia berbalik berjalan ke hadapan Kella. "Jadi, kamu yang berani cari perhatian sama Azzam kemarin?"
Clarissa melangkah maju, tangannya memegang sebuah gunting kecil. "Kamu pikir dengan akting gadis malang itu, Azzam bakal kasihan? Azzam itu benci orang lemah, Cupu. Dan kami benci orang yang nggak tahu diri."
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Kella datar, punggungnya menyentuh tembok dekat pintu. Padahal sedikit lagi ia berhasil keluar, tetapi siapa yang mengira pintu keluar terkunci oleh salah satu dari mereka.
"Mulutnya perlu dicuci," sahut yang lain.
Tanpa aba-aba, salah satu dari mereka menyiramkan seember air pel yang kotor ke arah Kella. Kella memejamkan mata, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Ia butuh rekaman ini. Ia butuh bukti visual tentang siapa saja yang terlibat untuk menghancurkan mereka satu per satu nanti.
[SISTEM: RECORDING STATUS: ACTIVE] [FACIAL RECOGNITION: CLARISSA, STEPHANIE, VALERIE, NADIA, DINDA]
"Lihat mukanya! Benar-benar seperti tikus got!" tawa Valerie pecah. Ia menarik paksa tas Kella dan menumpahkan isinya ke lantai. Buku-buku catatan Kella diinjak-injak dengan sepatu mahal mereka.
Clarissa mendekat, ujung guntingnya menyentuh helai rambut Kella. "Gimana kalau kita kasih kamu potongan rambut baru? Biar lebih cocok sama status beasiswamu."
Raut wajah Dinda terlihat tidak tenang, ia mencoba untuk mencegat mereka bertiga lebih jauh lagi membully Kella. “Guys, apa kita gak terlalu jauh bully si cupu ini?”
Clarissa berhenti sejenak, “Dinda, kau tidak perlu khawatir. Kau tau dia siswi miskin, kan? Mana mungkin dia punya pendukung di sini.” Ucapnya.
Dinda masih tidak tega untuk terlalu jauh, karena selama ini ia bergabung dengan mereka hanya mencari dukungan untuk perusahaan keluargannya. Apalagi keluarga Clarissa yang hampir sebanding dengan orang-orang kaya di ibu kota.
“Tapi, ris.”
“Udah kau fokus foto dan video saja itu cupu, din!” Timpal Valerie, yang masih mengunci tangan Kella. “Clarissa lanjutkan saja!” lanjutnya.
Namun, tepat saat Clarissa hendak menggerakkan guntingnya, pintu ruang ganti yang terkunci tiba-tiba digedor dengan keras dari luar. Bukan gedoran biasa, melainkan dentuman yang sanggup menggetarkan engsel besi.
“Kalian sedang apa di dalam?!”
Suara itu rendah, dingin, dan sangat berwibawa. Seluruh gadis di ruangan itu membeku. Mereka mengenali suara itu.
Klik.
"Az-Azzam?" bisik Clarissa pucat.
Pintu terbuka, Azzam muncul di dalam toilet cewek yang diikuti oleh Revan dan Stephanie. Azzam berdiri dengan tangan masuk ke saku celana, matanya menatap tajam ke dalam ruangan yang kacau itu.
Pandangannya melewati Clarissa begitu saja, seolah gadis itu hanyalah udara, dan langsung tertuju pada Kella yang basah kuyup dengan rambut yang berantakan.
"Keluar!" perintah Azzam singkat.
"Tapi Azzam, kami cuma mau kasih dia pelajaran karena—"
"Aku bilang KELUAR!!" tekan Azzam. Aura intimidasi yang dipancarkannya membuat kelima siswi itu lari terbirit-birit melewati Azzam tanpa berani menoleh lagi.
Kini hanya tersisa Azzam dan Kella di ruangan yang lembap itu. Kella menunduk, tangannya gemetar. Tentu saja, ini bagian dari aktingnya.
Kella menundukan wajahnya yang tertutup oleh rambut, ia mengusap embun yang basah di kacamatanya. Azzam melangkah mendekat. Tangan kekar milik Azzam menjulur di hadapannya, tetapi Kella menghiraukannya. Kella berdiri sendiri, ia menatap Azzam dengan raut tidak suka dan penuh amarah.
"Sampai kapan kau mau bermain drama ini?" tanya Azzam tiba-tiba, mata mereka saling bertemu dan mengunci.
“Apa maksudmu?”
“Kau, dan semua sandiwaramu itu,” jawab Azzam sedikit lebih dekat lagi. Kella yang penuh waspada memundur, ia menjaga jarak dari Azzam.
Kella tersenyum kecut, “Hah, bukankah ini semua karena kau, Kak?” Azzam hanya menaikkan alisnya. “Iya, mereka tadi fans mu yang fanatik. Enak banget ya, tidak perlu turun tangan sudah ada yang mau.” Lanjut Kella sembari membersihkan rok dan rambutnya.
“Itu bukan urusanku, urusanku sekarang…” Azzam mendekat jauh lebih dekat, jarak satu langkah saja di antara mereka berdua. Lalu Azzam mencodongkan wajahnya ke wajah Kella, sehingga jarak itu semakin dekat hanya suara nafas Kella yang terdengar menggebu amarah.
Namun Kella hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena pesona Azzam, tapi karena pria ini jauh lebih berbahaya dari yang ia duga.
“Kamu,” lanjut Azzam senyum jahil namun tetap tampan, Ia kemudian segera langsung menegakan wajah dan tubuhnya.
Kella menekuk wajahnya, ia merasa kesal.
“Kau!” tunjuk Kella.
Azzam mengambil langkah pada tangannya, ia menutup jari telunjuk Kella lalu menurunkanya.
“Sangat jelek," ucap Azzam dengan jahil, namun tetap mode coolnya. Ia segera bergegas pergi, “Jangan lupa bersihkan badan mu yang bau itu!” lanjutnya melenggang pergi.
“Kau!” Geram Kella, Azzam hanya melambaikan tangan ke atas yang membuat Kella tambah geram saat Azzam pergi begitu saja.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.
Setelah insiden kantin yang memalukan itu, Kella kembali ke kelas setelah membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di seragamnya. Ia menolak ajakan Aletta ke ruang UKS, memilih untuk duduk diam di bangkunya. Teman-teman sekelasnya sesekali lewat sambil menutup hidung dan berbisik, "Bau sampah be
Pagi berikutnya, Kella kembali ke perannya. Rambut hitamnya di kepang dua dengan sangat erat hingga kulit kepalanya terasa tertarik, kacamata tebal bertengger di hidungnya, dan ia mengenakan sweter abu-abu kusam yang menutupi postur tubuhnya yang atletis.Saat ia menuruni tangga, ia melihat Maudy se
Vas porselen itu hancur berkeping-keping tepat di posisi Azzam berdiri sedetik yang lalu. Serpihannya berhamburan, beberapa helai rambut Azzam bahkan terkena debu porselen tersebut.Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka. Azzam membeku. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari w
Lantai marmer SMA Moels Internasional tidak sekadar bersih, ia berkilau layaknya cermin perak di bawah guyuran cahaya lampu gantung kristal Swarovski yang menggantung megah di langit-langit koridor. Aroma parfum niche yang mahal dan udara dingin dari AC sentral memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer







