Beranda / Fantasi / Rahasia Si Gadis Cupu / Kejadian yang lucu

Share

Kejadian yang lucu

Penulis: Ayakshara_senja
last update Terakhir Diperbarui: 2021-07-17 13:37:36

Setelah insiden kantin yang memalukan itu, Kella kembali ke kelas setelah membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di seragamnya. Ia menolak ajakan Aletta ke ruang UKS, memilih untuk duduk diam di bangkunya. Teman-teman sekelasnya sesekali lewat sambil menutup hidung dan berbisik, "Bau sampah beasiswa."

Kella tidak peduli. Ia justru memanfaatkan momen itu untuk menunduk, menyembunyikan tatapan matanya yang sedang merekam setiap wajah yang menertawakannya.

"Kella, kamu beneran nggak apa-apa?" Aletta bertanya pelan, matanya berkaca-kaca melihat kondisi Kella.

"Aku oke, Ale. Cuma baju, bisa dicuci," jawab Kella datar, sangat kontras dengan keributan yang baru saja terjadi. Dalam pikirannya, ia sudah menandai Azzam sebagai subjek yang harus ia waspadai bukan karena kekuasaannya, tapi karena sifatnya yang sulit ditebak.

***

Di Kediaman Amersoln

Sesampainya di rumah, Kella disambut oleh Maudy yang sudah menunggu di ruang tengah. Begitu melihat kondisi Kella yang berantakan, Maudy langsung memarahi Kella yang terlihat berantakan.

"Lihat! Dasar anak tidak tahu diri! Kau membawa kotoran ke dalam rumahku!" Maudy berteriak, suaranya melengking hingga ke langit-langit. "Masuk ke kamarmu sekarang! Jangan keluar sebelum kau membersihkan dirimu sampai mengkilap!"

Kella hanya diam, menunduk dalam-dalam sambil melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat dan terkunci, Kella menyandarkan punggungnya. Ia menghela napas panjang, melepaskan topeng "gadis lemah" yang ia pakai seharian.

Kella melepaskan ikatan rambutnya, ia berjalan melewati meja rias. Kella membuka sebuah lemari miliknya selama ini lemari yang ia gunakan tidak boleh ada satu orang yang boleh membukanya, termasuk Ayah dan Ibu tirinya. Kella mengeluarkan sebuah papan yang dipenuhi dengan klip nama-nama orang yang harus ia selidiki.

Kella membawa papan tersebut, dan memasangkanya di dinding samping lukisan. Ia berpikir sejenak, “Vaughan, Heh! Laki-laki sombong tadi dari keluarga Vaughan juga” Ia mengambil laptopnya, kemudian nyalakan printer untuk mencetak foto keluarga Vaughan.

“Azzam Vaughan yang orang-orang ketahui. Nama aslinya Azzam Arnawama Vaughan, cucu kedua keluarga Vaughan pewaris satu-satunya keluarga Vaughan karena cucu pertama keluarga Vaughan cacat bawaan sehingga Azzam di angkat menjadi cucu pertama keluarga Vaughan. Lucu juga ya, keluarga orang terpandang.” Senyum kecil dibibirnya, mengingat nasibnya sama seperti cucu pertama keluarga Vaughan.

Foto yang sudah ia cetak, lalu ia tempel di papan. Kella mengambil bidikan panah kecil lalu melempar ke arah foto Azzam. “Kita mulai dari dia, pangeran Moels, hehe” tawa kecil yang sedikit menakutkan.

“Eh,” Kella membalikan tubuhnya dengan wajah tidak sehadapan dengan papan itu, “Apakah Aku harus menggoda dia? Orang yang sombong itu?” ia bergidik ngeri, “Ihh, nggak! Nggak! Dia tidak pantas membuat Aku seorang ratu es harus bermain centil sama laki-laki sombong dan sok cool itu!” elaknya sembari mengeratkan sedakapan kedua tangannya.

Kella memainkan jari telunjuknya ke pipi, “Besok Aku harus menyelediki perpustakaan itu dan kacamata ini,” sembari melepaskan kacamatanya.

“Harus bisa pura-pura tidak tahu apa yang akan terjadi, jangan sampai si Azzam itu curiga denganku lagi!” dengusnya kesal, karena baru masuk sekolah kemarin si Azzam sudah benar menebak ada yang salah dengan kacamata Kella.

Malam itu juga setelah semua tujuan tercatat untuk rangkai besok, Kella kembali mengemas barang-barang penuh target tadi ke tempatnya semula. Kella segera bergegas mandi dan mengganti seragam yang kotor itu. Meskipun Kella merasa terasingkan oleh keluarganya, ia masih tetap memiliki seragam cadangan yang dibeli sebelum sekolah dimulai.

Kella keluar dari kamar mandi dengan baju tidur anggun yang sudah rapi dan kacamata tebal yang kembali bertengger di hidungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin gadis beasiswa yang menyedihkan sudah kembali. Namun, ada yang berbeda malam ini. Ia menyentuh gagang kacamatanya, mengaktifkan sensor kecil yang tersembunyi di dalam bingkai tersebut. Lensa kacamata itu berkedip sekali sebelum menampilkan antarmuka transparan yang hanya bisa dilihat oleh mata Kella.

[AEGIS SYSTEM: ACTIVE].

"Kella! Turun sekarang! Jangan membuat kami menunggu di meja makan!" suara melengking Sherly, adik tirinya, terdengar dari balik pintu. Kella menghela napas, melangkah keluar kamar.

Di ruang makan mewah keluarga Amersoln, ayahnya duduk di ujung meja dengan wajah datar, sementara Maudy dan Sherly sudah duduk manis. Sherly menatap Kella dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi.

"Iuh, baunya masih ada ya? Aku sampai kehilangan selera makan," sindir Sherly sambil mengipasi hidungnya dengan tangan. Kella diam, ia baru saja hendak menarik kursi saat tiba-tiba kacamata di wajahnya memberikan peringatan visual.

[SISTEM WARNING: CHEMICAL ANOMALY DETECTED] [Target: Chair Edge and Floor Surface]

Lensa kacamatanya menyorotkan warna merah terang (High Danger) pada area di sekitar kaki kursi yang akan didudukinya. Di sana, sistem mendeteksi adanya lapisan cairan bening yang sangat licin yaitu minyak pelicin mesin yang sengaja ditumpahkan dalam jumlah banyak, disamarkan oleh pola lantai marmer yang mengkilap.

Kella melirik Sherly. Gadis itu sedang menahan tawa, jari-jarinya memainkan ponsel namun matanya terus mencuri pandang ke arah kaki Kella. Sherly ingin Kella terpeleset dengan cara yang memalukan tepat saat makan malam dimulai.

Taktik murahan, batin Kella sinis.

[SISTEM: PROJECTION CALCULATED] [Potential Injury: Spinal Impact / Level 3]

Aegis memberikan simulasi jika Kella nekat duduk, ia akan jatuh terjungkal dengan punggung menghantam pinggiran meja makan yang tajam. Sherly benar-benar ingin mencelakainya secara fisik, bukan sekadar menjahilinya.

"Kenapa diam saja? Duduk!" gertak ayahnya, Winson, tanpa menoleh dari koran digitalnya.

Kella tidak kehilangan akal. Dengan gerakan yang terlihat canggung seperti orang yang gugup, ia sengaja menjatuhkan garpu yang ada di atas meja.

"Aduh, maaf..." ucap Kella lirih.

Ia membungkuk untuk mengambil garpu, namun tangannya justru meraih taplak meja di dekat piring Sherly sebagai tumpuan palsu. Saat ia berpura-pura 'tergelincir' karena lantai yang licin, Kella tidak jatuh. Sebaliknya, ia menyenggol kaki kursi Sherly dengan kekuatan yang terukur namun sangat presisi menggunakan ujung sepatunya.

BRAKK!

"KYAAAA!"

Bukannya Kella yang jatuh, justru kursi Sherly yang terdorong ke arah lantai yang sudah dilumuri minyak oleh Sherly sendiri. Sherly kehilangan keseimbangan dan merosot jatuh dari kursinya, mendarat tepat di atas tumpahan minyak yang licin. Tubuhnya meluncur di bawah meja makan seperti pemain ice skating yang gagal.

"Sherly!" teriak Maudy panik, langsung berdiri dari kursinya.

Kella berdiri dengan wajah polos yang dibuat-buat ketakutan, sambil memegang garpunya. "Maaf, Sherly... aku tidak sengaja menyenggolmu karena lantainya sangat licin sekali di sini. Apakah kau menumpahkan sesuatu?"

[SISTEM: THREAT NEUTRALIZED] [Status: Counter-Measure Success]

Kacamata Aegis kembali ke mode normal, menampilkan data detak jantung Sherly yang melonjak karena malu dan marah. Kella menunduk, menyembunyikan senyum dinginnya di balik bayangan kacamata.

"Kella! Lihat apa yang kau lakukan!" bentak Maudy, meski ia tahu persis siapa yang sebenarnya menaruh minyak di sana.

"Maaf, Ibu. Aku akan membantu membersihkannya," ucap Kella dengan suara bergetar yang dipaksakan, menikmati pemandangan adik tirinya yang kini berlumuran minyak mesin di atas gaun mahalnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Tantangan Kella

    "Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Bertemu Dengannya Lagi

    “Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Surat Petunjuk

    Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Di antara Aku, Kamu!

    Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Pasar Malam yang Menyeramkan

    Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Kehebohan Sesaat

    Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status