MasukPagi berikutnya, Kella kembali ke perannya. Rambut hitamnya di kepang dua dengan sangat erat hingga kulit kepalanya terasa tertarik, kacamata tebal bertengger di hidungnya, dan ia mengenakan sweter abu-abu kusam yang menutupi postur tubuhnya yang atletis.
Saat ia menuruni tangga, ia melihat Maudy sedang memaki salah satu pelayan karena hal sepele. Maudy melirik Kella dengan tatapan tajam yang dipaksakan.
"Kau! Jangan hanya berdiri di sana seperti patung! Cepat berangkat ke sekolah, kau memalukan pemandangan di rumah ini!" teriak Maudy.
Kella hanya menunduk, namun hatinya tidak lagi sakit. Ia teringat kotak salep dan roti hangat semalam. Terima kasih, Ibu Maudy. Aku tahu kau sedang melindungiku dari mata-mata yang mungkin dipasang di rumah ini, batinnya.
***
Di Sekolah Moels
Seperti biasa lantai marmer SMA Moels Internasional tidak sekadar bersih, ia berkilau layaknya cermin perak di bawah guyuran cahaya lampu gantung kristal Swarovski yang menggantung megah di langit-langit koridor. Aroma parfum niche yang mahal dan udara dingin dari AC sentral memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada sebuah institusi pendidikan.
Kella berdiri di depan gedung yang memiliki halaman seluas lapangan sepak bola, “Huftt, hari ini sepertinya harus banyak sabar” helaan nafas ketika lagi dan lagi mata para murid Moels yang penuh sorotan tajam dan berghosip.
“Eh, eh dia itu murid baru pindah beasiswa yang lagi hot news kan?” bisik siswi dengan rambut terurai dengan hiasan topi baret hat yang biasa di gunakan oleh anak-anak muda gaul di Korea. “Iya nih, iuhh! Kok bisa Moels nerima siswa seperti dia? Standar Moels terlalu rendah sekarang,” bisik salah satu teman siswi tersebut yang sama-sama bergaya anak muda perkotaan.
Kella yang mendengar ghosip tentang dirinya, ia hanya melongos pergi begitu saja melewati kedua siswi tersebut, di akhiri dengan senyum sinis dengan mata yang setengah melirik kedua siswi itu tanpa berdebat.
Kella berjalan melewati setiap anak tangga, ia berjalan melihat arah lantai dengan sembari membenarkan kacamatanya dengan mengencangkan langkah kakinya. Namun langkah kakinya mendadak berhenti ketika melihat sepasang sepatu pantofel milik laki-laki. Kella medongak ke atas dengan tatapan datar.
Kella mengambil jalur samping, lalu mengucap “Permisi,” tetapi langkahnya tercegat dengan suara bariton milik laki-laki tersebut.
“Hai anak baru, apakah kau tidak diajarkan cara meminta maaf dari orang tua mu?” laki-laki tersebut membalikan badannya, Kella menghentikan kaki.
Kella membalas dengan sinis, “ Jalur naik tertulis jelas sebelah kiri, dan jalur turun sebelah kanan, sedangkan kau mengambil jalur saya di sebelah kiri. Apakah Kak Azzam tidak bisa membaca simbol yang ada di lantai?”
Benar, laki-laki itu Azzam sesuai dengan name tag yang dipakai oleh laki-laki tampan di depannya. Kella yang tidak mau memperpanjang ia segera pergi setelah kembal mengucap, ‘Permisi’. Azzam yang mendengar hal tersebut hanya mengepalkan tangannya karena kesal dengan sarkasan Kella.
Hari yang penuh dengan drama, sepanjang perjalanan masuk ke kelasnya Kella selalu mendapati para siswa dan siswi yang berghosip akan dirinya sepanjang koridor. Kella tiba di kelas dengan segera duduk dan merebahkan kepalanya di atas meja dengan arah menyamping melihat jendela luar kelas menatap langit-langit biru yang cerah.
“Kella!” sapa orang yang tiba-tiba menutupi wajahnya dengan wajah Kella. Kella muluruskan tubuhnya kembali duduk. “Kenapa Aletta?” tanyanya.
Gadis itu segera duduk di kursi depan bangku Kella, “Mau ghosip gak?” tanya Ale. Kella menarikan salah satu alisnya, “Tara!” Aletta menunjukkan sebuah poster promosi tas branded yang ada di Smartphone miliknya, “Jennie sedang berkolaborasi dengan brand ini, Aaaa aku suka banget dengan look yang semua Jennie tampilkan apapun brand yang ia kasih lihat itu very very cute, apalagi ini dari semua bentuk dan warna bikin gemes. Aku mau beli keburu habis nanti, hem” Excited Aletta ketika menceritakan betapa indahnya dan manisnya barang yang dipakai Idol kesukaannya.
Kella yang mendengar itu meringis heran, “Terus berita hot seperti apa yang mau kamu kasih tau Ale?!” tanya Kella.
“Iya, ini!” sembari menunjuk poster tadi.
Kella hanya bisa menggeleng pelan melihat antusiasme sahabatnya itu. Belum sempat ia menanggapi lebih jauh tentang tas branded tersebut, lonceng sekolah berbunyi. Pelajaran pertama dimulai dengan sangat sengit di antara murid-murid Moels kelas Kella, pelajaran pertama sains data, di lanjut matematika, bahasa Perancis, sebelum masuk bel istirahat makan siang satu pelajaran yang bikin lelah mata yaitu sejarah. Hampir 5 jam pelajaran dimulai, lonceng sekolah berdering dengan suara yang berbeda saat pergantian kelas, lonceng itu bukan suara bel listrik yang melengking tajam, melainkan melodi orkestra klasik yang diputar melalui pengeras suara di setiap sudut kelas, menandakan waktunya istirahat makan siang.
“Ayo ke kantin! Cacing di perutku sudah demo minta jatah premium,” ajak Aletta sambil menarik tangan Kella.
Kantin SMA Moels bukanlah kantin biasa. Tempat itu lebih layak disebut Grand Dining Hall. Meja-meja bundar dengan taplak linen putih tertata rapi, dikelilingi kursi-kursi empuk beludru merah marun. Di salah satu sisi, berjejer booth makanan yang menyajikan hidangan dari berbagai benua, mulai dari Sushi Omakase hingga Steak Wagyu.
Kella mengambil nampan, memilih menu yang paling sederhana dan cepat dimakan: semangkuk cream soup jagung dan sepotong garlic bread. Ia ingin cepat makan dan kembali ke kelasnya.
Namun, semesta sepertinya tidak mengizinkan Kella hidup tenang hari ini.
Saat Kella dan Aletta berjalan mencari meja kosong, suasana kantin yang riuh mendadak senyap di satu titik. Hawa dingin yang bukan berasal dari AC tiba-tiba terasa menusuk tengkuk Kella. Dari arah berlawanan, segerombolan siswa laki-laki berjalan membelah kerumunan. Di tengahnya, Azzam berjalan dengan tangan di saku celana, matanya terkunci lurus pada Kella.
"Lewat jalan lain, Kel," bisik Aletta gugup, menyadari aura bahaya itu.
Tapi terlambat. Jalur mereka sudah terpotong. Kella menunduk, mencoba menggeser tubuhnya ke sisi kanan untuk memberi jalan konsisten dengan aturan 'jalur turun' yang ia debatkan tadi pagi. Ia mengeratkan pegangan pada nampannya, bertekad untuk menjadi tidak terlihat.
Azzam berhenti tepat di depan Kella. Senyum miring terukir di wajah tampannya yang kini terlihat bengis.
"Lihat siapa ini," suara Azzam terdengar cukup keras hingga beberapa meja di dekat mereka menoleh. "Si 'Polisi Lalu Lintas' koridor sekolah."
Kella diam, matanya menatap sepatu pantofel Azzam. Sabar, Kella. Ingat misimu. Jangan buat masalah, batinnya berulang-ulang seperti mantra.
"Permisi, Kak," cicit Kella, memalsukan suaranya agar terdengar bergetar takut.
Ia mencoba melangkah maju, namun dengan gerakan kilat yang hampir tak terlihat, kaki Azzam terulur menjegal langkah Kella.
Prangg!
Tubuh Kella oleng ke depan. Insting atletisnya berteriak untuk melakukan salto atau pendaratan tangan agar tidak jatuh, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia membiarkan tubuhnya menghantam lantai marmer yang keras. Nampan di tangannya terlempar, menumpahkan cream soup panas yang lengket tepat ke seragam dan rambut kepang duanya.
Bunyi piring pecah menggema ke seluruh penjuru kantin. Detik berikutnya, tawa meledak dari gerombolan Azzam.
"Ups," Azzam berucap tanpa nada penyesalan sedikitpun. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Kella yang masih tersungkur di lantai dengan tubuh berlumuran sup. "Sepertinya matamu yang tertutup kacamata tebal itu tidak bisa melihat kakiku yang sebesar ini? Katanya pintar baca simbol?"
Aletta memekik kaget, menutup mulutnya dengan tangan, tak berani maju karena tatapan mengintimidasi dari teman-teman Azzam.
Kella merasakan panas sup itu menjalar di kulit lehernya, namun hatinya jauh lebih mendidih. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan sweter abu-abu itu mengepal sangat kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Satu pukulan. Ia hanya butuh satu pukulan ke ulu hati untuk membuat laki-laki sombong ini pingsan.
Tapi bayangan kenangan masalalu dan tujuan utamanya berada di sekolah ini menahannya. Kella menarik napas panjang, lalu perlahan mendongak dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Kacamata tebalnya miring, dan kuah jagung menetes dari ujung hidungnya.
"Ma... maaf, Kak," ucap Kella lirih, merendahkan harga dirinya serendah mungkin demi penyamaran ini.
Azzam mendengus, lalu dengan sengaja menginjak serpihan roti garlic bread yang jatuh di dekat tangan Kella hingga hancur menjadi remah-remah.
"Bersihkan," perintah Azzam dingin, "Lain kali kalau jalan, pakai mata, bukan pakai mulut pintar lo itu."
Kella yang mendengar itu tidak langsung mengikuti perintah Azzam di depannya. Ia melirik ke nampan berisi piring di kedua tangan teman laki-laki di depannya, Kella mengambil dengan gesit dan geram lalu segera mengguyur makanan kepada Azzam. Ia tersenyum kecil remeh, “Itu pantas buat kau yang sombong!”
Kella segera melongos pergi sembari membenarkan kacamatanya, ia sebenarnya ingin menangis akan malu dipertontonkan seperti tadi. Kella tidak jadi makan, ia juga tidak secepat itu kembali ke kelasnya dengan keadaan kotor, nanti mereka semua akan jijik dan pasti mereka semua bisa-bisa tahu ya walaupun pasti akan tersebar juga ghosipnya. Kella hanya ingin berdiam diri di toilet sambil membersihkan pakaian yang kotor miliknya.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.







