LOGINUdara malam di taman belakang Grand Arcadia Hotel jauh lebih dingin daripada di dalam aula.
Alessia mendorong pintu kaca dan melangkah keluar tanpa menoleh. Musik dari acara Heritage Business Forum langsung terdengar samar di belakangnya. Di depannya, jalur batu memanjang di antara semak-semak rapi dan pohon tinggi yang diterangi lampu taman. Tidak ada siapa-siapa. Ia berhenti di dekat kolam kecil di tengah taman. Airnya bergerak pelan terkena angin. “Keluar,” kata Alessia. Tidak ada jawaban. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Saya sudah datang. Apa yang Anda mau?” Suara langkah terdengar dari arah gazebo di ujung taman. Seseorang muncul dari balik bayangan. Pria itu mengenakan mantel panjang gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Jaraknya cukup jauh sehingga Alessia tidak bisa melihat jelas. “Kamu berani datang sendiri,” kata pria itu. Suara tersebut tidak asing, tapi Alessia tidak bisa langsung mengingat dari mana ia pernah mendengarnya. “Anda yang mengirim semua pesan itu?” “Pertanyaan yang lebih penting apa kamu siap menerima jawabannya?” “Jangan main-main.” Pria itu tertawa pendek. “Kamu masih sama seperti Ferdinand. Selalu ingin jawaban, tapi tidak siap mendengarnya.” Nama ayahnya membuat Alessia makin waspada. “Siapa Anda?” “Orang yang tahu keluargamu dibangun di atas kebohongan.” Alessia melangkah maju satu langkah. “Kalau Anda punya sesuatu untuk dikatakan, katakan. Jangan sembunyi seperti pengecut.” Pria itu tidak bergerak. “Dua puluh tahun lalu, Rasyid Windrayana tidak mati karena sabotase Kertanegara,” katanya. “Tapi keluarga Kertanegara juga bukan korban seperti yang mereka katakan.” “Lalu siapa yang melakukannya?” “Orang yang diuntungkan ketika dua keluarga itu saling membunuh.” “Itu tidak menjawab apa pun.” “Karena kamu belum tahu pertanyaan yang benar.” Angin bertiup lebih kuat. Daun-daun kering bergerak di atas jalur batu. Pria itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku mantelnya. Ia meletakkannya di atas bangku taman, lalu mundur. “Baca ini. Tapi jangan percaya pada siapa pun yang bermarga Windrayana atau Kertanegara.” Alessia tidak langsung mengambil amplop itu. “Kenapa Ethan?” tanyanya. Pria itu berhenti. “Kenapa Anda melibatkan anak saya?” “Karena Ethan adalah alasan kamu tidak bisa lagi lari dari semuanya.” “Saya tanya kenapa.” Pria itu menoleh sedikit. Untuk sesaat, cahaya lampu taman mengenai sisi wajahnya. Alessia hanya melihat rahang tegas dan bekas luka tipis di dekat telinganya. “Karena darahnya membawa dua nama yang seharusnya tidak pernah bersatu.” Alessia merasa tengkuknya dingin. Pria itu mulai berjalan mundur menuju jalur gelap di antara pepohonan. “Siapa ayah Ethan?” tanyanya sekali lagi. Sosok itu berhenti, lalu berkata tanpa menoleh, “Kamu sudah melihatnya malam ini.” Jantung Alessia berdegup keras. “Adrian Kertanegara?” Namun pria itu tidak menjawab. Dalam beberapa detik, ia menghilang di balik pepohonan. Alessia hendak mengejarnya ketika sebuah tangan menangkap pergelangan lengannya. Ia tersentak dan berbalik. Adrian berdiri di belakangnya. “Lepaskan,” kata Alessia. “Tidak sampai kamu berhenti mencoba mengejar orang asing ke area gelap sendirian.” “Saya tidak butuh Anda mengikuti saya.” “Aku tidak mengikuti.” Tatapan Adrian bergerak ke arah jalur tempat pria itu menghilang. “Reza melihat seseorang menyerahkan amplop kepadamu. Aku datang untuk memastikan kamu tidak dalam bahaya.” “Dan Anda datang sendirian?” “Reza sedang mengejar orang itu dari sisi lain.” Alessia mencoba menarik tangannya. Adrian langsung melepasnya, tetapi tetap berdiri terlalu dekat. “Apa isi amplop itu?” tanyanya. “Bukan urusan Anda.” “Kalau ada orang mencurigakan yang menghubungi keluarga Windrayana tepat di forum bisnis yang dihadiri keluargaku, itu menjadi urusanku.” “Tidak semuanya tentang keluarga Anda.” “Benar.” Adrian menatapnya dengan tenang. “Tapi kamu terlihat seperti sedang ketakutan.” Alessia ingin menyangkal, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia benci bahwa Adrian bisa melihatnya. “Aku baik-baik saja,” katanya. “Kalau begitu, buka amplopnya.” Alessia menatap bangku taman. Amplop cokelat itu masih berada di sana. Akhirnya ia mengambilnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi dokumen. Kertas-kertas itu sudah tua dan menguning. Pada halaman pertama tertulis nama proyek yang membuat dua keluarga menjadi musuh. **PROYEK AURORA — LAPORAN INSIDEN INTERNAL** Tangan Alessia bergetar saat membaca bagian bawah halaman. Tanggal dokumen itu dibuat sehari sebelum kecelakaan yang menewaskan Rasyid. Ada tanda tangan Ferdinand Windrayana. Ada tanda tangan Broto Kertanegara. Dan ada satu nama lain di bawah keduanya. **Wulan Kertanegara.** Alessia membaca satu kalimat yang diberi garis merah. **Pihak ketiga telah mendapat akses ke lokasi uji coba. Semua kegiatan harus dihentikan sampai audit keamanan selesai.** “Ini palsu,” kata Adrian. Alessia menoleh. “Anda bahkan belum membacanya.” “Aku tahu laporan resmi Aurora. Dokumen itu tidak pernah mencantumkan nama ibuku.” “Jadi Anda tahu laporan resminya.” “Tentu.” “Dan Anda yakin keluarga Anda tidak menyembunyikan sesuatu?” Wajah Adrian mengeras. “Aku tidak bilang itu.” “Nama ibu Anda ada di sini.” “Aku lihat.” “Lalu kenapa Anda langsung bilang palsu?” Adrian mengambil napas perlahan. “Karena ibuku tidak pernah bekerja di Proyek Aurora. Setidaknya, itu yang selalu dikatakan ayahku.” “Setidaknya?” “Aku tidak tahu semua hal yang dilakukan orang tuaku dua puluh tahun lalu.” Jawaban itu jujur, dan justru membuat Alessia lebih bingung. Tiba-tiba, suara langkah cepat terdengar dari arah aula. Reza muncul dengan napas sedikit berat. “Dia lolos,” katanya pada Adrian. “Ada mobil menunggu di jalan belakang. Platnya tertutup.” “Wajahnya?” tanya Adrian. “Tidak terlihat jelas.” Reza kemudian memandang dokumen di tangan Alessia. “Itu yang dia berikan?” Alessia belum sempat menyembunyikannya. Reza membaca judul halaman pertama dari kejauhan. Wajahnya langsung berubah serius. “Pak Adrian,” katanya pelan, “ada sesuatu yang harus Anda lihat.” Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah surel, lalu menyerahkannya kepada Adrian. Adrian membaca layar itu tanpa bicara. “Apa?” tanya Alessia. Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya memberikan ponsel itu kepadanya. Di layar ada satu foto. Foto ballroom di Meridian City, lima tahun lalu. Alessia berdiri dengan gaun hitam dan topeng emas. Di sampingnya, pria bertopeng hitam memegang tangannya. Namun kali ini, foto itu lebih jelas. Di bagian bawah terdapat pesan singkat. **Tanyakan pada Alessia Windrayana kenapa dia menyembunyikan anakmu.**Wajah di layar itu bukan orang asing.Sari Dumanauw menatap mereka lewat kamera, duduk di sebuah ruangan yang tidak dikenali—dinding polos, pencahayaan datar, seperti sengaja dipilih agar tidak memberi petunjuk lokasi.“Bu Sari?” Alessia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. “Anda yang mengirim semua pesan ini?”Sari tersenyum tipis, jauh berbeda dari perempuan yang menangis di depan kamera wartawan beberapa minggu lalu, menuntut kebenaran soal suaminya.“Aku bertanya-tanya kapan kalian akan menyadarinya,” katanya, suaranya tenang, hampir dingin. “Kalian terlalu sibuk mengejar Herman dan Damar, sampai lupa bertanya siapa yang sebenarnya mengarahkan mereka ke arah yang tepat.”Ferdinand melangkah maju, wajahnya pucat. “Kau yang mengaku sebagai janda Yusuf. Semua yang kau katakan di depan kamera itu—”“Semuanya benar,” potong Sari cepat. “Yusuf memang suamiku. Dia memang meninggal dengan nama yang salah. Aku memang berduka selama dua puluh tahun. Tapi kesedihan itu berubah jadi
Alessia menatap pesan itu, tangannya mendadak dingin meski udara sore masih hangat. “Apa itu?” tanya Adrian, melihat perubahan di wajahnya. Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata-kata. Adrian membaca pesan itu, rahangnya langsung mengeras. “Yusril hanya orang suruhan?” ulangnya pelan. “Kalau begitu ini bukan soal saham dan kepemimpinan semata.” “Ini kelanjutan dari semuanya,” kata Alessia, suaranya bergetar. “Herman dan Damar hanya bagian dari rencana yang lebih besar.” Adrian langsung menghubungi Reza, meletakkan ponsel di atas meja dan mengaktifkan pengeras suara. “Reza, aku butuh kau melacak nomor ini lagi. Ini yang sama seperti tiga minggu lalu.” “Saya akan coba, Pak,” jawab Reza. “Tapi terakhir kali nomor itu selalu mati dalam hitungan menit.” “Coba juga cari tahu latar belakang Yusril Hamdani lebih dalam,” tambah Adrian. “Siapa yang mendanai pembelian sahamnya, dari mana asal modalnya, dan apakah ada hubungan dengan Herman atau Damar sebelumnya.” “Baik, Pak. Saya akan k
Tiga minggu berlalu sejak pesan misterius terakhir itu, dan tidak ada kelanjutan apa pun yang muncul. Reza sudah melacak nomor itu berkali-kali, namun selalu berujung buntu—nomor sekali pakai yang mati begitu pesan terkirim.Alessia mulai terbiasa dengan ritme baru hidupnya—pagi bersama Ethan, siang membantu papanya mengurus sebagian pekerjaan Windrayana Group yang tertunda, dan sore yang perlahan mulai diisi kehadiran Adrian yang semakin sering datang tanpa alasan bisnis apa pun. Namun kalimat itu—*aku baru saja mulai*—masih terngiang setiap kali ia lengah.Pagi itu, ketenangan itu terusik oleh dering telepon yang membangunkan Alessia lebih awal dari biasanya.“Bu Alessia,” suara sekretaris papanya terdengar cemas di seberang telepon, “Bapak meminta Anda segera ke kantor. Ada masalah dengan rapat pemegang saham.”Alessia bergegas bersiap, meninggalkan Ethan bersama Marlena. Di dalam mobil menuju kantor, ia mencoba menghubungi papanya, namun panggilannya tidak terjawab.Begitu tiba di
Beberapa hari berlalu setelah kekacauan besar itu, dan Arcadia perlahan mulai kembali pada ritme normalnya—meski berita tentang Rasyid, Damar, dan Herman masih menjadi topik utama di berbagai media selama beberapa hari berikutnya.Alessia duduk di teras belakang rumah Windrayana, menikmati sore yang tenang untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Arcadia. Ethan bermain di halaman bersama Marlena, tertawa riang mengejar kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga yang mulai mekar.Ferdinand duduk di kursi rodanya tidak jauh dari sana, wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski masih perlu istirahat teratur sesuai anjuran dokter.“Kau tampak lebih tenang,” kata Ferdinand, memperhatikan putrinya dari samping.“Aku rasa begitu,” jawab Alessia. “Meski aku masih terus menunggu kabar buruk lain setiap kali ponselku berbunyi.”Ferdinand tersenyum tipis. “Itu wajar, setelah semua yang kita lalui. Tapi kau harus percaya, Nak, badai ini sudah benar-benar berlalu.”“Bag
Reza menghubungi kembali kurang dari satu jam kemudian, saat mereka masih berada di ruang tunggu rumah sakit menemani Ferdinand yang baru saja memulai pengobatan pertamanya.“Pak Adrian,” suara Reza terdengar dari ponsel yang diletakkan di atas meja, “Ratna sudah memberikan keterangan soal racikan teh itu.”“Dan?” tanya Adrian.“Dia mengaku itu inisiatif Herman,” jawab Reza. “Herman menyuruhnya menitipkan racikan itu lewat Wulan, dengan harapan efeknya akan membuat Ferdinand semakin lemah dan lebih mudah ditekan lewat ancaman-ancaman yang dikirimnya belakangan.”Marlena menutup mata sesaat, mencoba menahan amarah yang bercampur lega karena akhirnya semua pertanyaan terjawab.“Jadi bukan untuk membunuh Papa,” gumam Alessia, “hanya untuk melemahkannya.”“Menurut pengakuan Ratna, ya,” jawab Reza. “Herman ingin Ferdinand cukup lemah untuk tidak bisa melawan, tapi tidak sampai mati—karena dia masih butuh Ferdinand hidup untuk memberikan pengakuan publik yang direncanakannya.”Ferdinand, ya
Pagi itu datang lebih cepat dari yang Alessia inginkan. Ia nyaris tidak tidur sepanjang malam, pikirannya terus berputar mencoba menebak apa yang akan disampaikan pihak rumah sakit.Adrian sudah menunggu di ruang tamu apartemen ketika Alessia keluar dari kamar, wajahnya juga menunjukkan tanda kurang tidur yang sama.“Ethan masih tidur,” katanya. “Cassandra akan menjaganya sampai kita kembali.”Mereka tiba di rumah sakit tepat pukul delapan pagi. Marlena sudah menunggu di lorong dekat ruang rawat Ferdinand, wajahnya pucat dan cemas.“Ma,” Alessia langsung memeluknya. “Ada apa sebenarnya?”“Dokter bilang mereka menemukan sesuatu dari hasil laboratorium teh yang diambil beberapa hari lalu,” jawab Marlena, suaranya bergetar. “Yang dibawa Wulan waktu itu.”Alessia teringat percakapan lama itu—teh herbal yang dibawa tante Wulan sebagai hadiah, yang diminum papanya untuk membantu tidurnya. Sesuatu yang sempat mereka curigai sebagai bagian dari rencana peracunan, sebelum semua perhatian teral







