FAZER LOGIN“Ini alasan kenapa kamu tidak boleh datang.”
Cassandra berdiri di depan Alessia dengan kedua tangan terlipat. Foto dari Meridian City masih terbuka di layar ponsel. Alessia tidak menjawab. Sejak menerima foto itu siang tadi, kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang sama. Siapa yang mengambil foto itu? Malam di Meridian City seharusnya menjadi satu-satunya malam ketika ia membiarkan dirinya lepas dari semua beban. Ia datang tanpa membawa nama Windrayana, tanpa pengawal keluarga, dan tanpa rencana untuk bertemu siapa pun. Namun, ternyata ada yang melihat. Ada yang mengawasi. “Kalau aku tidak datang,” kata Alessia akhirnya, “orang itu bisa mengirim foto ini ke Adrian. Atau ke Papa. Atau ke media.” “Dan kalau kamu datang, dia bisa melakukan apa saja.” “Aku tidak akan pergi sendiri.” Cassandra mendengus. “Jangan lihat aku begitu. Aku sudah tahu kamu akan bilang itu.” “Jadi kamu ikut?” “Aku ikut.” Cassandra mengambil tas dari sofa. “Tapi kita butuh rencana.” Alessia mengangguk pelan. Dua hari berlalu terlalu cepat. Selama itu, nomor misterius tidak mengirim pesan lagi. Cassandra juga belum mendapat jawaban pasti dari temannya mengenai nomor tersebut. Nomor itu terdaftar sebagai kartu prabayar tanpa identitas, lalu terus berpindah lokasi melalui jaringan yang sulit dilacak. Ferdinand tidak lagi membahas pesan-pesan ancaman itu. Ia justru menghabiskan waktu di ruang kerja, memeriksa dokumen lama bersama sekretarisnya. Setiap Alessia mencoba bertanya, ayahnya selalu mengakhiri pembicaraan. Marlena berbeda. Ibunya beberapa kali masuk ke kamar Ethan, duduk cukup lama di sisi tempat tidur cucunya, lalu keluar dengan mata merah. Alessia tidak pernah memergokinya menangis, tetapi ia tahu ibunya ketakutan. Mereka semua menyimpan sesuatu. Malam Heritage Business Forum akhirnya tiba. Ethan sudah tidur ketika Alessia bersiap di depan cermin. Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan sepanjang lutut. Tidak mencolok, tetapi cukup pantas untuk acara bisnis yang akan dihadiri orang-orang paling berpengaruh di Arcadia. Cassandra muncul di pintu kamar dengan gaun hijau gelap dan ekspresi tidak puas. “Kenapa semua orang kaya harus bikin acara di gedung yang dingin dan penuh orang sok penting?” keluhnya. “Karena kalau di tempat hangat, mereka mungkin jadi lebih manusiawi.” “Mustahil.” Alessia tersenyum tipis. Namun, senyumnya menghilang saat melihat Ethan tidur di ranjang kecilnya. Boneka rubah masih berada dalam pelukannya. Wajahnya tenang, tanpa mengetahui bahwa satu foto lama dapat mengubah hidup mereka. Alessia membungkuk dan mencium keningnya. “Mama pulang sebelum kamu bangun,” bisiknya. Di pintu kamar, Marlena menunggu. “Aku akan jaga dia,” kata ibunya. Alessia berdiri. “Mama tidak perlu begadang.” “Aku tidak akan bisa tidur.” Tatapan mereka bertemu. “Mama,” kata Alessia pelan, “kalau ada sesuatu yang Mama tahu tentang malam di Meridian City atau soal Proyek Aurora, bilang sekarang.” Marlena tampak terkejut. “Kenapa kamu bicara soal Meridian City?” “Tidak penting dari mana aku tahu.” Alessia menahan diri agar suaranya tidak meninggi. “Mama tahu sesuatu?” Marlena membuka mulut, lalu menutupnya kembali. “Tidak,” jawabnya akhirnya. “Tapi kalau kamu merasa tidak aman, jangan pergi.” Jawaban itu tidak cukup. Namun, waktu terus berjalan. “Jaga Ethan,” kata Alessia sekali lagi sebelum pergi. Heritage Business Forum diadakan di Grand Arcadia Hotel, gedung tua dengan aula besar yang baru direnovasi. Mobil-mobil mewah memenuhi area depan. Para tamu berjas dan bergaun formal berjalan melewati karpet merah, tersenyum kepada kamera, lalu memasang wajah serius begitu masuk ke dalam. Cassandra menggenggam lengan Alessia ketika mereka berjalan menuju pintu masuk. “Kalau ada yang aneh, kita langsung keluar.” “Aku tahu.” “Kalau ada yang mendekat dan bilang dia teman lama—” “Cas.” “Aku hanya memastikan.” Begitu memasuki aula, Alessia langsung menyadari kehadirannya. Adrian berdiri di dekat panggung utama bersama beberapa eksekutif Kertanegara Corp. Ia mengenakan setelan hitam, rapi dan sempurna. Di bawah lampu aula, wajahnya terlihat lebih dingin daripada biasanya. Reza berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengamati ruangan seolah tidak ada satu pun orang yang cukup aman untuk dibiarkan tanpa pengawasan. Adrian menoleh. Tatapannya menemukan Alessia di antara kerumunan. Ia tidak tersenyum. Hanya memandang cukup lama hingga Cassandra berbisik, “Itu dia, kan?” “Ya.” “Dia tahu kamu datang.” “Tentu saja. Semua orang bisa melihat.” “Bukan itu maksudku.” Alessia tidak menjawab. Adrian berpamitan dari kelompoknya, lalu berjalan ke arah mereka. Setiap langkahnya membuat Alessia ingin mundur, tetapi ia tetap berdiri di tempat. “Kamu datang,” katanya. “Kedengarannya Anda tidak senang.” “Aku sudah memperingatkanmu.” “Dan saya sudah bilang saya tidak suka diperintah.” Cassandra menatap Adrian tanpa ramah. “Saya Cassandra.” “Adrian.” “Ya, semua orang di kota ini tahu.” Reza menunduk sebentar, mungkin menyembunyikan senyum. Adrian kembali memandang Alessia. “Kamu datang dengan siapa?” “Dengan Cas.” “Pengawalan?” “Tidak.” Rahang Adrian mengeras. “Ini bukan tempat yang aman malam ini.” “Karena Kertanegara Corp juga hadir?” “Karena ada orang yang ingin memancing keributan antara dua keluarga.” Alessia ingin menunjukkan foto dari Meridian City, tetapi ia menahan diri. Ia belum tahu apakah Adrian terlibat atau tidak. Terlalu berbahaya untuk membuka semuanya di tengah aula yang penuh orang. “Kalau Anda tahu sesuatu, katakan langsung,” katanya. “Aku sedang berusaha mencari tahu.” Sebelum Alessia bisa membalas, seorang pelayan datang membawa nampan minuman. Saat melewatinya, pelayan itu menjatuhkan sebuah amplop putih kecil tepat di dekat kaki Alessia. “Maaf, Nona,” katanya cepat. Alessia membungkuk untuk mengambil amplop itu. Ketika ia mendongak, pelayan tersebut sudah menghilang di antara para tamu. “Apa itu?” tanya Cassandra. Tidak ada nama di bagian depan amplop. Hanya satu huruf yang ditulis dengan tinta hitam. A. Alessia merobek bagian atas amplop. Di dalamnya ada secarik kertas. **Ke taman belakang. Sendirian. Sekarang. Kalau tidak, foto Meridian City dikirim ke Adrian Kertanegara dalam lima menit.** Cassandra membaca pesan itu dari sampingnya. “Jangan,” bisiknya. Adrian memperhatikan wajah mereka. “Ada apa?” Alessia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Tidak ada.” “Alessia.” Untuk pertama kalinya, Adrian memanggil namanya tanpa nada formal. Cara ia mengucapkannya membuat Alessia kembali mengingat suara pria bertopeng lima tahun lalu. Ia menatap Adrian lurus-lurus. “Saya mau pergi sebentar, jangan ikuti saya.” Lalu, sebelum Cassandra ataupun Adrian sempat menahannya, Alessia berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke taman belakang hotel.“Itu tidak mungkin,” kata Broto. Suaranya masih tenang, tapi tangannya yang gemetar tidak bisa disembunyikan lagi. “Reza bilang platnya terdaftar atas nama anak perusahaan Kertanegara Corp,” ulang Adrian, matanya tidak lepas dari ayahnya. “Bagian logistik. Divisi yang Ayah pegang langsung.” “Aku tidak tahu apa-apa soal mobil itu.” “Ayah selalu tidak tahu.” Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Adrian inginkan. Broto terdiam, seperti baru disadarkan berapa lama pola itu sudah berulang di antara mereka. Alessia berdiri di samping Marlena, mengamati keduanya. Ethan sudah dibawa kembali ke kamarnya oleh salah satu petugas keamanan, meski matanya sempat menoleh ke arah Broto sebelum pintu tertutup—tatapan penasaran seorang anak kecil yang tidak tahu bahwa dirinya baru saja menjadi alasan dua keluarga saling curiga lagi. “Kalau memang bukan Ayah,” kata Adrian, “berarti seseorang di dalam perusahaan kita memakai nama Kertanegara tanpa sepengetahuan Ayah.” “Atau seseorang sengaja m
Alessia membaca pesan itu berulang kali.*Bagus, Alessia. Sekarang Adrian tahu anaknya. Saatnya seluruh Arcadia tahu.*Ia langsung menekan nomor itu. Panggilan tidak tersambung. Sekali, dua kali, tiga kali—tetap sama.“Tidak bisa dihubungi?” tanya Cassandra.Alessia menggeleng.Ambulans sudah membawa Ferdinand dan Wulan ke rumah sakit. Marlena ikut di dalam, sementara Adrian pergi dengan mobil lain untuk menemani ibunya. Reza masih berdiri beberapa meter dari Alessia, memberi instruksi lewat radio.“Periksa semua jalan keluar pelabuhan,” katanya. “Cari rekaman kamera radius lima kilometer. Kendaraan itu tidak mungkin hilang begitu saja.”Alessia mendekat begitu Reza selesai bicara. “Pesan baru masuk.” Ia menyerahkan ponselnya.Reza membaca layar itu. Wajahnya langsung serius. “Saya minta tim siber melacak sumbernya.”“Bisa dihentikan sebelum foto Meridian City tersebar?”“Kita belum tahu apa yang sudah mereka kirim.”Jawaban itu membuat dada Alessia semakin sesak.Mobil Adrian berhent
“Buka halaman terakhir.” Suara pria dari pengeras suara kembali menggema di dalam Gudang 17. Adrian masih memegang map kulit cokelat di tangannya. Di sisi lain ruangan, Wulan bersandar lemah pada kursi setelah ikatannya dilepas. Ferdinand baru saja dibawa masuk oleh dua petugas medis, tetapi wajahnya terlihat semakin pucat. Alessia berdiri di dekat ayahnya. “Jangan dibuka,” bisik Wulan. Adrian menoleh kepadanya. “Kenapa?” “Karena itu yang dia inginkan.” “Kalau tidak dibuka, dia akan menyebarkan foto Meridian City,” kata Alessia. Wulan memandang Alessia. Tatapannya berhenti beberapa saat, seolah ia akhirnya memahami arti foto dan pesan-pesan yang dikirim selama ini. “Foto itu hanya alat,” ujar Wulan pelan. “Laporan Aurora yang asli adalah tujuan mereka.” “Kalau begitu, kenapa mereka menyuruh kami membuka halaman terakhir?” tanya Adrian. “Karena halaman itu bukan bagian dari laporan.” Adrian menatap map tersebut. Ia membuka pengikatnya perlahan. Halaman-halaman pertama beri
“Papa!” Alessia membuka pintu mobil sebelum Cassandra sempat menahannya. “Jangan keluar!” Cassandra menarik lengannya. “Kita tidak tahu dari mana tembakannya!” Namun Alessia sudah melihat Ferdinand terjatuh di dekat mobil. Marlena berlutut di sampingnya. Map kulit berisi **salinan** laporan Aurora masih berada beberapa langkah dari tangan papanya. Tidak ada darah di tubuh Ferdinand. Tembakan itu mengenai tanah tepat di depan kakinya. “Dia tidak kena,” kata Cassandra cepat. Alessia menahan napas lega, tetapi rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Pria bermasker di depan Gudang 17 mengangkat pistolnya lagi. “Jangan bergerak!” teriaknya. Marlena memeluk kepala Ferdinand yang masih terbaring di tanah. Wajah pria itu pucat, mungkin karena terkejut atau karena tubuhnya memang sudah terlalu lemah. Ponsel Alessia bergetar. Pesan dari Adrian. **Tetap di mobil. Tim kami sudah bergerak.** Alessia menatap area di sekitar gudang. Ia tidak melihat Adrian atau Reza. Hanya dua mobil gelap
Alessia membaca pesan itu berulang kali. **Kamu punya waktu lima puluh menit.** Video Wulan masih terbuka di layar ponselnya. Wajah perempuan itu pucat. Tangannya terikat pada kursi. Di belakangnya, lampu gudang berkedip-kedip di antara dinding besi berkarat. Napas Wulan terdengar pendek dari rekaman itu, seolah ia berusaha menahan tangis. Alessia langsung menekan nama Adrian. Panggilan pertama tidak tersambung. Ia mencoba lagi sambil berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Kali ini Adrian mengangkatnya. “Alessia?” “Aku dapat video dari mereka,” katanya cepat. “Tante Wulan ada di Gudang 17. Mereka meminta Papa membawa laporan Aurora sendiri. Mereka memberi waktu lima puluh menit.” “Kirim videonya sekarang.” Alessia meneruskan rekaman itu. Marlena berdiri di belakangnya, kedua tangannya menutup mulut. Ferdinand tetap duduk di kursi roda, tetapi wajahnya berubah pucat saat melihat Wulan di layar. Beberapa detik kemudian, suara Adrian kembali terdengar. “Tidak.”
“Tidak.” Adrian menjawab sebelum siapa pun sempat berkata lain. “Kalau mereka membawa Wulan, kita harus pergi,” kata Marlena. Suaranya gemetar. “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.” “Kita tidak tahu apakah ibuku benar-benar ada di sana,” balas Adrian. “Ini bisa jadi jebakan.” “Dia mengirim video,” kata Alessia. “Dia ketakutan.” “Video itu bisa direkam kapan saja.” “Adrian,” Marlena memanggil namanya pelan. “Dia ibumu.” Adrian menutup mata sesaat. Ketika membukanya lagi, wajahnya kembali dingin. “Justru karena dia ibuku, aku tidak akan menyerahkan dokumen apa pun kepada orang yang menculiknya.” “Dan kalau mereka benar-benar membunuhnya?” Marlena bertanya. Tidak ada yang bisa menjawab. Ferdinand masih duduk di kursi rodanya, memandangi perekam suara tua di atas meja. Wajahnya terlihat semakin pucat setelah mendengar suara Bima. “Laporan asli itu ada,” katanya akhirnya. Semua orang menoleh kepadanya. Alessia mengencangkan rahang. “Di mana?” Ferdinand me







