Home / Romansa / Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku / MALAM DI HERITAGE FORUM

Share

MALAM DI HERITAGE FORUM

Author: Santi
last update publish date: 2026-08-09 00:44:02

“Ini alasan kenapa kamu tidak boleh datang.”

Cassandra berdiri di depan Alessia dengan kedua tangan terlipat. Foto dari Meridian City masih terbuka di layar ponsel.

Alessia tidak menjawab. Sejak menerima foto itu siang tadi, kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang sama.

Siapa yang mengambil foto itu?

Malam di Meridian City seharusnya menjadi satu-satunya malam ketika ia membiarkan dirinya lepas dari semua beban. Ia datang tanpa membawa nama Windrayana, tanpa pengawal keluarga, dan tanpa rencana untuk bertemu siapa pun.

Namun, ternyata ada yang melihat.

Ada yang mengawasi.

“Kalau aku tidak datang,” kata Alessia akhirnya, “orang itu bisa mengirim foto ini ke Adrian. Atau ke Papa. Atau ke media.”

“Dan kalau kamu datang, dia bisa melakukan apa saja.”

“Aku tidak akan pergi sendiri.”

Cassandra mendengus. “Jangan lihat aku begitu. Aku sudah tahu kamu akan bilang itu.”

“Jadi kamu ikut?”

“Aku ikut.” Cassandra mengambil tas dari sofa. “Tapi kita butuh rencana.”

Alessia mengangguk pelan.

Dua hari berlalu terlalu cepat.

Selama itu, nomor misterius tidak mengirim pesan lagi. Cassandra juga belum mendapat jawaban pasti dari temannya mengenai nomor tersebut. Nomor itu terdaftar sebagai kartu prabayar tanpa identitas, lalu terus berpindah lokasi melalui jaringan yang sulit dilacak.

Ferdinand tidak lagi membahas pesan-pesan ancaman itu. Ia justru menghabiskan waktu di ruang kerja, memeriksa dokumen lama bersama sekretarisnya. Setiap Alessia mencoba bertanya, ayahnya selalu mengakhiri pembicaraan.

Marlena berbeda.

Ibunya beberapa kali masuk ke kamar Ethan, duduk cukup lama di sisi tempat tidur cucunya, lalu keluar dengan mata merah. Alessia tidak pernah memergokinya menangis, tetapi ia tahu ibunya ketakutan.

Mereka semua menyimpan sesuatu.

Malam Heritage Business Forum akhirnya tiba.

Ethan sudah tidur ketika Alessia bersiap di depan cermin. Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan sepanjang lutut. Tidak mencolok, tetapi cukup pantas untuk acara bisnis yang akan dihadiri orang-orang paling berpengaruh di Arcadia.

Cassandra muncul di pintu kamar dengan gaun hijau gelap dan ekspresi tidak puas.

“Kenapa semua orang kaya harus bikin acara di gedung yang dingin dan penuh orang sok penting?” keluhnya.

“Karena kalau di tempat hangat, mereka mungkin jadi lebih manusiawi.”

“Mustahil.”

Alessia tersenyum tipis.

Namun, senyumnya menghilang saat melihat Ethan tidur di ranjang kecilnya. Boneka rubah masih berada dalam pelukannya. Wajahnya tenang, tanpa mengetahui bahwa satu foto lama dapat mengubah hidup mereka.

Alessia membungkuk dan mencium keningnya.

“Mama pulang sebelum kamu bangun,” bisiknya.

Di pintu kamar, Marlena menunggu.

“Aku akan jaga dia,” kata ibunya.

Alessia berdiri. “Mama tidak perlu begadang.”

“Aku tidak akan bisa tidur.”

Tatapan mereka bertemu.

“Mama,” kata Alessia pelan, “kalau ada sesuatu yang Mama tahu tentang malam di Meridian City atau soal Proyek Aurora, bilang sekarang.”

Marlena tampak terkejut.

“Kenapa kamu bicara soal Meridian City?”

“Tidak penting dari mana aku tahu.” Alessia menahan diri agar suaranya tidak meninggi. “Mama tahu sesuatu?”

Marlena membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Tapi kalau kamu merasa tidak aman, jangan pergi.”

Jawaban itu tidak cukup.

Namun, waktu terus berjalan.

“Jaga Ethan,” kata Alessia sekali lagi sebelum pergi.

Heritage Business Forum diadakan di Grand Arcadia Hotel, gedung tua dengan aula besar yang baru direnovasi. Mobil-mobil mewah memenuhi area depan. Para tamu berjas dan bergaun formal berjalan melewati karpet merah, tersenyum kepada kamera, lalu memasang wajah serius begitu masuk ke dalam.

Cassandra menggenggam lengan Alessia ketika mereka berjalan menuju pintu masuk.

“Kalau ada yang aneh, kita langsung keluar.”

“Aku tahu.”

“Kalau ada yang mendekat dan bilang dia teman lama—”

“Cas.”

“Aku hanya memastikan.”

Begitu memasuki aula, Alessia langsung menyadari kehadirannya.

Adrian berdiri di dekat panggung utama bersama beberapa eksekutif Kertanegara Corp. Ia mengenakan setelan hitam, rapi dan sempurna. Di bawah lampu aula, wajahnya terlihat lebih dingin daripada biasanya.

Reza berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengamati ruangan seolah tidak ada satu pun orang yang cukup aman untuk dibiarkan tanpa pengawasan.

Adrian menoleh.

Tatapannya menemukan Alessia di antara kerumunan.

Ia tidak tersenyum. Hanya memandang cukup lama hingga Cassandra berbisik, “Itu dia, kan?”

“Ya.”

“Dia tahu kamu datang.”

“Tentu saja. Semua orang bisa melihat.”

“Bukan itu maksudku.”

Alessia tidak menjawab.

Adrian berpamitan dari kelompoknya, lalu berjalan ke arah mereka. Setiap langkahnya membuat Alessia ingin mundur, tetapi ia tetap berdiri di tempat.

“Kamu datang,” katanya.

“Kedengarannya Anda tidak senang.”

“Aku sudah memperingatkanmu.”

“Dan saya sudah bilang saya tidak suka diperintah.”

Cassandra menatap Adrian tanpa ramah. “Saya Cassandra.”

“Adrian.”

“Ya, semua orang di kota ini tahu.”

Reza menunduk sebentar, mungkin menyembunyikan senyum.

Adrian kembali memandang Alessia. “Kamu datang dengan siapa?”

“Dengan Cas.”

“Pengawalan?”

“Tidak.”

Rahang Adrian mengeras. “Ini bukan tempat yang aman malam ini.”

“Karena Kertanegara Corp juga hadir?”

“Karena ada orang yang ingin memancing keributan antara dua keluarga.”

Alessia ingin menunjukkan foto dari Meridian City, tetapi ia menahan diri. Ia belum tahu apakah Adrian terlibat atau tidak. Terlalu berbahaya untuk membuka semuanya di tengah aula yang penuh orang.

“Kalau Anda tahu sesuatu, katakan langsung,” katanya.

“Aku sedang berusaha mencari tahu.”

Sebelum Alessia bisa membalas, seorang pelayan datang membawa nampan minuman. Saat melewatinya, pelayan itu menjatuhkan sebuah amplop putih kecil tepat di dekat kaki Alessia.

“Maaf, Nona,” katanya cepat.

Alessia membungkuk untuk mengambil amplop itu.

Ketika ia mendongak, pelayan tersebut sudah menghilang di antara para tamu.

“Apa itu?” tanya Cassandra.

Tidak ada nama di bagian depan amplop. Hanya satu huruf yang ditulis dengan tinta hitam.

A.

Alessia merobek bagian atas amplop.

Di dalamnya ada secarik kertas.

**Ke taman belakang. Sendirian. Sekarang. Kalau tidak, foto Meridian City dikirim ke Adrian Kertanegara dalam lima menit.**

Cassandra membaca pesan itu dari sampingnya.

“Jangan,” bisiknya.

Adrian memperhatikan wajah mereka. “Ada apa?”

Alessia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas.

“Tidak ada.”

“Alessia.”

Untuk pertama kalinya, Adrian memanggil namanya tanpa nada formal. Cara ia mengucapkannya membuat Alessia kembali mengingat suara pria bertopeng lima tahun lalu.

Ia menatap Adrian lurus-lurus.

“Saya mau pergi sebentar, jangan ikuti saya.”

Lalu, sebelum Cassandra ataupun Adrian sempat menahannya, Alessia berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke taman belakang hotel.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   WAJAH DI LAYAR

    Wajah di layar itu bukan orang asing.Sari Dumanauw menatap mereka lewat kamera, duduk di sebuah ruangan yang tidak dikenali—dinding polos, pencahayaan datar, seperti sengaja dipilih agar tidak memberi petunjuk lokasi.“Bu Sari?” Alessia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. “Anda yang mengirim semua pesan ini?”Sari tersenyum tipis, jauh berbeda dari perempuan yang menangis di depan kamera wartawan beberapa minggu lalu, menuntut kebenaran soal suaminya.“Aku bertanya-tanya kapan kalian akan menyadarinya,” katanya, suaranya tenang, hampir dingin. “Kalian terlalu sibuk mengejar Herman dan Damar, sampai lupa bertanya siapa yang sebenarnya mengarahkan mereka ke arah yang tepat.”Ferdinand melangkah maju, wajahnya pucat. “Kau yang mengaku sebagai janda Yusuf. Semua yang kau katakan di depan kamera itu—”“Semuanya benar,” potong Sari cepat. “Yusuf memang suamiku. Dia memang meninggal dengan nama yang salah. Aku memang berduka selama dua puluh tahun. Tapi kesedihan itu berubah jadi

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   DALANG DI BALIK DALANG

    Alessia menatap pesan itu, tangannya mendadak dingin meski udara sore masih hangat. “Apa itu?” tanya Adrian, melihat perubahan di wajahnya. Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata-kata. Adrian membaca pesan itu, rahangnya langsung mengeras. “Yusril hanya orang suruhan?” ulangnya pelan. “Kalau begitu ini bukan soal saham dan kepemimpinan semata.” “Ini kelanjutan dari semuanya,” kata Alessia, suaranya bergetar. “Herman dan Damar hanya bagian dari rencana yang lebih besar.” Adrian langsung menghubungi Reza, meletakkan ponsel di atas meja dan mengaktifkan pengeras suara. “Reza, aku butuh kau melacak nomor ini lagi. Ini yang sama seperti tiga minggu lalu.” “Saya akan coba, Pak,” jawab Reza. “Tapi terakhir kali nomor itu selalu mati dalam hitungan menit.” “Coba juga cari tahu latar belakang Yusril Hamdani lebih dalam,” tambah Adrian. “Siapa yang mendanai pembelian sahamnya, dari mana asal modalnya, dan apakah ada hubungan dengan Herman atau Damar sebelumnya.” “Baik, Pak. Saya akan k

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   MOSI TIDAK PERCAYA

    Tiga minggu berlalu sejak pesan misterius terakhir itu, dan tidak ada kelanjutan apa pun yang muncul. Reza sudah melacak nomor itu berkali-kali, namun selalu berujung buntu—nomor sekali pakai yang mati begitu pesan terkirim.Alessia mulai terbiasa dengan ritme baru hidupnya—pagi bersama Ethan, siang membantu papanya mengurus sebagian pekerjaan Windrayana Group yang tertunda, dan sore yang perlahan mulai diisi kehadiran Adrian yang semakin sering datang tanpa alasan bisnis apa pun. Namun kalimat itu—*aku baru saja mulai*—masih terngiang setiap kali ia lengah.Pagi itu, ketenangan itu terusik oleh dering telepon yang membangunkan Alessia lebih awal dari biasanya.“Bu Alessia,” suara sekretaris papanya terdengar cemas di seberang telepon, “Bapak meminta Anda segera ke kantor. Ada masalah dengan rapat pemegang saham.”Alessia bergegas bersiap, meninggalkan Ethan bersama Marlena. Di dalam mobil menuju kantor, ia mencoba menghubungi papanya, namun panggilannya tidak terjawab.Begitu tiba di

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   SORE YANG TENANG

    Beberapa hari berlalu setelah kekacauan besar itu, dan Arcadia perlahan mulai kembali pada ritme normalnya—meski berita tentang Rasyid, Damar, dan Herman masih menjadi topik utama di berbagai media selama beberapa hari berikutnya.Alessia duduk di teras belakang rumah Windrayana, menikmati sore yang tenang untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Arcadia. Ethan bermain di halaman bersama Marlena, tertawa riang mengejar kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga yang mulai mekar.Ferdinand duduk di kursi rodanya tidak jauh dari sana, wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski masih perlu istirahat teratur sesuai anjuran dokter.“Kau tampak lebih tenang,” kata Ferdinand, memperhatikan putrinya dari samping.“Aku rasa begitu,” jawab Alessia. “Meski aku masih terus menunggu kabar buruk lain setiap kali ponselku berbunyi.”Ferdinand tersenyum tipis. “Itu wajar, setelah semua yang kita lalui. Tapi kau harus percaya, Nak, badai ini sudah benar-benar berlalu.”“Bag

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   PANGGILAN AYAH

    Reza menghubungi kembali kurang dari satu jam kemudian, saat mereka masih berada di ruang tunggu rumah sakit menemani Ferdinand yang baru saja memulai pengobatan pertamanya.“Pak Adrian,” suara Reza terdengar dari ponsel yang diletakkan di atas meja, “Ratna sudah memberikan keterangan soal racikan teh itu.”“Dan?” tanya Adrian.“Dia mengaku itu inisiatif Herman,” jawab Reza. “Herman menyuruhnya menitipkan racikan itu lewat Wulan, dengan harapan efeknya akan membuat Ferdinand semakin lemah dan lebih mudah ditekan lewat ancaman-ancaman yang dikirimnya belakangan.”Marlena menutup mata sesaat, mencoba menahan amarah yang bercampur lega karena akhirnya semua pertanyaan terjawab.“Jadi bukan untuk membunuh Papa,” gumam Alessia, “hanya untuk melemahkannya.”“Menurut pengakuan Ratna, ya,” jawab Reza. “Herman ingin Ferdinand cukup lemah untuk tidak bisa melawan, tapi tidak sampai mati—karena dia masih butuh Ferdinand hidup untuk memberikan pengakuan publik yang direncanakannya.”Ferdinand, ya

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   HASIL LABORATORIUM

    Pagi itu datang lebih cepat dari yang Alessia inginkan. Ia nyaris tidak tidur sepanjang malam, pikirannya terus berputar mencoba menebak apa yang akan disampaikan pihak rumah sakit.Adrian sudah menunggu di ruang tamu apartemen ketika Alessia keluar dari kamar, wajahnya juga menunjukkan tanda kurang tidur yang sama.“Ethan masih tidur,” katanya. “Cassandra akan menjaganya sampai kita kembali.”Mereka tiba di rumah sakit tepat pukul delapan pagi. Marlena sudah menunggu di lorong dekat ruang rawat Ferdinand, wajahnya pucat dan cemas.“Ma,” Alessia langsung memeluknya. “Ada apa sebenarnya?”“Dokter bilang mereka menemukan sesuatu dari hasil laboratorium teh yang diambil beberapa hari lalu,” jawab Marlena, suaranya bergetar. “Yang dibawa Wulan waktu itu.”Alessia teringat percakapan lama itu—teh herbal yang dibawa tante Wulan sebagai hadiah, yang diminum papanya untuk membantu tidurnya. Sesuatu yang sempat mereka curigai sebagai bagian dari rencana peracunan, sebelum semua perhatian teral

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status