LOGIN
Hujan tipis turun ketika mobil Alessia memasuki gerbang tol Arcadia. Empat tahun dia pergi. Empat tahun dia berusaha menjauh dari kota ini, dari nama keluarganya, dari semua hal yang bisa membuka luka lama.
Tapi surat dari ibunya minggu lalu mengubah semuanya. Hanya tiga kalimat pendek: Ayahmu sakit. Perusahaan butuh kamu. Pulanglah, Alessia. “Mama, kita mau ke mana lagi?” Suara Ethan dari kursi belakang membuyarkan lamunannya. Alessia melirik kaca spion. Anaknya duduk sambil memeluk boneka rubah kesayangannya, menatap balik lewat pantulan kaca. “Ke kota tempat Mama dulu tinggal,” jawab Alessia. “Kenapa kita nggak pernah ke sana sebelumnya?” “Mama sibuk,” katanya, meski dia tahu jawaban itu bohong. Dia sudah terlalu terbiasa berbohong pada anaknya sendiri. Ethan diam sebentar, memiringkan kepalanya—kebiasaan kecil yang selalu membuat dada Alessia sesak, karena dia tahu persis dari siapa kebiasaan itu berasal. “Kita selalu pindah-pindah,” kata Ethan pelan. “Teman-teman di sekolah lama nggak gitu.” “Aku tahu. Tapi kali ini kita nggak akan pindah lagi. Janji.” Alessia tidak yakin bisa menepati janji itu. Tapi dia mengucapkannya karena itulah yang selama ini membuat Ethan merasa aman. Menara tertinggi di Arcadia berdiri dengan logo huruf K besar yang menyala biru di puncaknya. Kertanegara Corp. Alessia buru-buru memalingkan wajah dari menara itu. Jangan sekarang, pikirnya. Jangan di sini. Dia tidak menyangka akan kembali ke Arcadia secepat ini. Dia pikir masih punya waktu untuk mempersiapkan diri—untuk Ethan, untuk semua pertanyaan yang mungkin muncul. Tapi sakit ayahnya tidak menunggu kesiapannya. Rumah keluarga Windrayana berdiri di ujung Jalan Cendrawasih. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Marlena berlari keluar dengan payung di satu tangan. “Alessia.” “Mama.” Marlena memeluknya erat, lalu matanya turun ke Ethan yang berdiri malu-malu sambil memeluk bonekanya. “Dia sudah sebesar ini,” bisik Marlena. “Empat tahun, Ma. Banyak yang terlewat.” Marlena berjongkok di depan Ethan. “Halo, Nak. Aku nenekmu.” Ethan menatapnya hati-hati, lalu tersenyum tipis—senyum yang persis seperti senyum Alessia di usia yang sama. “Halo. Namaku Ethan.” Di dalam rumah, Ferdinand duduk di kursi roda dekat perapian. Wajahnya menua lebih cepat dari yang Alessia ingat. “Papa,” Alessia berhenti di ambang pintu. Ferdinand mengangkat wajah. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka bicara. “Empat tahun, dan yang pertama kamu lakukan begitu pulang adalah berdiri di pintu seperti tamu,” katanya akhirnya. Bukan kalimat hangat. Tapi Alessia tahu itu cara papanya bilang bahwa dia merindukannya. Dia melangkah masuk sambil menggandeng tangan Ethan. “Papa, ini—” “Papa tahu siapa dia,” potong Ferdinand. Matanya menatap Ethan lama sekali—terlalu lama. “Papa tahu?” “Mama kirim foto,” jawab Ferdinand cepat. Terlalu cepat. “Duduklah. Kita bicara nanti, setelah anak ini istirahat.” Alessia menatap mamanya, mencari penjelasan. Marlena hanya menggeleng kecil. Ada sesuatu yang tidak dikatakan di ruangan itu. Alessia bisa merasakannya. Malam itu, setelah Ethan tidur di kamar yang sudah dihias Marlena dengan mainan dan buku anak-anak, Alessia duduk sendiri di balkon lantai dua. Menara Kertanegara Corp masih berdiri di kejauhan, seolah menantangnya untuk tidak melupakan. Lima tahun lalu, di sebuah pesta bertopeng di Meridian City, dia bertemu seorang pria yang tidak pernah dia ketahui namanya. Satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Dia tidak pernah membayangkan wajah di balik topeng itu bisa menghancurkan segalanya kalau sampai terlihat lagi. Ponselnya bergetar. Pesan dari Cassandra. **Kamu udah sampai? Gimana rasanya pulang?** Alessia mengetik balasan. **Aneh. Kayak nahan napas di bawah air terus pura-pura itu normal.** **Kamu nggak sendirian kali ini,** balas Cas. **Dan Arcadia kota besar. Kemungkinan ketemu DIA kecil banget.** Alessia tersenyum getir membaca itu. Dia ingin percaya. Tapi lusa, mamanya sudah mengirim undangan—acara bisnis tahunan paling bergengsi di Arcadia, tempat semua nama besar kota ini berkumpul dalam satu ruangan. Termasuk, kemungkinan besar, nama yang paling dia takuti. Alessia menatap Ethan yang tidur lelap lewat pintu kaca kamarnya. Empat tahun aku menyembunyikanmu, pikirnya. Semoga aku masih punya waktu sedikit lebih lama. Di kejauhan, di balik jendela kaca tertinggi menara Kertanegara Corp, satu-satunya lampu yang belum padam masih menyala.Wajah di layar itu bukan orang asing.Sari Dumanauw menatap mereka lewat kamera, duduk di sebuah ruangan yang tidak dikenali—dinding polos, pencahayaan datar, seperti sengaja dipilih agar tidak memberi petunjuk lokasi.“Bu Sari?” Alessia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. “Anda yang mengirim semua pesan ini?”Sari tersenyum tipis, jauh berbeda dari perempuan yang menangis di depan kamera wartawan beberapa minggu lalu, menuntut kebenaran soal suaminya.“Aku bertanya-tanya kapan kalian akan menyadarinya,” katanya, suaranya tenang, hampir dingin. “Kalian terlalu sibuk mengejar Herman dan Damar, sampai lupa bertanya siapa yang sebenarnya mengarahkan mereka ke arah yang tepat.”Ferdinand melangkah maju, wajahnya pucat. “Kau yang mengaku sebagai janda Yusuf. Semua yang kau katakan di depan kamera itu—”“Semuanya benar,” potong Sari cepat. “Yusuf memang suamiku. Dia memang meninggal dengan nama yang salah. Aku memang berduka selama dua puluh tahun. Tapi kesedihan itu berubah jadi
Alessia menatap pesan itu, tangannya mendadak dingin meski udara sore masih hangat. “Apa itu?” tanya Adrian, melihat perubahan di wajahnya. Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata-kata. Adrian membaca pesan itu, rahangnya langsung mengeras. “Yusril hanya orang suruhan?” ulangnya pelan. “Kalau begitu ini bukan soal saham dan kepemimpinan semata.” “Ini kelanjutan dari semuanya,” kata Alessia, suaranya bergetar. “Herman dan Damar hanya bagian dari rencana yang lebih besar.” Adrian langsung menghubungi Reza, meletakkan ponsel di atas meja dan mengaktifkan pengeras suara. “Reza, aku butuh kau melacak nomor ini lagi. Ini yang sama seperti tiga minggu lalu.” “Saya akan coba, Pak,” jawab Reza. “Tapi terakhir kali nomor itu selalu mati dalam hitungan menit.” “Coba juga cari tahu latar belakang Yusril Hamdani lebih dalam,” tambah Adrian. “Siapa yang mendanai pembelian sahamnya, dari mana asal modalnya, dan apakah ada hubungan dengan Herman atau Damar sebelumnya.” “Baik, Pak. Saya akan k
Tiga minggu berlalu sejak pesan misterius terakhir itu, dan tidak ada kelanjutan apa pun yang muncul. Reza sudah melacak nomor itu berkali-kali, namun selalu berujung buntu—nomor sekali pakai yang mati begitu pesan terkirim.Alessia mulai terbiasa dengan ritme baru hidupnya—pagi bersama Ethan, siang membantu papanya mengurus sebagian pekerjaan Windrayana Group yang tertunda, dan sore yang perlahan mulai diisi kehadiran Adrian yang semakin sering datang tanpa alasan bisnis apa pun. Namun kalimat itu—*aku baru saja mulai*—masih terngiang setiap kali ia lengah.Pagi itu, ketenangan itu terusik oleh dering telepon yang membangunkan Alessia lebih awal dari biasanya.“Bu Alessia,” suara sekretaris papanya terdengar cemas di seberang telepon, “Bapak meminta Anda segera ke kantor. Ada masalah dengan rapat pemegang saham.”Alessia bergegas bersiap, meninggalkan Ethan bersama Marlena. Di dalam mobil menuju kantor, ia mencoba menghubungi papanya, namun panggilannya tidak terjawab.Begitu tiba di
Beberapa hari berlalu setelah kekacauan besar itu, dan Arcadia perlahan mulai kembali pada ritme normalnya—meski berita tentang Rasyid, Damar, dan Herman masih menjadi topik utama di berbagai media selama beberapa hari berikutnya.Alessia duduk di teras belakang rumah Windrayana, menikmati sore yang tenang untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Arcadia. Ethan bermain di halaman bersama Marlena, tertawa riang mengejar kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga yang mulai mekar.Ferdinand duduk di kursi rodanya tidak jauh dari sana, wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski masih perlu istirahat teratur sesuai anjuran dokter.“Kau tampak lebih tenang,” kata Ferdinand, memperhatikan putrinya dari samping.“Aku rasa begitu,” jawab Alessia. “Meski aku masih terus menunggu kabar buruk lain setiap kali ponselku berbunyi.”Ferdinand tersenyum tipis. “Itu wajar, setelah semua yang kita lalui. Tapi kau harus percaya, Nak, badai ini sudah benar-benar berlalu.”“Bag
Reza menghubungi kembali kurang dari satu jam kemudian, saat mereka masih berada di ruang tunggu rumah sakit menemani Ferdinand yang baru saja memulai pengobatan pertamanya.“Pak Adrian,” suara Reza terdengar dari ponsel yang diletakkan di atas meja, “Ratna sudah memberikan keterangan soal racikan teh itu.”“Dan?” tanya Adrian.“Dia mengaku itu inisiatif Herman,” jawab Reza. “Herman menyuruhnya menitipkan racikan itu lewat Wulan, dengan harapan efeknya akan membuat Ferdinand semakin lemah dan lebih mudah ditekan lewat ancaman-ancaman yang dikirimnya belakangan.”Marlena menutup mata sesaat, mencoba menahan amarah yang bercampur lega karena akhirnya semua pertanyaan terjawab.“Jadi bukan untuk membunuh Papa,” gumam Alessia, “hanya untuk melemahkannya.”“Menurut pengakuan Ratna, ya,” jawab Reza. “Herman ingin Ferdinand cukup lemah untuk tidak bisa melawan, tapi tidak sampai mati—karena dia masih butuh Ferdinand hidup untuk memberikan pengakuan publik yang direncanakannya.”Ferdinand, ya
Pagi itu datang lebih cepat dari yang Alessia inginkan. Ia nyaris tidak tidur sepanjang malam, pikirannya terus berputar mencoba menebak apa yang akan disampaikan pihak rumah sakit.Adrian sudah menunggu di ruang tamu apartemen ketika Alessia keluar dari kamar, wajahnya juga menunjukkan tanda kurang tidur yang sama.“Ethan masih tidur,” katanya. “Cassandra akan menjaganya sampai kita kembali.”Mereka tiba di rumah sakit tepat pukul delapan pagi. Marlena sudah menunggu di lorong dekat ruang rawat Ferdinand, wajahnya pucat dan cemas.“Ma,” Alessia langsung memeluknya. “Ada apa sebenarnya?”“Dokter bilang mereka menemukan sesuatu dari hasil laboratorium teh yang diambil beberapa hari lalu,” jawab Marlena, suaranya bergetar. “Yang dibawa Wulan waktu itu.”Alessia teringat percakapan lama itu—teh herbal yang dibawa tante Wulan sebagai hadiah, yang diminum papanya untuk membantu tidurnya. Sesuatu yang sempat mereka curigai sebagai bagian dari rencana peracunan, sebelum semua perhatian teral







