Share

Bab 2

Author: Genta
Semua orang tertawa dengan canggung.

"Itu nggak penting, nggak penting. Anda orang penting dengan banyak kesibukan, wajar kalau Anda nggak ingat."

Tiga tahun yang kujalani bersama Ethan dengan bahagia ternyata bisa dilupakan semudah itu.

Setelah acara selesai, Ethan mengantar Erika dengan mobil.

Erika juga agak mabuk, dia menatap Ethan dengan perasaan berkecamuk.

Sambil menghela napas, Erika memohon, "Mengenai kejadian dulu, jangan salahkan Cindy."

"Nasibnya nggak sebagus kamu. Ketika dia meninggal, bahkan nggak ada yang mengurus pemakamannya, hidupnya kesepian."

"Sekarang kamu sudah sukses, sebentar lagi kamu juga akan menikah. Sudah waktunya kamu lupakan masa lalu."

Ethan mengatakan dia tidak mengenalku, justru itu membuktikan dia masih mengingatku.

Karena ingatan itu terlalu dalam dan kuat, jadi setiap mendengar namaku, dia menggenggam gelas minumannya dengan erat sampai jari-jarinya memucat.

Sepanjang makan, Ethan tampak tidak fokus, matanya terus melirik ke arah pintu.

Erika juga menyadari ada yang tidak beres pada sikap Ethan.

Dia merasa bersalah pada Ethan. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa tindakan yang dia lakukan dengan dalih demi kebaikan murid, justru menghancurkan keduanya.

Sebenarnya, dia juga pernah mencoba menebus kesalahannya padaku. Selama aku menjalani kemoterapi, dia meluangkan sebagian besar waktunya untuk menemaniku.

Tangan Ethan yang hendak menutup pintu mendadak berhenti.

Dia tersenyum kecil, kemudian menganggukkan kepala.

"Cindy hebat juga, sampai Ibu mau ikut bersandiwara dengannya."

"Katanya orang jahat umurnya panjang, orang sejahat dia nggak mungkin mati."

"Aku nggak akan balas dendam asalkan dia nggak muncul lagi di hadapanku seperti tiga tahun lalu."

Tiga tahun lalu, aku terdiagnosis menderita leukimia, sementara aku tidak punya siapa-siapa.

Aku pulang ke rumah, baru mengetahui bahwa ibuku sudah lama pindah.

Rumah lama kami ditempati oleh sepasang pengantin baru dan seorang anak yang baru belajar bicara.

Pada hari itu, aku berdiri di bawah gedung rumah sambil menangis tanpa henti.

Saat itulah setelah empat tahun berlalu, aku menghubungi Ethan untuk pertama kalinya.

Aku meminjam uang, nominalnya dua miliar.

"Anggap saja sebagai uang bimbingan belajar saat kita masih SMA dulu."

Tawa Ethan memekikkan telinga, kata-katanya juga sangat menyakitkan.

"Biaya ayahku dirawat di ICU sebesar 20 juta per hari. Kalau kamu juga dirawat di ICU, aku akan memberimu uang sebanyak itu."

Aku terdiam lama.

"Ethan, umurku nggak lama lagi."

Tidak ada jawaban dari seberang telepon, aku baru menyadari bahwa Ethan sudah menutup telepon.

Ironisnya, aku pingsan saat sedang membagikan brosur, jatuh tepat di pelukan Ethan.

Awalnya dia ingin menyuruh asistennya memanggil ambulans, bahkan hendak membayar biaya pengobatanku dulu.

Namun ketika menyadari bahwa orang di pelukannya adalah aku, dia langsung menarik tangannya dengan dingin.

Tubuhku terjatuh dengan keras, panas aspal di bawah terik matahari membuat kulitku melepuh.

Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, Ethan melempar uang 40 juta ke tubuhku.

Uang-uang itu berhamburan di tubuhku, terasa sangat menyakitkan.

"Kamu berusaha keras sekali mencari keberadaanku, kamu sampai rela menungguku di cuaca sepanas ini."

"Kamu bilang umurmu nggak lama lagi, 'kan? Uang ini cukup untuk beli peti mati yang lebih bagus."

Kisah selanjutnya sudah terlalu klise.

Karena tidak mau mati, aku berusaha mengumpulkan uang untuk menjalani pengobatan.

Uang 40 juta pemberiannya memang kugunakan untuk membeli peti mati.

Sisa uang 14 juta kutitipkan kepada Erika untuk dikembalikan kepada Ethan.

Erika seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa dia katakan.

"Uang akan kutransfer ke rekeningmu. Setelah itu, utang antara Cindy dan kamu sudah lunas."

"Besok adalah hari peringatan kematian Cindy. Nggak peduli kamu percaya atau nggak, aku masih berharap kamu datang mengunjungi makamnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 10

    Ethan dibawa ke rumah sakit oleh Erika dengan alasan mengalami gangguan mental.Meskipun asistennya sengaja menekan pemberitaan, tidak sampai setengah hari, kabar bahwa CEO Grup Prayogo mengalami gangguan mental sudah tersebar luas.Setelah terbangun, Ethan menerima pesan pertama dari Maya.Selama beberapa waktu terakhir, Maya berada di luar negeri untuk memilih gaun pengantin.Dia tidak pulang, Ethan juga tidak pulang.Semua pesan dari Maya, Ethan hanya membalas beberapa saja. Maya menyadari ada yang tidak beres, akhirnya dia tidak mengirimkan pesan lagi. Pesan terbaru yang dia kirim adalah pembatalan pernikahan mereka.Ethan terdiam sejenak, lalu mengetik pesan. Akhirnya, dia membalas singkat, [Baiklah.]Keluarga Prayogo dan Keluarga Yunarto memiliki hubungan bisnis yang sangat erat. Sejak pertunangan mereka diumumkan, kedua keluarga terus membantu bisnis satu sama lain.Begitu pertunangan dibatalkan, saham kedua keluarga mendapat imbasnya.Terutama Ethan, saat ini dia diserang berba

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 9

    Erika mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang kuat.Meskipun gagal masuk universitas impianku, aku tidak menangis.Ketika harus bekerja sepuluh jam di pabrik yang kejam pun, aku tidak menangis.Bahkan ketika mengetahui bahwa aku terkena leukemia, aku tetap tidak menangis."Kamu tahu dia bilang apa padaku? Dia bilang air matanya sudah habis saat kejadian itu.""Saat itu aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku mengira dia masih membenciku.""Setelah tahu kebenarannya, aku justru berharap Cindy masih membenciku, setidaknya dia masih punya alasan untuk terus hidup."Kemoterapi terasa sangat menyakitkan, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi ke depannya.Jelas-jelas berada di ambang kematian, tetapi aku justru merasa begitu tersiksa.Aku kesakitan dengan putus asa di ranjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sangat membencinya.Namun kebencian yang dalam itu, terlalu berat untuk kutanggung.Aku menggenggam tangan Erika dan memintany

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 8

    Ethan melakukan pencarian dengan sangat cepat.Begitu lukanya selesai dijahit, asistennya langsung membawa kabar.Di gedung kosong terbengkalai di bagian utara kota, aku kembali bertemu dengan para bajingan itu.Di luar dugaan, aku tidak merasa takut.Bahkan aku melayang di depan mereka satu per satu, lalu mengamati mereka dengan saksama.Ternyata orang-orang yang pernah menyakitiku memiliki wajah yang sama denganku, mereka semuanya memiliki dua mata dan satu mulut.Namun, kenapa aku tidak berdosa, mereka justru melakukan dosa?Kenapa aku mati, sedangkan mereka masih hidup?Sebelum Ethan datang, mereka sudah dihajar sampai babak belur.Wajah beberapa dari mereka bengkak parah hingga tidak mampu berbicara dengan jelas.Setiap ditatap oleh Ethan, mereka langsung ketakutan."Kalian para bajingan masih hidup rupanya.""Sementara perempuan yang kalian lecehkan sudah meninggal tiga tahun lalu.""Menurut kalian, apa itu adil?"Mereka berlutut berjajar, saling memandang dengan gelisah.Salah s

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 7

    Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi Ethan seperti ini.Laki-laki itu tertegun sejenak, seolah tidak mendengar ucapan asistennya dengan jelas.Dia tampak terkejut. Suaranya terdengar lirih, seolah seseorang baru saja mencekik lehernya hingga dia sulit bernapas.Semua perasaan lega dan asumsinya selama ini hancur seketika.Ethan hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak sepatah kata pun bisa keluar.Dia hanya terus mengulang satu kalimat."Nggak mungkin."Tidak lama kemudian, kenyataan membuatnya terpukul.Laporan kepolisian itu tertulis dengan sangat jelas, aku adalah korban pelecehan.Mata Ethan tertuju pada hasil pemeriksaan visum: ada luka robekan, memar, dan luka ringan tingkat dua.Harapan kecil yang masih tersisa dalam dirinya benar-benar hancur.Kesedihan dan perasaan terpukul menyelimuti dirinya, membuat dadanya terasa sesak.Mata Ethan langsung memerah, hidungnya terasa perih.Dia berusaha agar bisa berdiri, tetapi baru menyadari bahwa dia tidak bisa menahan diri lagi.Ethan

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 6

    Ethan kembali ke makamku lagi.Dia tidak setenang tadi siang. Dia berjalan sempoyongan, terlihat penuh penderitaan dan kelelahan.Sepatu kulit mahalnya menginjak-injak genangan air kotor, tetapi dia bahkan tidak mengeluh sedikit pun.Kertas berwarna merah muda itu terendam di dalam air, perlahan mengembang dan berkerut. Tulisan di atasnya pun luntur, hingga tidak bisa dibaca lagi.Ethan memungutnya, tetapi kertas itu makin hancur.Dia tertegun sejenak, lalu mengambilnya dengan lebih hati-hati.Namun, surat pendek itu sudah menjadi lembek dan hancur seperti lumpur.Ethan berdiri tidak bergeming, seolah seluruh tenaganya telah habis.Tatapannya terlihat panik, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Aku menggelengkan kepala, lalu mendorongnya menjauh."Pergilah, Ethan. Kembalilah ke duniamu.""Aku nggak menyalahkanmu lagi, benaran."Aku pernah membenci Ethan.Membencinya karena dia meninggalkanku sendirian di gang gelap itu.Aku juga pernah menyalahkan Ethan.Menyalahkan

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 5

    Sebuah flashdisk kecil, dengan gantungan Hello Kitty yang sama sekali tidak cocok dengan Erika.Ethan langsung mengenali bahwa itu adalah barang milikku.Bagaimanapun itu adalah hadiah pertama yang pernah dia berikan kepadaku, dan aku sangat suka.Aku mengira Ethan akan langsung pergi begitu saja, tetapi aku tidak menyangka dia malah membawa flashdisk kembali ke kantor.Dia melempar flashdisk itu sembarangan ke sudut ruangan, lalu mulai sibuk bekerja.Hingga matahari mulai terbenam, barulah Ethan berhenti bekerja.Dia menatap Hello Kitty yang tersenyum lebar itu, lalu memijat pelipisnya yang terasa lelah.Di kantor yang sunyi, Ethan bergumam beberapa kali.Dengan suara sangat pelan, dia seolah menyebut sebuah nama."Cindy …."Aku tertegun di udara, lalu melambaikan tangan dengan hati-hati."Aku di sini, aku di sini."Tentu Ethan tidak bisa meresponku.Dia menggenggam flashdisk. Aku bahkan takut flashdisk itu rusak karena Ethan menggenggamnya dengan erat.Beberapa saat kemudian, Ethan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status