Share

Bab 3

Author: Genta
Ethan berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong.

Aku tiba-tiba ingat, pertama kali kenal Ethan juga dalam keadaan seperti ini.

Dengan niat ingin memukulnya untuk melampiaskan amarahku, tetapi malah basah kuyup karena mendadak hujan.

Ethan dihajar sampai kepalanya berlumuran darah, meringkuk di pojokan.

Dia memberiku jaket dengan hati-hati, lalu mundur pelan-pelan.

Kesalahan orang tua tidak seharusnya ditanggung anaknya.

Karena merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan, Ethan memperlakukanku dengan baik.

Dia diam-diam memasukkan sarapan hangat di dalam laci mejaku.

Dia rela mengantre dua jam demi mencarikan tempat belajar yang bagus untukku.

Ketika kondisi mental ibuku terganggu dan menyerangku, Ethan selalu berdiri di depanku dan menerima pukulan.

Aku merasa Ethan benar-benar seorang pahlawan, dia benar-benar pemberani.

Sambil menahan sakit, Ethan menyeka air mataku.

Ethan selalu dengan mata berbinar, tersenyum santai.

"Bodoh, mulai sekarang aku akan melindungimu."

Pikiran remaja masih polos. Baru saat naik ke kelas tiga, aku menyadari bahwa di balik keberaniannya, tersimpan sebuah perasaan yang selama ini dia sembunyikan.

Ethan berusaha mendekatiku, aku juga ingin sekali saja memberanikan diri menjalin hubungan dengannya.

Aku menulis banyak draf surat, kertas surat berwarna-warni berserakan di lantai.

Namun, aku tidak menyangka pada acara pertemuan keluarga, Erika memeriksa isi tas sekolah semua murid.

Situasi menjadi tidak terkendali.

Aku menghina Ethan sebagai anak pelakor, berasal dari kelas rendahan, dan nggak berguna.

Ayahnya Ethan masuk rumah sakit karena kejadian itu. Dokter sampai tiga kali mengeluarkan surat pernyataan bahwa kondisi ayahnya kritis, pada akhirnya nyawanya tidak tertolong.

Ibu mengurungku di rumah, melarangku keluar rumah karena takut mempermalukan keluarga.

Aku memanjat keluar lewat jendela untuk menemui Ethan, aku ingin menjelaskan semuanya padanya.

Tapi Ethan menatapku dengan dingin, seolah bertemu musuh.

"Jatuh cinta padamu adalah kebodohan dan kesalahanku, tapi apa hubungannya dengan ayahku?"

"Ibuku mencelakai ibumu, kamu mencelakai ayahku, sekarang kita impas."

Ethan melempar bunga lili yang dibungkus dengan indah ke samping kakiku, kartu ucapan kelulusan pun menjadi kotor.

Aku berada di rumah Ethan sampai malam, terus berlutut sambil memohon, tetapi Ethan tetap tidak mau menemuiku.

Dalam perjalanan pulang, seseorang menyeretku ke sebuah gang gelap.

Sekelompok berandalan merobek pakaianku sambil melontarkan kata-kata yang merendahkanku.

Aku meronta sambil berusaha menghubungi orang terdekatku, yaitu Ethan.

"Ethan, kumohon … tolong aku … aku bertemu orang jahat …."

Suara Ethan sangat jelas dan menyakitkan.

"Kalau begitu, selamat."

"Bukankah dulu kamu nggak suka ibuku yang jahat? Sekarang kamu juga seperti ibuku."

Setelah menutup telepon, dia memblokir nomorku.

Panggilan permintaan tolongku ditolak.

Yang bisa kuingat pada malam itu, hanyalah dia menutup telepon dan aroma bunga yang memenuhi udara.

Saat aku ditemukan, kondisi tangan kananku patah, seluruh tubuhku penuh luka.

Gara-gara aku, kondisi ibuku makin parah dan masuk ke rumah sakit jiwa.

Di antara para siswa yang mengikuti tes masuk perguruan tinggi, hanya aku dan Ethan yang tidak diantar orang tua.

Hari itu adalah terakhir kalinya aku bertemu Ethan.

Kabar yang kudengar tentang Ethan adalah dia berhasil masuk Universitas Aruna.

Sedangkan aku tidak lolos tes, hanya berhasil masuk universitas biasa dengan nilai pas-pasan.

Aku tidak mengulang, juga tidak melanjutkan kuliah.

Kondisi mental ibuku makin parah, aku membutuhkan banyak uang.

Pada tahun ketiga bekerja di pabrik ilegal, kondisi kesehatanku mulai menurun.

Saat itu, Erika menemukan keberadaanku.

Dia menceritakan kembali kejadian pada masa itu padaku, lalu menawarkan bantuan agar aku bisa kuliah lagi.

Aku menggelengkan kepala dengan tenang.

"Aku sakit. Aku ingin hidup, yang kuinginkan hanya hidup."

Namun setelah menjalani kemoterapi kedua, harapanku untuk hidup mulai pupus.

Aku meringkuk di ranjang sambil kesakitan, bahkan tidak memiliki tenaga untuk menangis.

Ethan menceritakan kisah perjalanan bisnisnya di televisi.

Di akhir wawancara, Ethan menunjukkan cincin tunangan di depan kamera, menyatakan dirinya akan segera menikah.

Aku pun memberi tahu Erika, aku ingin menghentikan pengobatan.

Semua orang sudah tidak menginginkanku, aku juga tidak ingin hidup lagi.

Aku hanya ingin kebebasan, ingin melepas semua bebanku.

Di hari-hari terakhir hidupku, aku berusaha menjalani hidupku seperti biasa.

Aku berdoa agar bisa bertemu lagi dengan Ethan.

Setidaknya, aku tidak ingin meninggal sementara masih ada kesalahpahaman di antara kami.

Doaku dikabulkan, aku bisa bertemu dengan Ethan lagi.

Dia datang ke rumah sakit dengan mengenakan setelan jas untuk acara amal, kami hanya dipisahkan oleh sebuah tirai.

Aku ingin memanggil Ethan.

Namun, darah yang tiba-tiba menyembur dari mulutku membuat kata-kata yang ingin kuucapkan tertahan.

Perawat bergegas menyelamatkanku, tetapi aku hanya merasakan tubuhku makin ringan.

Ethan sepertinya mendengar aku memanggil namanya.

Dia buru-buru balik badan, lalu melihatku sudah tertutup kain putih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 10

    Ethan dibawa ke rumah sakit oleh Erika dengan alasan mengalami gangguan mental.Meskipun asistennya sengaja menekan pemberitaan, tidak sampai setengah hari, kabar bahwa CEO Grup Prayogo mengalami gangguan mental sudah tersebar luas.Setelah terbangun, Ethan menerima pesan pertama dari Maya.Selama beberapa waktu terakhir, Maya berada di luar negeri untuk memilih gaun pengantin.Dia tidak pulang, Ethan juga tidak pulang.Semua pesan dari Maya, Ethan hanya membalas beberapa saja. Maya menyadari ada yang tidak beres, akhirnya dia tidak mengirimkan pesan lagi. Pesan terbaru yang dia kirim adalah pembatalan pernikahan mereka.Ethan terdiam sejenak, lalu mengetik pesan. Akhirnya, dia membalas singkat, [Baiklah.]Keluarga Prayogo dan Keluarga Yunarto memiliki hubungan bisnis yang sangat erat. Sejak pertunangan mereka diumumkan, kedua keluarga terus membantu bisnis satu sama lain.Begitu pertunangan dibatalkan, saham kedua keluarga mendapat imbasnya.Terutama Ethan, saat ini dia diserang berba

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 9

    Erika mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang kuat.Meskipun gagal masuk universitas impianku, aku tidak menangis.Ketika harus bekerja sepuluh jam di pabrik yang kejam pun, aku tidak menangis.Bahkan ketika mengetahui bahwa aku terkena leukemia, aku tetap tidak menangis."Kamu tahu dia bilang apa padaku? Dia bilang air matanya sudah habis saat kejadian itu.""Saat itu aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku mengira dia masih membenciku.""Setelah tahu kebenarannya, aku justru berharap Cindy masih membenciku, setidaknya dia masih punya alasan untuk terus hidup."Kemoterapi terasa sangat menyakitkan, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi ke depannya.Jelas-jelas berada di ambang kematian, tetapi aku justru merasa begitu tersiksa.Aku kesakitan dengan putus asa di ranjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sangat membencinya.Namun kebencian yang dalam itu, terlalu berat untuk kutanggung.Aku menggenggam tangan Erika dan memintany

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 8

    Ethan melakukan pencarian dengan sangat cepat.Begitu lukanya selesai dijahit, asistennya langsung membawa kabar.Di gedung kosong terbengkalai di bagian utara kota, aku kembali bertemu dengan para bajingan itu.Di luar dugaan, aku tidak merasa takut.Bahkan aku melayang di depan mereka satu per satu, lalu mengamati mereka dengan saksama.Ternyata orang-orang yang pernah menyakitiku memiliki wajah yang sama denganku, mereka semuanya memiliki dua mata dan satu mulut.Namun, kenapa aku tidak berdosa, mereka justru melakukan dosa?Kenapa aku mati, sedangkan mereka masih hidup?Sebelum Ethan datang, mereka sudah dihajar sampai babak belur.Wajah beberapa dari mereka bengkak parah hingga tidak mampu berbicara dengan jelas.Setiap ditatap oleh Ethan, mereka langsung ketakutan."Kalian para bajingan masih hidup rupanya.""Sementara perempuan yang kalian lecehkan sudah meninggal tiga tahun lalu.""Menurut kalian, apa itu adil?"Mereka berlutut berjajar, saling memandang dengan gelisah.Salah s

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 7

    Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi Ethan seperti ini.Laki-laki itu tertegun sejenak, seolah tidak mendengar ucapan asistennya dengan jelas.Dia tampak terkejut. Suaranya terdengar lirih, seolah seseorang baru saja mencekik lehernya hingga dia sulit bernapas.Semua perasaan lega dan asumsinya selama ini hancur seketika.Ethan hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak sepatah kata pun bisa keluar.Dia hanya terus mengulang satu kalimat."Nggak mungkin."Tidak lama kemudian, kenyataan membuatnya terpukul.Laporan kepolisian itu tertulis dengan sangat jelas, aku adalah korban pelecehan.Mata Ethan tertuju pada hasil pemeriksaan visum: ada luka robekan, memar, dan luka ringan tingkat dua.Harapan kecil yang masih tersisa dalam dirinya benar-benar hancur.Kesedihan dan perasaan terpukul menyelimuti dirinya, membuat dadanya terasa sesak.Mata Ethan langsung memerah, hidungnya terasa perih.Dia berusaha agar bisa berdiri, tetapi baru menyadari bahwa dia tidak bisa menahan diri lagi.Ethan

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 6

    Ethan kembali ke makamku lagi.Dia tidak setenang tadi siang. Dia berjalan sempoyongan, terlihat penuh penderitaan dan kelelahan.Sepatu kulit mahalnya menginjak-injak genangan air kotor, tetapi dia bahkan tidak mengeluh sedikit pun.Kertas berwarna merah muda itu terendam di dalam air, perlahan mengembang dan berkerut. Tulisan di atasnya pun luntur, hingga tidak bisa dibaca lagi.Ethan memungutnya, tetapi kertas itu makin hancur.Dia tertegun sejenak, lalu mengambilnya dengan lebih hati-hati.Namun, surat pendek itu sudah menjadi lembek dan hancur seperti lumpur.Ethan berdiri tidak bergeming, seolah seluruh tenaganya telah habis.Tatapannya terlihat panik, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Aku menggelengkan kepala, lalu mendorongnya menjauh."Pergilah, Ethan. Kembalilah ke duniamu.""Aku nggak menyalahkanmu lagi, benaran."Aku pernah membenci Ethan.Membencinya karena dia meninggalkanku sendirian di gang gelap itu.Aku juga pernah menyalahkan Ethan.Menyalahkan

  • Rahasia dalam Surat Cinta   Bab 5

    Sebuah flashdisk kecil, dengan gantungan Hello Kitty yang sama sekali tidak cocok dengan Erika.Ethan langsung mengenali bahwa itu adalah barang milikku.Bagaimanapun itu adalah hadiah pertama yang pernah dia berikan kepadaku, dan aku sangat suka.Aku mengira Ethan akan langsung pergi begitu saja, tetapi aku tidak menyangka dia malah membawa flashdisk kembali ke kantor.Dia melempar flashdisk itu sembarangan ke sudut ruangan, lalu mulai sibuk bekerja.Hingga matahari mulai terbenam, barulah Ethan berhenti bekerja.Dia menatap Hello Kitty yang tersenyum lebar itu, lalu memijat pelipisnya yang terasa lelah.Di kantor yang sunyi, Ethan bergumam beberapa kali.Dengan suara sangat pelan, dia seolah menyebut sebuah nama."Cindy …."Aku tertegun di udara, lalu melambaikan tangan dengan hati-hati."Aku di sini, aku di sini."Tentu Ethan tidak bisa meresponku.Dia menggenggam flashdisk. Aku bahkan takut flashdisk itu rusak karena Ethan menggenggamnya dengan erat.Beberapa saat kemudian, Ethan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status