Partager

8. Habis kesabaran

Auteur: Novita Sadewa
last update Date de publication: 2023-03-15 05:31:09

Setelah dua malam rawat inap, aku berkeras untuk pulang. Saat badan diistirahatkan namun pikiran harus bekerja keras, maka hasilnya akan lebih parah. Uang pemberian Mbak Aya sebesar 20 juta sedangkan biaya rumah sakit akan membengkak karena tidak ada bantuan sama sekali mengingat aku korban tabrak lari, sehingga aku harus berpikir ulang jika harus tidur nyaman di tempat ini sampai kondisi benar-benar membaik seperti apa kata pihak rumah sakit.

Awalnya, pihak rumah sakit melarang dan menyuruhku
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Umi Salamah
bahasanya apik,bagus,pilihan kt2 yg digunakan bagus sekali,sy suka ..ini penulisnya mas atau mbak ya?jd penasaran...tp yg pinter olah kt biasanya mbak ya...
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   78. Ketegangan di meja makan

    Mas Dirga pun membawaku masuk kedalam rumahnya, terlihat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan berbagai macam makanan sudah tersaji di sana. Rania dan seorang laki-laki, masih muda, dan lumayan tampan juga duduk di sana. Kalau aku tidak salah, dia adalah Rehan Wijaya, suami Rania yang berarti adalah kakak iparku. Sebagai orang yang pernah mengidolakan Rania, pasti tahu lah siapa suaminya. Dan aku adalah mantan fans berat Rania sebelum suamiku mengatakan bahwa Rania adalah mantan pacarnya yang bahkan masih mengharapkannya."Selamat malam, Rehan, Rania," sapa Mas Dirga."Malam, Mirza," jawab Rania meskipun terlihat terkejut dengan kedatangan kami, sementara Rehan lebih memilih diam daripada membalas sapaan Mas Dirga. "Apa tidak ada wanita lain yang lebih berkelas dari perawat ini yang bisa kamu sewa untuk diperkenalkan pada kami?" Ucapan Rania yang begitu sombong dilontarkan tanpa perasaan di depanku dan kedua orang tua Mas Dirga. Sangat menyakitkan, lagi-lagi status menjadi pr

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   77. Fakta baru

    “Gendis, kamu denger Abang, ‘kan?!” Lana mengulangi pertanyaan, nadanya lebih tegas dari yang pertama. Gendis berkeringat dahinya, bingung harus menjawab apa. Sementara Lana terus mengejar, banyak hal yang ada di pikirannya sekarang. “Ndis … .”“Ya … belum lama, setelah aku denger cerita anak-anak di kampus tentang kedatangan Kanaya, aku mau tanya kok, tapi kita udah sibuk untuk persiapan masuk ke Mahesa Tunggal yang memakan banyak waktu dan tenaga … .”“Sejak kapan kamu jadi pembohong?” sahut Lana memotong kalimat yang sudah jelas tidak benar. Sengaja, Lana bertanya karena dia ingin tahu sejauh mana Gendis menganggapnya bukan orang lain dengan tidak menutupi apapun darinya.“Siapa yang bohong? Jangan melempar kesalahan.”“Gimana nggak bohong? Bahkan, cincin itu nggak pernah ada di rumah baru ini, Gendis. Bagaimana mungkin kamu tahu setelah kamu kuliah. Yang artinya baru akhir-akhir ini.”“Oh, maksudnya Abang udah kasih cincin itu ke orangnya. Jadi waktu aku di pesantren, Abang ketem

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   76. Keceplosan

    “Abang, hari ini nggak bisa ketemu sama Mahendra. Dia fitting baju pengantin sama kakaknya Abang,” adu Gendis begitu dia turun dari motor dan melepas helm bogo-nya. “Nggak apa-apa. Masih ada besok. Kalau nggak besok, besoknya lagi,” jawab Lana sembari tersenyum. Ada lega yang terselip di dalam hatinya, manakala melihat Gendis kembali dalam keadaan baik tanpa kurang suatu apapun. Seharian konsentrasinya terbelah dan dadanya terus berdebar setiap kali ponselnya berbunyi. “Udah nggak usah masam gitu mukanya. Abang udah bikinin kamu makanan enak. Masuk, gih! Mandi terus makan,” ajak Lana menggandeng tangan Gendis masuk ke dalam rumah setengah memaksa, sebab, Gendis masih terlihat diam, merasa telah mengecewakan Lana karena pulang tidak membawa hasil apa-apa.Setelah membersihkan diri, Gendis kembali keluar. Langkahnya terhenti manakala melihat Lana duduk melamun di meja makan. Benar-benar pemandangan yang belum pernah dia lihat selama mereka bersama. Gendis menghela napas dalam lalu men

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   75. Jujur

    “Itu bukan gambar AI, Ndis, itu asli. Foto keluarga Abang,” sambung Lana seolah sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Gendis saat ini. “Sebenarnya Abang sudah bilang ke kamu waktu di taman tempo hari. Tapi melihat tanggapan kamu, Abang memilih untuk tidak mendebat atau ngotot dan akhirnya harus mengatakan kalau Abang yatim piatu agar masalah tidak panjang. Lagian waktu itu mood kamu juga lagi nggak bagus. Jadi Abang nggak mau mood kamu tambah rusak dan kamu kabur lagi ke pesantren.”Gendis menelan saliva kuat-kuat, tak menyangka jika Lana tahu tentang kepergiannya ke pesantren waktu dirinya patah hati terhadap Cahaya. Lalu apakah Umi Masfufah mengatakan tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada lelaki di sebelahnya itu, namun lelaki itu memilih seolah tidak tahu tentu adalah pikiran yang kini memenuhi otaknya.Ingin dia mengelak dengan penjelasan di luar nalar. Tapi, melihat raut wajah yang ditunjukkan Lana saat ini sulit baginya untuk mencari jawaban lain. “Jadi … Aba

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   74. Terbuka

    Pagi sekitar pukul tujuh, Lana keluar dari kamar dengan langkah sedikit terburu. Semalaman dia merenung dan akhirnya telat bangun. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika mendengar suara televisi yang ada di ruang tengah menyala cukup keras. Niatnya untuk membuat sarapan pun berubah, langkahnya berbelok ke arah ruang tengah. "Astaga, " ujarnya ketika melihat pemandangan mencengangkan di pagi buta. Ruangan terlihat penuh dengan sampah makanan yang dibuang asal. Bantal berantakan dan yang lebih fatal, Gendis, sang pelaku justru duduk manis sambil menikmati cemilan dan televisi di hadapan, cengar-cengir menatap layar yang menyajikan serial Drama Korea di aplikasi yang dia bayar setiap bulan, seolah tanpa dosa. "Yassalam, Gendis. Kamu apa-apaan? Udah dibilang nggak boleh makan di sofa. Mengundang semut, Gendis. Ini makanan sebanyak ini nggak ada yang bergizi kamu habisin sendiri? Nggak ada faedahnya, Gendis! Astaga!" ujar Lana sembari memungut sampah yang bertebaran dengan kasar.

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   73. Cari suami kaya

    Gendis terbangun ketika adzan ashar berkumandang. Rumah yang dia tempati memang cukup dekat dengan mushola perumahan, sehingga adzan terdengar cukup keras. "Astaga!" Gendis tersentak manakala matanya terbuka dan melihat Lana duduk di tepi ranjang dengan senyum yang mengembang. Gendis menghembuskan napas kasar."Kaget, ya?" tanya Lana masih dengan senyuman. Kali ini senyumannya berubah menjadi senyuman yang menghangatkan jiwa."Ngapain disini?" tanya Gendis, nada lemah yang dipadukan dengan rasa malas membuatnya tampak tak bergairah."Abang takut, kamu nggak bangun-bangun. Tapi mau bangunin nggak tega.""Terus?" tanya Gendis sembari memegangi kepala yang terasa berat."Ya jadi Abang disini.""Ngapain?""Lihatin napas kamu."Lagi-lagi Gendis dibuat tersentak dengan jawab Lana. Tawa sumbang pun keluar. "Abang pikir aku sekarat? Mau mati? Seneng kalau Gendis mati ya? Biar bisa bebas!" Tuduhan bernada sindiran akhirnya terlontar."Bukan gitu, tadi kamu pucet banget kayak mayat, jadi Abang

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   2. Sama-sam dijebak

    2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status