Short
Ganjalan di Hatiku

Ganjalan di Hatiku

By:  AntagonisCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
15views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Libur Hari Nasional, putraku yang berusia enam tahun baru saja selesai menjalani operasi bibir sumbing. Dia mengenakan masker sambil membaca buku di toko buku kami sendiri. Seorang pria muda tiba-tiba menutup hidungnya dan dengan sikap pongah memanggil manajer toko buku. "Bagaimana kalian berani membiarkan anak yang punya penyakit menular masuk ke sini? Cepat usir mereka keluar!" Manajer toko buku tidak berani mengusirku, hanya bisa meminta maaf kepadanya, "Maaf Pak, kami nggak berwenang meminta pelanggan lain untuk pergi." Tak disangka pria itu tetap tidak mau berhenti, bahkan sambil berjalan ke hadapanku dia berteriak, "Kalau tahu diri, cepat enyah dari sini! Pacarku itu Juwita, Presiden Direktur Grup Sentara! Orang sepertimu jangan coba-coba membuatnya marah!" Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertegun karena wanita yang disebutnya sangat membenci pria. Aku adalah pria satu-satunya yang bisa diterima wanita bernama Juwita itu. Sejak kapan dirinya menjadi pacar pria itu?

View More

Chapter 1

Bab 1

Manajer toko buku dengan wajah panik menarik lengan pria itu, suaranya serius.

"Pak, tolong jangan membuat keributan lagi, ini akan mengganggu orang lain yang sedang membaca."

Sambil mengernyit dengan marah, pria itu segera menepis tangan manajer itu.

"Nggak dengar, ya? Aku ini suami Presiden Direktur perusahaan kalian! Kamu malah menyuruhku merendahkan suara? Percaya nggak, kalau dengan satu kalimat saja aku bisa membuatmu dipecat?"

Dia merapikan kerutan di manset sutra di pergelangan tangannya, lalu melirik dengan jijik kaus lengan pendek yang kupakai.

"Anak itu dan pria itu sama-sama punya penyakit menular. Hari ini kosongkan tempat ini, lakukan disinfeksi menyeluruh di toko buku!"

Benar-benar gaya pejabat besar!

Anakku Yoyo hanya memakai masker, tidak berbicara, tidak batuk, hanya membaca buku dengan tenang, bagaimana bisa begitu mengganggu pandangan pria itu?

Manajer toko buku itu mengerlingkan mata, lalu dengan hormat mendekat, menundukkan kepala, dan berbisik ke telingaku,

"Pak Daniel, bagaimana kalau kita usir saja orang gila yang mengaku-ngaku identitas Anda ini?"

Aku menggeleng dengan tenang. Anak laki-lakiku diperlakukan diskriminatif seperti ini tanpa alasan juga membuatku sangat marah.

Namun aku lebih ingin tahu, Presiden Direktur Juwita dari Grup Sentara ini sebenarnya punya berapa suami yang berstatus direktur?

Menatap balik mata pria itu yang penuh kesombongan, aku segera membalas,

"Pakai masker berarti punya penyakit menular? Kalau kamu pakai topi baseball, berarti otakmu rusak?"

Begitu kata-kata itu keluar, lengan bajuku ditarik. Putraku Yoyo menatapku sambil menggeleng gugup, seolah tidak ingin aku bertengkar dengan orang.

Aku mengusap kepalanya untuk menenangkannya dan memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun detik berikutnya, pria itu malah makin marah dan segera menarik masker dari wajah anakku.

"Aku ini suami Presiden Direktur! Di toko bukuku sendiri, kalau aku bilang nggak boleh pakai masker maka nggak boleh ... pakai!"

"Ahhh ...."

Tiba-tiba dia mundur terhuyung sambil berteriak, seolah melihat sesuatu yang menjijikkan. "Kenapa mulutnya bisa seperti itu? Apa dia anak cacat?"

"Cepat keluar dari toko bukuku!"

Keningku segera berkerut tajam, aku mendorongnya menjauh.

"Kalau nggak bisa bicara baik-baik, diam saja! Siapa yang mengizinkanmu melepas masker anakku?"

Setelah merebut kembali masker, aku segera memeluk erat putraku yang menutup mulut dan menggigil, lalu memakaikan maskernya lagi.

Namun pria itu malah berkacak pinggang dan menunjuk orang-orang dengan marah, "Kemari! Usir mereka keluar!"

Tetapi para karyawan toko melihat ekspresiku dan tidak ada satu pun yang berani bergerak.

Pria itu makin marah dan langsung mengamuk,

"Baguslah ... nggak ada yang bergerak, ya? Kalau begitu aku panggil pacarku datang, lalu aku pecat kalian semua!"

Melihat anakku ketakutan oleh keributan itu dan gemetar tanpa henti, hatiku terasa perih.

Yoyo sejak awal sudah rendah diri karena bentuk mulutnya tidak indah, dan sekarang ketakutan di matanya makin jelas.

Amarahku segera meluap dan aku mengejeknya dengan dingin,

"Baiklah! Panggil saja dia! Aku juga ingin lihat apa pacarmu yang berstatus presiden direktur itu, benar-benar bisa datang untuk mengusirku!"

Pria itu dengan angkuh mengangkat ponselnya dan dengan cepat mengirim pesan.

Namun setelah menunggu cukup lama, entah apa yang dia lihat di ponselnya, wajahnya menunjukkan sedikit keanehan.

Pada saat itu, manajer toko buku juga melihat ponselnya dengan wajah yang memelas, bagaikan menelan lalat.

Aku mengangkat kepala dan bertanya, "Ada apa?"

Manajer toko buku berkata dengan agak canggung,

"Pemilik toko mengatakan ... agar kita membuka satu ruang VIP khusus untuk pria ini ...."

Mendengar itu, pria tersebut menjulurkan lehernya dan menatapku tajam.

"Dengar nggak? Pacarku nggak mau aku terus diganggu oleh orang-orang miskin seperti kalian!"

Dia melangkah dengan sepatu kulitnya dan dengan puas, mengikuti karyawan naik ke lantai tiga.

Aku mengernyit melihat punggungnya, lalu ponselku berbunyi, ternyata pesan dari istriku:

[Sayang, kenapa kamu nggak menjawab? Jadi aku bisa langsung pesan restoran, ya?]

Aku segera bertanya:

[Juwita, sebenarnya kamu sedang apa?]

Dari sana segera dikirim foto dirinya sedang duduk di depan meja kantor sambil rapat, wajahnya tampak sengsara.

[Seharian rapat, bahkan belum sempat minum seteguk air pun.]

Juwita adalah seorang pekerja maniak. Saat rapat dia selalu menolak gangguan, kecuali dariku.

Kalau begitu, kejadian ini mungkin hanya kebetulan. Lagi pula, untuk meredakan masalah, pengaturan seperti ini dari pemilik toko juga masih masuk akal.

Namun aku sudah tidak punya suasana hati untuk melihat-lihat buku, jadi aku membawa anakku pergi ke pusat perbelanjaan.

Tak lama kemudian, ponselku menerima pesan dari seorang teman:

[Sial, orang bodoh itu berani memotretmu? Dia bahkan mention akun tiruan istrimu.]

Di unggahan Twitter yang diteruskan temanku, terlihat foto punggungku dan Yoyo yang diam-diam dipotret Brian tadi.

Dia juga menulis keterangan: [Ketemu anak nakal dan orang tua tak beradab, untung ada pacarku yang mendukung ....]

Aku masuk ke akun tiruan bernama Juwita itu. Di halaman profil tertulis 'hanya terlihat enam bulan terakhir'.

Namun dalam ingatanku Juwita tidak pernah bermain Twitter. Bahkan postingan terakhir di Instagram miliknya adalah foto pernikahan kami tujuh tahun lalu.

Jadi ada orang yang menyamar sebagai istriku untuk menipu orang?

Awalnya kupikir sandiwara ini akan berakhir sampai di sini. Akan tetapi, masalahnya berlarut-larut ketika aku berada di konter merek mewah mendengarkan laporan produk baru kuartal lalu dari manajer toko.

Di belakangku kembali terdengar suara sepatu kulit yang familier.

Begitu menoleh, Brian berdiri di pintu dengan tangan terlipat dan alis berkerut.

"Kenapa kalian lagi? Orang kampungan dan anak cacat seperti kalian juga pantas masuk konter barang mewah?"

Dia berjalan masuk dengan angkuh dan menilai diriku dari atas sampai bawah.

"Tuan, di sini nggak ada bakpao isi sayur yang dijual 20 ribu dapat dua!"

Sambil berkata begitu, dia melihat sekeliling dan menunjuk sepatu kulit edisi terbatas terbaru di tangan pegawai toko.

"Aku ambil yang itu."

Pegawai toko tampak ragu. "Pak Daniel, ini ...."

Aku menarik napas ringan dan melambaikan tangan. "Biarkan saja untuk tamu 'penting' ini."

Di tengah tatapan para pegawai yang memandangnya seperti memandang orang bodoh, Brian dengan senang hati menerima sepatu itu.

Dia menatapku dengan penuh kemenangan. "Huh, kamu ini ... paling cuma bisa melongo melihat barang-barang mewah seperti ini ...."

"Bayar!"

Dia dengan pamer mengeluarkan kartu banknya, sementara aku justru tersenyum.

Sepatu kulit buaya buatan tangan yang dipesan khusus, harga satuannya 279 miliar. Dengan barang palsu yang dia pakai dari atas sampai bawah, mungkin dijual semuanya pun belum tentu cukup untuk membelinya.

Namun detik berikutnya, terdengar bunyi "bip".

Transaksi berhasil!

Aku sedikit tertegun, penuh kebingungan melihat pegawai toko membungkus sepatu itu untuknya.

Saat itu ponsel di sakuku berdering, suara Juwita terdengar.

"Sayang, kenapa tadi kamu nggak membalas pesanku? Apa kamu kesal karena aku terlalu sibuk?"

"Atau begini, setelah masa sibuk ini selesai, aku ambil cuti tahunan dan mengajak kamu serta Yoyo pergi berlibur, bagaimana?"

Namun saat ini aku seperti tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas.

Biasanya dia begitu sibuk dengan pekerjaan, jangankan soal cuti untuk bepergian, bahkan hal kecil seperti menjemput anak pun dia tidak punya waktu.

Orang-orang di internet sering berkata, setelah seorang wanita berselingkuh, dia akan secara tidak sadar merasa bersalah dan ingin menebusnya kepada suaminya.

Hatiku tiba-tiba terasa sangat berat. Mungkinkah Juwita ....

Setelah menjawabnya seadanya, aku sudah tidak punya keinginan untuk meninjau toko lagi. Namun Brian yang berpikiran sempit kembali mencari-cari masalah denganku.

"Hey, kalian! Usir dua orang ini keluar!"

"Membiarkan pasien penyakit menular masuk ke toko barang mewah benar-benar merusak selera belanjaku!"

Kali ini dia tidak banyak bicara. Sepertinya dia telah belajar dari pengalaman sebelumnya, langsung membuka foto dari ponselnya.

"Pacarku itu Juwita! Kalian berani tidak mendengarkanku?"

Seketika semua orang menatap ke arahku.

Napasku tercekat, wanita yang tersenyum lembut di kantor dalam foto itu memang benar istriku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status