LOGIN"Angga, jujur aku merasa tidak enak pada Tuan Garendra karena memberi izin libur untukmu hari ini," ujar Evelyn seraya merapikan penampilannya.Tiga puluh menit lalu, Angga menelepon dan memberi tahu bahwa ia akan segera datang menjemput untuk pergi jalan-jalan."Bukan Tuan Garendra yang memberi izin," sahut Angga santai."Lantas?""Nyonya yang memintaku meliburkan diri.""Itu sama saja, Angga!""Tidak, Eve. Jelas berbeda. Justru aku sedang membayangkan bagaimana Tuan nanti akan..."Angga mendadak menggantung ucapannya. Wajah tampan itu mengeras saat membayangkan caci maki sang tuan begitu ia kembali bekerja besok."Akan apa?" desak Evelyn, menatapnya penuh rasa penasaran.Angga mendesah pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan irama tak beraturan. "Beliau kemungkinan besar akan memotong gajiku satu tahun berturut-turut, atau lebih buruk lagi, menyuruhku membersihkan seluruh koleksi mobil mewahnya di garasi utama tanpa alat pembersih otomatis. Kau tahu sendiri betapa mengerikann
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai ruang makan, membiaskan cahaya hangat di atas meja panjang yang sudah tertata rapi. Pagi ini, suasana di kediaman Garendra terasa agak berbeda. Mereka sarapan jauh lebih awal dari biasanya—sebuah fenomena langka yang dipicu langsung oleh euforia Arumi. Setelah tadi malam secara sepihak meliburkan Angga dan Evelyn, Arumi bangun dengan semangat membara. Ia meracik sendiri menu sarapan untuk sang suami, lengkap dengan waffle hangat dan cangkir kopi favorit Garendra yang menguar aroma khas. Garendra menyesap kopinya perlahan, menatap istrinya yang kini duduk di seberang meja seraya memoleskan selai stroberi ke atas rotinya dengan cengiran yang belum juga pudar sejak semalam. "Kau tampak sangat puas, Arumi," sindir Garendra dengan nada datar namun matanya memancarkan rasa gemas. "Mengorbankan jadwal kerjaku demi meliburkan asistenku sendiri, dan sekarang kau bangun mendahului alarm hanya untuk merayakannya?" Arumi tertawa keci
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Garendra menggeser ikon hijau di layar ponselnya, lalu mengaktifkan mode speaker atas desakan Arumi yang kini menempelkan telinganya erat-erat ke bahu sang suami. Wajah Arumi tampak sepucat kertas, siap melarikan diri ke bawah meja jika terdengar umpatan atau amukan dari balik telepon. "Ya?" Garendra membuka suara, berusaha menjaga intonasinya seolah-olah semuanya berjalan sangat wajar dan tenang. "Ada apa menelepon malam-malam begini? Tugas analisis portofolio besok pagi sudah selesai, kan?" Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar hembusan napas yang relatif teratur, membuat ketegangan di dalam ruang tengah rumah megah itu semakin memuncak sampai ke ubun-ubun. "Maa, Tuan," suara Angga akhirnya terdengar. Dingin, namun ada getaran aneh yang teramat sulit diartikan oleh Garendra maupun Arumi. "Saya ingin meminta izin." Garendra menaikkan alisnya, bertukar tatap ragu dengan Arumi yang makin meremas lengan piyama suaminya. "Izin? Izin
Di tempat lain, atmosfer romansa yang mendebarkan di dalam mobil Angga bertolak belakang dengan kekonyolan yang tengah terjadi di sebuah kediaman megah. Suasana malam yang tenang mendadak diwarnai ketegangan absurd ketika Arumi menjatuhkan cangkir tehnya ke atas piring kecil dengan dentang nyaring. Garendra, yang saat itu tengah menyesap kopi hitamnya sembari memeriksa berkas analisis keuangan, hampir saja tersedak. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap sang istri yang kini duduk tegak di hadapannya dengan binar mata penuh kebanggaan seolah baru saja memenangkan penghargaan setingkat dunia. "Kau tahu, Garen?" Arumi membuka percakapan dengan nada suara dramatis, setengah berbisik namun sarat penekanan. "Siang tadi aku mendatangi kantor. Aku sudah menjalankan misi suci demi menyelamatkan masa depan kehidupan asmara asistenmu yang menyedihkan itu." Garendra meletakkan cangkir kopinya perlahan. Firasat buruk langsung menyergap benaknya. Setiap kali Arumi menggunakan frasa 'misi suci',
"Evelyn, aku ingin bicara serius denganmu. Aku ....." Angga menggantung kalimatnya. Ibu jarinya mengusap lembut kulit pergelangan tangan Evelyn yang halus—sebuah sentuhan yang bertolak belakang dengan gemetar pelan pada jemarinya. Tatapan pria itu tidak lagi dingin atau defensif, melainkan dipenuhi kejujuran yang telanjang, tanpa sisa topeng gengsi yang biasa ia kenakan. Evelyn menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suara detaknya melompati jarak di antara mereka dan terdengar oleh Angga. Pria di hadapannya ini—pria yang selalu bersikap protektif namun tenang—kini terlihat sangat rapuh hanya karena rasa takut kehilangan. "Aku gila kalau harus terus pura-pura jadi teman baikmu, Eve," bisik Angga. Suaranya serak, sarat akan beban kebenaran yang akhirnya dilepaskan. Pria itu perlahan menarik tangan Evelyn, membawanya ke atas dadanya sendiri. Tepat di balik telapak tangan Evelyn, detak jantung Angga bertalu-talu luar biasa keras dan cepat. Sama gilanya deng
"Ada apa kau senyum-senyum dari tadi, hmm?" Suara maskulin Angga memecah keheningan di dalam mobil. Pemandangan seperti ini sudah menjadi rutinitas mereka. Angga selalu setia menunggu Evelyn selesai bekerja, lalu mengantarnya pulang bersama. Evelyn tersentak kecil. Entah mengapa, jantungnya mendadak berdebar kencang hanya karena mendengar bisikan suara pria di sampingnya itu. "Angga ... boleh aku cerita sesuatu?" akhirnya Evelyn bersuara, memecah kecanggungannya sendiri. Angga menoleh sekilas lalu mengukir senyum tipis—senyuman sederhana yang sukses membuat dada Evelyn kian bergemuruh seraya memerhatikan wajah Pria yang masih fokus menyetir itu. "Cerita saja. Kelihatannya kau sedang bahagia sekali hari ini." "Ada seseorang yang menyukaiku. Dia memintaku untuk jadi kekasihnya." Evelyn berbohong. Ia hanya ingin memancing dan melihat bagaimana reaksi Angga jika mendengar ada pria lain yang jatuh hati padanya. Ciiitt! Angga mendadak menginjak rem, membuat mobil berhenti
“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi
"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya." Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu te
Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su







