LOGINGarendra menyambar piyama kimononya dari atas ranjang dengan gerakan yang kasar, kain sutra itu beradu dengan kulitnya yang masih terasa panas oleh sisa gairah. Ia melangkah keluar kamar dengan napas yang memburu, mengabaikan Arumi yang masih terduduk di atas meja rias, terjebak dalam kehampaan sensasi yang menggantung di udara. Pintu kamar tertutup dengan dentuman yang cukup keras, menyisakan keheningan yang tajam di dalam ruangan luas tersebut.Begitu sampai di balkon yang sunyi, Garendra mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih di balik dadanya. Ia menekan tombol panggil dengan ibu jari yang menekan layar terlalu keras."Ada apa, Angga?" suaranya dingin, rendah, dan penuh ancaman yang mampu merobek kesunyian malam.Di seberang telepon, suara Angga terdengar ragu, tersendat oleh ketakutan yang tak tertahankan. "Tuan ... maaf mengganggumu di jam seperti ini. Ini ... ini menyangkut Nyonya Widya. Sipir penjara baru sa
Suasana kamar utama yang luas itu seakan menyempit, hanya menyisakan ruang bagi detak jantung yang berpacu liar. Udara di dalam ruangan terasa berat, sarat oleh feromon yang menguar dari tubuh keduanya. Antara maskulin kayu cendana yang melekat pada kulit Garendra dan wangi melati lembut dari tubuh Arumi. Ciuman itu bukan lagi sekadar sapaan, melainkan sebuah penaklukan. Garendra melumat bibir sang istri dengan ritme yang menuntut, menyesap setiap inci kemanisan yang selama ini ia rindukan di balik bayang-bayang kematian palsunya. Arumi membalasnya, jemarinya meremas bahu Garendra, mencoba mencari pegangan di tengah guncangan sensasi yang menghantam saraf-sarafnya. Tangan Garendra yang kekar masih setia di pinggangnya, sementara jemari tangan lainnya perlahan turun, membuka kancing kemeja Arumi satu demi satu dengan gerakan yang disengaja lambat, membiarkan kain sutra itu meluncur jatuh ke lantai marmer dengan suara halus yang nyaris tak terdengar. Di tengah permainan lidah yang me
"Sebenarnya apa yang terjadi, Angga?" Arumi menuntut, suaranya sarat dengan ketidaksabaran yang meluap.Angga menarik napas dalam, membiarkan udara dingin ruangan itu mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia tahu, setiap kata yang ia ucapkan sekarang adalah langkah menuju jurang—sebuah kebohongan yang berisiko menghancurkan hidupnya sendiri."Tuan Garendra terikat janji dengan almarhum ayah Dokter Marsya," suara Angga berat, nyaris berbisik. "Ia bersumpah untuk memastikan hidupnya selalu dalam perlindungan dan ...." Ia menggantung kalimatnya, membiarkan kesunyian yang mencekam merayap di antara mereka. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang menyakitkan."Dan apa?!" desak Arumi, matanya menyipit tajam.Angga menelan ludah dengan susah payah. "Dokter Marsya sempat memiliki hubungan spesial dengan saya. Hanya saja ... Tuan tidak pernah memberikan restunya. Beliau menganggap saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga tidak bisa menjamin masa depa
"Tuan, saya kehilangan jejaknya..." Angga menunduk dalam di samping ranjang rumah sakit. Gurat penyesalan yang mendalam membekas di pelupuk matanya, mencerminkan kegagalan yang sulit ia maafkan.Hanya ada mereka berdua di ruangan VVIP yang sunyi itu. Aroma antiseptik menusuk hidung, berpadu dengan suara detak monitor jantung yang teratur. Arumi tidak ada di sana. Garendra duduk bersandar di ranjangnya, wajahnya masih pucat, namun rahangnya mengeras dan tatapannya yang menatap jendela luar penuh dengan gejolak emosi yang tertahan."Tapi ...." Angga memberanikan diri melanjutkan, "Saya sempat melacaknya. Dokter Marsya menggunakan maskapai dengan tujuan akhir Hokkaido."Garendra menoleh perlahan. Tatapannya dingin, setajam silet. "Kau boleh pergi."Angga baru saja hendak melangkah, namun Garendra memotongnya dengan suara rendah yang nyaris seperti geraman. "Tunggu. Bagaimana dengan mereka? Apa ... mereka masih dalam penyekapan?"Angga mengangguk mantap. "Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa
Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, di balik jendela pesawat yang menatap hamparan awan seperti kapas tak bertepi, Marsya duduk mematung. Suara dengung mesin pesawat yang konstan seolah menjadi irama yang menghapus segala kebisingan di Jakarta. Di sini, di ruang sempit kelas ekonomi ini, ia merasa lebih bebas daripada saat ia terjebak dalam koridor rumah sakit yang menyesakkan.Ia menatap layar kecil di depannya yang menampilkan peta perjalanan. Garis tipis itu terus bergerak, menjauhi titik koordinat yang selama ini menjadi pusat dunianya—pusat dari segala luka dan tanggung jawab yang tak mungkin ia penuhi."Selamat tinggal, Garendra. Selamat tinggal, Arumi."Marsya memejamkan mata, membiarkan butiran bening jatuh tanpa suara. Tidak ada penyesalan yang tersisa, hanya rasa lelah yang luar biasa. Ia sadar, kepergiannya adalah satu-satunya bentuk "menjaga" yang bisa ia berikan. Wanita itu tidak lagi harus memikul beban janji mendiang ayahnya yang terlalu berat untuk ia pikul sendirian,
"Mana Dokter Marsya, Angga?" Suara lembut Arumi memecah suasana ruang rawat Garendra yang didominasi aroma antiseptik. Angga, yang baru saja melangkah masuk, sedikit tersentak. Lamunannya tentang percakapan pahit di koridor tadi dengan Marsya buyar seketika. "Maaf, Nyonya," sahut Angga, menunduk dalam demi menyembunyikan gurat kegelisahan di wajahnya. "Saya tidak bertemu dengan Dokter Marsya." Arumi mengerutkan kening, kecemasan mulai terpatri di sorot matanya yang teduh. "Kau jaga Garen saja di sini, biar aku yang mencarinya." "Tidak perlu, Nyonya," potong Angga cepat, hampir terlalu cepat. Ia menelan ludah, memaksakan ketenangan yang tidak ia rasakan. "Dokter Marsya sedang tidak bertugas di rumah sakit hari ini." Arumi tertegun. "Benarkah? Padahal dokter jaga bilang tadi ia sedang melakukan observasi. Apa mungkin dia sedang keluar sebentar?" Angga merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya. Ia harus berbohong lebih dalam untuk melindungi rahasia yang ia tahu akan menghan
“Demi Tuhan, Tante, mereka masih bersama!” Bianca mendatangi kediaman orang tua Garendra. Mengadu atas apa yang telah dilihat dengan kedua matanya sendiri. Tidak hanya itu, wanita cantik itu menceritakan tindakan yang dilakukan oleh Arumi padanya. “Kamu nggak sedang mengada-ngada ‘kan, Bi?” Kedua
"Bianca?" desis Arumi. Namanitu terasa seperti racun di lidahnya.Udara dingin dari pendingin ruangan toko buku itu seolah membeku di sekitar Arumi. Pupil matanya melebar, menatap sosok wanita yang berdiri di hadapannya dengan angkuh. Rambut pirang hasil bleaching mahal itu tertata rapi, dan tas br
“Mas Garen ….” “Arumi. Saya merindukanmu, kuharap kamu tidak akan pergi dariku,” ucap Garendra sambil menciumin bibir bawah Arumi. Namun, tepat saat lidah itu semakin dalam menjelajahi daging merah mudah, saat kulit mereka bersentuhan dengan cara yang paling intim, sebuah ingatan tentang wajah d
“Saya tertarik dengan CV Anda, Nona.”Suara bariton itu memecah keheningan unit apartemen Arumi yang begitu luas. Di balik layar monitor, seorang pria dengan setelan jas formal tampak duduk berwibawa di balik meja kerja besar yang maskulin. Melalui sambungan virtual tersebut, Arumi menyunggingkan







