LOGINLangit cerah tanpa awan dengan angin sepoi-sepoi yang terasa menyejukkan. Di balkon, Joana sedang makan keripik kentang tanpa selera. Tatapannya kosong mengarah pada deretan jemuran tetangga di bawah sana. Bayangan wajah garang Pak Yudi dan ancaman pemecatan masih memenuhi benaknya. Hal itu telah menghancurkan seluruh kebahagiaan yang sempat ia rasakan sejak pagi."Nasib-nasib." Gadis itu mendesah berat. Pintu kaca balkon sebelah tiba-tiba terbuka. Baskara melangkah keluar membawa sehelai handuk yang tersampir di bahunya. Pria itu sempat mengucek matanya, mengira pandangannya kabur karena kelelahan. Ia menduga Joana masih bekerja dengan alat pel dan tidak menyangka gadis itu malah melamun di balkon. "Woy, Jo! Kagak kerja?" panggil Baskara heran, menatap tetangganya yang duduk lemas bagai tanaman layu.Joana menoleh malas tak bersemangat. Bibirnya mencebik samar."SP 3," jawabnya lesu, lalu kembali menyuap keripik kentang dengan helaan napas berat.Baskara kaget setengah mati. Bola m
Joana memeras kain pelnya, lalu kembali mengusapkannya kembali ke atas lantai marmer di lantai 8. Suasana lantai itu cukup sibuk pagi ini. Dengan seragam petugas kebersihan yang terpasang rapi, Joana bekerja penuh konsentrasi, mencoba menyelesaikan jatah tugasnya sebelum jam makan siang. "Hei kamu! Mbak cleaning service!" panggil seorang staf wanita berblus biru dari arah koridor VIP. Joana menghentikan gerakannya dan menoleh, menyunggingkan senyum ramah. "Iya, Bu? Ada yang bisa dibantu?" "Tolong buatkan tiga cangkir kopi hitam tanpa gula ya, antar ke ruang rapat VIP sekarang. Staf yang biasa lagi izin sakit, nih. Penting banget, makasih ya!" ujar wanita itu terburu-buru tanpa menunggu jawaban, lalu langsung melangkah cepat kembali ke dalam koridor. Joana sempat terpaku sejenak. Tugasnya sebenarnya hanya menjaga kebersihan area lobi dan toilet, bukan menyiapkan konsumsi rapat. Namun, teringat pesan Siska untuk selalu bersikap kooperatif dan tidak memicu masalah di hari-hari pe
Joana menatap layar ponselnya dengan bibir mengerucut maju. Raut gembira yang tadi terpancar saat mau mukbanb makanan kini berganti total menjadi muka cemberut. Rentetan komentar di siaran langsungnya terus melesat bak aliran air bah, dan yang lebih menyebalkan, tidak ada satu pun penonton yang lagi peduli pada jajanan di depan mejanya."Kan aku sudah bilang, jika aku terekam, pengikutmu akan pindah menjadi pengikutku," ledek Baskara setelah Joana cemberut karena kini banyak komentar yang penasaran dengan pemilik lengan bertato. "Tadi itu siapa? spill dong.""Kak Joajoak ayo geser kameranya.""Apa itu pacarmu?" "Cuma suaranya saja bikin jantungku deg-degan.""Ada apa ini? Aku baru masuk, ketinggalan yang seru kah?" "Tunjukan keperkasaanmu Mas Tato, aku menantikanmu." "Joajoak aku bosan melihatmu makan, jadi biarkan pemilik tato tadi tampil di layar.""Suaranya berat banget, mana lengan tatonya kekar begitu. Pasti cakep ini mah!" "Ih, kok kalian malah pada fokus ke tangan dia sih?
Langkah kaki Joana terasa berat. Setiap kali tumitnya mendarat, rasa pegal merambat naik dari telapak kaki, menjalar ke betis, paha, hingga menumpuk di pinggangnya. Hari ini, menaiki tangga rusunawa serasa berjalan dua kali lebih panjang dari biasanya. "Capek," ucap Joana tak sanggup berjalan dan berakhir duduk di anakan tangga. Ia menyelonjorkan kakinya dan memijat betisnya pelan. Di hari pertama bekerja, ia telah menerima omelan dari atasan, serta teriakan untuk menyuruhnya lebih cepat saat mengantar dan mengambilkan barang. Ia berusaha menahan diri agar tenaganya tidak terkuras habis. "Pengen cepat rebahan, tapi malas banget naik tangganya." Joana mendesah berat. Ia bangkit dengan gontai sembari memikirkan satu fokus di kepalanya yaitu kasur. Ia tidak memikirkan makan malam, tidak memikirkan tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci, apalagi memikirkan kerumitan hidup yang terus menghantuinya belakangan ini. Otaknya seakan mendoktrin dengan membisikkan kata "tidur" berulang
Pagi itu, suasana hati Joana secerah langit di atas rusunawa. Ia berdiri di depan cermin kecil unit Baskara, sembari merapikan celana kain hitam dan kerah kemejanya agar rapinya dengan teliti. Hari pertama bekerja di sebuah gedung perkantoran megah di kawasan Sudirman akhirnya tiba. Setelah berbagai kekacauan dan teror yang menimpanya, pekerjaan ini terasa bagai angin segar yang melenyapkan tumpukan beban di dada Joana. "Sempurna," bisik Joana pada pantulan dirinya, mengulas senyum terbaik sembari mengikat rambut panjangnya rapi ke belakang. Rasa bahagia yang membuncah membuat energi positif gadis itu meluap-luap. Begitu keluar dari unit dan melangkah menyusuri lorong rusunawa, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Setiap kali berpapasan dengan salah seorang penghuni rusunawa, ia menyapa mereka dengan sangat ramah dan ceria. "Pagi, Bu Sri!!" sapa Joana renyah sembari mengangguk sopan. Beberapa tetangga sempat mengedip bingung melihat perubahan sikap Joana yang biasanya aga
Seperti ucapan Baskara, Joana kini menempati unit milik pria itu. Kini ia berbaring menatap langit-langit sembari berpikir mengapa Baskara baik dan mau bertukar unit dengannya. "Tukaran unit lho bukan tukar kado silang. Kok dia baik banget," gumam Joana heran. "Apa jangan-jangan dia punya maksud lain? Kayak... dia suka sama aku misalnya?" Joana menggeleng. "Dih jangan kepedean... Joana." Tapi... bukankah aneh? Mereka berdua kenal juga belum terlalu lama. Hubungannya juga aneh. Awal-awal dirinya dan Baskara adalah partner desah, tapi karena Pak Bagas sudah di usir, otomatis partner desah itu sudah bubar. Sedangkan beberapa waktu yang lalu mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal, kemudian akur dan saling perhatian. "Tiba-tiba baik... apa dia siluman ya?" Seketika Joana mengingat sebuah kalimat yang di ucapkan kera sakti di salah satu episodenya. "Tau deh, pusing," ucap Joana sambil mematikan lampu. Sementara itu di unit samping, Baskara berguling-guling men







