Home / Romansa / Rahasia di Ruang CEO / Di Balik Pintu Kedap Suara

Share

Di Balik Pintu Kedap Suara

Author: moonchiyy
last update publish date: 2026-07-27 08:01:06

“Al, kamu dengar tidak? Pak Arga memanggilmu ke atas!” bisik Sinta sambil menyenggol lengan Alya dengan keras.

Suasana di aula utama mendadak berubah riuh oleh bisikan ratusan karyawan yang menatap langsung ke arah Alya. Alya merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis. Pandangan matanya masih terkunci pada sosok tegap Arga Mahendra yang kini melangkah turun dari podium dengan langkah tenang namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar.

‘Mati aku … dia benar-benar bos besar di sini,’ jerit Alya dalam hati, meremas map dokumen di dadanya hingga melengkung kusut.

“I—iya, Sin. Aku dengar,” jawab Alya dengan suara yang bergetar menahan panik.

“Kamu punya masalah apa sampai langsung diincar di hari pertama dia menjabat?” tanya Sinta lagi, matanya penuh rasa ingin tahu yang besar.

“Tidak ada. Aku juga tidak tahu,” bohong Alya, buru-buru membalikkan badannya untuk menghindari tatapan penuh selidik dari rekan-rekan divisinya.

Sepanjang jalan menuju lift khusus karyawan, kaki Alya terasa seperti jeli. Sisi gila dari isi kepalanya yang menyukai visual pria tampan berwibawa mencoba berontak, mengingatkan bagaimana kemeja putih Arga yang ketat waktu itu mencetak bentuk dada bidangnya dengan sempurna. Namun, kenyataan bahwa pria itu adalah pemegang kekuasaan tertinggi di PT Rasa Nusantara Food langsung menampar akal sehat Alya.

‘Sadar, Alya! Dia itu bosmu! Kalau dia bongkar kejadian malam itu ke anak-anak HRD, kariermu habis!’ ratap Alya di dalam batinnya sambil menekan tombol lift dengan tidak sabar.

Lift bergerak naik ke lantai paling atas tempat ruangan CEO berada. Ketika pintu lift berdenting terbuka, Alya disambut oleh sebuah lorong sepi yang dilapisi dinding kayu jati yang mewah. Di ujung lorong, seorang sekretaris wanita paruh baya tersenyum formal ke arahnya.

“Mbak Alya Paramita dari R&D, ya? Silakan langsung masuk, Pak Arga sudah menunggu di dalam,” ujar sekretaris itu seraya membukakan pintu jati yang sangat tebal.

“Terima kasih, Bu,” jawab Alya singkat.

Alya melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat luas dengan pemandangan langsung ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Di tengah ruangan, Arga sedang duduk di balik meja kerja marmer hitamnya, fokus membaca beberapa lembar kertas. Begitu mendengar suara pintu ditutup, Arga mendongak dan mengunci pandangan mata elangnya tepat ke manik mata Alya.

“Duduk,” perintah Arga dengan nada suara yang berat, datar, dan tidak menerima bantahan apa pun.

Alya berjalan perlahan, mengambil tempat duduk di kursi kulit di hadapan meja besar Arga. Dia berusaha menjaga jarak seaman mungkin, meletakkan map berkasnya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Ini laporan berkas riset bumbu mi instan varian terbaru yang Anda minta, Pak,” ujar Alya, mencoba memasang nada bicara seprofesional mungkin demi menjaga harga dirinya yang tersisa.

Arga tidak menyentuh map tersebut. Dia justru menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Alya dengan tatapan yang membuat suasana ruangan terasa sangat dingin.

“Alya Paramita. Nama yang menarik,” kata Arga perlahan, menyebut nama lengkap Alya dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Alya meremang. “Jadi, begini caramu menyapa pria yang sudah menyelamatkanmu dari lantai koridor hotel tiga hari lalu?”

Alya menelan ludahnya dengan susah payah. “Saya … saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda malam itu, Pak Arga. Saya juga minta maaf karena sudah merepotkan Anda akibat … akibat pengaruh alkohol.”

“Hanya merepotkan?” Arga menaikkan satu alisnya, senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi muncul di sudut bibirnya. “Kamu menabrakku, menangis di kemejaku, lalu pingsan begitu saja di kamarku. Menurutmu itu hanya sekadar merepotkan?”

Wajah Alya langsung terasa memanas akibat rasa malu yang luar biasa besar. Monolog batinnya kembali berputar liar, membayangkan jika Arga tahu bahwa di dalam kepalanya, dia sempat mengagumi bentuk tubuh pria itu saat bangun tidur.

‘Aduh, jangan sampai dia tahu kalau aku salah paham mengira kita melakukan …,’ batin Alya menjerit panik.

“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya berjanji kejadian memalukan seperti itu tidak akan pernah terulang lagi,” tegas Alya, menatap langsung ke arah Arga demi menunjukkan bahwa dia tidak mau dianggap sebagai karyawan yang murahan. “Mengenai pakaian saya yang diganti dengan bathrobe … saya tahu Anda menyuruh petugas wanita hotel. Terima kasih karena sudah menjaga batasan.”

Arga terdiam sesaat, menatap Alya dengan pandangan menilai yang sulit dibaca. “Aku selalu menjaga batasan profesional, Alya. Aku tidak punya waktu untuk memanfaatkan situasi wanita yang sedang kehilangan kesadaran.”

Mendengar penuturan itu, ada rasa lega yang sangat besar di dada Alya. Berarti wibawa sang CEO yang dingin ini memang nyata, bukan sekadar akal-akalan pria mesum yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Lalu … mengenai biaya operasi nenek saya sebesar seratus lima puluh juta rupiah yang tiba-tiba lunas,” Alya memberanikan diri untuk bertanya, memajukan sedikit posisi duduknya. “Pihak rumah sakit bilang dana itu keluar dari jalur tunjangan darurat kantor atas perintah direksi utama. Apakah itu … atas rencana Anda, Pak?”

Arga mengubah posisi duduknya menjadi tegak, mengambil pulpen mahal di atas mejanya dengan gerakan santai. “PT Rasa Nusantara Food selalu memberikan apresiasi tinggi untuk staf riset yang berhasil membuat produknya meledak di pasaran. Kamu berhak mendapatkannya.”

“Tapi nilainya terlalu besar untuk staf level biasa seperti saya, Pak,” kejar Alya lagi, merasa ada jebakan tersembunyi di balik kebaikan yang terlalu instan ini. “Saya tahu aturan kantor kita tidak pernah mengeluarkan tunjangan sebesar itu tanpa persetujuan komite. Tolong bicarakan dengan jujur, apa ada harga mati yang harus saya bayar untuk uang ini?”

Arga meletakkan pulpennya kembali ke atas meja dengan bunyi ketukan yang pelan namun tegas. Dia memajukan tubuhnya, menatap Alya dengan jarak yang lebih dekat di antara meja marmer hitam mereka.

“Uang seratus lima puluh juta itu tentu bukan hadiah gratis, Alya,” jawab Arga dengan nada suara yang berubah menjadi sangat serius dan menekan. “Itu adalah investasi jangka panjang untuk mengunci kemampuanmu di perusahaan ini. Aku tahu kamu memegang buku catatan resep rahasia milik keluargamu yang belum pernah dipatenkan.”

Jantung Alya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

‘Apakah yang dia maksud adalah buku resep Nenek? Bagaimana dia bisa tahu tentang buku resep kuno milik Nenek?!’

“Maksud Anda apa, Pak?” tanya Alya, suaranya mulai meninggi karena merasa terancam.

“Rencanaku sangat sederhana,” Arga bersandar kembali dengan ekspresi tenang yang berkuasa. “Serahkan formula rasa otentik dari resep keluargamu itu untuk proyek premium kita selanjutnya. Jika kamu menolak, aku bisa dengan mudah menarik kembali dana tunjangan darurat itu dari pihak rumah sakit sore ini juga. Pilihan ada di tanganmu, Karyawan Kecil.”

Alya mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, menyadari bahwa senyuman ramah sang CEO berwibawa di depannya kini telah berubah menjadi sebuah jerat hukum korporasi yang paling kejam, yang siap merenggut satu-satunya harta paling berharga milik keluarganya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Ruang CEO   Apa yang Terjadi Malam Itu?

    “Karena situasi darurat itulah, aku terpaksa bertindak terus tegas dan menekan keras kepada kalian semua, khususnya anak buah di divisi R&D,” sambung Arga dengan helaan napas pendek. “Tolong sampaikan permohonan maafku ini juga kepada rekan-rekan divisi lain di bawah kubikel lantai empat jika tuntutan disiplinku dirasa terlalu kejam belakangan ini.”“Ah, tidak apa-apa, Pak Arga! Sungguh tidak ada masalah bagi kami!” potong Rian. “Memang sudah menjadi kewajiban kami untuk bekerja keras, lagipula kantor pusat kan juga membayar uang lembur dan tunjangan kami dengan sangat lumayan untuk ini.”“Iya, betul, Pak. Kami malah senang kalau proyeknya cepat jalan,” timpal Maya ikut mencairkan suasana kaku.Alya menurunkan gelasnya, lalu memberenikan diri menatap lu

  • Rahasia di Ruang CEO   Permintaan Maaf

    “Bapak jangan berlebihan begitu,” jawab Alya sambil memundurkan tubuhnya setapak dari dinding marmer koridor restoran yang dingin.Napas Alya memburu kecil akibat kedekatan fisik mereka yang mendadak. Tatapan mata elang Arga terasa begitu mengunci, memojokkannya di dekat lorong tangga darurat yang sunyi.“Kan saya sudah bilang sebelumnya, Pak Arga juga sudah tahu sendiri alasan saya tidak mau lagi merepotkan Anda,” ketat Alya berkata seraya meremas ponsel retak di genggamannya.‘Sialan, kenapa dia terus mengikutiku,’ ratap Alya dalam batinnya yang didera cemas.Arga turut mendengus rendah, rahang tegasnya mengeras kokoh sebelum akhirnya dia menarik tubuh tegapnya mundur satu langkah. “Aku memang sudah tahu kalau karyawan kecilku ini sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku.”“Baguslah kalau Anda sudah paham, Pak,” jawab Alya pendek demi menjaga harga dirinya yang tersisa.“Kalau begitu, apartemen mana yang akan kamu tinggali, hm?” kejar Arga seraya menatap lurus ke dalam manik mata Alya

  • Rahasia di Ruang CEO   Pergi Darimu

    “Mbak Alya, ini beneran kita disetirin sama Pak Bos Besar?” bisik Sinta sambil memajukan kepalanya dari kursi belakang mobil sedan mewah Arga.Alya menahan napasnya, meremas tas kain di pangkuannya dengan tangan yang sedingin es. Suasana di dalam kabin mobil beraroma parfum tembakau mahal itu terasa sangat menekan ulu hatinya sejak mereka meninggalkan pelataran parkir kantor pusat PT Rasa Nusantara Food.“Iya, Al. Sumpah, seumur-umur kerja di lab, baru kali ini aku merasakan disupirin langsung sama CEO perusahaan,” sahut Rian ikut berbisik dari sudut kanan kursi belakang, wajahnya tampak kaku menahan panik.Maya ikut menimpali dengan suara yang teramat lirih. “Kalian berdua bisa diam tidak? Kalau Pak Arga dengar, bisa habis kita.”Alya melirik kaku ke arah Arga yang sedang fokus mengemudikan setir di sampingnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Rasa canggung yang teramat tebal membuat Alya harus segera memutar otak mencari kalimat akal-akalan agar teman-temannya tidak mencium hubunga

  • Rahasia di Ruang CEO   Rencana Makan Malam Tim

    “Wah, ide yang sangat bagus, Mbak Maya! Kebetulan aku tahu ada tempat makan yang sangat enak di dekat jalan protokol depan kantor!” timpal Sinta ikut menyetujui dengan nada suara yang melengking rendah.Alya sempat terdiam sesaat. ‘Aduh, sebenarnya badanku masih agak lemas karena sisa datang bulan semalam. Lagian aku juga harus buru-buru pergi menemui agen properti untuk urusan deal apartemen baruku itu agar pelarianku dari Pak Arga berjalan lancar,’ keluh Alya dalam hati dengan dahi berkerut cemas.“Ayo dong, Al! Kamu kan ketua tim tugas kita, masa ketua timnya malah tidak ikut bergabung?” desak Rian seraya memelas.Melihat binar wajah penuh harapan dari ketiga rekan kerjanya yang sudah bersusah payah selalu membantunya, Alya akhirnya tidak tega untuk menolak. Dia menghela napas

  • Rahasia di Ruang CEO   Keberhasilan Resep

    “Dengan ini, draf rencana kerja dan hasil riset formula baru dari kelompok staf Alya Paramita resmi disetujui tanpa ada perubahan lagi,” suara ketukan palu dari pimpinan rapat di ujung meja oval terdengar sangat nyaring.Alya langsung mengembuskan napas panjang, meremas jemarinya yang semula sedingin es di bawah meja rapat direksi. Beban berat yang menghimpit dadanya sejak semalam seketika menguap habis.“Hasil uji ketahanan aroma dan takaran bumbu pasta dari tim Nusantara Premium ini sudah benar-benar matang dan memuaskan,” kata Arga seraya menutup dokumen laporan di depannya dengan gerakan tegap yang berwibawa. “Langkah selanjutnya, seluruh draf resep otentik ini bisa langsung dikirim ke bagian pabrik pusat produksi sore ini juga agar proses pembuatan pengemasan massal segera dimulai.”

  • Rahasia di Ruang CEO   Membeli Apartemen Sendiri

    “Saya sedang tidak butuh penjelasan apa-apa lagi sekarang, Pak Arga!” potong Alya tanpa bertele-tele lagi. Dia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah pintu keluar. “Saya sangat berterima kasih karena Anda sudah mau repot-repot membelikan obat herbal dan semua keperluan pribadi saya. Tapi sekarang, tolong Pak Arga segera pergi meninggalkan kamar hotel saya ini. Saya benar-benar butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran.”Arga mematung kaku di tepi kasur, memperhatikan gurat lelah dan lingkaran hitam di bawah kelopak mata bulat Alya yang tampak sangat kuyu.“Saya harus memulihkan kondisi fisik tubuh saya,” lanjut Alya dengan helaan napas pendek. “Sebab besok pagi saya harus sudah kembali masuk bekerja ke laboratorium R&D, dan saya harus bersiap untuk bekerja secara berkali-kali lipat lebih bersungguh-sungguh de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status