LOGIN“Anda mengancam saya dengan nyawa nenek saya?” tanya Alya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat di atas pangkuannya.
Arga tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Alya dengan pandangan lurus yang sangat tenang. “Aku tidak mengancam, Alya. Aku sedang menawarkan kerja sama bisnis yang saling menguntungkan.” ‘Kerja sama bisnis apa yang modelnya memakai jebakan seperti ini? Sialan, dia benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai bos besar,’ amuk Alya dalam hati. Dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap, mengalahkan rasa canggung yang sempat tersisa dari kejadian di kamar hotel malam itu. “Resep itu milik keluarga saya, Pak. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di divisi R&D perusahaan ini,” kata Alya dengan nada suara yang bergetar namun tegas. “Sekarang ada hubungannya karena perusahaan yang membayar biaya rumah sakit pemilik resep tersebut,” jawab Arga seraya memajukan tubuhnya ke depan meja marmer hitam. “Warung mi nyemek legendaris milik Nenek Aminah di sudut kota lama. Apa kamu pikir aku tidak tahu dari mana asal bakat memasakmu yang luar biasa itu?” Alya membelalakkan matanya, benar-benar syok sampai tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik. ‘Bagaimana mungkin seorang CEO lulusan luar negeri yang baru menginjakkan kaki di Indonesia bisa tahu tentang warung kecil Nenek yang sudah tutup tiga tahun lalu? Ini aneh sekali.’ “Dari mana Anda tahu tentang warung Nenek?” tanya Alya dengan dahi berkerut rapat penuh curiga. “Aku punya caraku sendiri untuk mencari tahu latar belakang karyawan terbaikku,” jawab Arga dengan nada datar yang penuh wibawa. “Warung itu dulu sangat terkenal dengan racikan bumbu pasta basahnya yang otentik. Rasa yang tidak bisa diciptakan oleh mesin pabrik manapun. Perusahaan ini butuh rasa itu untuk memimpin pasar makanan instan kelas premium.” Alya bersandar pada kursi kulitnya dengan lemas, monolog batinnya berputar liar dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Resep mi nyemek itu bukan sekadar coretan bumbu di atas kertas usang, melainkan harga mati bagi hidup Alya. Resep itu adalah satu-satunya alasan dia dan neneknya bisa menyambung nyawa belasan tahun lalu, ketika ibunya kabur membawa semua uang tabungan dan ayahnya pergi meninggalkan tumpukan utang judi. ‘Nenek memasak mi itu siang dan malam sampai tangannya melepuh terkena cipratan minyak panas, demi membiayai sekolahku,’ kenang Alya dalam hati, matanya mendadak terasa panas mengingat bagaimana neneknya menolak berobat demi membelikan Alya buku pelajaran. Bagi Alya, menyerahkan resep itu kepada perusahaan raksasa ini terasa seperti mengkhianati seluruh air mata dan sisa umur neneknya yang habis di depan wajan penggorengan panas. Resep itu adalah jati diri mereka, satu-satunya bukti bahwa mereka pernah berjuang dan menang melawan kemiskinan yang kejam. Jika dia menjualnya demi uang korporat, dia merasa seperti menjual seluruh jiwa neneknya sendiri. ‘Aku tidak boleh menyerahkannya begitu saja. Tapi kalau dia benar-benar menarik uang seratus lima puluh juta itu, rumah sakit akan menghentikan perawatan pasca operasi Nenek sore ini. Sial, ini benar-benar jebakan yang licik,’ keluh Alya dalam hati dengan perasaan yang teramat buntu. “Kenapa harus resep Nenek? Perusahaan ini punya puluhan ahli pangan di laboratorium bawah yang bisa membuat bumbu tiruan,” kata Alya mencoba bernegosiasi, berusaha menahan suaranya agar tidak pecah oleh tangis. “Tiruan tetaplah tiruan, rasanya tidak akan pernah sama,” jawab Arga sambil menatap tajam ke dalam manik mata Alya. “Aku butuh formula aslinya. Dan aku tahu buku catatan resep kuno itu sekarang ada di tanganmu.” ‘Dia bahkan tahu tentang buku itu? Apa dia memata-mataiku sejak malam di hotel itu?’ batin Alya ketakutan, merasa seluruh gerak-geriknya sudah dibaca dengan akurat oleh sang CEO. “Jika saya menyerahkannya, apa jaminannya Anda tidak akan membuang saya setelah proyek ini selesai?” tanya Alya, mencoba mencari kepastian yang masuk akal untuk melindungi dirinya sendiri. “Kamu akan memimpin langsung tim pengembangan produk premium ini sebagai ketua proyek,” jawab Arga seraya menyodorkan sebuah map dokumen baru yang tebal ke hadapan Alya. “Ini kontrak resminya. Bonus lima persen dari setiap bungkus yang terjual di seluruh Indonesia akan masuk ke rekening pribadimu. Angka itu jauh lebih dari cukup untuk melunasi utang seratus lima puluh jutamu ke perusahaan dalam waktu beberapa bulan.” Alya menatap map dokumen tersebut dengan ragu. Lembaran kertas di depannya terasa seperti pintu jebakan yang dilapisi emas. Sisi idealisnya menolak keras, tapi ingatan tentang wajah pucat neneknya yang terbaring di ruang ICU dengan selang medis membuat egonya runtuh seketika. ‘Maafkan Alya, Nek. Kali ini saja, Alya harus memakai resep Nenek untuk menyelamatkan nyawa Nenek sendiri,’ bisik Alya pasrah di dalam hatinya. “Baik, saya setuju. Tapi saya punya satu syarat,” kata Alya sambil meraih pulpen yang ada di meja kerja Arga. Arga menaikkan satu alisnya. “Katakan.” “Proses ekstraksi dan pencampuran bumbu dasar pasta ini harus dilakukan di laboratorium khusus yang terpisah. Saya tidak mau formula asli ini bocor ke staf divisi lain sebelum produk ini benar-benar diluncurkan,” tegas Alya, mencoba mengamankan rahasia terakhirnya agar tidak ditiru mentah-mentah oleh direksi lain yang licik. “Syarat diterima. Aku sendiri yang akan mengawasi proses risetnya bersamamu di laboratorium ekstraksi bumbu mulai besok pagi,” jawab Arga seraya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Alya meremang tanpa sebab. Alya menarik napas dalam-dalam, lalu menorehkan tanda tangannya di atas meterai dokumen kontrak tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah selesai, dia mengembalikan map itu ke depan Arga, merasa harga diri dan warisan keluarganya kini telah resmi tergadai pada pria berwibawa di hadapannya. “Kontrak sudah ditandatangani. Ada perintah lain, Pak Arga?” tanya Alya dengan nada bicara yang kembali dingin dan formal. Arga meraih dokumen tersebut, memeriksanya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam laci meja marmer hitamnya yang terkunci. Dia kemudian bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan perlahan memutari meja kerja, dan berhenti tepat di samping kursi tempat Alya duduk. “Ada satu hal lagi, Alya,” ujar Arga dengan suara baritonnya yang merendah. Alya mendongak, refleks mencengkeram pegangan kursi saat menyadari jarak tubuh mereka kini sangat dekat. Aroma parfum tembakau mahal bercampur wangi maskulin pria itu kembali menyerang indra penciumannya, memicu sekelebat ingatan liarnya tentang dada bidang tanpa busana yang dia lihat di kamar hotel tiga hari lalu. ‘Sial, ingatan ini?’ ratap Alya di dalam batinnya, wajahnya mulai merona merah menahan gejolak gairah yang tidak tepat waktu. “Apa lagi, Pak?” tanya Alya berusaha menahan nada napasnya agar tetap stabil. Arga menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke leher jenjang Alya yang tertutup kerah kemeja kerjanya yang rapi. “Mulai besok, jam kerjamu akan berubah. Kamu tidak akan pulang bersama staf lab yang lain. Kamu harus tetap tinggal di kantor setelah jam lima sore untuk memberikan laporan riset harian langsung kepadaku. Di ruangan ini. Hanya kita berdua.” Alya menahan napasnya, matanya membelalak lebar mendengar instruksi sepihak yang terdengar sangat aneh dan penuh rencana tersembunyi itu. Sebelum Alya sempat memprotes aturan aneh tersebut, pintu ruangan CEO tiba-tiba diketuk dengan keras dari luar, memotong ketegangan yang kian memanas di antara mereka.Alya membeku kaku dalam kurungan sepasang lengan kokoh Arga. Kata-kata yang baru saja lolos dari bibir tebal pria itu berputar gila-gilaan di dalam kepalanya, membuat pasokan oksigen di dadanya mendadak menguap tanpa sisa. Aku mencintaimu. Kalimat itu terdengar begitu indah, namun di saat yang sama terasa seperti hantaman palu besar yang meremukkan seluruh benteng pertahanannya.‘Gila … ini beneran salah. Ini dosa besar,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika hancur lebur dirundung rasa takut yang luar biasa dahsyat.Rentetan kalimat ancaman Ratih di taman belakang rumah utama malam itu kembali berdenging kencang, menghancurkan sisa-sisa kebahagiaan yang sempat meletup di ulu hatinya. Status sebagai saudara tiri seperti belenggu tak kasat mata yang mencekik lehernya. Alya tahu, jika dia membalas perasaan pria di depannya ini, dia tidak hanya akan merusak harga dirinya sendiri, tetapi juga akan menyeret karier, nama baik, dan masa
“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan laboratorium R&D semalaman!”Alya memajukan sedikit wajahnya, menunjuk penampilannya sendiri dengan gerakan kesal. “Lihat penampilan saya sekarang! Rambut saya berantakan, baju saya kusut, bahkan kantung mata saya tebal sekali karena semalam hanya bisa tidur sebentar dan sangat lelah sekali! Saya bukan robot yang bisa Anda todong pekerjaan harian dan urusan pribadi sekaligus!”Arga t
Alya melangkah kaku melewati pintu jati besar ruang kerja CEO, memeluk erat map draf laporan laboratorium Nusantara Premium di depan dadanya. Begitu kakinya menapak di atas lantai karpet tebal, terdengar bunyi klik pelan dari luar. Sekretaris Doni benar-benar mengunci pintu itu sesuai perintah. Suasana ruangan luas ber-AC dingin ini mendadak terasa teramat sunyi sepi, menyergap seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alya hingga kepalanya mendadak pening karena gugup.‘Sial, dia benar-benar mengunci pintunya dari luar. Ruangan ini kedap suara, apa pun yang terjadi di sini tidak akan ada orang luar yang tahu,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika didera rasa cemas yang teramat menghimpit ulu hati.Alya mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat siluet tubuh tegap Arga di balik meja kerja marmer hitam. Tepa
Alya terbangun dengan rambut yang berantakan di atas bantal putih hote. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang dia rasakan adalah getaran berulang kali dari gawai di samping kepalanya karena alarm. Dengan mata yang masih sepet, Alya menyalakan layar ponselnya yang semalam sempat mati total.Ada tiga buah pesan beruntun dari Arga Mahendra yang dikirim sejak pukul tiga subuh tadi.Pesan pertama:‘Alya, aku masih menunggu jawabanmu.’Pesan kedua:‘Kalau kamu memang membutuhkan waktu sendiri, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke apartemen.’Pesan ketiga:‘Tapi j
Alya langsung tertidur lelap saking capeknya begitu punggungnya menyentuh kasur empuk hotel. Matanya terpejam rapat, tidak menyadari bahwa beberapa menit kemudian, lampu indikator ponselnya yang sedang diisi daya berubah menjadi hijau redup, menandakan gawai itu sudah menyala kembali secara otomatis. Deretan pesan baru yang menggantung di ruang obrolannya bersama Arga terbiarkan begitu saja tanpa ada jawaban lanjutan.‘Aku cuma mau tenang semalam saja, jangan ada gangguan dulu,’ cicit Alya di dalam alam bawah sadarnya yang teramat lelah menghadapi kegilaan bosnya sepanjang hari.Sementara itu, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer, suasana di dalam apartemen mewah milik Arga terasa sangat sunyi dan menekan. Arga Mahendra masih duduk tegak di tepi sofa ruang tengah dengan kemeja hitam yang belum diganti.
“Aduh, Al, keputusanmu tadi beneran bikin senam jantung tau,” keluh Maya sambil menghempaskan tumpukan draf tabel riset ke atas meja laboratorium R&D dengan bunyi ketukan yang tegas.Alya menoleh kaku, mendapati tatapan tidak enak dan wajah cemberut dari ketiga rekan satu tim tugasnya yang baru saja duduk di kubikel. Suasana laboratorium yang sejuk setelah jam lima sore ini mendadak terasa sedikit menekan. Alya meremas ujung jas laboratoriumnya, merasa sangat bersalah karena keputusan akal-akalan daruratnya di ruang rapat direksi tadi siang telah menyeret teman-temannya untuk ikut terjebak dalam kerja lembur malam ini.“Maafkan aku ya, teman-teman. Aku terpaksa mengambil keputusan ini,” kata Alya dengan nada suara yang penuh rasa tidak enak. Dia mencoba memasang senyuman terbaik demi menyemangati mereka. “Tapi tenang saja, Pak Arga sudah berjanji bahwa akan ada tunjangan lembur khusus yang sangat besar untuk tim tugas kita tanpa ada potongan satu rupiah pun dari kantor pusat.”Menden







