Se connecterAlya mengaduk kopi di cangkirnya dengan gerakan kaku, mengabaikan uap hangat yang menerpa wajahya. Suasana kedai kopi sore ini cukup sepi, namun ketegangan di antara dua wanita di meja sudut itu terasa sangat mencekik udara.
Di hadapannya, Ratih duduk dengan penampilan yang sangat tertutup, mengenakan topi lebar, kacamata hitam besar, dan masker kain yang menutupi seluruh wajahnya agar tidak ada satu pun orang
“Kalau begitu, tolong menjauh dariku, Pak Arga!” seru Alya seraya menatap tajam pria di depannya dengan napas memburu.Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendadak mendesak ingin keluar. Dadanya naik-turun hebat terkunci dalam kepanikan. Kebenaran bahwa Arga sudah tahu statusnya sebagai anak kandung Ratih membuat seluruh pertahanan batin Alya runtuh rata dengan tanah.“Anda sudah tahu semuanya, kan? Anda tahu wanita serakah itu ibuku!” cerca Alya lagi dengan nada suara yang bergetar hebat. “Karena itu tolonglah, pergilah dan menjauh dariku sekarang juga!”Arga tidak bergerak mundur, dia justru semakin mempererat kurungan kedua tangannya di dinding apartemen, menatap lekat-lekat ke arah bibir mungil Alya. “Kamu pikir aku memedulikan tentang status sialan ini, Alya?”“Pak Arga, lepas!” pekik Alya panik seraya mencoba memalingkan wajah polosnya.“Dia hanya ibu tiriku, Alya! Ah … Aku bahkan tidak pernah menganggap wanita serakah itu sebagai bagian dari keluargaku sejak dulu!” tegas A
“Mau apa lagi Anda ke sini, Pak Arga? Tolong segera pulang. Saya kan sudah menjelaskannya kepada Anda tadi,” kata Alya sambil mencoba setenang mungkin menahan gemetar di jemarinya.Pintu unit apartemen barunya baru saja tertutup, namun sosok tegap Arga sudah melangkah masuk tanpa rencana untuk mundur. Ruangan kecil yang baru saja disewanya, sore ini mendadak terasa sangat menekan ulu hati.Arga mengedarkan pandangan mata elangnya ke sekeliling ruangan yang masih sepi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Jadi, ini tempat pelarianmu yang baru setelah kemarin malam kamu nekat menciumku di atas sofa apartemenku?”“Apa? Saya? Anda pura-pura amnesia ya, Pak? Bukankah Pak Arga sendiri yang memulainya duluan semalam?!” sela Alya langsung dengan nada suara yang meninggi karena kes
“Kurang ajar kamu, Alya!” jerit Ratih dengan suara yang bergetar hebat karena saking marahnya.Tangan kanan Ratih bergerak secepat kilat meraih gelas berisi air dingin di atas meja, siap melemparkan isinya tepat ke arah wajah Alya. Namun, belum sempat air itu lepas dari gelasnya, sebuah lengan kekar menyambar bahu Alya dari belakang dan menarik tubuh kecil wanita itu masuk ke dalam dekapannya.Air dingin itu meluncur bebas mengenai udara kosong di samping kursi mereka, tumpah membasahi lantai marmer kedai kopi dengan bunyi cipratan yang keras.Alya membelalakkan matanya lebar-lebar dengan napas yang terengah-engah di dalam pelukan. Aroma parfum tembakau mahal yang sangat dia kenali seketika merasuk ke indra penciumannya, memicu detak jantung Alya yang kian menggila dalam hitungan detik.
Alya mengaduk kopi di cangkirnya dengan gerakan kaku, mengabaikan uap hangat yang menerpa wajahya. Suasana kedai kopi sore ini cukup sepi, namun ketegangan di antara dua wanita di meja sudut itu terasa sangat mencekik udara.Di hadapannya, Ratih duduk dengan penampilan yang sangat tertutup, mengenakan topi lebar, kacamata hitam besar, dan masker kain yang menutupi seluruh wajahnya agar tidak ada satu pun orang mengenalinya.“Uang sogokan ratusan juta itu sudah masuk ke rekeningmu sejak beberapa hari yang lalu, Alya,” suara Ratih terdengar sangat manja namun sedingin es dari balik maskernya. “Sekarang Ibu menagih bukti nyata. Apa kamu sudah menepati janjimu untuk memutuskan semua hubungan dan pergi menjauh dari Arga?”“Aku masih berusaha, Bu,” jawab Alya dengan nada suara yan
Alya membelalakkan matanya lebar-lebar dengan mulut sedikit terbuka karena syok sekaligus kesal setengah mati.‘Sialan! Pria ini benar-benar licik banget memanfaatkan kerusakan ponselnya demi menjebakku! Mana mungkin aku tega menelantarkan bos besarku sendiri dalam kondisi mabuk di tempat sepi begini?’ rutuk Alya di dalam hatinya.Dengan berat hati, Alya terpaksa menyetujui tuntutan sepihak itu. Dia mengambil alih kunci mobil, lalu mendudukkan tubuh besar Arga di kursi penumpang sebelah kemudi dengan susah payah. Alya memacu sedan mewah hitam itu membelah jalanan malam kota hingga akhirnya mereka tiba di pelataran parkir gedung penthouse apartemen mewah milik Arga.Alya membopong tubuh tegap Arga melewati lorong lift yang sunyi dengan seluruh sisa kekuatan fisiknya yang kecil. Begitu pintu unit apa
“Malam itu aku langsung pergi ke rumah sakit karena Nenek—” jawab Alya dengan nada canggung yang kaku.Alya terpaksa membohongi Sinta demi menutupi kejadian asli di kamar VIP nomor 909. Namun, baru saja kalimat itu lolos dari bibirnya, ulu hati Alya mendadak terasa sangat perih karena harus membawa nama mendiang neneknya dalam akal-akalan ini. Langkah batinnya langsung berhenti tegak menahan sesak duka yang kembali mencuat di dadanya.“Sudahlah, Sinta. Kalau kejadian malam itu memang tidak bisa diceritakan lagi oleh ketua tim kalian, jangan terus-menerus mengganggunya dengan pertanyaan tidak penting,” potong Arga dengan suara bariton yang berat dan langsung mengunci gerakan Sinta.Sinta seketika menciut, menundukkan kepalanya dengan wajah kuyu menahan canggung. “Eh, iya, Pak Arga.







