เข้าสู่ระบบ
Citra terbangun dengan napas tersengal kala suara alarm ponselnya berdering nyaring, membangunkan tidurnya yang nyenyak.
Kepalanya pening luar biasa. Saat mencoba bergerak, rasa nyeri yang tajam menusuk area pangkal pahanya. "Sshhh... kepalaku... Kenapa sakit sekali?" gumamnya sambil memegangi kepalanya. "Aahh... Aww," rintihnya pelan seraya tangannya turun ke area intimnya. Citra mengangkat pandangannya menatap ruangan dengan interior yang mewah dan wangi aromaterapi yang Citra tahu pasti harganya yang tak murah. Pandangannya pun terhenti di samping ranjang. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat punggung tegap seorang pria asing tanpa busana, tertutup sebagian oleh selimut sutra abu-abu. Kamar itu berantakan, pakaian dalam dan gaun murah milik Citra berserakan di lantai. Citra menutup mulutnya karena terkejut. "Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan?" bisiknya. Ingatannya terlempar ke malam sebelumnya. Bar. Alkohol. Rentenir. Bertemu pria asing. Ciuman itu, rengkuhannya, dan tadi malam mereka pasti — ... Gila! Citra merasa dirinya pasti sudah gila! Ketakutan dan rasa malu menyergap. Citra tahu dia harus pergi sebelum pria itu bangun. Dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, dia turun dari ranjang, memunguti pakaiannya dengan gemetar, dan memakainya dengan terburu-buru. Gerakannya dibuat sehalus dan seringan kapas, agar tak membangunkan pria asing yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Sebelum melangkah ke pintu, Citra mendadak berhenti. Logika cerdasnya yang biasa berkutat dengan angka tiba-tiba berputar cepat. Dia berbalik, menatap wajah pria yang sedang tertidur pulas itu. 'Jangan bodoh, Citra. Kau tidak punya uang, kau baru saja di-PHK, dan utang orang tuamu menumpuk. Jika... jika terjadi sesuatu karena malam ini, kau harus tahu siapa bajingan ini untuk menuntut hakmu,' gumamnya. Citra mendekat, memperhatikan pahatan wajah pria itu. Garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan aura mahal yang pekat bahkan saat tidur. Matanya kemudian menangkap jam tangan mewah dan dompet kulit di atas meja nakas dengan inisial emas 'DB'. DB? Citra terpaku sesaat setelah melihat inisial nama di jam itu. Sempat berpikir sejenak sebelum bergumam sendiri. "Aku tidak tahu siapa kau, tapi anggap saja ini kesalahan terkutuk yang tidak akan pernah terulang." Tanpa membuang waktu lagi, Citra memutar knop pintu dan menyelinap keluar, menutup pintu penthouse dengan sangat perlahan. Saat sampai Kamar kost Citra berukuran 3x3 meter. Suara pancuran air kamar mandi berhenti. Citra keluar dengan rambut basah, dengan mata yang memerah sebab menangis memikirkan nasibnya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seperti itu lah yang dirasakan Citra. Gadis cantik berotak cerdas dengan segudang hutang yang menjeratnya. Citra langsung duduk di depan laptop lamanya yang mengeluarkan suara bising dari mesinnya. Layar laptop menampilkan puluhan tab pengiriman CV kerja. Ponselnya berdering. Rentenir! Citra menghela napas berat, menolak panggilan, lalu menatap layar laptop. "Menangis tidak akan melunasi utang. Menyesali malam itu juga tidak akan membuatku kenyang. Aku butuh pekerjaan. Sekarang." Jemari Citra bergerak cepat di atas keyboard. Dia memeriksa email masuk. Dari pagi sampai sore dirinya sibuk berkutat dengan laptopnya. Mengirim lamaran pekerjaan ke puluhan perusahaan. Berharap ada panggilan interview ,setidaknya satu perusahaan. Tiba-tiba, sebuah notifikasi baru muncul. Citra membaca dengan mata membelalak. "Sovereign Tax and Audit... Panggilan wawancara? Besok jam sembilan pagi?!" Citra mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya berbinar kembali. "Otakku adalah satu-satunya aset yang tersisa. Aku harus lolos." ***** Di saat yang sama, di kamar penthouse hotel. Devan Baskara terbangun. Kamar sudah kosong. Matahari sore menyiram balkon kamar dengan warna jingga. Devan berusaha membuka matanya yang terasa lengket satu sama lain sambil meraba sisi ranjang yang sudah dingin. Alisnya bertaut erat. "Kosong? Dia pergi?" Devan bangkit, berjalan ke arah balkon dengan jubah mandi hitamnya. Pikirannya melayang ke kejadian semalam. Sentuhan gadis itu, respons liar tubuhnya sendiri yang biasanya 'alergi' pada wanita, dan satu detail yang tercetak jelas di ingatannya. Devan menyentuh bibirnya sendiri, bergumam lirih. "Tanda lahir berbentuk unik di belakang telinganya... Siapa sebenarnya dia? Berani-beraninya kabur setelah memancing singa terbangun." Ponsel Devan berdering. Panggilan dari Asisten Pribadinya — Johan. Lantas menerima panggilan itu. "Ada apa?" Suaranya terdengar dingin dan berwibawa. "Maaf mengganggu, Pak Devan. Nyonya Besar meminta Anda untuk pulang ke mansion," jawab Johan dari seberang ponsel. Devan tak langsung menjawab. Dia tahu jika akan ada rencana-rencana sialan yang tak dia inginkan. "Hm... baiklah." Devan menutup telepon, menatap lurus ke arah pemandangan kota Jakarta dari atas balkon. Setelah merasa cukup merenung, Devan bergegas bersiap untuk pulang ke mansion. Bersiap menghadapi paksaan perjodohan sialan dari orang rumah. Sesampai di mansion, Devan disambut oleh para pelayan yang membukakan pintu. "Di mana semua orang?" tanya Devan pada salah satu pelayan. "N-Nyonya Besar dan Tuan Besar sedang makan malam, Tuan Muda." Pelayan itu menjawab dengan suara bergetar sambil menunduk. Tanpa menjawab, Devan melangkah menuju ruang makan. Suara langkah kaki terdengar, mengalihkan fokus semua orang yang sedang mengobrol diiringi suara tawa kecil. "Devan, kamu sudah pulang?" tanya Imelda — ibu kandung Devan. Devan tersenyum tipis, tangannya menyalami orang tua dan neneknya. Setelah itu duduk di seberang ibunya. "Hm." "Mamahmu menyuruhmu sejak siang, kenapa datangnya justru malam?" interogasi pria paruh baya — Andre, ayah kandung Devan. "Aku ada urusan sejak siang," Devan menjawab bohong. Tak mungkin dirinya menjawab yang sejujurnya, menghabiskan malam yang panas dengan wanita asing. "Pekerjaan terus yang kau pikirkan!" tegur Andre kepada anak semata wayangnya. "Betul nak, kau butuh pendamping. Umurmu sudah hampir kepala tiga tapi kau masih sendiri. Jadi, mamah sud—..." BRAKK! Devan seketika menggebrak meja makan, semua orang tersentak terkejut. Seketika ucapan ibunya terpotong. "Tolong berhenti menjodohkan ku dengan wanita manapun, aku akan menikah jika aku sudah ingin menikah!" Setelah mengatakan itu, Devan beranjak dari kursi, pergi dari sana ke kamarnya. "DEVAN!" panggil sang ayah dengan nada tinggi. Semua orang terdiam, terutama ibunya. Tak tahu harus bagaimana membujuk putranya yang keras kepala itu. Dibalik wajah tegang semua orang, ada satu senyum tipis terukir di wajah salah satu wanita di sana. Matanya menatap punggung Devan sambil bergumam, "Kak!""Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.
Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin
"Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman
"Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki
"D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.
"Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir







