/ Romansa / Rahim Tawanan / Kebun Anggur, Fastival dan Rahasianya

공유

Kebun Anggur, Fastival dan Rahasianya

작가: Queenau
last update 게시일: 2024-11-30 23:54:37

Meski sudah tidak pusing lagi, Ashyana memilih bertahan di kamarnya. Ia tbahkan tidak turun untuk sarapan dan itu membuat Kenan kini menghampirinya. Padahal sudah jelas tujuan Ashyana ingin menghindari tuannya itu.

"Kamu masih demam?" Refleks tangan Kenan terangkat untuk mengecek suhu Ashyana, dan refleks juga gadis itu memundurkan kepalanya.

"Enggak Tuan." jawab Ashyana dengan kepala tertunduk dan jari memilin piyama tidurnya.

"Syukurlah, siap - siaplah 30 menit lagi kita keluar." pernya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Rahim Tawanan   Malam itu🔞

    Bunyi kulit saling beradu terdengar dangat nyaring di sebuah kamar hotel. Dua anak adam berbeda jenis kelamin itu begitu terbuai satu sama lain. Kegiatan itu tidak hanya sekali dua kali tapi terjadi berulang kali hingga si gadis mengeluh. "Ashya capekh." Keluhan itu hanya dianggap angin lalu oleh pria yang kini tengah mengungkung Ashyana itu. Seakan tak puas setelah melakukan berulang kali, nyatanya kegiatan itu tak kunjung terhenti. "Tuanh." tubuh Ashyana masih mebgeliat kesana kemari karena tangan nakal pria di atasnya itu. "Panggil namaku dan aku akan mengakhirinya sekali ini." "Tidakh sopanh tuanh." tatapan sayu yang Ashyana berikan bukannya menghentikan kegiatan pria itu di atas tubuh Ashyana tapi malah menjadi. "Cukup panggil namaku dipuncaknya nanti atau kamu mau menambah beberapa ronde lagi?" Ashyana langsung menggeleng kepalanya kuat. Bibir yang rasanya sudah kebas itu semakin kebas saat benda kenyal pria itu memagutnya kesekian kalinya. Ashyana yang sebenarn

  • Rahim Tawanan   Kebun Anggur, Fastival dan Rahasianya

    Meski sudah tidak pusing lagi, Ashyana memilih bertahan di kamarnya. Ia tbahkan tidak turun untuk sarapan dan itu membuat Kenan kini menghampirinya. Padahal sudah jelas tujuan Ashyana ingin menghindari tuannya itu. "Kamu masih demam?" Refleks tangan Kenan terangkat untuk mengecek suhu Ashyana, dan refleks juga gadis itu memundurkan kepalanya. "Enggak Tuan." jawab Ashyana dengan kepala tertunduk dan jari memilin piyama tidurnya. "Syukurlah, siap - siaplah 30 menit lagi kita keluar." pernyataan yang keluar dari mulut Kenan itu membuat Ashyana mengerjap sebelum mengangguk patuh. "Bi Elle tolong bantu Nona Ashyana bersiap." Bibi Elle pun mengangguk patuh. "Ti-" Ashyana menelan protesn yang akan ia keluarkan begitu teringat prinsipnya semalam. "Ada apa Nona Ashyana?" Kenan yang akan berbalik itu mengurungkan niatnya mendengar suara Ashyana tadi. "Tidak apa - apa Tuan." jawab Ashyana masih dengan kepala menunduknya. Meski merasa janggal Kenan hanya mengangkat sebelah alisnya d

  • Rahim Tawanan   Bertengkar

    Ashyana masih tenggelam dalm lautan mimpinya saat sebuah tangan besar mengusik tidur nyenyaknya. "Cy jangan menggangguku, aku beneran pusing ih." gumam Ashyana tanpa repot - repot membuka matanya. Ia balikkan tubuhnya dari posisi semula sehingga kini ia memunggungi si pengganggu tidurnya itu. "Langsung periksa saja Steve." Dan tidurnya itu menjadi semakin terusik saat lamat - lamat ia mendengar suara pria yang akhir - akhir ini begitu familiar ditelinganya. Tak lama setelah itu, dapat Ashyana rasakan benda yang ia yakini sebagai stetoskop itu menyentuh dadanya. Karena semakin mengganggu tidurnya, akhirnya Ashyana membuka mata dan langsung dihadapkan pada dua wajah tampan yang sama - sama memasang wajah seriusnya. "Nyonya Ashyana masih merasa pusing?" tanya dokter Steve yang diangguki oleh Ashyana. "Selain itu apa yang dirasakan?" "Udah itu aja Dok." Setelah itu dokter Steve tidak bertanya lagi dan sibuk memilah obat. Ashyana sendiri memilih untuk memejamkan matany

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 2

    Hari pertama hingga hari terakhir proses penyuntikan diperut Ashyana selalu ditemani oleh Madam Soraya dan Kenan yang sesekali datang untuk melihat prosesnya. Ibu dan anak itu meskipun dengan wajah yang masih angkuh tak tergoyahkan menjadi begitu perhatian dan protektif terhadap Ashyana apalagi Kenan yang kini terlihat lebih manusiawi. Dan ternyata hal itu sangat membantu Ashyana untuk bisa bersemangat menjalani proses ini. Karena jujur saja, sejak penyuntikan pertama Ashyana mulai merasa perbedaan yang sulit dijelaskan pada tubuhnya sendiri dan itu wajar menurut dokter Key. Karena suntikan tersebut sangat berpengaruh terhadap hormonnya jelas menjadikannya begitu lelah baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti malam ini, setelah suntikan terakhir yang dilakukan tepat dijam yang sama yaitu pukul 7 malam, Ashyana tiba-tiba menitikkan air matanya sebab moodnya memburuk. Tubuhnya terasa lelah padahal tidak ada kegiatan berat apapun karena memang kegiatannya selama di rumah ini selal

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 2

    Hari pertama hingga hari terakhir proses penyuntikan diperut Ashyana selalu ditemani oleh Madam Soraya dan Kenan yang sesekali datang untuk melihat prosesnya. Ibu dan anak itu meskipun dengan wajah yang masih angkuh tak tergoyahkan menjadi begitu perhatian dan protektif terhadap Ashyana apalagi Kenan yang kini terlihat lebih manusiawi. Dan ternyata hal itu sangat membantu Ashyana untuk bisa bersemangat menjalani proses ini. Karena jujur saja, sejak penyuntikan pertama Ashyana mulai merasa perbedaan yang sulit dijelaskan pada tubuhnya sendiri dan itu wajar menurut dokter Key. Karena suntikan tersebut sangat berpengaruh terhadap hormonnya jelas menjadikannya begitu lelah baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti malam ini, setelah suntikan terakhir yang dilakukan tepat dijam yang sama yaitu pukul 7 malam, Ashyana tiba-tiba menitikkan air matanya sebab moodnya memburuk. Tubuhnya terasa lelah padahal tidak ada kegiatan berat apapun karena memang kegiatannya selama di rumah ini selal

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 1

    "Ashyana." Panggilan itu membuat Ashyana yang sedang menghapus make up terlonjak kaget. Bukan karena suaranya yang keras, tapi karena ia mengenali suara itu milik Kenan yang membuatnya kaget. Jujur ia masih kepkiran dengan ucapan Kenan tadi tentang malam pertama dan kini pipinya memerah tanpa sebab. "I-iya tuan, ada apa?" Ashyana tidak berani membalikkan tubuhnya atau hanya sekedar memalingkan wajahnya ke Kenan. "Mom meminta kita untuk kebawah," ucap Kenan yang kini menatap bayangan Ashyana dalam cermin. Meski pipi yang kemerahan itu tidak tertangkap sempurna dalam penglihatannya, Kenan tau jika Ashyana sedang salah tingkah dengan kedatangannya. "Saya sedang menghapus make up, bolehkah saya menyusul tuan?" "Aku tunggu." "Tapi tuan-" "Atau mau aku bantu nona?" Ashyana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan buru-buru ia menghapus sisanya bahkan dengan gerakan yang cukup brutal. "Hei calm down, jika terlalu keras kulitmu nanti akan terluka." Ashyana langsung melo

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status